Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Keberadaan Arin


__ADS_3

Mahmud pun tidak menyangka terungkapnya Kosim melakukan ritual pesugihan kepada Dewi diluar perkiraan. Semula Mahmud juga merasa khawatir ketika Dewi mengetahui yang dilakukan Kosim akan menimbulkan kemarahan yang berkepanjangan namun semua itu tidak terjadi.


Azan Duhur terdengar nyaring dari mushola disekitar rumah Mahmud. Kosim baru saja terlepas dari beban pikirannya setelah merasa menjadi terdakwa dihadapan Dewi beberapa menit yang lalu.


Kekhawatiran yang semula membelenggu pikirannya kini terlepas sudah setelah kakak iparnya mau mengerti sebab musabab Kosim melakukan ritual pesugihan dan kakak iparnya mau menerima kenyataan yang sedang terjadi.


"Sim, Duhur dulu sambil nunggu Abah Dul." Kata Mahmud.


"Iya Mas," jawab Kosim.


Wajahnya tidak sesuram tadi pagi. Kini wajah Kosim sedikit lebih bersemangat. Harapan satu-satunya ada pada Abah Dul dengan segala kemampuan ilmu kebatinannya untuk menemukan keberadaan Arin dan Dede.


Mahmud dan Kosim melaksanakan sholat Duhur berjamaah di kamar pesholatan yang hanya muat untuk tiga orang. Mahmud berdiri didepan menjadi imamnya.


Beberapa lama kemudian baru saja mengucap salam mengakhiri sholat, terdengar ketukan pintu dan ucapan salam.


"Abah Dul Sim," ucap Mahmud sebelum melanjutkan doa setelah selasai sholat.


"Saya duluan ke depan Mas," ucap Kosim.


Mahmud hanya menganggukkan kepala lalu meneruskan doa. Kosim pun beranjak meninggalkan ruang tempat sholat menuju ke depan untuk membukakan pintu.


Dari balik kaca ruang tamu Kosim melihat Abah Dul sudah duduk lesehan di teras sambil menikmati rokoknya.


"Waalaikumsalam," ucap Kosim bersamaan pintu dibuka.


"Masuk Bah, Mas Mahmud masih zikir abis sholat Duhur," sambungnya.


"Lah, sekalian saya Duhur dulu Sim. Tadi begitu nyampe rumah langsung kesini belum sempat sholat." Timpal Abah Dul.


"Oh, monggo-monggo Bah," ujar Kosim.


Abah Dul melangkah masuk langsung menuju bak untuk berwudlu. Sementara Kosim menuju dapur untuk membuatkan kopi buat Abah Dul.


Sementara itu Mahmud yang sudah selesai dari zikirnya lalu keluar dari ruang sholat, ia bergegas melangkah kedepan dan celingukkan di ruang tamu. Lalu membuka pintu melongokkan kepala melihay di teras depan tetapi tidak menemukan Abah Dul dan Kosim.


"Pada kemana?" Gumamnya.


Saat kembali masuk dan hendak duduk diruang tamu, Kosim muncul dari dalam sambil menenteng segelas kopi.


"Abah Dul kemana Sim, kok nggak ada?" Tanya Mahmud.


"Tuh lagi ambil wudlu di bak Mas," jawab Kosim.


"Oooo..." gumam Mahmud.

__ADS_1


"Mas Mahmud mau dibikinin kopi lagi?" Tanya Kosim.


"Mmm... boleh deh, sekalian bawa kue diatas meja kesininya, Sim." Ujar Mahmud.


Mahmud duduk di kursi tamu menunggu Abah Dul selesai sholat Duhur dan menunggu Kosim membuatkan kopi. Pikirannya langsung membahas Arin, ia menereka-nerka bagaimana reaksinya apabila Kosim menjelaskan masalah ritual pesugihannya.


"Apakah Arin bisa menerima kayak Dewi nggak ya? Bagaimana kalau Arin semakin marah atau kemungkinan terburuknya bisa-bisa sampai minta cerai?" Kata Mahmud dalam hati.


Mahmud geleng-geleng kepala sendiri membayangkan kemungkinan yang paling rumit yang akan dihadapi Kosim.


"Astahfirullah, semoga nggak terjadi," Mahmud membatin.


Beberapa saat kemudian, Abah Dul dan Kosim muncul bersamaan di ruang tamu sehingga lamunan Mahmud seketika buyar.


"Ada dimana pagi tadi Bah, saya telpon nggak aktif," tanya Mahmud begitu Abah Dul duduk di seberang meja tamu.


Kosim meletakkan gelas kopi diatas meja dihadapan Abah Dul dan Mahmud. Lalu duduk di kursi paling ujung disamping Mahmud.


"Lupa hape belum di hidupin Mud. Pagi-pagi ada orang ke rumah meminta saya mengobati orang kesurupan di desa Selaka. Wah parah Mud, orang yang kesurupan itu menuduh tetangganya menumbalkan anaknya yang sehari sebelumnya meninggal. Padahal anaknya meninggal itu jelas-jelas karena sakit dan dibuktikan dari surat keterangan pihak rumah sakit," terang Abah Dul.


"Bisa begitu ya Bah," timpal Mahmud.


"Yah biasa Mud, kecemburuan sosial. Kebanyakan orang yang hatinya dipenuhi Kedengkian akan selalu berfikir negatif. Dan secara kebetulan kematian anaknya itu bersamaan dengan tetangga yang dituduh nyupang membeli mobil. Parah, Mud..." kata Abah Dul.


"Terus yang dilakukan ente gimana?" Tanya Mahmud penasaran.


"Semula para tetangganya sempat terprovokasi hendak menggeruduk tetangga yang disebut-sebut nyupang. Tetapi setelah mahluk halus itu mengakui bahwa semua itu hanya fitnahan dan mahluk halus mengaku hanya mengikuti pikiran dah hati si ibu yang sebelumnya memang sudah menuduhnya," sambungnya.


"Masya Allah.. terus warga gimana Dul? Tanya Mahmud.


"Alhamdulillah warga percaya karena yang ngomong itu si ibu sendiri yang dirasuki mahluk halus." Ujar Abah Dul.


"Ente gimana Sim? Kenapa Arin sampe pergi dari rumah?" Abah Dul mengalihkan tanyanya ke Kosim yang dari tadi menyimak ceritanya.


Kosim pun menceritakannya kembali sama seperti yang diceritakan pada Dewi dan Mahmud. Abah Dul geleng-geleng kepala mendengar ungkapan Kosim.


"Ada aja orang yang usil," gumam Abah Dul.


Kemudian Abah Dul terdiam. Dia merubah posisi duduknya dengan bersila, tangannya ditumpangkan diatas kedua pahanya. Lalu perlahan-lahan matanya dipejamkan seiring mulutnya komat-kamit membaca amalan "Melepas Sukma."


Tak lama tubuh Abah Dul terdiam tidak bergerak. Sementara dari pandangan tak kasat mata, sukma Abah Dul membias melayang keatas lalu melesat meninggalkan rumah Mahmud.


Mahmud dan Kosim hanya memperhatikan tubuh Abah Dul yang duduk bersila tak bergeming.


Tidak berbeda jauh dengan teknologi dijaman sekarang dengan kemampuan ilmu kebatinan Abah Dul. Jika jaman sekarang melacak keberadaan orang melalui signal hape yang digunakannya, begitupun dengan kemampuan ilmu kebatinan, tidak terlalu sulit hanya dengan menyebutkan nama dan binti, sukma Abah Dul dengan sendirinya langsung ditunjukkan keberadaan Arin.

__ADS_1


Pada satu tempat, sukma Abah Dul melihat Arin sedang berada didalam sebuah kamar. Disampingnya tergolek Dede sedang tertidur. Sukma Abah Dul kemudian mencermati posisi keberadaan Arin, sukma Abah Dul kembali melayang keatas melihat sekeliling rumah mencari-cari tanda rumah dimana Arin berada.


Sesaat kemudian sukma Abah Dul kembali melesat ke rumah Mahmud dan kembali masuk kedalam raganya. Abah Dul membuka matanya seraya berucap, "Alhamdulillah..." sembari meraupkan kedua tangannya ke wajah.


"Gimana Bah?!" Tanya Kosim tak sabar.


"Sepertinya nggak jauh dari rumah ente Sim. Arin sedang tiduran didalam kamar dan rumah itu bercat kuning gading disebelah rumah ada plang bertuliskan toko buku dan fotocopy," terang Abah Dul.


"Itu rumah Lulu!" Seru Kosim spontan.


Kontan saja Abah Dul dan Mahmud terlonjak kaget dengan seruan Kosim.


"Astagfirullah..." ucap keduanya bersamaan.


"Saya langsung kesana Mas, Bah," ujar Kosim dengan wajah sumringah.


"Sim, Sim... sabar dulu jangan buru-buru. Belum tentu Arin mau menemuimu bahkan bisa jadi dia akan kembali pergi menghindar," sergah Mahmud.


"Iya Sim, tinggal pikirkan gimana caranya agar Arin mau pulang," timpal Abah Dul.


"Jadi gimana Mas, saya harus gimana?" Tanya Kosim sedikit kecewa.


"Kalau menurut saya sebaiknya jangan kamu Sim yang datang kesana. Biar Mbak Dewi aja yang membujuk Arin," kata Mahmud.


Kosim mengangguk-anggukkan kepalanya, nampaknya dia menerima saran kakak iparnya itu.


"Tapi Mbak Dewi sore pulangngnya Mas, saya khawatir Arin tidak lagi di rumah Lulu," ujar Kosim.


"Sebentar lagi juga pulang satu jam-an lagi, Sim. Ya mudah-mudahan Arin tetap di rumah Lulu," ucap Mahmud.


Baru saja diomongin, Dewi tiba-tiba muncul di pintu, "Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam, Wi pulang cepat?" Tanya Mahmud terkejut.


"Iya Mas, saya ijin pulang sekarang karena kepikiran Arin terus. Gimana Bah, Arin ada dimana? Dewi menoleh ke Abah Dul tak sabar.


"Sudah Wi, Arin nggak kemana-mana ada dirumah temannya nggak jauh dari rumah," jawab Abah Dul.


"Iya Wi, kata Kosim itu rumah Lulu." Timpal Mahmud.


"Oh di rumah Lulu? Syukurlah, itu sahabatnya Arin sejak di SMA," ucap Dewi.


"Sebaiknya jangan Kosim yang menemui Arin Wi. Khawatir Arin nggak mau menemuinya dan bertambah marah, mungkin kalau kamu yang membujuknya Arin mau pulang sekalian kamu jelasin soal pesugihan yang dilakukan Kosim," kata Mahmud.


Dewi diam sesaat menelaah anjuran suaminya, "Baiklah Mas." Ucap Dewi.

__ADS_1


......................


__ADS_2