Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Lewati Masa Kritis


__ADS_3

Kutai, Kalimantan Timur.


Disebuah rumah dipekarangan samping, Ustad Baharudin tergeletak seorang diri didalam saung tempat ia bermunajat. Suasana dinihari sepi senyap seisi rumahnya tak ada seorang pun yang tahu dengan kondisi Ustad Baharudin.


Padahal didalam rumah masih ada putranya yang belum tidur. Namun karena sudah seperti biasanya jika Ustad Baharudin sudah memasuki saung khusus itu tak ada yang berani mengusiknya karena ia sudah mewanti-wanti sesuai pesannya sejak dulu.


Sementara Abah Dul dengan penglihatan mata batinnya, melihat kondisi Ustad Baharudin terkapar sendirian hatinya merasa terenyuh dan cemas. Ingin rasanya sukmanya melayang mendatangi Ustad Baharudin untuk menolong, namun kondisinya tidak memungkinkan karena dirinya pun terluka parah.


Malam tepat pukul 00.00 wita, Ustad Baharudin masih terkapar sendirian tak sadarkan diri. Berarti ia sudah satu jam terkapar dan tidak ada seorang pun yang menolongnya.


Tubuhnya diam tak bergerak, kondisinya sangat mengkhawatirkan akan keselamatan jiwanya. Pada dahinya terdapat bulatan hitam memanjang sekitar 5 cm bekas energi hantaman tongkat Raja Kalas Pati.


Didalam kebingungan bercampur cemas melihat kondisi sahabatnya, tiba-tiba Abah Dul dikagetkan dengan munculnya secercah cahaya putih menyilaukan disisi kanan tubuh Ustad Baharudin.


Perlahan-lahan cahaya putih itu memudar lalu berganti membentuk sebuah tubuh menyerupai manusia. Sosoknya terlihat ringkih sedikit membungkuk menandakan sosok tersebut sudah sangat sepuh.


Di kepalanya terbalut kain putih seperti yang biasa dikenakan Pangeran Diponegoro, berjubah putih panjang hingga menyentuh lantai saung. Ditangannya seuntai tasbih berwarna hijau menyala terus di titinya.


"Romo Yai!" Ucap Abah Dul terkejut.


"Alhamdulillahirobbil alamiin... Beliau datang menolong Bahar," ucapnya dalam hati.


Romo Yai adalah tak lain Kiyai Sapu Jagat salah satu pengasuh Pondok Pesantren di Madura dimana Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin menjadi murid sekaligus orang kepercayaannya dulu semasa masih mondok 5 tahun silam.


Keempatnya mendapat bimbingan langsung mendalami ilmu kanuragan dan kebatinan tingkat tinggi dari Kiyai berjuluk Sapu Jagat itu. Bahkan keempatnya mendapat tugas khusus menjadi pengawal pribadinya.


Setelah selesai mengenyam pelajaran di pesantren selama 15 tahun, Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin masing-masing kembali ke kampung halamannya.


Di kampungnya, Abah Dul menjadi petani sekaligus praktisi supranatural yang disegani, Gus Harun mengelola pesantren di Banten meneruskan ayahnya. Sedangkan Basyari menjadi pengajar di pesanten yang ada di daerahnya di Surabaya dan Baharudin menjadi pengusaha kayu dan juga mengurus Pesantren meneruskan ayahnya. Ia juga dikenal sebagai praktisi supranatural tersohor di Kutai.


Lamunan Abah Dul buyar seketika, pandangan mata batinnya kembali tertuju pada Ustad Baharudin sedang memuntahkan darah kental berwarna merah kehitaman saat punggungnya dihentak telapak tangan Kiyai Sapu Jagat.

__ADS_1


"Keluarkan semua Cung," Seru Kiyai Sapu Jagat sembari terus menghentak-hentakkan punggung Baharudin.


"Hoekh.. hoekh.." Ustad Baharudin terus memuntahkan darah kental kehitaman.


Wajah Ustad Baharudin perlahan-lahan terlihat mulai memerah. Matanya kuyu terbuka sedikit demi sedikit lalu samar-samar melihat dihadapannya sosok yang tak asing lagi. Dia pun langsung bermaksud bangkit untuk sujud sungkem pada Kiyai Sapu Jagat, namun dicegah.


"Sudah, sudah.. Ayo duduk lagi, atur nafasmu Cung," kata Kiyai Sapu Jagat.


Ustad Baharudin menuruti perkataan Kiyai Sapu Jagat. Ia pun kembali duduk diposisinya semula bersandar pada tiang bambu disudut saung mengikuti anjuran Kiyai Sapu Jagat.


Segera telapak tangannya dirangkapkan didepan dada dan perlahan mejamkan mata. Ustad Baharudin mulai melakukan pernafasan sama seperti yang dilakukan Abah Dul.


Pelan-pelan dihirupnya udara malam dalam-dalam hingga terasa menyesaki dadanya lalu ditahannya tetapi ia langsung terbatuk-batuk.


"Sedikit demi sedikit dulu jangan memaksakan diri," sergah Kiyai Sapu Jagat seraya mengusapkan telapak tangannya pada dada Ustad Baharudin.


Ustad Baharudin pun mengulanginya lagi. Ditariknya nafas perlahan namun tak sepenuhnya menghirup udara dari hidungnya seperti yang pertama. Kemudian ia tahan di dada beberapa detik lalu dikeluarkan melalui mulutnya secara perlahan.


"Terus lakukan Cung, hingga sakit di dadanya tak berasa lagi," ucap Kiyai Sapu Jagat.


"Sekarang kamu pulihkan tenaga dalamnya. Lakukan pernafasan perut," kata Kiyai Sapu Jagat lagi melihat Ustad Baharudin mulai segar.


Ustad Baharudin pun langsung mengikuti anjuran gurunya. Ditariknya nafas dalam-dalam dan ditahan sekitar 60 detik dibagian perutnya lalu kembali dihembuskan melalui mukutnya.


"Lakukan terus Cung, hingga benar-benar kondisimu terasa bugar kembali. Ya, sudah Romo pamit Cung, assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh." Ucap Kiyai Sapu Jagat lalu lenyap dari hadapan Ustad Baharudin.


"Matur nuwun Romo," balas Ustad Baharudin seiring lenyapnya Sukma Kiyai Sapu Jagat.


......................


Rumah Mahmud,

__ADS_1


Abah Dul meraupkan telapak tangan ke wajahnya seraya berucap 'Alhamdulillah' usai melihat kondisi Ustad Basyari dan Ustad Baharudin melalui mata batinnya seperti yang disuruh oleh Gus Harun. (baca episode sebelumnya*)


Sementara wajah Mahmud, Kosim, Mang Ali dan Gus Harun terlihat harap-harap cemas menanti laporan Abah Dul.


"Alhamdulillah, dua sahabat kita selamat Gus. Mereka juga terluka cukup parah, tapi sudah dapat diatasi" terang Abah Dul.


Lalu Abah Dul menceritakan seluruhnya tentang luka Ustad Basyari dan Ustad Baharudin hingga kondisinya dipastikan selamat. Dan tak lupa pula menceritakan kemunculan Kiyai Sapu Jagat.


Gus Harun nampak tertegun mendengar cerita Abah Dul. Sedangkan Mahmud, Kosim dan Mang Ali hanya manggut-manggut mendengarnya. Wajahnya terlihat bingung penuh tanda tanya.


Ketiganya sama sekali tidak tahu dengan sosok Ustad Basyari dan Ustad Baharudin karena kehadirannya selalu dalam wujud sukma.


"Dul, kita harus segera memulihkan kondisi kita. Saya khawatir bangsa siluman itu tiba-tiba menyerang disaat kita belum pulih seratus persen," kata Gus Harun dengan ekspresi cemas.


"Betul Gus, ayo kita pulihkan kondisi kita," kata Abah Dul.


"Mang Ali, Mahmud dan Kosim, istirahatlah dulu tapi bergantian saja kalau mau tidur, ya.." Sambungnya.


"Iya Bah.." Jawab ketiganya serempak.


"Biar saya saja yang melek," kata Mahmud kepada Kosim dan Mang Ali.


Ketiganya beranjak dari tempat duduknya. Mang Ali menuju ruang tamu lalu rebahan di kursi tamu, Kosim langsung merebahkan tubuhnya tak jauh dari tempat duduknya semula didekat Gus Harun dan Abah Dul. Sedangkan Mahmud memilih duduk di teras depan rumahnya sambil menenteng segelas kopi.


Gus Harus dan Abah Dul langsung mengatur duduknya. Sesaat kemudian berkonsentrasi dengan duduk bersila tangan dirangkapkan didepan dada dan mata terpejam.


Keduanya mulai mengatur pernafasan. Cara ini merupakan salah satu upaya mengembalikan tenaga dalam yang terkuras sekaligus memulihkan luka dalam.


Dalam satu tarikan nafas dibarengi dengan bacaan 'Lailaha ilallah' sebanyak 33 kali sambil ditahan diperut. Saat nafas ditahan di perut kembali hatinya membaca 'Lailaha ilallah' sebanyak 33 kali lalu kembali dihembuskan melalui mulut juga sembari membacanya sebanyak itu pula.


Itulah yang dinamakan pernafasan perut. Abah Dul dan Gus Harun sudah terbiasa melakukan itu semenjak mendapat ajaran kanuragan dari gurunya Kiyai Dapu Jagat ketika di pesantren.

__ADS_1


Selain memulihkan kondisi fisik dan energi, pernafasan perut juga dibutuhkan untuk memperkuat enerji kanuragan atau tenaga dalam.


......................


__ADS_2