Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
DOA KOSIM TERKABUL


__ADS_3

Rumah Sakit,


Di dalam kamar nomor 7, Arin dan Dewi terlihat sedang bercanda ria dengan bocah kecil berusia 3 tahunan diatas ranjang rumah sakit sambil sesekali Arin menyuapi makanan bubur kedalam mulut bocah kecil tersebut. Sementara Dewi tak hentinya menggoda bocah kecil itu dengan menggelitik- gelitik perutnya. Bocah kecil itu tak lain adalah putra Kosim dan Arin yang dipanggil dengan sebutan Dede yang sebenarnya memiliki nama lengkap Ahmad Rizki Langit Ramadhan.


Suana ruangan kamar rawat inap terasa begitu hangat penuh kebahagiaan. Wajah muram yang semula menaungi wajah Arin dan Dewi kini sudah tak nampak lagi. dan sebaliknya senyum dan tawa kakak beradik menghiasi senda gurau bersama Dede di ruangan tersebut.


“Ayo makan lagi De. kalau nggak makan, nanti bunda Dewi gelitik lagi nih,” ujar Dewi disela- sela tawa ceria Dede manakala ia menggelengkan kepalanya menolak suapan di tangan Arin.


“Kenyang bunda, Dede udah kenyang,” seru Dede.


‘Sekali lagi ya, ini tanggung satu sendok lagi sayang,” kata Arin menyodorkan sendok ke mulut Dede.


“Ayo De, sekali lagi tinggal satu sendok tuh,” timpal Dewi sembari mengangkat jarinya mengancam pura- pura hendak menggelitik perut Dede.


“Bunda Dewi, bunda Ain, kenapa Dede ada disini? Disini bukan kamar Dede, Dede pengen tidur di kamar Dede aja,” kata Dede merajuk.


“Emangnya badan Dede sudah nggak lemas lagi?” tanya Arin lembut.


“Memangnya Dede sakit bunda Ain? Badan Dede sehat kok, ” ujar Dede balik tanya dengan wajah polosnya.


Arin tersenyum haru melihat tingkah lucu putranya, ditambah lagi sekarang Dede sudah lebih lancar berbicara. Arin pun langsung mengusap- usap kening Dede, seketika ingatannya langsung terlintas pada sosok Kosim. Tanpa sadar kedua matanya tiba- tiba berkaca- kaca mengingat sosok suaminya tersebut, ada gurat kesedihan dan penyesalan yang mendalam mengingat semua tentang Kosim.


“Andaikan Gusti Allah memberikan kesempatan untuk kedua kali hidup bersama kang Kosim, saya akan berbakti dengan segenap jiwa raga. Saya tidak akan melawan suami, saya tidak akan menuntut banyak pada suami, dan saya akan


selalu bersyukur menerima apa adanya, seberapapun nafkah yang diberikan oleh


suami. Ya allah, ampuni dosa- dosa saya pada kang Kosim,” ucap Arin dalam hati, yang membuatnya kian berlinangan air mata hingga tak disadarinya air matanya menetes mengenai wajah Dede.


“Bunda Ain kenapa menangis?” tanya Dede spontan.


Mendengar itu membuat Dewi yang semula sedang fokus menggoda Dede menghentikan gelitikkannya, ia menoleh melihat ke wajah adiknya.


“Arin, ada apa? Kenapa kamu sedih?” tanya Dewi mengusap- usap pundak Arin.

__ADS_1


Arin bruru- buru mengusap air matanya yang sudah membasahi kedua pipinya. Ia nampak sedikit gelagapan mendapat berondongan pertanyaan dari Dede dan Dewi.


“Ah, nggak… nggak apa- apa, bunda Ain nggak kenapa- napa kok,” kilah Arin sembari mengusap air matanya.


Dewi yang melihat tingkah Arin nampaknya memahami perasaan adiknya itu. Dewi menduga- duga kalau Arin sedang teringat dengan Kosim.


“Tapi, kenapa bunda Ain menangis? Apa yang membuat bunda ain menangis, siapa yang bikin bunda Ain menangis biar Dede hajar bun!” kata Dede dengan mimik wajah marah, namun terlihat lucu. Lalu Dede bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap Arin dan Dewi.


“Ahh, nggak sayang, o iya nanti kita pulang ya tapi nunggu ayah Mahmud kesini,” ujar Arin mengalihkan topik pertanyaan putranya.


Melihat tingkah Dede, membuat Dewi tersenyum- senyum sekaligus sedikit heran dengan perubahan Dede. Dewi merasa Dede sekarang lebih aktif serta lancar berbicara selayaknya orang yang usianya jauh diatas Dede.


Sementara itutTanpa diketahui Arin dan Dewi, ada satu sosok yang berdiri dibelakang pintu memandang nanar kearah Dewi, Arin dan Dede. Raut wajah sosok tersebut terlihat murung dirundung kesedihan yang teramat dalam.


Hingga beberapa saat lamanya sosok tersebut menatap ketiganya yang terlihat tengah bercanda tawa penuh suka cita, tanpa sadar sosok itu meneteskan air matanya.


“Andai saja saya berada di tengah- tengah mereka…” gumam sosok itu lirih yang tak lain adalah Kosim.


Pandangan matanya kian nanar dan sedikit kabur tergenang oleh air matanya yang berlinang- linang. Jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, ingin rasanya Kosim memeluk anaknya dan juga Arin, istrinya. Namun Kosim sadar, kodrat sudah memisahkan dirinya dan keluarganya, dirinya dan anak istrinya sudah


“Ya allah, ya Tuhanku… berikan hamba kesempatan untuk terakhir kalinya dapat dilihat oleh istri dan anakku,” ucap Kosim berdoa penuh harap menangkupkan keuda telapak tangan menutupi wajahnya.


“Aku hanya ingin memberikan ucapan terakhir dan pesan untuk putraku…” sambung Kosim lirih.


“Ayah..!” tiba- tiba terdengar suara teriakan Dede.


Kosim langsung membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya. Ia menatap kearah putranya dengan tatapan tak heran. Hingga Kosim mengucek- ngucek matanya beberapa kali lalu kembali memandangi putranya yang duduk menatap ke tempatnya berdiri.


“Apakah putraku melihat keberadaanku?!” tanya Kosim dalam hati tak percaya.


“Bunda, itu ada ayah!” seru Dede sambil menunjuk- nunjuk ke balik pintu tempat Kosim berada.


Arin dan Dewi kontan saja langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Dede. Seketika itu juga wajah Arin dan Dewi terkesiap kaget! Kakak beradik

__ADS_1


itu serempak mengucek- ngucek matanya lalu kembali memandang kearah Kosim berdiri.


“Kang Kosim…” gumam Arin ternganga menatap tak berkedip kearah Kosim.


“Sim…?” panggil Dewi ragu- ragu.


Beberapa saat suasana menjadi kaku, seakan- akan waktu berhenti begitu saja. Arin dan Dewi terus menatap Kosim tanpa mengucapkan


sepatah kata pun dengan mulut menganga, tak percaya dengan apa yang nampak didepan mereka saat ini.


Begitu pula dengan Kosim, dirinya pun terdiam ternganga menatap istrinya dan kakak iparnya dengan pandangan tak percaya kalau anaknya serta Arin dan Dewi dapat melihat wujudnya.


“Kang Kosim…!” pekik Arin tiba- tiba berlari kearah Kosim.


“Arin…!” ucap Kosim setengah tak percaya melihat Arin memburunya.


Sesaat kemudian Arin langsung menubruk tubuh Kosim dan memeluknya dengan erat, seolah- olah tak ingin ditinggalkan lagi oleh suaminya


itu. Kosim langsung tersadar dari bengongnya tatkala merasakan tubuh Arin menempel erat memeluk dirinya.


“Arin…” gumam Kosim, lalu membalas pelukkan istrinta erat.


“Kang Kosim, jangan tinggalkan Arin dan Dede kang, kami sangat merindukan kehadiranmu. Kita bangun keluarga kecil kita lagi ya kang. Saya  berjanji tidak akan banyak menuntutmu


lagi kang, Arin janji…” ucap Arin lirih di telinga Kosim.


Kosim diam tergugu, ia tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Hanya tangannya yang nampak membelai- belai rambut Arin dengan lembut. Kedua matanya sudah berlinangan air mata membuat tatapannya sedikit kabur. Dirinya sadar bahwa permintaan Arin itu tidak akan pernah bisa terwujud, dirinya hanyalah


sosok arwah gentayangan sedangkan wujudnya sudah terkubur lebih dari 40 hari.


“Kang ayo kita pulang, kang… saya janji akan buatkan masakan kesukaan kang Kosim,” ucap Arin lirih dalam pelukkan Kosim.


Meski kata- kata yang diucapkan Arin pelan, namun Dewi masih dapat mendengarkan semua ucapannya. Seketika Dewi tak dapat membendung lagi tangisnya, air matanya tumpah membasahi kedua pipinya sambil memeluk Dede yang hendak turun dari ranjang menyusul ibunya.

__ADS_1


“Bunda Dewi, Dede pengen di gendong ayah!” seru Dede berusaha melepaskan pelukan Dewi.


“I, iyya De… sini bunda Dewi gendong,” kata Dewi terisak- isak.** BERSAMBUNG


__ADS_2