Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
KABAR KOSIM


__ADS_3

Sebelumnya, diatas langit kilatan cahaya putih nampak menabrak cahaya kuning keemasan yang berasal dari tongkat emas raja Kalas Pati yang tèngah meluncur deras.


Ujung tongkat yang telah berubah runcing dan tajam itu saat beberapa centi meter lagi menembus tubuh Mahmud, seketika terpental dihantam cahaya putih.


Duaaarrrr...!!!!


Suara ledakkan terdengar menggema diangkasa menimbulkan getaran yangvmengguncang pijakan Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin, tuan Santana dan tuan Gosin.


Empat murid kiyai Sapu Jagat serta dua wakil pasukan jin dan pasukan Kajiman secara reflek melihat keatas dimana ledakkan terjadi. Percikkanan api membentuk kembang api seeaat membuncah menerangi pekatnya langit. Warna kuning emas terlihat mendominasi membungkus cahaya putih yang menabraknya.


Cahaya kuning emas terpental dan menancap ditengah- tengah posisi Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin serta dua wakil pasukan jin dan kajiman yang sudah lebih dulu menghindar dari hujaman tongkat emas tersebut.


Seiring lenyapnya pendaran cahaya akibat tabrakkan tersebut, cahaya putih terpental melesat jauh. Begitu pula dengan Mahmud, tubuhnya seketika terpental tak luput dari efek kekuatan yang mendorongnya jauh.


Sial bagi cahaya putih, yang tak lain adalah Kosim jatuh diantara prajurit- prajurit siluman monyet yang jumlahnya ratusan ribu yang tengah siaga berkumpul di depan benteng istana.


Jatuhnya Kosim sempat memusnahkan puluhan ribu prajurit siluman monyet yang berada di sekitar tempatnya jatuh. Tubuh- tubuh prajurit yang terkena efek jatuhnya cahaya putih berpelantingan keudara lalu musnah meninggalkan cahaya kelabu.


Para prajurit yang melihat jatuhnya cahaya putih hingga memusnahkan sesama prajurit lainnya menganggap bahwa itu adalah sebuah serangan dari musuh- musuh sebelumnya.


Sesaat setelah keadaan kembali normal, para prajurit siluman monyet melihat sosok wujud manusia tergeletak didalam kawah berdiameter 10 meter bekas jatuhnya cahaya putih tersebut.


Seketika ratusan ribu pasang mata menyala merah menatap liar kearah Kosim yang masih tergeletak dengan posisi tertelungkup. Suara Pekikan- pekikan dari para prajurit siluman monyet saling bersahutan terdengar membahana diangkasa.


Mata mereka nyalang layaknya melihat mangsa yang nampak sudah tak berdaya. Tanpa menunggu komando lagi, para prajurit siluman monyet secara bersama- sama berloncatan sambil mengacungkan beraneka macam senjata tajam merangsak memburu Kosim yang tertelungkup tidak berdaya.


Dari berbagai arah prajurit- prajurit siluman monyet menghujamkan senjata ditangan mereka kearah Kosim. Disaat bersamaan kilatan- kilatan dari mata pedang, tombak, parang maupun besi akan menyentuh tubuh Kosim, seketika itu juga senjata- senjata tersebut berpentalan kesegala arah sekaligus  menyeret pemegangnya. Mereka tidak menduga sama sekali ada kekuatan yang tiba- tiba muncul menyelimuti tubuh Kosim. Kekuatan bercahaya emas tersebut mampu melindungi tubuh Kosim dari hujaman senjata- senjata tajam dari para prajurit siluman monyet.


Tubuh- tubuh prajurit siluman monyet yang berada dipososi terdepan seketika terpental dan menabrak tubuh prajurit lain yang berada di belakangnya. Tubuh mereka saling bertubrukkan secara beruntun hingga ke posisi prajurit yang berada di belakang tak ubahnya seperti tanaman rumput ilalang yang rebah seketika.


Sesaat kemudian Kosim tersadar dengan posisinya yang kini sudah berada di bawah dan tertelungkup, langsung berusaha bangkit sambil memegangi dadanya menahan sesak dan panas. Segera Kosim memposisikan diri untuk duduk bersila lalu berkonsentrasi untuk menghilangkan hawa panas yang menjalar disekujur tubuhnya.


Baru saja Kosim memejamkan matanya memusatkan konsentrasinya, terdengar suara siutan mengambang diudara. Suaranya semakin lama semakin terdengar mendekati dirinya,  Kosim buru- buru membuka matanya kembali. Ia terkesiap melihat diatas kepalanya nampak kilatan- kilatan cahaya dari mata senjata tajam sedang meluncur deras menghujami tubuhnya.

__ADS_1


Siuuuuutttttt…!!!


Siuuuuutttttt…!!!


Siuuuuutttttt…!!!


Siuuuuutttttt…!!!


Siuuuuutttttt…!!!


Siuuuuutttttt…!!!


Tak ada waktu bagi Kosim untuk melakukan sesuatu untuk mengantisipasi datangnya serangan tersebut. Kosim terlihat pasrah dan perlahan- lahan menutup matanya seraya bergumam, “Inilah akhir hidupku…”


Selesai berugumam pasrah, Kosim merasakan desiran hujaman- hujaman berbagai senjata tajam kian dekat mencabik- cabik tubuhnya. Kosim kian menutup matanya rapat- rapat dan kembali berkata pasrah; “Ampuni aku ya allaaaaaah…”


Buuuummmm…!!!


Kosim pun segera membuka matanya kembali, saat itu juga Kosim melihat ribuan prajurit siluman monyet terpelanting saling terpental menjauh. Disaat bersamaan samar- samar Kosim melihat ada cahaya emas sedang membungkus tubuhnya. Spontan dengan reflek Kosim meraba sabuk yang mengikat bajunya dan merasakan ada satu benda yang menonjol.


“Mustika batu naga emas!”


Kosim baru benar- benar menyadari kalau cahaya emas yang melindunginya dari hujaman serangan para prajurit siluman monyet tersebut berasal dari ‘Mustika Telur Naga Emas’ pemberian dari keluarga Mahmud. Sadar dengan adanya Mustika telur naga emas, seketika itu juga Kosim teringat dengan Mahmud.


“Bagaimana nasib kang Mahmud?!” ucapnya dalam hati.


“Aku harus cepat- cepat mencari keberadaan kang Mahmud!” sambung Kosim pada dirinya sendiri.


Dengan cepat Kosim berdiri sembari merentangkan kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka menghadap kedepan. Tatapan mata Kosim diedarkan ke sekelilingnya dengan bengis memperhatikan prajurit- prajurit siluman monyet yang sedang bersiap menyerangnya kembali. Nampak sorot mata Kosim penuh dendam membara tersirat keluar dari pancaran kedua matanya.


Mulut Kosim terlihat komat kamit merapalkan suatu bacaan, lalu sedetik kemudian dari kedua telapak tangan Kosim muncul cahaya putih menyelimuti. Diawali dengan teriakkan keras, tubuh Kosim melesat keatas lalu menghentakkan kedua tangannya secara bergantian diarahkan pada kerumunan para prajurit siluman monyet dibawahnya.


Wuuusssshhh…!!!

__ADS_1


Wuuusssshhh…!!!


Wuuusssshhh…!!!


Wuuusssshhh…!!!


Seketika kilatan- kilatan cahaya putih yang muncul di kedua telapak tangan Kosim melesat kearah sekumpulan prajurit- prajurit siluman monyet seperti selarik cahaya laser yang ditembakkan dari atas. Cahaya- cahaya yang dilesakkan dari kedua tangan Kosim melesat cepat menyasar prajurit- prajurit siluman monyet.


Bummmm…!!!


Bummmm…!!!


Bummmm…!!!


Bummmm…!!!


Suara dentuman demi dentuman langsung membuncah diujung lesatan cahaya putih tatkala mengenai sekumpulan prajurit siluman monyet dibawah sana. Kepulan- kepulan asap kelabu seketika mengepul lalu lenyap silih berganti.


Kosim tampak tersenyum puas melihat ribuan prajurit siluman monyet bertumbangan dan musnah. Namun senyuman puasnya tak lama karena Kosim melihat masih banyak prajurit- prajurit siluman monyet  yang menghampar dibawahnya tiba- tiba melesat terbang memburu kearahnya.


“Tidak mungkin aku menghadapi ratusan ribu siluman monyet itu sendirian. Lebih baik aku mencari kang Mahmud!” tegas Kosim dalam hati, lalu melesat keatas lebih tinggi lagi dan menghilang dibalik pekatnya alam siluman.


“Grrrrrkkkkhhhh…!!!!”


“Grrrrrkkkkhhhh…!!!!”


“Grrrrrkkkkhhhh…!!!!”


Suara –suara raungan kemarahan dari para prajurit siluman monyet seketika menggaung diudara saling bersahutan manakala melihat buruannya kabur. Lalu kembali turun berbaur dengan para prajurit –prajurit lainnya yang juga terlihat sangat murka.


Tak lama setelah itu terdengar suara raungan kemarahan yang membahana di angkasa disertai dengan suara gelegar guntur di langit becampur kilatan- kilatan petir menjilat- jilat kebawa. Para prajurit siluman monyet  serempak medongak melihat ke langit, lalu semua prajurit berteriak seperti membalas raungan tersebut.


“Raja Kalas Pati!” teriak para prajurit siluman monyet serentak, lalu bergerak menuju arah suara raungan.**BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2