
"Alhamdulillah, sudah sampai dengan selamat..." ucap Abah Dul bersamaan mematikan mesin mobil.
"Alhamdulillah..." ucap Mahmud, Dewi dan Arin bersamaan.
Perjalanan pulang hampir 4 jam dari rumah orang tua Mahmud di Tegal akhirnya sampai juga ke rumah Mahmud jam 16.12 wib sore. Cuaca tak semendung di Tegal dan beberapa daerah yang dilewati.
Semua pada turun dari mobil mengulet sebentar meregangkan otot-otot di badan yang berasa capek. Tapi Kosim tak nampak kelihatan ikut turun diantara Dewi, Arin, Dede dan Mahmud. Mahmud yang pertama kali celingukkan mencari-cari.
"Masih pules kaykanya tuh Mas," ujar Dewi menunjuk kursi belakang.
Mahmud melongokkan wajahnya dari luar kaca jendela samping kiri mobil belakang.
"Tok... Tok... Tok.." Mahmud mengetuk-ngetuk kaca mobil.
"Sim... Sim... Nyampe!" seru Mahmud.
Namun yang dipanggil tak kunjung merespon. Diketuknya lagi kaca mobil beberapa kali tetapi tetap saja Kosim masih tergolek meringkuk di kursi belakang.
Mungkin Kosim nggak dengar, begitu pikir Mahmud. Diketuknya lagi kaca samping mobil lebih keras.
Kosim terlihat masih meringkuk tak bergeming. Dengan sedikit kesal Mahmud pun membuka pintu melongokkan keplanya ke kursi belakang dimana Kosim meringkuk.
Mahmud menggoyang-goyangkan bahu Kosim tapi Kosim sama sekali tidak ada responnya, ia tetap diam dengan mata terpejam rapat. Mahmud kian dibuat penasaran oleh tak bergemingnya Kosim.
Diketuk-ketuk dari jendela tidak bangun, dipanggil-panggil tidak bangun juga sampai digoyang-goyang badannya pun tetap tak bangun.
Rasa cemas langsung menyelimuti hati Mahmud. Kursi mobil tengah pun ditekuknya lalu dengan leluasa menelentangkan tubuh Kosim.
"Astagfirillah!" seru Mahmud.
Wajah Kosim terlihat pucat pasi. Mahmud langsung memeriksa nafas Kosim menempelkan jarinya ke hidung tak terasa ada udara nafas keluar ataupun masuk. Lalu memeriksa urat nadi dipergelangan tangan Kosim kemudian berpindah menempelkan dua jari ke urat leher Kosim.
"Bah.. Abah...!" teriak Mahmud panik.
Abah, Dewi dan Arin langsung tersentak panik mendengar teriakkan Mahmud, serentak Dewi dan Arin bergegas melihat dari kaca mobil melongok-longok dari luar jendela melihat Kosim masih meringkuk. Abah Dul masuk dari pintu samping kanan.
"Kenapa Mud?!" seru Abah Dul terbawa panik.
"Nggak tau Bah, dari tadi dibangunin nggak bangun-bangun," jawab Mahmud.
"Yowis cepat bawa turun Mud, ayo ayo!" kata Abah Dul.
Dari luar kaca mobil Arin terlihat panik, melihat Kosim tidak juga bangun. Dengan susah payah Mahmud dan Abah Dul menggotong tubuh Kosim keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Dewi bergegas membuka pintu rumah menyiapkan tikar dan bantal di ruang tengah untuk Kosim.
Pak Karyo tetangga rumah Mahmud datang ikut membantu membopong tubuh Kosim ke dalam rumah. Beberapa emak-emak dengan wajah bingung menyimpan tanda tanya ikut mengiringi Kosim masuk hingga sampai pintu.
"Kenapa nak Arin?!" tanya mak ijah.
"Kosim kenapa?!" tanya mak-mak lainnya bersahutan.
"Nggak tau mak, sepanjang jalan pulang semua mengira mas Kosim tidur aja," sahut Arin dengan raut cemas sambil menggendong Dede.
Kosim dibaringkan telentang, Mahmud meluruskan kakinya. Abah Dul duduk bersedeku disisi kanan kepala Kosim, sejenak ditatapnya dalam-dalam dari ujung rambut hingga ujung kaki Kosim. Lalu perlahan dipejamkan matanya sembari bibirnya bergerak membaca rangkaian doa.
Sesaat kemudian Mahmud melihat tubuh Abah Dul kaku tak bergerak. Mahmud langsung memahami kalau Abah Dul sedang melakukan amalan 'Memisahkan Sukma'. Dia pun segera merapatkan duduknya disebelah Abah Dul sembari mulutnya membaca doa yang diajarkan Abah Dul dan Gus Harun tatkala Abah Dul sedang melakukan amalan tersebut.
......................
Alam Tak Kasat Mata,
Sepercik cahaya nampak dikejauhan terlihat oleh sukma Abah Dul yang melayang dipekatnya alam tak kasat mata. Secepat kilat Abah Dul melayang menuju cahaya tersebut.
Dalam jarak beberapa meter, Abah Dul melihat seseorang sedang ditarik-tarik tangannya oleh dua mahluk hitam besar. Wajahnya tak nampak jelas hanya sosok besar tubuhnya terlihat oleh bias cahaya yang keluar dari tubuh yang sedang ditarik-tarik.
Sosok tubuh bercahaya putih itu terus berontak berusaha sekuat tenaga melawan kedua mahluk hitam besar. Nampaknya kekuatan sosok cahaya putih itu kalah kekuatannya oleh kekuatan dua mahluk hitam yang membawanya. Namun tidak pasrah begitu saja, dia terus melawan meskipun beberapa kali hantaman mendarat di tubuhnya.
"Kosim?!" seru Abah Dul.
Abah Dul sangat terkejut mendapati sosok putih bercahaya yang sedang ditarik-tarik itu adalah Kosim. Timbul amarah yang bercampur tanda tanya di hati sukma Abah Dul melihat Kosim diperlakukan seperti itu.
"Lepaskan! Atas perintah siapa kalian membawa Kosim?!" teriak sukma Abah Dul penuh kemarahan.
"Hahahaha... Jangan ikut campur manusia bodoh!" sergah mahluk hitam yang menarik tangan kanan Kosim.
'Kalian siapa?!" tanya sukma Abah Dul kian membara.
"Apakah kalian utusan Allah?!" sambung sukma Abah Dul.
"Allah???! Siapa Allah???!" jawab kedua mahluk hitam besar.
Mendengar jawaban itu kemarahan sukma Abah Dul kian menjadi-jadi, "berarti mereka iblis!!!" serunya dalam hati.
"Kalian pasti iblis!!!" seru Abah Dul sembari mengangkat tangan kanannya menunjuk lurus ke langit.
Petir langsung menggelegar dahsyat disertai kilatannya seiring tangan sukma Abah Dul diacungkan. Dalam sekejap digenggamannya senjata Tombak Mata Kembar teracung lurus tegak menimbulkan kilatan cahaya putih.
__ADS_1
Duah mahluk hitam besar terkesiap lalu sedetik berikutnya segera melesat menyerang sukma Abah Dul dari dua sisi. Secara tiba-tiba dikedua tangan mahluk hitam besar itu sudah tergenggam pedang sangat lebar dan besar. Kilatan cahaya dari sisi pedang tersebut menyiratkan ketajamannya.
Sukma Abah Dul bergerak melintangkan Tombak Mata Kembarnya diatas kepala dengan membungkukkan setengah badan menghidari tebasan mahluk hitam besar dari sisi kirinya. Secepat kilat sukma Abah Dul bergerak membalas serangan. Tangan kirinya yang sudah terisi amalan 'penghancur sukma' segera dihantamkan ke dada lawannya.
"Buuummmm!!!"
Dentuman sangat keras disertai getaran saat amalan 'Penghancur Sukma' itu menghajar telak dada mahluk hitam besar yang menyerangnya.
Mahluk besar hitam itu terpental sangat jauh hingga tak terlihat dari pandangan sukma Abah Dul, entah hancur atau musnah. Melihat lawannya tersingkir, sukma Abah Dul segera bergerak menjauhi lawan satunya selangkah kebelakang dari sisi lawan. Namun pergerakkannya disambut tebasan pedang besar dari arah berlawanan sehingga sukma Abah Dul urung meneruskan gerakaknnya.
Sukma Abah Dul merubah gerakkannya dengan menjatuhkan diri mengelak dari tebasan pedang besar kearah perutnya. Berguling dua kali sukma Abah Dul sigap berdiri lagi lalu disusul melancarkan serangan balasan dengan memutar-mutar Tombak Mata Kembarnya.
Kilauan cahaya putih membentuk pusaran gelombang berkekuatan yang maha dahsyat. Sementara mahluk besar hitam itu terkesiap merasakan kekuatan dari gelombang energi yang ditimbulkan, lalu dengan diiringi teriakkan menggidikkan pedang besar yang tajam itu melesat dalam genggamannya bergerak menusuk bagian tengah pusaran Tombak Mata Kembar.
Sukma Abah Dul sempat melirik melihat gerakan menyerang dari mahluk hitam besar. Dia segera melipat gandakan kekuatannya untuk berjaga-jaga dari kemungkinan yang fatal.
Sedetik kemudian suara ledakkan sangat keras dan menggetarkan alam menggema seantero alam tak kasat mata.
"Boooommmm!!!"
Sukma Abah Dul terdorong dua langkah kebelakang dan jatuh terjengkang. Dia segera bangkit sambil menahan sesak di dadanya dan bersiap menyongsong serangan lawan berikutnya. Namun yang diperkirakannya itu tidak terjadi, tak melihat lawannya menyerang lagi. Yang ada hanya sisa-sisa asap kelabu yang pekat mengepul tiga jengkal didepannya. Perlahan-lahan sukma Abah Dul bangkit berdiri kesusahan dengan bertopang pada Tombak Mata Kembar.
Sementara itu beberapa langkah, sosok cahaya putih yang tak lain adalah sukma Kosim hanya terduduk dengan wajah panik menyaksikan pertarungan yang maha dahsyat yang baru petama kalinya ia lihat.
Sukma Abah Dul mendekati sukma Kosim, "Ente tidak apa-apa Sim?" tanya sukma Abah Dul.
"Alhamdulillah tidak apa-apa Bah," jawab sukma Kosim.
"Ente siap kembali ke raga ente?" sukma Abah Dul memastikan.
"Siap Bah!" seru Kosim mantap.
......................
Yang Like,
Yang Komen,
Yang Kasih Hadiah
Yang Kasih Tiket,
Semoga dapat balasn rezeki 10 kali lipat, amiin...
__ADS_1