Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
SATU PERSATU PERGI


__ADS_3

Setelah kiyai Sapu Jagat pergi membawa tongkat emas milik raja Kalas Pati, kini tinggal Kosim dan tuan Gosin yang nampak murung. Wajah kedua mahluk dari alam Kajiman itu terlihat begitu sedih, sekaligus merasa bingung dengan situasi saat ini. Gus Harun, Mahmud,


Abah Dul, Basyari dan Baharudin yang melihat ekspresi Kosim dan tuan Gosin hanya menunggu saja dengan apa yang hendak mereka sampaikan.


“Tuan Kosim, apakah tuan akan pulang


sekarang?” tanya tuan Gosin pada Kosim.


“Tidak sekarang tuan Gosin, aku ingin menghabiskan waktu disini sampai batas kesempatanku berada di alam fana ini benar- benar habis. Aku ingin menemani putraku dengan waktu tersisa ini dan memastikan putraku baik- baik saja,” ungkap Kosim.


“Kalau begitu ijinkan akumenemanimu tuan,” ujar tuan Gosin.


“Tidak perlu tuan Gosin. Anda kembali saja ke Kajiman sekerang, sebab Kajiman membutuhkan pemimpin setelah sang raja musnah,” tegas Kosim.


“O iya tuan- tuan, bagaimana dengan tuan Denta dan tuan Samanta?” tanya tuan Gosin berpaling menatap Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin dan Mahmud satu persatu.


“Biarkan itu menjadi tanggung jawab kami tuan Gosin. Sebelumnya kami atas nama keluarga Kosim dan Mahmud mengucapkan beribu- ribu terima kasih atas bantuan tuan Gosin serta seluruh penghuni alam Kajiman. Kami tidak bisa membalasnya dengan apapun atas jasa besar yang telah tuan dan penghuni Kajiman lakukan,” kata Gus Harun mewakili sahabat- sahabatnya.


“Ah, jangan sungkan- sungkan tuan Harun. Kami tidak mengharapkan imbalan apapun,” balas tuan Gosin.


“Dan kami juga turut berbela sungkawa atas gugurnya raja kalian,” kata Gus Harun sambil menangkupkan kedua telapak tangan di dadanya.


“Itu sudah menjadi resiko tuan, tuan Harun dan tuan- tuan sekalian tidak perlu merasa bersalah atas gugurnya raja kami. Kalau begitu aku pamit undur diri untuk kembali ke alamku,” balas tuan


Gosin juga menangkupkan kedua telapak tangan di dadanya.


“Baiklah tuan Gosin, jangan sungkan menghubungi kami jika anda membutuhkan bantuan dari kami. Sampaikan salam kami


untuk seluruh penghuni Kajiman,” kata Gus Harun.


“Baik tuan, aku pamit sekarang. Tuan Kosim kami akan menunggumu di kerajaan Kajiman, karena kami membutuhkan raja baru,” ucap tuan Gosin.


Gus Harun dan yang lainnya terkejut


mendengar pernyataan dari tuan Gosin yang menggadang- gadang Kosim untuk diangkat menjadi raja Kajiman. Sementara Kosim hanya mengangguk kecil sambil menyunggingkan senyum kecil. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Kosim mengiringi kepergian tuan Gosin.

__ADS_1


“Assalamualaikum…” ucap tuan Gosin


bersamaan dengan wujudnya melesat keatas menembus langit- langit rumah Mahmud.


Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin dan Mahmud mendongakkan kepalanya turut mengiringi lenyapnya tuan Gosin dengan sutas senyum tersungging dari bibir mereka penuh keharuan.


“Kang Mahmud, Gus Harun, Abah Dul, ustad


Basyari serta ustan Baharudin, secara pribadi saya mengucapkan banyak- banyak terima kasih atas bantuan sampeyan semua. Sekaligus atas nama keluarga kecil saya, saya memohon maaf yang sebesar- besarnya telah melibatkan sampeyan- sampeyan hingga bertaruh nyawa demi saya yang tak berguna ini,” ucap Kosim lirih


menangkupkan kedua telapak tangan didadanya.


“Kang Kosim jangan berkata seperti itu, semua mahluk yang di ciptakan Gusti Allah itu pasti berguna dan mahluk tersebut pastilah memiliki tugasnya masing- masing yang telah ditentukan,” kata Gus Harun menasihati.


“Njih Gus, saya baru mengerti sekarang. Mungkin apa yang telah saya lakukan di dunia ini, setidaknya bisa menjadi pelajaran manusia- manusia lainnya agar tidak mengikuti perbuatan yang pernah saya lakukan dahulu. Tolong sebarkan tentang perbuatan saya yang sesat


itu pada semua manusia Gus, agar tidak ada lagi yang tergiur dengan harta duniawi yang ddapatkan secara sesat dengan menjalin persekutuan dengan iblis,” balas Kosim.


“Njih, njih kang Kosim. Pasti semua yang saya alami ini akan menjadi tausiah saya nanti sekaligus sebagai pengingat,” kata Gus harun.


“Kalau begitu saya pamit untuk mengunjungi putra saya,” balas Kosim.


“Saya pamit sekarang, Assalamualaikum…”


ucap Kosim lalu tubuhnya lenyap dari pandangan Gus Harun dan yang lainnya.


Sungguh indah hubungan persahabatan


yang mereka jalin antar lintas mahluk ciptaan Tuhan sekalipun mereka berada didalam alam dan dimensi lain. Dibalik alam fana yang dapat dilihat dengan organ mata secara kasat mata, ternyata banyak jutaan mahluk- mahluk hidup dialam lain yang hanya dapat dilihat dengan cara tertentu atau dengan kemampuan istimewa yang dimiliki oleh manusia –manusia tertentu saja.


Waktu sudah menunjukkan pukul 15.12 wib, cuaca di desa Sukadami kini nampak cerah, tidak seperti cuaca di pagi hari tadi yang dinaungi mendung tebal serta sesekali terdengar suara guntur dibarengi kilatan- kilatan petir di langit.


“Aduh! Tiba- tiba saya merasa lapar sekali,” ujar Mahmud sambil memegangi perut.


Semua mata menoleh kearah Mahmud sambil senyum- senyum. Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin sangat memaklumi kondisi Mahmud kalau saat ini merasa sangat lapar. Sebab sudah berjam- jam fisiknya telah ditinggalkan oleh sukmanya dan telah menguras banyak energi.

__ADS_1


“Ya sudah saya beli makanan dulu, kasihan Mahmud nanti pinsan lagi,” seloroh Abah Dul.


“Apa sampeyan- sampyan nggak lapar?” tanya Mahmud.


“Hehehehe… kami sudah makan kang Mahmud. Tadi Dul yang beli makan,” jawab Gus Harun.


“O iya, saya juga harus ke rumah sakit untuk membawakan pakaian Dede!” pekik Mahmud baru teringat dengan ucapan istrinya yang memintanya membawa baju- baju Dede.


“Tenang saja, baju- baju Dede sudah saya antarkan Mud,” ujar Abah Dul lalu beranjak keluar untuk membeli makanan.


Beberapa lama kemudian suasana suka cita atas pertemuan dan kembalinya Kiyai Sapu Jagat, Kosim dan tuan Gosin, Mahmud tersebut  langsung buyar oleh suara ketukan pintu depan rumah.


Tok.... Tok... Tok...!!!


"Assalamualaikum..." ucap seseorang dari pintu depan rumah Mahmud dibarengi ketukan pintu.


Mahmud, Gus Harun, Basyari dan Baharudin sedikit kaget mendengar suara ketukan pintu disusul ucapan salam.


"Siapa kang Mahmud?" tanya Gus Harun heran.


"Mmm, suaranya sih seperti Bi Darmi Bah, sebentar saya lihat dulu," jawab Mahmud sambil beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju pintu depan.


"Assalamualaikum..." suara itu kembali terdengar.


“Wa alaikum salam… sebentar bi…” sahut Mahmud bergegas mempercepat langkahnya menuju pintu depan.


Kreeoooottt…


Setelah pintu dibuka, wajah Mahmud langsung berkerut penuh keheranan. Mahmud melihat didepan rumahnya selain ada bi Darmi juga ada beberapa warga lainnya yang pada berkumpul di depan rumahnya.


“Bi Darmi? Ada apa ini bi?!” tanya Mahmud keheranan.


“Loh, nak Mahmud ini bagaimana toh. Ya saya bersama tetangga- tetangga ini mau menjenguk Dede. Giman toh nak Mahmud ini,” jawab Bi Darmi.


“Njih nak Mahmud, kami ingin melihat keadaan Dede,” timpal ibu- ibu lainnya.

__ADS_1


Mahmud tampak kikuk mendengar tujuan ibu- ibu tetangganya tersebut. Dia sedikit bingung untuk menjawabnya sebab dirinya tidak menyangka akan kedatangan para tetangganya sedangkan di dalam rumah nampaknya masih belum tuntas dengan persoalan yang tengah dihadapi Abah Dul dan yang lainnya.


“Oh begitu ya bi, tapi Dede belum pulang, masih di rawat di rumah sakit bi,” jawab Mahmud.** BERSAMBUNG


__ADS_2