Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
DIUJUNG WAKTU 2


__ADS_3

“Saat ini kedua korban masih berada didalam ruang Instalasi Gawat Darurat dalam penanganan medis. Kata dokter kedua korban mengalami luka berat pada bagian kepalanya,” jawab polisi setengah baya menunjuk ruang I G Ddengan jari jempol kearah dibelakangnya.


Bermacam- macam perasaan campur aduk didalam hati Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud. Lidah ketiganya serasa kelu tak tahu harus ngomong apa lagi.


“Sekali lagi kami meminta bantuannya untuk memberikan keterangan identitas terhadap nama masing- masing korbannya ya pak. Biar tidak salah dalam mengidentifikasi nama dan orangnya, mana korban yang bernama Basyari dan Baharudin,” sambung petugas setengah baya mengingatkan.


“I, iyya pak,” sahut Gus Harun.


“Apakah kami bisa melihat kondisinya sekarang pak?” tanya Mahmud yang di iyani Abah Dul.


“Baru beberapa menit yang lalu dokter memberikan keterangan bahwa dua korban masih belum sadarkan diri. Kami juga masih menantikan kabar selanjutnya dari dokter, sebaiknya kita tunggu saja pak,” jawab petugas polisi setengah baya.


Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud terdiam membuat suasana menjadi hening. Ketiganya hanya bisa berucap doa didalam hatinya masing- masing untuk keselamatan Baharudin dan Basyari.


‘Ya allah lindungi sahabat- sahabat kami. Semoga kondisinya baik- baik saja,’ ucap Gus Harun dalam hati.


‘Ya allah, ini semua karena keluarga saya. Hamba mohon selamatkanlah Basyari dan Baharudin,’ ucap Mahmud dalam batin.


‘Ya allah jika boleh memohon, jangan panggil sahabat- sahabat hamba dengan kondisi seperti ini. Mereka berniat


membantu kami,’ ucap Abah Dul dalam batin.


Berselang sekitar 10 menitan, tiba- tiba pintu ruang I G D dibuka dari dalam. Kontan saja Gus Harun, Mahmud serta Abah Dul langsung berdiri menyongsong seseorang yang keluar dari dalam ruang I G D tersebut. Disusul dua petugas kepolisian yang posisinya dekat dengan pintu tersebut berdiri menyongsongnya.


“Bagaimana keadaan dua korban kecelakaan itu dok?!” sergah Gus Harun.


“Iya bagaimana kondisinya dok?!” timpal Mahmud.


“Bagaimana dok?!” susul Abah Dul.


Sementara dua petugas kepolisian yang sudah membuka mulutnya hendak bertanya pun mengurungkannya. Karena mungkin pertanyaannya sudah terwakilkan oleh ketiganya.


Mendengar berondongan pertanyaan itu sesaat Dokter tersenyum simpul. Dokter yang usianya tergolong masih muda berkisar kurang dari 40 tahun itu terlihat sangat tenang sekali. Tidak ada gurat kepanikan maupun kecemasan pada wajahnya.

__ADS_1


“Mm, maaf kalau boleh tahu bapak- bapak ini siapanya korban?” tanya dokter ramah dan bersikap tenang.


“Kami saudaranya dok,” jawab Gus Harun mewakili dua temannya.


“Bapak- bapak yang sabar ya, saya dan tim medis sudah berupaya sesemaksimal mungkin. Namun tuhan berkehendak lain…” dokter menghentikan ucapannya sambil memegang pundak Gus Harun dan menatap


Mahmud serta Abah Dul berganntian.


“Innalillahi wainna ilaihi rojiuun…” pekik Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud bersamaan.


Dua orang petugas kepolisian mendengar keterangan dari dokter pun turut serta bergumam mengucapkan kalimat sakral itu.


Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud seketika sekujur tubuhnya lemas tak ubahnya tidak lagi ada tulang didalam


tubuhnya.


“ Salah satu korban mengalami luka dalam di kepalanya akibat tertusuk serpihan kaca sehingga mengalami pendarahan. Sedangkan korban yang satunya lagi mengalami luka dalam pada bagian dadanya akibat benturan keras. Bapak- bapak semua tabah ya, saya permisi dulu,” ucap dokter lalu melangkah meninggalkan Gus Harun dan yang lainnya.


Tak lama kemudian dari dalam ruang I G D keluar belangkar yang didorong petugas rumah sakit. Diatas belangkar itu terdapat satu sosok yang ditutupi kain putih dari ujung kaki hingga ujung kepala. Berturut- turut belangkar yang kedua muncul dibelakangnya juga dengan satu tubuh tertutupi kain putih di sekujur tubuhnya.


“Benar pak, kami saudaranya. Kami juga ingin melihat jenazahnya,” timpal Gus Harun.


“Baik pak,” sahut petugas rumah sakit.


Petugas yang mendorong dua belangkar yang membawa jenazah diatasnya itupun menghentikannya di depan dua petugas kepolisian dan Gus Harun serta dua temannya. Mereka berdiri mengelilingi belangkar yang pertama.


Petugas rumah sakit segera berjalan keujung sisi blangkar bagian kepala untuk membuka kain penutup jenazah. Perlahan- lahan petugas rumah sakit itu menyibakkan kain yang menutupi kepala jenazah.


Pandangan mata Gus harun, Abah Dul serta Mahmud menatap lekat- lekat pada isi kain yang mulai disingkap itu dengan beraneka ragam perasaan tak menentu. Degup jantung ketiganya berdetak kencang ketika rambut dari jenazah itu mulai tampak.


“Innalillahi wainna ilaihi rojiuun…”


“Innalillahi wainna ilaihi rojiuun…”

__ADS_1


“Innalillahi wainna ilaihi rojiuun…”


Kalimat- kalimat itu tak henti –hentinya terucap dari mulut Gus Harun, Abah Dul maupun Mahmud. Ketiganya kian bergetar hebat, kedua lutut mereka mulai gemetaran saat kening jenazah mulai terlihat.


Sedetik pun mereka bertiga tidak mengedipkan mata seakan- akan tidak mau melewatkan satu jengkal pun untuk


melihat jenazah sahabatnya itu.


Setelah kening jenazah terlihat, kain penutup jenazah itu perlahan terus dibuka petugas rumah sakit. Kini bagian


kedua mata jenazah itu pun mulai tampak dengan jelas.


Seketika Gus harun mengernyitkan keningnya dalam –dalam, begitu pun dengan Abah Dul. Namun tidak bagi Mahmud, ia terlihat biasa- biasa saja bahkan Mahmud merasa keheranan melihat ekspresi dari raut wajah Gus Harun dan Abah Dul. Mahmud memang tidak begitu mengenal  sosok Baharudin dan Basyari, sehingga ia tak


begitu paham saat melihat bagian mata pada jenazah tersebut.


Seketika Gus Harun menoleh ke arah Abah Dul yang berdiri disampingnya, begitu pun dengan Abah Dul ia pun reflek menoleh pada Gus Harun. Pandangan mata keduanya beradu saling menyiratkan pertanyaan masing- masing. Sesaat kemudian pandangan mata keduanya kembali diarahkan ke sosok jenazah yang terus disingkap penutupnya.


Kali ini mata dan hidung jenazah terlihat jelas, Gus Harun dan Abah Dul semakin mengerutkan dahinya menatap


lekat- lekat jenazah itu. Meskipun Gus Harun dan Abah Dul merasa ada kejanggalan pada jenazah, namun keduanya tidak juga berkata apa- apa. Matanya terus mengikuti kain yang disingkap petugas rumah sakit.


Sekarang kain yang menutupi wajah jenazah itu sudah terbuka dan terlihat dengan jelas. Sontak saja Gus harun dan Abah Dul membelalakkan matanya melihat keseluruhan wajah jenazah itu.


“I, inn,, ini bu.. bu bukan teman kami pak!” seru Gus Harun dan Abah Dul bersamaan.


Mahmud dan dua orang petugas dari kepolisian sontak ikut kaget. Ketiganya langsung melihat wajah jenazah itu


lekat- lekat.


“Apa bapak- bapak yakin?!” tanya polisi berusia setengah baya meyakinkan lagi.


“Yakin pak! Kami sangat yakin ini bukan Baharudin ataupun Basyari pak!” tegas Gus Harun.

__ADS_1


Gus Harun dan Abah Dul langsung bergegas menuju blangkar yang satunya, untuk memastikan kembali benar tidaknya jenazah itu salah satu sahabatnya. Hatinya dibuat penasaran. namun jauh jauh direlung batinnya merasa bersyukur jenazah yang pertama itu bukanlah salah satu sahabatnya.


Petugas rumah sakit yang mendorong blangkar kedua pun melakukan hal yang sama bergegas segera membuka kain putih penutup jenazah mulai dari ujung kepala jenazah.** BERSAMBUNG


__ADS_2