
Intensitas teror siluman monyet dalam upaya mengambil nyawa Kosim maupun anaknya berkurang. Tidak seperti minggu pertama dan kedua setelah ritual pesugihan gagal diselesaikan teror datang silih berganti setiap hari.
Berbagai cara penjemputan nyawa Kosim dilakukan oleh siluman monyet. Bertarung langsung, mencelakai atau pun dengan cara licik memperdaya Arin, istrinya hingga mengambil paksa nyawa Kosim.
Beruntung bagi Kosim dan keluarganya masih bisa bertahan hidup meskipun berada dalam perlindungan orang-orang berilmu yang selalu dapat mencegah setiap kali datang menagih nyawanya.
Meskipun tidak sesering dua minggu sebelumnya namun upaya menjemput tumbal semakin membahayakan nyawa orang-orang yang menolong Kosim ataupun nyawa orang-orang yang ada disekitarnya.
Mahmud tergolek tak berdaya diatas kasur didalam kamarnya. Tubuhnya merasakan demam semalaman usai mendapat hantaman dari kekuatan siluman kera tingkat tinggi.
Pagi hari dihari ke-22 upaya melawan perjanjian gaib, Dewi memandangi wajah suaminya dengan hati gundah. Tubuh Mahmud terbujur lemah dengan mata terpejam, hanya suara nafas beratnya yang terdengar di telinga Dewi. Hatinya sangat mencemaskan kondisi suaminya yang tiba-tiba sakit.
Dewi tidak mengetahui sebenarnya sakitnya Mahmud bukanlah sakit biasa melainkan sakit akibat terkena hantaman siluman kera tingkat tinggi semalam.
"Assalamualaikum, Bah. Bah minta tolong bawa Mas Mahmud ke rumah sakit... iya sekarang," kata Dewi menutup telponnya.
Dewi melangkah keluar kamar menemui Kosim yang sedang duduk di ruang tamu. Diatas meja tamu yang baru diganti, Kosim duduk menyandar dengan pandangan mata menatap keluar jendela dengan nanar. Segelas kopi, rokok dan gorengan pisang tidak membuatnya berselera menikmatinya.
"Sim, nanti sama Abah Dul nganterin Mas Mahmud bawa ke rumah sakit. Mbak khawatir dengan kondisinya," ucap Dewi kepada Kosim.
Kosim sedikit kaget saat Dewi tiba-tiba muncul dan mengatakan itu.
"Kondisi mas Mahmud gimana Mbak?" tanya Kosim cemas.
"Badannya panas Sim, matanya merem terus dan nggak mau makan. Mbak khawatir kenapa-napa," ucap Dewi.
Kosim terdiam beberapa saat, hatinya merasa terpukul. Ada rasa bersalah yang teramat sangat didalam batinnya. Jika bukan karena dirinya orang sebaik mas Mahmud tidak akan mengalami sakit seperti ini, pikir Kosim.
"Iya Mbak, saya ke rumah Abah Dul ya minta tolong ambil mobil," ujar Mahmud.
"Mbak udah telpon katanya Abah Dul langsung kesini. Ya udah Mbak siap-siap dulu ya," kata Dewi berlalu.
Kondisi Kosim sendiri masih lebih baik daripada kondisi yang dialami Mahmud. Efek hantaman siluman kera terhadap Kosim tidak separah yang diterima Mahmud. Meskipun Kosim sempat tersungkur oleh hantaman kekuatan siluman kera namun amalan 'Benteng Pertahanan' yang diturunkan Gus Harun membuatnya tidak mengalami luka dalam yang fatal seperti Mahmud.
Pikiran Kosim melayang kepada kondisi Mang Ali yang belum diketahui. Semalam setelah diobati Abah Dul, Mang Ali pamit pulang katanya akan memulihkan luka dalam dengan caranya sendiri.
Kosim beranjak melangkah ke kamar untuk berganti pakaian. Dilihatnya Dede Mahardika, bocah 3 tahunan yang dijaminkan saat ritual pesugihan masih tertidur lelap di kamarnya.
Melihat polos wajah putranya hati Kosim terenyuh. Hatinya kian merasa sangat bersalah. Penyesalan kembali menghinggapinya namun nasi sudah menjadi bubur semuanya tidak dapat dikembalikan seperti semula.
"Ya Allah... Saya bertobat, ampuni saya ya Allah..." ucap Kosim lirih.
Semua kekacauan yang mengancam nyawa orang-orang yang dekat dengannya diakibatkan oleh dirinya. Rasa bersalah itu begitu kuat menyergap batinnya. Hingga kembali terlintas didalam pikirannya untuk menyerah. Ya menyerah dengan menyerahkan nyawanya.
__ADS_1
Lamunan Kosim buyar oleh suara Arin dari luar kamar.
"Maaas, dipanggil Mbak Dewi!" seru Arin.
Kosim mempercepat dandannya dan segera keluar kamar dan langsung membuka pintu kamar Mahmud yang bersebelahan dengan kamarnya.
Dia sejenak memandangi wajah kakak iparnya yang sangat baik itu. Wajahnya pucat, bibirnya mengering membias pasi, raut wajah Mahmud mengguratkan rasa sakit yang sedang ditahannya.
Di mata Arin dan Dewi semua kejadian-kejadian teror dan kekacauan di rumahnya dianggapnya hanyalah kejadian biasa yang sering dialami orang-orang kesurupan pada umumnya. Kedua kakak beradik itu belum menyadari kalau semua itu akibat dari perbuatan Kosim. Bahkan Arin sendiri juga tidak memgetahui kalau suaminya pernah mencoba melakukan ritual pesugihan.
"Tiiiin.. tiiin..!"
"Itu Abah Dul sudah datang," ujar Dewi.
Tak lama berselang Abah Dul sudah muncul di pintu kamar Mahmud. Wajah cemas Abah Dul mengiringi tatapan matanya menyapu wajah Mahmud yang terpejam.
"Mbak Dewi, ambilkan air minum dulu ya," kata Abah Dul.
Sambil berdiri disisi dipan Abah Dul memejamkan matanya. Mulutnya komat-kamit membaca doa lalu terdiam. Mata batin Abah Dul memeriksa sekujur badan Mahmud mulai dari ujung kaki penglihatannya naik keatas. Dikedua kaki Mahmud tidak ada yang ganjil. Kemudian penglihatannya naik, naik, dan Abah Dul melihat gumpalan hitam pada bagian dalam dada.
Bersamaan itu Dewi datang membawa segelas air air putih, "ini Bah," ucap Dewi.
Abah Dul menerima gelas itu tanpa menoleh. Mulutnya kembali membacakan doa, lalu sesaat berikutnya air di gelas itu dia tumpahkan perlahan-lahan ke dada sebelah kiri Mahmud sehingga hanya sedikit saja air yang tumpah.
Kosim menggapai tubuh Mahmud untuk membantunya duduk. Dewi pun tak tinggal diam disusunnya bantal menumpuk sebagai sandarannya. Wajah Mahmud terlihat pucat dengan bibir gemetar, baru saja setengah posisi duduk, Mahmud terbatuk-batuk hingga tiga kali lalu dia muntah denga mata terbuka lebar.
"Hoekh... Hoekh.. hoeeekhhh..!"
Semua mata terbelalak melihat muntahan dari mulut Mahmud. Cairan merah kehitaman tumpah berceceran mengotori baju dan sprey disekitarnya.
"Terus Mud, muntahkan terus! Keluarkan semuanya!" seru Abah Dul sambil menepuk-nepuk pungguk Mahmud.
"Hoekhhh...!"
Mahmud kembali muntah, kali ini muntahannya bukan hanya cairan merah kehitaman tetapi disertai dengan gumpalan kenyal kelabu kehitaman yang menebarkan bau yang sangat busuk.
Tangan Mahmud mencengkeram kuat tangan Kosim, mukutnya meringis menahan kesakitan yang teramat sangat setelah mengeluarkan gumpalan hitam. Raut wajahnya mengguratkan dirinya sedang menahan sakit yang luar biasa.
Dewi menangis tersedu-sedu tidak tega melihat suaminya tersiksa begitu hebatnya. Hatinya turut merasakan sakit melihat ekspresi kesakitan suaminya.
Dewi mengelap cairan merah kehitaman disekitar bibir Mahmud dengan tatapan nanar disertai isak tangis. Air matanya bercucuran membasahi pipinya.
"Maasss..." ucap Dewi lirih sambil terus mengusap-usap sisa cairan merah kehitaman yang ada dibawah dagunya.
__ADS_1
Hati Kosim semakin pilu melihat sepasang suami istri yang baik itu dalam kesedihan. Rasa bersalah Kosim munyelimuti hatinya, ia kembali menyalahkan dirinya sendiri. Kalau bukan karena dirinya orang sebaik Mahmud tidak akan pernah mengalami kesakitan seperti ini.
Kosim menahan air matanya sekuat tenaga agar tidak jatuh. Matanya berkaca-kaca melihat kakak iparnya memeluk Mahmud sambil terisak-isak.
Beberapa saat lamanya suasana menyedihkan dirasakan didalam kamar Mahmud. Abah Dul diam terpaku sembari terus memperhatikan kondisi Mahmud usai memuntahkan cairan dan gumpalan merah kehitaman.
Setelah Mahmud tidak lagi muntah, Abah Dul menoleh kepada Kosim memberi isyarat meminta air minum. Kosim bergegas mengambilnya karena Dewi masih memeluk kepala Mahmud didadanya tak henti-henti meratapinya.
Kosim kembali membawa segelas air putih diserahkan ke Abah Dul. Dibacakannya surat Alfatihah sebanyak 7 kali.
"Mbak Dewi, minumkan ke Mahmud," ucap Abah Dul menepuk-nepuk bahu Dewi.
Dewi segera meraih gelas yang disodorkan Abah Dul, "Mas diminum..." ucap Dewi lirih.
Mahmud meminumnya menenggaknya habis seperti orang yang sangat kehausan. Melihat itu Kosim berinisiatif mengambilkan air minum lagi. Mahmud kembali meminumnya hingga tandas.
"Alhamdulillah..." ucap Abah Dul.
Dalam pemeriksaan mata batinnya, gumpalan hitam yang ada didalam dada Mahmud sudah tidak ada.
Mahmud perlahan-lahan merubah duduknya menyamping untuk membuat kakinya menjuntai menyentuh lantai.
"Alhamdulillah, terima kasih Bah," ucap Mahmud pelan.
Mendengar suara Mahmud berbicara, tangis Dewi pun pecah. Dia langsung menggapai kepala suaminya dipeluknya didadanya penuh dengan suka cita.
......................
Teror belum berakhir...
Seandainya semua manusia tahu perjalanan takdir hidup didepannya mungkin tidak akan pernah ada manusia yang mau berbuat jahat di dunia ini. Kita akan merasa takut lebih dahulu sebelum melakukan kesalahan karena mengetahui seperti apa resiko yang akan ditanggunya.
Ingatlah! Tidak ada penyesalan datangnya duluan. Pikirkan matang-matang dengan akal sehat dan jernih sebelum melangkah...
TERIMA KASIH SUDAH
LIKE,
KASIH HADIAH
FAVORIT
DAN KOMEN
__ADS_1