
Sepeninggal Mahmud masuk kedalam rumah untuk mengambil uang, diam- diam pak Karjo menyunggingkan senyum sumringah. Pak Karjo menoleh menatap wajah istrinya sambil menyunggingkan senyuman kaku. Istrinya memabalas dengan sunggingan senyum kaku pula sembari menganggukkan kepalanya.
“Pergiiiii…!!!” tiba- tiba terdengar suara teriakan anak kecil.
Mendengar teriakkan itu seketika Pak Karjo dan istrinya terkejut luar biasa kontan menoleh kearah suara teriakkan anak kecil tersebut.
Dilihatnya seorang anakkecil berusia 3 tahunan sudah berdiri di tengah- tengah pintu sambil bertolak pinggang dengan sorot matanya memandang tajam kearah pak Karjo dan istrinya.
Saat itu juga pak Karjo dan istrinya merasakan jantungnya berdegub dengan kencang tatkala pandangannya bentrok dengan anak kecil tersebut yang tengah menatap tajam kearahnya.
Dada pak Karjo serta merta berdebar- debar keras dan seketika itu juga mendadak muncul rasa ketakutan yang teramat sangat didalam diri pak Karjo dan istrinya.
“Dede… Dede nggak boleh begitu..” ucap Mahmud lembut yang sudah berdiri dibelakang Dede yang seolah- olah menghalangi jalannya.
“Orang ini jahat ayah Mamud! Pergiiii….!!!” Teriak Dede histeris menunjukkan pemberontakkan atas ucapan Mahmud.
Mendengar Dede berteriak seperti itu, membuat Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin kontan bergegas bersama- sama beranjak ke tempat Dede dan Mahmud berdiri di pintu. Sedangkan Kosim dirinya hanya duduk saja sambil mengawasi putranya dengan seutas senyum tersunggung di bibirnya.
“Ada apa De…?” tanya Abah Dul berjongkok memegang pundak Dede berusaha menenangkannya.
“Pakde, orang itu jahat!” seru Dede sambil menunjuk kearah pak Karjo dan istrinya.
Mendengar ucapan Dede, kontan saja Abah Dul langsung melihat kearah yang ditunjuk dede. Dengan tatapan mata penuh selidik, Abah Dul memperhatikan wajah pak Karjo dan istrinya dengan tajam.
Abah Dul sangat yakin dan percaya apa yang ditunjukkan Dede tersebut tidak salah.
Mendapat tatapan seperti itu serta melihat banyak orang- orang yang keluar dari dalam rumah, seketika membuat pak Karjo dan istrinya terlihat kian ketakutan.
Ekspresi wajah memelasnya yang sedari tadi ditunjukkan, seketika berubah menjadi pucat pasi dan menegang. Namun keduanya tetap berusaha untuk tidak menunjukkan niat dan menyembunyikan tujuan yang sebenarnya dengan menundukkan kepala.
"Iya, iya De. Dede tenang saja pakde akan tendang orang- orang yang jahat!" ucap Abah Dul penuh penekanan.
Abah Dul sengaja mengatakan itu dengan suara sedikit keras agar di dengar oleh pak Karjo dan istrinya. Kontan membuat saja Pak Karjo dan istrinya semakin ketakutan.
Kini tubuh keduanya tampak gemetar, mereka perlahan-lahan beringsut dan mundur dari duduknya . Mahmud yang semula tidak percaya akan ucapan Dede, kini mulai mempercayainya.
Mahmud melihat Pak Karjo dan istrinya nampak ketakutan dan terlihat gugup tidak menyangka sama sekali Kalau Pak Karjo dan istrinya punya niat menjahati dirinya.
"bawa saja ke kantor polisi kedua orang itu benar-benar jahat Pakde !" teriak Dede.
Abad Dul perlahan-lahan bangkit berdiri tetap tajam ke arah Pak Karjo dan istrinya secara bergantian lalu melangkah mendekati keduanya.
Pak Karjo dan istrinya semakin tampak ketakutan melihat Abah Dul mendekatinya, sikapnya mulai grogi dan tampak semakin gugup dengan ekspresi ketakutan yang teramat sangat yang terus ditekannya dalam- dalam. Segera pak Karjo menarik tangan istrinya untuk berdiri bersamaan Abah Dul berdiri setengah langkah dihadapannya.
“Apa benar yang dikatakan anak itu pak Karjo?!” tanya Abah Dul pelan namun dengan aksen penuh penekanan pada
kalimatnya.
“Ti, tid, tidak Dul!” sanggah pak Karjo nampak terperangah.
“Bohong pakde!” sergah Dede dengan suara lantang.
“Sekali lagi saya tanya pak Karjo, apa niat sampeyan ke rumah Mahmud ini?!” tanya Abah Dul masih terlihat tenang, akan tetapi sorot matanya menatap tajam kearah pak Karjo dengan geram.
__ADS_1
Kributan di yang terjadi di teras depan rumah Mahmud rupanya terdengar pula oleh para tetangga di sekitar rumah Mahmud, sehingga tampak beberapa orang mulai bermunculan mendatangi halaman rumah Mahmud.
“Ada apa Bah?!” tanya pak Suroso penasaran sekaligus terpancing emosinya melihat ekspresi Abah Dul yang tampak geram menahan amarahnya menatap pak Karjo.
Abah Dul tidak menjawabnya, ia terus saja menatap tajam pak Karjo menunggu jawaban dari sepasang suami istri tersebut.
“Sss, ssa.. saya kesi ni ma.. mau pinjam u, uang… bu, buat pupu lang,” jawab pak Karjo mulai gemetar.
“Pulang?! Pulang kemana?!” tanya Abah Dul geregetan.
Abah Dul memang tidak mengetahui sebelumnya kalau pak Karjo sudah cerita ke Mahmud bahwa pak Karjo dan istrinya
sekarang tinggal di Sumtera. Yang Abah Dul tahu, selama ini pak Karjo dan istrinya masih tinggal di desa Sukadami.
“Kke, ke Sumatera,” jawab pak Karjo gugup kian gemetar melihat warga mulai berdatangan.
“Bohong pakde! Orang itu bohong!” teriak Dede langsung menyanggah jawaban pak Karjo.
Seketika wajah Abah Dul mulai menunjukkan
kemarahannya. Wajahnya nampak membesi penuh kegeraman menatap tajam mata pak
Karjo lalu menatap tajam pada istri pak Karjo.
“Jangan bohong pak Karjo! Anak itu tidak bisa dibohongi, dia sudah tahu lebih dulu sebelum sampeyan datang ke rumah Mahmud!” tegas Abah Dul.
Mendengar kata- kata Abah Dul, seketika
pak Karjo dan istrinya terkesiap kaget. Bahkan orang- orang yang sudah berkumpul di pelataran rumah Mahmud juga dibuat kaget. Dalam benak mereka bermunculan rasa percaya dan tidak percaya dengan yang diucapkan Abah Dul tersebut.
“Bohong pakde! Dia mau mengambil uang ayah Mamud!” teriak Dede.
Mendengar teriakkan Dede itu membuat
semua orang seketika langsung tersulut amarahnya. Semua orang- orang di desa
Sukadami sangat mengenal betul dengan kebaikan- kebaikan Mahmud yang suka
menolong, sehingga ketika ada orang yang menjahatinya maka dengan spontan
mereka semua akan dengan sukarela turut membela dan melindungi Mahmud.
“Ayo tangkap saja!”
“Tangkap! Bawa ke kantor polisi!”
“Tangkap!”
“Tangkap!”
“Tangkap!”
Teriakkan- teriakkan warga
__ADS_1
masyarakat yang berkumpul di pelataran depan rumah Mahmud saling bersahutan sembari
mengacungkan kepalan tangannya keatas. Wajah- wajah yang semula penasaran hanya
ingin mengetahui keributan di rumah Mahmud, kini nampak berubah geram dan marah.
“Tangkap! Bawa ke kantor polisi!”
“Tangkap!”
“Tangkap!”
“Tangkap!”
“Tenang… tenang… tenang bapak- bapak, ibu- ibu… ada apa ini?!” seru pak RT menyeruak diantara kerumunan warga yang mulai berdatangan.
“Ada orang yang mau menipu kang Mahmud pak RT!” teriak salah satu warga yang berdiri didepan.
“Iya betul! Itu orangnya pak RT, tangkap saja bawa ke kantor polisi atau kita gebukin saja beramai- ramai!” timpal warga lainnya.
“Tenang, tenang…! biar saya memastikan dulu kebenaranya,” sergah pak RT mengangkat
tangannya untuk menghentikan aksi warga.
Seketika itu juga teriakkan- teriakan warga terhenti. Pak RT membalik badannya menghadap Abah Dul dan juga Mahmud. Lalu pandangannya tertuju pada pak Karjo dan
istrinya.
“Pak Karjo? Ibu Sari? Bukannya kalian sudah ditangkap?” pak RT terkejut melihat pak Karjo dan istrinya.
Wajah pak Karjo dan istrinya seketika pucat pasi, tubuh keduanya tampak gemetaran. Suami
istri itu tidak mengira kalau aksinya selama ini ternyata sudah dilaporkan ke polisi. Bahkan pak Karjo dan istrinya tidak mengetahui kalau mereka berdua sudah menjadi target polisi alias masuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang)
alias buronan.
“Kenapa dengan mereka pak RT?!” tanya Abah Dul heran.
“Iya Bah, beberapa bulan lalu pihak kepolisian mendatangi kantor Desa mencari nama pak
Karjo dan ibu Sari ini. Ada laporan dari beberapa warga desa Sukadami serta warga desa lain bahwa pak Karjo dan istrinya ini telah membawa kabur uang korban- korbannya. Saya kira mereka sudah berhasil ditangkap, ternyata mereka masih berkeliaran disini!” ungkap pak RT.”
“Huuuuuuhhh…!!!” teriak warga spontan.
“Seret ke kantor polisi!”
“Hajar saja!”
“Gebukin dulu! Baru bawa ke polisi!”
Teriakkan- teriakan provokatif dari beberapa warga kian menambah panas suasana dan menyulut emosi warga lainnya. Mahmud buru- buru mengangkat tangannya seraya berkata;
“Tenang… tenang… jangan main hakim sendiri. Saya akan langsung telpon kantor polisi!”
__ADS_1
seru Mahmud.** BERSAMBUNG