Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
SOSOK MELAYANG


__ADS_3

“Apa benar Dul?!” tanya Mahmud meyakinkan kembali.


“Insya allah! Insya allah!” balas Abah Dul.


Segera Abah Dul membuka tutup botol air mineral di tangannya, sejenak mulut Abah Dul kembali komat- kamit membaca doa lalu di tiupkannya pada air mineral tersebut melalui mulut botol yang sudah dibuka.


“Cepat teteskan air minum ini di bibirnya Mud, usahakan agar airnya masuk kedalam kerongkongannya,” kata Abah Dul memberikan air mineral.


“Baik Bah,” balas Mahmud meraih botol yang diulurkan Abah Dul.


“Usapkan juga pada muka dan basuh rambutnya Mud,” ujar Abah Dul.


“Baik Bah,” sahut Mahmud.


Pelan- pelan Mahmud menumpahkan air dari botol mineral ke telapak tangannya, lalu sedikit demi sedikit di teteskannya pada celah kedua bibir Dede yang terkatup. Akan tetapi air yang di teteskan Mahmud tidak sepenuhnya masuk kedalam mulut Dede, banyak yang tumpah membasahi sekitar dagu.


“Buka sedikit mulutnya Mud,” ucap Abah melihat Mahmud kesulitan memasukkan air kedalam mulut Dede.


Mahmud segera menuruti ucapan Abah Dul, lalu ditekannya pelan- pelan kedua pipi Dede agar mulutnya terbuka. Dan upaya Mahmud pun berhasil, mulut Dede terbuka meski sedikit namun itu sudah sangat cukup untuk memasukkan air kedalam mulut Dede.


Satu tetes… dua tetes.. tiga tetes… air mineral itu perlahan mengalir masuk kedalam mulut Dede. Pandangan Mahmud tak lepas dari wajah Dede, hatinya sangat berharap anak kecil di pangkuannya itu segera membuka mata atau paling tidak ada gerakkan tanda- tanda kehidupan.


“Minumkan Mud, sedikit demi sedikit…” ucap Abah Dul lalu menyentuh telapak kaki Dede.


Dengan kekuatan batinnya, Abah Dul menyalurkan energi murni melalui telapak tangannya yang ditempelkan pada telapak kaki Dede. Sementara Mahmud mulai memasukkan air kedalam mulut Dede melalui telapak tangannya tidak lagi dengan cara meneteskannya.


Arin, Dewi, pak Wira serta petugas dan para warga semuanya terdiam. Dengan sedikit melongokkan kepala, puluhan pasang mata warga masyarakat yang berada di sekeliling mulut liang lahat terus memperhatikan apa yang ada di dasar liang lahat tersebut dengan seksama. Nampak ada raut- ketegangan diantara warga masyarakat yang dapat melihat langsung yang dilakukan Mahmud dan Abah Dul di dalam liang lahat.


Arin dan Dewi mulai mencucurkan air matanya melihat upaya Mahmud dan Abah Dul di dasar liang lahat untuk membuat Dede terbangun.


“Ya allah… kembalikan anaku… kembalikan dia ya allah…” ucap Arin lirih ditengah isak tangisnya.


“Amiin… amiin… kamu terus saja berdoa Rin, insya allah kekuatan doa dari seorang ibu dapat diijabah,” timpal Dewi mengelus- elus bahu adiknya itu penuh kasih sayang.


Sementara itu didalam liang lahat, Mahmud yang memangku jasad Dede beberapa saat kemudian mulai merasakan ada rasa hangat dibagian paha yang menopang tubuh Dede. Merasakan adanya perubahan itu Mahmud kian bersemangat untuk meminumkan air yang dituangkan melalui telapak tangannya.


“Bah, punggungnya terasa hangat,” bisik Mahmud.


“Azan Mud, azan. Ente azan di telinga kanan lalu akhiri ikomah di telinga kiri!” kata Abah Dul dengan menekankan ucapannya.


“I, iyya bah,” sahut Mahmud dengan suara bergetar.


Sambil sedikit menundukkan kepala, Mahmud mendekatkan bibirnye ke telinga sebelah kanan Dede, lalu mulai menyuarakan azan. Suara Mahmud terdengar bergetar atau mungkin gemetaran menahan gejolak perasaan yang timbul di dalam batinnya, harapannya begitu besar dan merasa sangat yakin jika Dede benar- benar masih hidup.


“Allaahu Akbar, Allaahu Akbar

__ADS_1


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


 Asyhadu allaa illaaha illallaah.


Asyhadu allaa illaaha illallaah.


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.


Hayya 'alashshalaah


Hayya 'alashshalaah


Hayya 'alalfalaah.


Hayya 'alalfalaah


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Laa ilaaha illallaah


(Artinya; Allah Maha Besar, Allah Maha Besar


Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah


Marilah Sholat, Marilah menuju kepada kejayaan


Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Tiada Tuhan selain Allah.)


Suasana yang hening membuat suara azan Mahmud yang merdu terdengar dengan jelas oleh orang- orang yang


berada diatas liang lahat. Semuanya menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya dengan ekspresi tegang. Tak lama kemudian terdengar lagi suara Mahmud dari dalam liang lahat yang melantunkan iqomah.


“Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Asyhadu allaa illaaha illallaah


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah


Hayya 'alashshalaah


Hayya 'alalfalaah


Qad qaamatish-shalaah, Qad qaamatish-shalaah

__ADS_1


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Laa ilaaha illallaah”


(Artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.


Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah.


Aku bersaksi bahwa nabi Muhammad itu adalah utusan Allah.


Marilah Sembahyang (sholat).


Marilah menuju kepada kejayaan.


Sesungguhnya sudah hampir mengerjakan sholat.


Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.)


Setelah suara Mahmud melantunkan iqomah, secara serentak Arin, Dewi serta semua orang yang berada diatas


serempak melongkokkan kepalanya agar dapat melihat apa yang terjadi di dasar liang lahat. Dari barisan belakang warga masyarakat yang sebelumnya tidak dapat melihat langsung ke area liang lahat seketika merangsak maju berdesakkan ingin melihatnya.


Didalam liang lahat, Mahmud dan Abah Dul menatap lekat- lekat wajah Dede yang terpejam layaknya


seperti anak yang sedang tertidur. Suasana senyap menantikan kejadian selanjutnya pada jasad Dede.


“Allahu Akbar! Subhanallah! Walhamdulillah! Wala ilaha ilallah!” pekik Mahmud sepontan saat melihat pupil mata Dede bergerak- gerak.


Kontan saja semua orang yang berada diatas liang lahat terkejut luar biasa oleh pekikan Mahmud. Mereka semua langsung menduga- duga pekikan Mahmud tersebut merupakan reaksi dari apa yang diharap dan di nanti- nantikan.


Semuanya benar- benar turut merasakan takjub, seakan- akan tidak percaya namun merasa sesuai dengan apa yang mereka duga dengan kejadian selanjutnya tersebut. Dengan spontan pula semua orang yang ada di area pekuburan serempak turut mengucapkan seperti yang di ucapkan Mahmud.


“Allahu Akbar! Subhanallah! Walhamdulillah! Wala ilaha ilallah!”


“Allahu Akbar! Subhanallah! Walhamdulillah! Wala ilaha ilallah!”


“Allahu Akbar! Subhanallah! Walhamdulillah! Wala ilaha ilallah!”


Suara koor massal membaca kalimah itu terdengar membahana diseantero area pekuburan  tersebut membuat merinding semua orang.


Mendengar suar koor dari atas kuburan, Mahmud dan Abah Dul merasakan bulu kuduk disekujur tubuhnya meremang. Ada perasaan haru bercampu dengan takjub bergejolak didalam batin mereka.


Dengan tangan sedikit gemetar, Mahmud mengusap- usap kepala Dede yang masih tergolek diatas pangkuannya sambil terus memperhatikan kedua mata Dede dan berharap ada reaksi lain yang ditunjukkan dari tubuh Dede.


Sementara itu ditengah- tengah suara zikir yang membahana, tidak ada seorang pun yang mengetahui kehadiran satu sosok yang melayang diatas kepala orang- orang yang berdiri di tepi liang lahat. Sepasang matanya sayu memperhatikan dengan seksama apa yang ada di dalam liang lahat. Nampak jelas sekali sosok yang melayang tak kasat mata itu sedang mengalami kesedihan yang teramat sangat.

__ADS_1


Sedetik kemudian sosok tak kasat mata itu nampak tubuhnya berguncang- guncang lalu tersedu- sedu mengeluarkan tangisnya. Air matanya luruh berderai hingga tetesan- tetesannya jatuh kedalam liang lahat tanpa ada seorang pun yang bisa melihatnya.** BERSAMBUNG


__ADS_2