
"Sekarang duduklah bersila, atur nafasmu sampai Nanda merasa tenang. Lalu pejamkan matamu..." kata Sosok berkain sorban di kepalanya.
Perasaan Abah Dul masih diliputi kegamangan sehingga ia tak dapat berkata- kata. Abah Dul hanya menuruti saja apa yang diperintahkan sosok berjubah yang dandanannya mirip dengan pahlawan nasional Pangeran Diponegoro itu.
Berusaha berkonsentrasi, Abah Dul pun melakukan seperti yang diperintahkan sosok misterius teraebut. Dihirupnya udara dalam- dalam melalui hidungnya, lalu di tahan sejenak di bagian dalam dadanya. Kemudian secara perlahan- lahan ia keluarkan udara melalui hidungnya.
Setelah melakukan pernafasan beberapa kali, Abah Dul dapat merasakan sesuatu yang lain di dalam tubuhnya. Kini dirinya benar- benar merasa tenang.
Tak lama kemudian Abah Dul segwra menganggukkan kepalanya sebagai pengganti ucapannya pada sosok berjubah hitam itu kalau dirinya sudah merasa lebih tenang.
“Nanda harus melakukan perjalanan spiritual dialam gaib hingga Nanda menemukan sebuah benda bercahaya putih terang,” Kata orang tua berjubah hitam itu.
Suaranya begitu halus dan terucap dengan pelan, namun memberikan kesan tegas penuh wibawa. Meski jarak orang tua itu dengan Abah Dul terpaut 5 langkah, suara itu terdengar sangat dekat tak ubahnya berada disamping Abah Dul.
“Perjalanan spiritual?!” ucap Abah Dul mengulangi.
Abah Dul terperangah, raut wajahnya nampak penuh kebingungan. Didalam hatinya ia bertanya- tanya, perjalanan seperti apa itu? Dan dimana ia harus menjalankannya?
Belum sempat Abah Dul bertanya lebih jauh lagi, suara halus dan penuh wibawa itu kembali terdengar;
“Ikuti burung ini kemana pun dia terbang, burung ini akan menuntunmu untuk menuju benda itu!”
Setelah orang tua berjubah itu selesai berucap, tiba- tiba muncul seberkas cahaya putih yang menyilaukan. Lalu tak lama kemudian cahaya itu lenyap dan muncullah seekor burung gagak hitam yang terbang didepan Abah Dul.
Abah Dul celingukkan mencari- cari sosok pria berjubah hitam yang semula berdiri di hadapannya. Tetapi sosok yang dicarinya itu telah lenyap bersamaan dengan kemunculan burung merpati.
DIsaat Abah Dul masih kebingungan dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya, tanpa sadar ketika Abah Dul berkedip dalam sekejap situasinya telah berubah total.
Kini ia melihat disekitarnya suasana yang tampak lain. Yang semula gelap gulita kini berubah menjadi terang -benderang.
Kontan saja Abah Dul memutar- mutar kepalanya kesana kemari melihat sekelilingnya dengan wajah terheran- heran; “Dimana ini?!”
Abah Dul melihat pemandangan disekitarnya hanyalah padang tandus, tak ada pepohonan ataupun rerumputan hijau.
Sejauh mata memandang, yang dilihatnya hanyalah hamparan pasir putih dan nampak seperti tak berujung.
“Dimana ini?!” gumamnya.
Abah Dul terbengong- bengong memperhatikan pemandangan disekelilingnya. Ia mendongak keatas dan raut wajahnya semakin heran karena tak menemukan matahari di langit.
__ADS_1
“Aneh...” gumamnya.
Beberapa saat ia termangu, tiba- tiba sebuah suara kicauan burung terdengar diatas kepalanya sekaligus menyadarkan kebengongannya.
Seketika ingatan Abah Dul tertuju pada ucapan terakhir dari sosok orang berjubah hitam yang ditemuinya.
Abah Dul mendongak memperhatikan burung gagak hitam yang terbang landai satu jengkal diatas kepalanya.
Burung gagak hitam itu lalu perlahan terbang melaju pelan- pelan bertolak belakang dengan Abah Dul sehingga buru- buru Abah Dul langsung membalikkan badannya untuk mengikuti burung gagak itu.
Setelah Abah Dul merasakan sudah jauh meninggalkan dari tempat awalnya muncul di alam yang tak dikenalnya tersebut, di depannya nampak sebuah tugu setinggi 2 meteran berdiri tegak di sisi kanan dan kirinya.
Burung gagak yang terbang rendah setinggi ukuran badan Abah Dul itu berhenti di tengah- tengah antara kedua tugu. Burung itu mengeluarkan kicauaannya seolah- olah memberikan kesempatan Abah Dul untuk membaca tugu itu.
“Khaaakkk... kyaaakkk... kyaaakk...”
Abah Dul pun turut menghentikan langkahnya, dirinya merasa memahami tingkah burung gagak hitam itu. Kemudian mulai membaca tulisan berbentuk tulisan arab yang ada di tugu.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ....
قُلۡ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ.....
Kemudian Abah Dul menoleh kearah tugu disebelah kanannya, ia kembali membacanya;
“Kulhuallahu ahad...”
“Kyakkk... kyakkk.. kyaaakkk...!”
Usai Abah Dul membaca kedua tugu itu tiba- tiba auara burung Gagak hitam yang terbang diatasnya menyalak, sekonyong- konyong membenarkan apa yang telah di baca Abah Dul.
Kening di wajah Abah Dul berkerut dalam- dalam, dirinya sangat bingung maksud dari tulisan tersebut. Sebelumnya ia berpikir kalau tugu itu lebih mirip dengan tapal batas desa atau suatu wilayah.
Akan tetapi tulisan yang dibacanya merupakan ayat pertama dari surat Al Ikhlas. Abah Dul berpikir keras, apa maksud dari bacaan tersebut.
Tak lama setelah itu burung gagak hitam kembali melaju pelan terbang didepan Abah Dul melewati tugu itu.
Baru saja 3 langkah kakinya melewati tugu, dalam sekejap mata pemandangan di depannya berubah total.
Abah Dul kontan menghentikan langkahnya, ia tercengang melihat perubahan itu. Dibawah cahaya temaram pandangan matanya hanya membentur daun- daun dan batang- batang pohon.
__ADS_1
Abah Dul seperti memasuki sebuah hutan belantara dengan pepohonannya yang lebat dan tinggi- tinggi menjulang.
Abah Dul celingukkan melihat sekelilingnya. Pandangan matanya menyapu kesetiap sudut rerimbunan pohon.
“Kyaaakkk... kyaaakkk...”
Suara burung gagak kali ini menyalak dua kali. Lagi- lagi Abah Dul merasa seperti mengerti maksud kicauan burung gagak itu.
Abah Dul buru- buru kembali melanjutkan langkahnya mengejar burung gagak yang sudah melaju 5 jengkal meninggalkannya.
Ia mempercepat langkahnya akan tetapi jarak antara dirinya dengan burung gagak itu sepertinya tetap sama.
Abah Dul mempercepat langkahnya lagi dengan setengah berlari, namun tetap saja jarak dengan burung gagak itu masih terpaut 5 jengkal dengannya.
“Hahhh... hahhhh.. hahhh...” suara Abah Dul nafas yang ngos-ngosan terdengar jelas di senyapnya hutan belantara.
Setengah berjongkok dengan menopangkan kedua tangannya diatas lutut, Abah Dul berhenti sejenak menarik nafas dalam- dalam. Kepalanya mendongak memperhatikan burung gagak yang juga berhenti terbang ditempat seolah- olah sesang menunggunya.
“Kyakkkk... kyaaakkk...”
Setelah menghirup udara satu tarikan nafas, ia kembali melanjutkan langkahnya. Kali ini Abah Dul tak lagi melangkah cepat melainkan dengan berlari untuk mengejar burung itu agar tak terlampau jauh jaraknya.
Beberapa lama kemudian Abah Dul kembali berhenti. Nafasnya sangat berat dan terdengar kasar, dadanya kembang kempis serasa sudah tak kuat lagi berlari.
Ketika hendak kembali mengejar burung gagak itu, tiba- tiba sebuah hembusan angin yang sangat deras menyongsong tubuh Abah Dul.
Wuuusssssshhh...
Bukkk!
“Astagfirullah!” Pekik Abah Dul terjerembab keatas rerumputan liar.
Tubuh Abah Dul terhantam oleh angin yang tiba- tiba datang dari arah belakangnya. Sehingga tubuh Abah Dul yang tinggi besar itu jatuh tersungkur kedepan.
Beruntung didepannya tidak ada batu atau pun batang pohon sehingga tak membuatnya terluka.
Abah Dul segera bangkit dan duduk, ia merasakan sedikit sakit pada bagian punggungnya. Ia segera memejamkan matanya sembari komat- kamit melafalkan bacaan- bacaan yang memiliki karomah.
Tangannya terkepal erat- erat, perlahan Abah Dul berdiri dan membalikkan badannya melihat arah datangnya hantaman tadi. Namun sejauh matanya memandang yang dilihatnya hanyalah rerimbunan pohon- pohon besar. Tak ada apapun dibelakangnga, padahal jelas- jelas hantaman itu datang dari arah belakangnya.
__ADS_1
......................