
Roh Karso terus menerus bercucuran air airmata diantara roh- roh lainnya yang senasib dengan diriniya. Hiruk pikukcdan gelak tawa para prajurit- prajurit siluman monyet yang berlalu lalang menginjak roh- roh seperti Karso semakin merasakan penderitaannya yang tiada akhir.
Suasana ramai istana siluman monyet yang sedang melangsungkan pesta 1 Syuro kian membuat roh Karso dan roh- roh lainnya tersiksa. Namun roh- roh tumbal itu tak bisa berbuat apa- apa, mereka hanya menunggu sampai waktu pembebasan tiba, yakni ketika hari kiamat.
Raja Kalas Pati duduk di kursi singgasana raja kian terbuai dengan suasana pesta. Disekelilingnya duduk, ditemani oleh para wanita- wanita yang nampak berwujud seperti manusia yang sangat canti- cantik dengan berpakaian minim memperlihatkan kesintalan tubuhnya.
Sesekali para wanita itu menyuapi Raja Kalaspati dengan buah- buhan ke dalam mulutnya secara bergantian. Raja Kalaspati terlihat sangat gembira malam ini, dia begitu larut mengikuti liukan- liukan tubuh sang penari di depannya diiringi hentakan- hentakan gendang yang berirama dengan bunyi tetabuhan lain.
Langit alam gaib siluman monyet pun seakan ikut mememriahkan pesta tahunan para siluman monyet tersebut. Suara guntur berpendaran menggelegar diatas langit yang gelap dan dihiasi dengan kilauan kilat- kilat yang muncul dari berbagai arah. Kilatan cayahanya menjalar membentuk seperti akar pohon menjelajah menyebar.
**
Desa Sukadami,
Langit diatas desa Sukadami terlihat kian hitam pekat tertutup oleh awan- awan yang bergululung- gulung menghalangi sinar matahari. Meskipun waktu menunjukkan tengah hari yang pada cuaca normalnya matahari sedang berada di atas tegak lurus pada titik kulminasinya, namun terik matahari itu tak mampu menembus gulungan awan- awan hitam saking tebalnya untuk menjatuhkan cahanya menyinari desa Sukadami.
Di dalam rumah Mahmud, suasana sedang berlangsung tegang dan panik. Di ruang tengah, Abah Dul, Gus Harun, Mahmud, Arin dan Dewi yang baru saja selesai menyantap makan siang bersama tanpa ada canda tawa ataupun obrolan- obrolan yang menghangatkan suasana seperti biasanya, kini saling terdiam.
Kini bukan hanya kedua pasang mata Abah Dul dan Gus Harun saja yang nampak mulai berkaca- kaca setelah
melihat dan mendengar berita di layar kaca. Bibir mereka semuanya bergetar tanpa bisa berucap sepatah kata pun, mereka tak sanggup berucap lagi usai memastikan bahwa korban kecelakaan di televisi itu adalah orang yang sedang di tunggu- tunggu.
“Tidak! Ini tidak mungkin!” desis Abah Dul.
“Kita harus cepat- cepat memastikannya Dul, apakah benar itu Basyari dan Baharudin sahabat kita atau bukan?” ucap Gus Harun dengan nada berat mencoba menolak kebenaran gambar di televisi.
“Bagaimana caranya Gus?” tanya Abah Dul.
__ADS_1
“Kita harus ke sana Dul. Ke polsek atau polres meminta keterangan sekaligus melihat korban- korban itu secara langsung,” tegas Gus Harun.
“Tapi Gus…. Lalu bagaimana dengan rencana nanti malam? Apakah waktunya cukup?” sergah Abah Dul.
Seketika Gus Harun terhenyak, ia termangu tak bisa langsung menjawab pertanyaan Abah Dul. Ia mengusap- usap wajahnya sembari menghela nafas berat.
“Ya allah, apa yang harus saya lakukan? Mohon petunjuk-MU ya allaaahhh” pekik Gus Harun dalam hati sangat bingung.
Beberapa saat lamanya, tiba- tiba Gus Harun memecahkan keheningan. Ia mendongakkan kepalanya celingukkan mencari sesuatu sembari bertanya; “Jam berapa sekarang!?”
Semua yang ada di ruang tengah itu serempak menoleh ke tempat jam dinding yang tergantung persis diatas tv.
“Jam satu Gus!” Jawab mereka serempak.
“Kecelakaan itu lokasinya dimana tadi?!” tanya Gus Harun serius.
Abah Dul mengingat- ingat lagi berita tadi sebelum kemudian menjawab dengan sedikit ragu- ragu, “Kalau nggak salah sudah masuk di wilayah Jawa Tengah Gus. Tapi daerah mananya saya tadi kurang begitu fokus mendengarnya karena tak menyangka kalau yang kecelakaan itu sahabat- sahabat kita,”
“Kalau jalannya ngebut bisa sampai 3 jam- an Gus,” jawab Mahmud sambil menghitung- hitung perkiraan waktu.
“Kalau begitu kang Mahmud bisa carikan mobil sekarang?” tanya Gus harun lagi.
“Bi, bisa Gus!” jawab Mahmud mengernyitkan kening. Didalam hatinya bertanya- tanya, apakah Gus Harun akan nekad kesana padahal tidak tahu lokasinya di daerah mana.
“Kita akan kesana?!” sergah Abah Dul yang juga mengernyitkan alisnya.
Pertanyaan Abah Dul kontan membuat Mahmud menggut- manggut, ia turut membenarkan pertanyaan Abah Dul.
__ADS_1
“Iya kita kesana,” jawab Gus Harun sambil bangkit dari duduknya.
“Tapi Gus, kita nggak tau lokasinya dimana,” ujar Abah Dul yang turut bangkit dari duduknya juga.
Mahmud, Arin serta Dewi pun spontan ikut berdiri dari duduknya. Raut wajah mereka penuh tanda tanya menantikan jawaban kepastian dari Gus Harun.
“Kita telususri saja sepanjang jalan tol ketika masuk wilayah Jawa Tengah. Pasti bekas kecelakaan itu masih ada dan mobil- mobil yang hancur juga pasti masih ada. Sebab polisi juga pasti masih sedang melakukan pemeriksaan dan melakukan indentifikasi kronologi kecelakaannya, jadi kemungkinan mobil- mobil kecelakaan itu masih ada di lokasi,” kata Gus Harun lalu beranjak menuju ruang tamu diikuti Abah Dul dan Mahmud. Sementara Arin dan Dewi kembali meneruskan membereskan piring- piring bekas makan sebelumnya.
“Tapi Gus, bagaimana dengan rencana nanti malam?!” tanya Abah Dul sambil duduk di kursi tamu bersamaan dengan Gus Harun dan Mahmud duduk.
“Untuk rencana nanti malam biar kita pikirkan nanti. Sekarang masih ada waktu beberapa jam sebelum melakukan rencana penyelamatan Dede, yang penting kita memastikan dulu keadaan Baharudin dan Basyari dulu,” terang GusHarun.
“Kalau begitu saya pergi dulu Gus, ambil mobil di rumah pak kepala desa,” sela Mahmud.
“Njih kang Mahmud,” balas Gus Harun.
Gus Harun berpikir untuk mengutamakan mencari tahu kondisi sahabat- sahabatnya itu dulu, sedangkangkan Abah Dul sebaliknya. Abah Dul justru masih kepikiran dengan rencana nanti malam mengingat hanya nanti malam saja batas waktu kesempatan menyelamatkan anaknya Kosim.
Saat ini pukul 13.30 wib,
Didalam mobil Avaza berwarna merah, Mahmud melarikan laju mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan tol. Gus Harun duduk dikursi sebelah kiri sementara Abah Dul duduk di jok tengah di belakang Mahmud dan Gus Harun.
“Mud, hati- hati Mud,” seru Abah Dul saat menyalip sebuah mobil bus yang juga melaju cepat.
Abah Dul melingokkan kepalanya diantara Mahmud dan Gus Harun duduk untuk melihat spido meter mobil saat Mahmud menyalip bus didepannya.
“Udan ente Mud! Itu seratus sepuluh jarum spido nya,” seru Abah Dul sambil berpegangan erat pada kepala jok Mahmud dan kepala Jok Gus Harun.
__ADS_1
“Lillahita’ala aja bah, insya allah selamat…” balas Mahmud sedikit tersenyum.
Gus Harun hanya diam saja walau pun tangannya berpegangan pada stand tangan diatas pintu mobil dengan sangat erat.*** BERSAMBUNG