Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Kritis


__ADS_3

Di Rumah Mahmud,


Jam dinding menunjukkan pukul 11.13 wib malam.


Mahmud, Kosim dan Mang Ali terlihat masih khusuk berzikir seperti yang ditugaskan oleh Gus Harun sebelum Gus Harun dan Abah Dul keluar memisahkan diri keluar dari raganya.


Didalam hati ketiga orang itu muncul kepanikan disertai cemas. Sebentar lagi pukul 12 malam namun tubuh Abah Dul dan Gus Harun nampaknya belum juga bergerak.


Saat Kosim mencoba membuka matanya dan melirik tubuh didepannya terlihat keringat bercucuran membasahi baju koko Gus Harun dan Abah Dul. Akan tetapi tetap tak ada gerakan sedikit pun dari tubuh keduanya.


Kosim kian penasaran dengan tubuh Abah Dul dan Gus Harun yang tak kunjung bergerak sedikit pun padahal sudah hampir dua jam-an lebih.


Tak lama kemudian Kosim melihat tubuh Gus Harun dan Abah Dul tiba-tiba terguncang-guncang dengan keras. Disusul suara erangan kesakitan dari kedua orang itu sembari berkali-kali mengucap istigfar lalu tubuh keduanya bergelimpangan.


"Masya Allah!" Seru Kosim.


Mang Ali dan Mahmud membuka matanya begitu mendengar Kosim berteriak. Keduanya pun tak kalah terkejutnya lalu spontan mengucap istigfar berkali-kali dalam kepanikan.


Mahmud bergegas memeriksa dada Gus Harun dengan menempelkan telapak tangannya. Lalu berpindah memeriksa nadi di leher dan pergelangan tangannya untuk memastikan kalau Gus Harun masih hidup.


"Gimana kondisi Abah Dul, Mang Ali?" Tanya Mahmud panik dan cemas.


Mang Ali pun melakukan hal yang sama memeriksa denyut nadi pada tangan dan leher Abah Dul.


"Alhamdulillah..." Ucap Mang Ali.


Sementara Kosim diam terpaku dengan raut muka cemas, tak tahu apa yang harus dilakukannya.


"Sim ambilkan air putih dua gelas, ya," kata Mahmud.


Kosim lekas-lekas berdiri dan melangkah menuju dapur.


Mang Ali dengan segala kemampuan ilmu kebatinannya berusaha menyadarkan Abah Dul yang tergeletak disampingnya.


Mula-mula telapak tangan kanan Mang Ali di tempelkan di dada Abah Dul lalu membaca Ajian Penggugah Jiwa. Ajian warisan dari bapak moyangnya ini memang sering digunakan untuk menyadarkan orang yang pinsan setiap kali diminta tolong.


Seketika Mang Ali merasakan ada hawa panas menyusup merasuki melalui tangannya. Mang Ali terus mencoba melawan hawa panas yang sekonyong-konyong masuk kedalam aliran darahnya terus merangsak masuk menuju jantung.


Tak mau ambil resiko, Mang Ali cepat-cepat mengerahkan tenaga dalam penuh kemudian dihentakkannya telapak tangannya di dada Abah Dul.


"Hoekkh.. hoekh.. hoekhhh.." Suara Abah Dul tiba terbatuk-batuk, sembari mencoba berusaha duduk.


Sesaat kemudian Abah Dul mulai menyadari keadaannya. Ia langsung merangkapkan kedua telapak tangannya di dada sembari mulutnya komat-kamit membaca amalan pemusnah luka.

__ADS_1


Sesaat ia mengatur pernafasannya, dihirupnya udara dalam-dalam lalu ditahan beberapa saat kemudian dihembuskan melalui mulutnya dengan perlahan.


Sedetik kemudian kedua tangannya digerakkan menyapu dari ujung kaki hingga kepala untuk menetralisir tubuhnya dari luka dalam sekaligus mengikis energi negatif yang menempel di tubuhnya.


Perlahan-lahan Abah Dul membuka matanya dan meraupkan kedua telapak tangannya.


"Alhamdulillahirobbil alamiin.." Ucap Abah Dul.


"Gimana kondisinya Bah?" Tanya Mang Ali dan Mahmud cemas.


"Lumayan agak mendingan," jawab Abah Dul masih terlihat lemas.


Kosim datang membawa dua gelas air putih dan diberikan kepada Mahmud.


"Minum dulu Bah," Mahmud mengulurkan segelas air putih pada Abah Dul.


Abah Dul menolehkan wajahnya ke Gus Harun yang masih tergeletak tak bergerak.


"Mud air satunya lagi," kata Abah Dul pada Kosim.


Abah Dul lalu mengambil gelas satunya dari tangan Mahmud. Kemudian telapak tangan kananya diarahkan pada atas gelas mulutnya komat-kamit membaca doa-doa.


Beberapa saat kemudian Abah Dul menuangkan airnya sedikit demi sedikit ke telapak tangannya lalu di ciprat-cipratkannya air itu mulai dari kaki hingga kepala Gus Harun.


Mula-mula jari telunjuk Gus Harun bergerak-gerak, disusul kedua matanya perlahan-lahan terbuka. Ada sorot kesakitan dan kelelahan yang teramat sangat di bola matanya.


"Syukur Alhamdulillah, Gus... istigfar Gus," kata Abah Dul sembari menepuk-nepuk punggung tangan Gus Harun.


"Astaa..gfirullahh al'azdimmmm.." ucap Gus Harun dengan suara terbata-bata dan berat.


Gus Harun berusaha bangkit duduk dibantu Abah Dul dan Mahmud. Ia mendadak teringat Ustad Basyari dan Ustad Baharudin.


"Dul, coba lihat kondisi Basyari dan Baharudin," kata Gus Harun.


Gus Harun mengalami luka dalam paling parah karena posisinya berada didepan Raja Kalas Pati dan telak terkena sambaran energi langsung dalam pertarungan di alam tak kasat mata tersebut.


Beruntung bagi ketiga sahabatnya yang posisinya berada di samping dan belakang. Meskipun sama-sama terluka namun tak terlalu parah seperti Gus Harun. Ketiganya hanya terserempet energi kibasan tongkat Kalas Pati yang begitu dahsyat energinya.


......................


Kediaman Ustad Basyari,


Ustad Basyari sedang dikerumuni para santri di kediamannya yang berada dilingkungan Pesantren tempatnya mengajar. Ada belasan santri yang terlihat panik dan cemas melihat Ustad Basyari tergeletak tak sadarkan diri di saung tempatnya sholat dan tafakur.

__ADS_1


Kondisinya sama persis dengan Abah Dul dan Gus Harun. Ustad Basyari pun terkapar tak bergerak. Namun cucuran keringat nampak jelas membasahi baju kokonya.


Beberapa saat kemudian kerumunan santri perlahan menyibak ketika datang Kiyai Sepuh Pesantren Nurul Qolbi bernama Kiyai Jamhari.


Aura kewibawaannya terasa sangat besar meski tampilannya sederhana baju koko putih, memakai kopyah putih dan di bahunya terlampir sorban hijau sedang ditangannya menggenggam tasbih batu hitam.


Beliau berjalan diantara santrinya yang menundukkan kepala memberikan hormat sembari menyalaminya mencium tangan Kiyai Jamhari satu persatu.


"Kenapa Ustad Basyari?" Tanya Kiyai Jamhari berwibawa.


"Ndak tau Romo," jawab beberapa Santri.


Lalu Kiyai Jamhari duduk didekat kepala Ustad Basyari yang tergolek lemah.


"Astagfirullahal azdim.." Ucap Kiyai Jamhari.


Kiyai Jamhari melihat dengan jelas ada luka gosong pada bagian dada Ustad Basyari.


"Air, air.. tolong ambilkan air," kata Kiyai Jamhari pada Santri-santrinya.


Sambil menunggu air yang diminta datang, Kiyai Jamhari segera melafalkan doa-doa. Sesaat kemudian ditiupkan pada kedua telapak tangannya lalu diusapkannya pada bagian dada Ustad Basyari yang berbekas luka hitam.


Hawa panas langsung menjalar kesekujur tubuh Ustad Basyari. Sedetik kemudian Ustad Basyari terbatuk-batuk lalu membuka matanya.


"Romo Yai..." Ucap Ustad Basyari terbata-bata.


"Sudah, sudah.. tenangkan hatimu Cung. Masa kritisnya sudah berlalu, duduklah..." Ucap Kiyai yang dipanggil Santrinya Romo Yai.


Tak lama kemudian seorang Santri datang membawa segelas air putih dan diberikan pada Kiyai Jamhari.


"Minumlah.." Kata Kiyai Jamhari pada Ustad Basyari yang sudah duduk menyender pada tiang saung tengah.


"Lukamu itu Cung, seperti pukulan berkekuatan besar, bukan pukulan biasa, ada apa?" Kata Kiyai Jamhari pelan namun suaranya terasa menggetarkan hati.


Perlahan Ustad Basyari menceritakan penyebabnya terluka. Ia mengatakan habis bertarung melawan Raja Siluman Monyet dari Gunung Ng untuk membantu dua sahabatnya.


Ustad Basyari pun menceritakan bukan hanya dirinya namun juga bersama tiga sahabat lainnya (Ustad Baharudin dari Kalimantan, Abdul Basit dari Jawa Barat dan Gus Harun dari Banten.


Persoalan Kosim pun ia ceritakan semuanya sehingga menimbulkan peperangan dua dunia, "Alam Dunia melawan mahluk Alam Gaib."


Sementara Abah Dul yang sedang melihat dengan kemampuan mata batinnya bernafas lega setelah melihat keadaan Ustad Basyari di Surabaya dan ia pun berucap syukur "Alhamdulillah."


Kemudian Abah Dul mengalihkan pandangan batinnya untuk melihat kondisi Ustad Baharudin yang berada di Kalimantan.

__ADS_1


......................


__ADS_2