Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
ARWAH FINA


__ADS_3

Ditengah- tengah keramaian warga menikmati makanan tersebut, ada sesosok mahluk tak kasat mata melayang diatas kepala para warga yang duduk persis searah dengan teras rumah. Sosok tak kasat mata itu samar- samar menyunggingkan senyum melihat kearah Hariri duduk menikmati makannnya bersama kedua orang tuanya, kakaknya serta yang lainnya.


Sedetik kemudian sunggingan senyumnya berubah seketika menjadi senyum sinis, sorot matanya menyiratkan kegeraman bercampur dengan kesedihan. Sosok tak kasat mata itu tak lain adalah Fina, arwah penasaran yang mati akibat gantung diri karena frustasi dicampakkan Hariri setelah kegadisannya direnggut.


Suasana manakn bersama dalam Nazar Syukuran pak Harjo nampak meriah penuh suka cita. Tak terdengar ada selentingan negatif diantara para warga masyarakat yang menghadiri acara tersebut. Mereka terlihat puas dan menilai takjub penuh kekaguman terhadap pak Harjo yang mampu menyediakan makan untuk warga desa Palu Wesi. Itupun tidak seluruhnya warga bisa datang diacara tersebut karena berhalangan hadir, ada yang pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan, ada yang hari ini harus pergi ke kota dengan baragam keperluannya.


Bukan sekali ini saja pak Harjo mengadakan syukuran dengan mengundang warga ke rumahnya, namun tidak sebesar dan sebanyak syukuran kali ini. Biasanya yang diundang hanya para tetangga dan warga masyarakat yang ada disekitaran rumahnya saja. Pak Harjo biasanya akan mengadakan syukuran dengan acara tahlil setelah musim panen atau manakala pak Harjo mendapatkan rezeki besar.


Diperkirakan yang menghadiri acara Nazar Syukuran tersebut antara 9 ratusan orang memenuhi area halaman rumah pak Harjo hingga tumpah memenuhi jalanan yang ada di depan rumah pak Harjo. Hari ini nyaris tak ada aktifitas warga desa Palu Wesi yang biasa rutin mereka lakukan, seperti pergi ke ladang, ke sawah, berdagang dan lain sebagainya.


Saat warga sedang asyik menikmati suguhan makanan yang dikemas dalam kotak kertas berisi potongan- potongan daging sapi yang dimasak Rendang, sambal goreng, capcay, lengkap dengan kerupuk udang, panitia kembali menyebar membagikan kantong kresek berisi makanan yang sama untuk dibawa pulang, masing- masing satu orang diberikan satu. Jika satu keluarga yang turut hadir berjumlah 4 atau 5 orang bahkan lebih tetap saja mereka akan mendapat bagiannya masing- masing.


Hal itu sudah dipersiapkan pak Harjo barangkali ada anggota keluarganya yang tidak bisa datang langsung sehingga warga tersebut masih bisa menikmati makanan syukurannya.


Suasana pembagian besek tersebut sempat menimbulkan keriuhan kembali setelah beberapa saat suasana sempat tenang ketika warga sedang menikmati makanannya.


“Tenang… tenang, semuanya pasti kebagian. Jadi tenang saja, tetap sampeyan- sampyan semua nikmati makan saja. Biar kami yang akan membagikannya satu- satu ya,” seru pak bekel yang membantu mengatur pembagian besek tersebut.


Suasana riuh tak membuat sosok arwah Fina terusik. Wujudnya yang tak bisa dilihat dengan mata orang- orang biasa terlihat menunjukkan kesedihan dengan menundukkan wajah dalam- dalam. Rambut panjangnya menutupi sebagian mukanya yang pucat pasi. Entah mengapa arwah Fina terlihat seperti marah saat menatap Hariri yang nampak berbunga- bunga penuh rasa bahagia.


“Bunda, mbak itu di kasih makan. Kasihan dia sedih…” tiba- tiba Dede berkata dengan cuek menoleh pada Arin sambil mengunyah makanan yang disuapi oleh bu Harjo.


Arin spontan engangkat wajahnya melihat orang- orang disekelilingnya, namun yang Arin lihat semua orang sedang menikmati makannya dan tidak ada seorang mbak- mbak seperti yang dikatakan putranya.


“Mana mbak- mbaknya De?” tanya Arin penasaran.


“Itu di depan lagi berdiri Bun,” tunjuk Dede dengan tingkah bocahnya yang terkesan asal- asalan tunjuk.


Arin kembali mengangkat wajahnya melihat lurus kedepan, akan tetapi yang Arin lihat masih dengan pemandangan yang sama yakni suasana warga sedang menyantap makanan. Tidak ada mbak- mbak yang ditunjukkan Dede.


“Ituuu Buuun!” teriak Dede terlihat kesal pada Arin.

__ADS_1


Mendengar teriakkan Dede, seketika semua menoleh kearah Dede dan Arin. Pak Harjo, bu Harjo, Dewi, Hasan, Hariri, pak Diman, pak Purnama serta Kiyai Ahmad sama- sama mengerutkan dahinya. Mereka spontan menghentikan mengunyah makanannya memperhatikan tingka anak kecil yang dipangku bu Harjo.


“Ssssttt.. nak Dede kenapa? Kok marah sama bunda Arin?” tanya bu Harjo lembut mencoba menenangkan Dede.


“Itu Nek, mbak itu belum dikasih makan!” sahut Dede dengan suara keras melengking sembari menunjuk- nunjuk ke arah depan.


Seketika semuanya tersentak kaget, lalu mengikuti arah yang ditunjuk Dede lurus di depan teras tersebut. Namun mereka semua hanya melihat para warga yang sedang makan dan tidak ada seorang pun yang terlihat tidak mendapat bagian makanannya. Kening pak Harjo serta yang lainnya kembali berkerut dalam- dalam.


“Mana nak Dede? Nggak ada mbak- mbak, dan semuanya sudah kebagian makanannya,” tanya pak Harjo penasaran.


“Itu kek, diatas orang- orang itu!” seru Dede terlihat masih kesal.


Deg!


Mendengar ucapan Dede bahwa mbak yang di tunjuk itu berada diatas orang- orang, seketika semuanya kembali memperhatikan tempat yang dimaksud Dede. Tetapi tetap saja mereka tidak melihat apapun. Diatas orang- orang hanyalah hamparan kain tenda yang menaungi tempat warga makan.


Lain dengan Hariri, saat dirinya mengikuti perkataan Dede dan melihat arah yang ditunjukkan, saat itu juga dia melihat sosok Fina yang memang benar melayang diatas orang- orang yang sedang duduk menikmati makannya.


“Fina…” gumam Hariri dalam hati.


“Kakak, kakak kenal dengan mbak itu ya?” tiba- tiba Dede menoleh menatap Hariri yang terlihat gerogi.


Hariri tidak langsung menjawab pertanyaan Dede, wajahnya tampak menunjukkan ekspresi sangat terkejut ditanya seperti itu. Bibir Hariri nampak bergetar- getar sperti hendak menjawabnya namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Lidahnya serasa kelu menjawab pertanyaan Dede itu.


“Har, kamu melihat ada mbak- mbak seperti yang nak Dede katakan itu?” tanya pak Harjo menepuk- nepuk punggung tangan Hariri.


Semua pandangan diarahkan pada Hariri sehingga membuat Hariri nampak kikuk dan serba salah. Dirinya semakin merasa bersalah dan merasa sedang dalam dakwaan diperhatikan seperti itu.


“I, iya pak. I, it, itu… itu arwah Fina teman satu sekolah Hariri,” ucap Hariri terbata- bata.


“Innalillahi wainnailaihi rojiuun…” ucap Kiyai Ahmad, lalu kembali melihat kearah posisi arwah Fina yang melayang seperti yang ditunjukkan oleh Dede.

__ADS_1


Kali ini kiyai Ahmad dapat melihat dengan jelas sosok arwah seorang gadis yang mengenakan pakaian seragam sekolah putih abu- abu lengkap dengan sepatu warna hitam.


Ucapan kiyai tersebut langsung menarik perhatian pak Harjo dan semuanya, seketika mereka mengalihkan pandangannya dari Hariri berganti menatap Kiyai Ahmad penuh rasa penasaran.


“Benarkah yang di katakan nak Dede kiyai?” tanya pak Harjo pelan.


“Benar sekali pak Harjo. Itu adalah arwah seorang gadis yang masih berpakaian sekolah, sepertinya ada yang ingin disampaikannya terutama pada Hariri,” jawab kiyai Ahmad setelah mengerahkan mata batinnya.


“Iya! Iya betul kek!” seru Dede menimpali ucapan kiyai Ahmad.


Pak Purnama yang baru melihat tingka Dede merasa heran setengah mati. Benaknya bertanya- tanya apakah anak tersebut seorang bocah indigo? Sehingga dapat melihat mahluk tak kasat mata.


“Lalu bagaimana kiyai?” tanya pak Harjo mulai cemas.


“Nanti saya coba melakukan interaksi dengan arwah itu pak,” kata kiyai Ahmad, lalu ia mulai memejamkan mata.


Pak Harjo dan yang lainnya terus menatap kiyai Ahmad yang tampak tak bergeming dengan mata terpejam.


Di ruang dimensi tak kasat mata, kiyai Ahmad melayang ke hadapan arwah Fina yang masih berdiri memandang lurus kearah Hariri.


“Assalamualaikum nak…” ucap kiyai Ahmad pada arwah Fina.


Arwah Fina tak langsung menyahuti ucapan salam kiyai Ahmad. Setelah beberapa detik wajah arwah Fina mulai bergerak mengalihkan pandangannya pada kiya Ahmad, lalu menjawab salam itu dengan lirih.


“Wa… a.. laikum.. sa… laam…” suara arwah Fina terdengar datar dan dingin.


“Nak Fina kenapa? Sepertinya nak Fina marah dengan Hariri, apakah ada yang ingin di sampaikan pada Hariri?” tanya kiyai Ahmad dengan lembut.


“iya.. Hariri tidak menyediakan air bunga seperti yang saya minta. Dan satu lagi pak kiyai, tolong saya, doakan saya agar saya tidak menghuni alam Kajiman atau menjadi arwah gentayangan,” kata arwah Fina.


Kiyai Ahmad terkesiap mendengar penjelasan dan permintaan arwah Fina. Saat itu juga dirinya turut merasa bersalah karena tidak menyertakan doa untuk Fina karena memang tidak mengetahuinya. Dan mungkin Hariri juga lupa menitipkan doa untuk arwah Fina.

__ADS_1


“Baiklah nak Fina, nanti saya doakan kamu nak. Dan juga saya sampaikan pada Hariri, mungkin dia lupa nak, tolong maafkan ya,” kata kiyai Ahmad.


Arwah Fina terlihat mengangguk pelan, lalu tersungging senyuman dari bibirnya yang putih pucat pasi. Setelah itu kiyai Ahmad berlalu dari hadapan arwah Fina kembali kedalam raganya yang sedang diperhatikan orang- orang disekitarnya.* BERSAMBUNG


__ADS_2