
Hari ke-8 melawan perjanjian gaib, udara di pagi buta nampak cerah menyelimuti rumah Mahmud. Dikejauhan suara kokok ayam saling bersahutan menyambut kemunculan mentari pagi.
Mang Ali sudah berpamitan pulang seusai sholat Subuh tadi sedangkan Mahmud dan Kosim masih terlelap dikamarnya masing-masing.
Abah Dul dan Gus Harun belum sempat memejamkan mata, keduanya masih terlibat obrolan serius diruang tamu sejak usai sholat Subuh. Keduanya membahas peristiwa kekalahannya dalam pertarungan semalam melawan Raja Kalas Pati yang nyaris saja merenggut nyawa keduanya dan dua sahabatnya, Ustad Basyari dan Ustad Naharudin.
Kini kondisi Abah Dul dan Gus Harun berasa sudah kembali pulih setelah melewati masa-masa kritis akibat terkena hantaman dahsyat energi tongkat Raja Kalas Pati. Namun keduanya berhasil memulihkan kondisinya sekaligus mengembalikan energinya yang terkuras.
"Punten, kopinya Gus, Abah.." Suara Dewi muncul disela-sela obrolan Abah Dul dan Gus Harun dengan membawakan dua gelas diatas nampan.
"Hatur nuhun Mbak Dewi, Mahmud masih tidur?" tanya Gus Harun.
"Njih Gus," jawab Dewi.
Setelah menaruh dua gelas diatas meja, Dewi pun berlalu kembali ke dapur untuk membuatkan nasi goreng untuk sarapan.
Gus Harun dan Abah Dul pun kembali meneruskan obrolannya yang terputus.
"Menurut ente Dul, seberapa besar kekuatan Kalas Pati?" Tanya Gus Harun.
"Sangat besar Gus. Baru kali ini saya merasakan hantaman maha dahsyat dan terasa panas menjalar disekujur badan," jawab Abah Dul.
"Ya, ya... Saya juga merasakan kekuatan itu Dul, nyaris saja kita celaka," kata Gus Harun.
"Apa sebaiknya kita minta bantuan langsung Romo Yai, Gus..." Sambung Abah Dul.
"Jangan dulu lah kita akan coba lagi tetapi kita juga mesti memikirkan cara mengalahkannya Dul. Saya masih penasaran andai saja waktu itu kita nggak lengah dan kecolongan mungkin kita masih bisa melakukan perlawanan," ujar Gus Harun.
"Tapi Gus kekuatan Raja Kalas Pati itu berasa sangat besar sekali. Apa mungkin kita berdua atau bahkan berempat akan mampu mengalahkannya," kata Abah Dul.
"Ente ingat Dul, kalau selama ini kita selalu mampu mengatasi serangan-serangan Siluman Monyet dengan segala cara apapun, ya kan?" kata Gus Harun.
Abah Dul tercenung sejenak mengangguk-anggukan kepalanya membenarkan ucapan Gus Harun. Ia teringat pertama kali saat menghajar para Siluman Monyet saat hendak mengambil nyawa Dede (anak Kosim) di rumahnya sebelum Kosim diungsikan di rumah Mahmud.
Lalu hal yang sama pasukan Siluman Monyet kembali meneror hendak mengambil nyawa kembali bahkan bukan hanya nyawa Dede, nyawa Arin dan Kosim juga. Hingga penculikkan Arin yang sempat dibawa kabur oleh Anggada Arya, pimpinan Siluman Monyet yang bertugas menjemput tumbal.
__ADS_1
"Saya berfikir apa kekuatannya masih akan tetap sama besarnya apabila pertarungannya di alam kita ya Dul." Sambung Gus Harun setengah bertanya.
"Betul juga Gus, kenapa kita nggak coba pancing dia keluar dari alamnya dan bertarung disini." Timpal Abah Dul, membuyarkan rentetan peristiwa teror Siluman Monyet.
Gus Harun manggut-manggut lalu menghela nafas dalam-dalam sambil menghisap rokok sepertinya membenarkan ucapan Abah Dul.
Tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh suara teriakkan Dewi yang kembali muncul membawa tiga piring nasi goreng diatas nampan. Hampir saja nampannya jatuh karena berjingkrak kaget.
"Awwwww..! Kodok, kodok, ada kodok..!" Teriak Dewi ketakutan.
"Tolong Bah, giring keluar saya takuuut..." Sambung Dewi dengan ekspresi muka jijik.
"Oh, cuma kodok kok Wi.." ujar Abah Dul.
Abah Dul langsung mengambil sapu yang ada di pojok pintu lalu menggiringnya keluar sembari membuka pintu depan.
"Makasih Bah, saya takut sama kodok. Ini sarapan dulu Abah, Gus. Mas Mahmud udah bangun sedang cuci muka di bak, nanti nyusul monggo dimakan, " kata Dewi berlalu.
"Aneh, kok tiba-tiba ada kodok? Darimana datangnya?" Tanya Gus Harun sedikit heran.
"Coba ente cari lagi dan tangkap kodok itu Dul," kata Gus Harun.
Tak beberapa lama Mahmud muncul dengan menenteng segelas kopi ditangannya. Ia keheranan melihat Abah Dul diluar pintu seperti mencari-cari sesuatu.
"Nyari apa sih Bah?" Tanya Mahmud meneruskan langkahnya kearah Abah Dul.
"Kodok, tadi Dewi menjerit ketakutan melihat kodok didalam rumah," jawab Abah Dul, sambil terus mencari-cari.
"Kodok? Baru kali ini ada kodok masuk rumah Bah," ujar Mahmud.
Ia pun ikut mencari-cari kodok menyusuri pojokan teras depan, namun Mahmud pun tak dapat menemukannya.
"Kemana larinya ya, kok cepat banget hilangnya. Nggak ketemu Gus, nggak tahu kemana larinya." Kata Abah Dul.
Lalu Mahmud dan Abah Dul masuk dan menutup kembali pintunya.
__ADS_1
"Gimana Gus, Abah kondisinya?" Tanya Mahmud sembari duduk di kursi disebelah Abah Dul.
"Alhamdulillah, sepertinya udah pulih.." Jawab Abah Dul mewakili Gus Harun.
Gus Harun pun menganggukkan kepalanya mengiyakan jawaban Abah Dul.
"Syukurlah, hayu sarapan dulu, Gus, Abah," kata Mahmud mempersilahkan.
Lalu ketiganya menyantap nasi goreng. Tak ada obrolan disela-sela makan, ketiganya larut menikmati nasi goreng telor ceplok buatan Dewi.
......................
Alam Kasat Mata-Istana Raja Kalas Pati,
Raja Kalas Pati nampak gusar dan meradang diatas kursi singgasananya meratapi para prajuritnya banyak yang musnah akibat hantaman senjata empat sukma Abah Dul, Gus Harun, Ustad Basyari dan Ustad Baharudin. (*episode 21)
Suara dengusan nafas kemarahannya sampai terdengar oleh para Petinggi Kerajaan yang berdiri berbaris 10 jengkal dihadapannya.
Sementara Anggada Arya beserta 20 Petinggi Kerajaan lainnya yang masih tersisa hanya bisa tertunduk yang juga ikut memendam gejolak amarah didadanya.
"Arya! Bagaimana pengintaianmu terhadap keempat manusia itu, apakah sudah tak bernyawa?!" Seru Raja Kalas Pati.
"Ampun Paduka Raja, mereka masih hidup. Dalam penyamaran, saya amati dan mendengar dari pembicaraan dua manusia itu sepertinya mereka sudah kembali pulih bahkan sedang menyusun siasat," jawab Arya.
"Grrrrrkkkhhhh..! Kita harus cepat buru dan musnahkan empat manusia yang sudah lancang memasuki dan menyerang istana ini!" Seru Raja Kalas Pati dengan muka merebak merah padam.
Sorot matanya terpancar merah menyala mendongak ke langit-langit istana. Dengus nafasnya terdengar jelas penuh kemarahan yang teramat sangat.
"Kapan kita balas menyerang Paduka Raja," tanya Anggada Arya, yang kini menggantikan posisi Panglima perang Anggada Raksa yang musnah oleh Gus Harun dalam pertarungan sebelumnya.
"Ya! Selepas waktu pergantian terang ke gelap nanti kita bergerak. Kalian balas hancurkan tempat dimana manusia-manusia itu berada termasuk Kosim dan anak istrinya!" Tegas Raja Kalas Pati.
Seiring perkataan Raja Kalas Pati, diluar istana yang gelap gulita mendadak terdengar gelegar suara-suara petir saling bersahutan. Seakan ikut merasakan kemarahan dan dendam membara Raja Kalas Pati.
"Huuu..! huuu..! huuu..! Sahut-menyahut riuh dari para Petinggi Kerajaan Siluman Monyet sambil mengacung-acungkan senjatanya.
__ADS_1
......................