Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
MENYONGSONG MAUT


__ADS_3

.......................Kosim menatap terbelalak dengan mulut ternganga, Abah Dul melindungi dirinya dan juga melindungi Mahmud, Kosim dan Mang Ali dengan melintangkan senjata Tombak Mata Kembarnya, Mang Ali sudah menelungkup pasrah. Sementara Mahmud sudah menutup mukanya rapat-rapat dengan kedua tangan.


Abah Dul, Mahmud, Kosim dan Mang Ali merasakan angin berhawa panas menerpa deras diiring suara menderu dari tongkat logam emas Raja Kalas Pati.


"Allaaaaaaahu Akbarrrr...!"


"Allaaaaaaahu Akbarrrr...!"


"Allaaaaaaahu Akbarrrr...!"


"Allaaaaaaahu Akbarrrr...!"


Keempatnya berteriak pasrah manakala merasakan angin berhawa panas menerpa tubuh mereka. Ini baru anginnya saja, apalagi terkena hantaman tongkat logam emas itu, begitu pikir mereka dalam hati dalam pasrahnya.


Senjata Cambuk Amal Rosuli di tangan Gus Harun bergetar hebat bersamaan dengan ujung cambuknya menerobos hempasan angin menahan laju tongkat Raja Kalas Pati.


Pedang Abu Bakar di tangan sukma Ustad Basyari yang dilintangkan diatas kepala yang juga untuk menahan tongkat Raja Kalas Pati sedikit terdorong tertekan. Tangan sukma Ustad Basyari seketika dipaksa menekuk oleh besarnya kekuatan tongkat Raja Kalas Pati. Sukma Ustad Basyari segera mengerahkan seluruh tenaga dalam dipadukan dengan amalan "Perisai Menyangga Bumi", hingga hanya satu jengkal pedang besarnya dapat tertahan hampir menyentuh kepalanya.


Sukma ustad Bahari pun melakukan hal yang sama dengan melintangkan tongkat Pagar Alamnya. Tujuannya hanya satu yakni untuk melindungi Abah Dul, Mahmud, Kosim dan Mang Ali yang sesaat lagi terhantam tongkat logam emas Raja Kalas Pati.


"Booooooommmm..."


"Booooooommmm..."


"Booooooommmm..."


Mula-mula cambuk Amal Rosuli yang dilecutkan Gus Harun menahan laju tongkat Raja Kalas Pati beradu dan menimbulkan dentuman keras. Tangan Gus Harun langsung bergetar keras dan cambuk ditangannya nyaris terpental.


Tongkat logam emas itu terus meluncur deras lalu menghantam Tombak Mata Kembar yang dilintangkan Abah Dul menimbulkan suara dentuman yang kedua. Senjatanya terpental, tangannya merasakan panas saat dua kekuatan besar itu bertabrakkan.


Disusul dentuman ketiga kalinya yang berasal dari benturan tongkat logam emas dengan pedang besar bernama Abu Bakar digenggaman sukma Ustad Basyari. Namun nasibnya sama seperti Gus Harun dan Abah Dul, senjatanya terpental tangannya bergetar merasakan kesemutan yanh terasa panas.


Kini harapan terakhir untuk menahan laju hujaman tongkat logam emas Raja Kalas Pati hanya pada senjata Tongkat Pagar Alam ditangan sukma Ustad Baharudin.


"Booooooommmm..."


Dua kekuatan besar kembali beradu menimbulkan suara dentuman yang keempat kalinya. Sayangnya, pertahanan terakhir itu tidak berhasil. Tongkat Pagar Alam terpelanting lepas dari genggaman tangan sukma Ustad Baharudin.


Mereka semua hanya bisa pasrah menanti hantaman maha dahsyat tongkat logam emas Raja Kalas Pati. Dalam keadaan tidak berdaya dan pasrah, semuanya berteriak sekeras-kerasanya;


"Allaaaaaahu Akbar...!!!"


"Allaaaaaahu Akbar...!!!"


"Allaaaaaahu Akbar...!!!"


"Allaaaaaahu Akbar...!!!"

__ADS_1


"Allaaaaaahu Akbar...!!!"


"Allaaaaaahu Akbar...!!!"


Mata mereka terpejam rapat-rapat dalam kepasrahan. Jauh didalam batinnya mereka merasa tidak ada harapan lagi. Semuanya sudah memastikan diri akan mati dan hancur oleh hantaman tongkat Raja Kalas Pati.


Tongkat logam emas sejengkal lagi meluluh lantakkan tubuh Gus Harun, Abah Dul, Mahmud, Kosim dan Mang Ali........


Tiba-tiba selarik cahaya merah darah memancar terang memancar dari salah satu dari mereka yang sudah meringkuk pasrah. Tongkat Raja Kalas Pati sontak terhenti, tongkat besar itu rupanya ditarik kembali oleh Raja Kalas Pati dan tidak meneruskan hujamannya.


Wajah seram Raja Kalas Pati seketika terperanjat bersamaan memancarnya cahaya merah darah itu. Wajahnya mendadak tercengang dengan pucat.


"Mustika Ular Iblis?!" Teriak Raja Kalas Pati tercekat.


Bersamaan teriakkan Raja Kalas Pati itu, tubuhnya langsung melesat ke angkasa lalu lenyap dikegelapan langit.


Gus Harun, Abah Dul, Kosim dan Mang Ali serta dua sukma masih memejamkan matanya pasrah. Hanya Mahmud yang memejamkan mata sambil menutup mukanya.


Beberapa saat lamanya mereka masih berkumpul rapat saling berangkulan erat, namun hantaman yang dinanti itu tidak juga kunjung dirasakannya.


Sementara itu cahaya merah darah masih memancar menerangi halaman dimana Raja Kalas Pati berdiri tadi. Kelima orang dan dua sukma kemudian perlahan-lahan membuka matanya dan menatap dimana Raja Kalas Pati sebelumnya berdiri tetapi tidak ditemukan.


Wajah mereka sontak tertegun, Raja Kalas Pati sudah tidak ada ditempatnya. Namun raut wajah mereka berganti terkejut dengan sinar merah darah yang memancar.


Perlahan-lahan wajah mereka menyusuri asal sumber cahaya merah darah itu. Dari posisi mendongak lalu perlahan menunduk menelisik dimana asal cahaya merah darah itu bermuara.


"Mahmud...!" Gumam Abah Dul.


Abah Dul langsung menyentuh bahu Mahmud, seraya berseru "Mud, Mahmud...!" Abah Dul sambil mengguncang-guncangkan bahunya.


Masih dengan telapak tangan menutup mukanya, Mahmud melonggarkan jarinya untuk mengintip keadaan. Dia pun terperangah heran, yang dilihatnya dari sela-sela jarinya hanya hamparan cahaya merah darah, tidak ada lagi Raja Kalas Pati.


"Mud, Mahmud. Cincin ente...!" Abah Dul berseru takjub.


Mahmud baru benar-benar tersadar kalau situasinya sudah aman setelah mendengar suara Abah Dul memanggil-manggilnya. Dia pun perlahan menurunkan tangannya, seketika cahaya merah darah itu bergeser pancarannya mengikuti arah posisi cincin di jari Mahmud.


Mahmud langsung terperangah kaget melihat cahaya merah itu mengikuti gerakkan jarinya. Ia kontan memperhatikan batu merah cincinnya dengan tidak percaya.


Batu merah yang dijadikan mata cincin di jari Mahmud itu tidak lain batu ali-ali yang dua malam sebelumnya diperoleh dari hasil penarikan oleh Gus Harun.


Abah Dul saat itu mengira dan menyebutnya batu merah delima, namun teriakkan Raja Kalas Pati menyebutnya "Mustika Raja Ular Iblis". Para mahluk gaib menyebut batu itu sebagai lencana tertinggi di dunia mahluk tak kasat mata seperti yang dikatakan oleh pemiliknya, Raja Ular Iblis!.


Mereka semua serentak saling berangkulan satu sama lain penuh dengan suka cita. Peristiwa yang baru saja dialami oleh mereka semua merupakan sejarah dalam hidupnya masing-masing.


......................


ALAM TAK KASAT MATA,

__ADS_1


Didalam istana Siluman Monyet, Raja Kalas Pati bermuram durja. Wajahnya terlihat dingin membesi dengan sorot mata menahan amarah yang tak terkira.


Melihat raut wajah Rajanya yang sedang murka itu para prajurit monyet siluman tidak ada yang berani bertingkah sedikit pun apalagi bersuara.


"Ada apa Paduka?!" Seekor monyet tua berbulu putih memberanikan diri bertanya melihat Sang Raja gundah.


"Ternyata manusia bernama Kosim itu bukanlah orang sembarangan, dia memiliki mustika Raja Ular Iblis. Dan orang-orang yang bersamanya pun bukan orang-orang biasa," kata Raja Kalas Pati geram sembari menatap langit-langit ruang utama istana di kursi singgasananya.


"Kenapa batu mustika itu sampai ada ditangan manusia?! Lalu kenapa tidak dihabisi saja?!" Tanya Monyet tua.


"Aku bisa saja menghabisi nyawa mereka semua tetapi adanya batu mustika Ular Iblis itu, aku tidak bisa melanggarnya!"


"Apa ada imbalannya jika Paduka memaksakan diri melanggar dan menghabisinya?!" Tanya Monyet tua penasaran.


"Seandainya aku paksakan menghabisinya, maka aku sendiri pun akan dimusnahkan oleh semua mahluk sebangsaku sendiri..." Kata Raja Kalas Pati terpekur.


Bukan soal seberapa besar kekuatan yang terkandung dalam Mustika Raja Ular Iblia, akan tetapi sebuah perjanjian telah terikat. Semua mahluk sebangsanya sudah mengakui dan sepakat siapapun yang menggèngam Batu Merah itu, dialah penguasa alam gaib dari semua mahluk-mahluk halus sebangsanya.


Peristiwa paling mengerikan dalam perebutan lencana Batu Merah itu terjadi ratusan tahun yang silam. Dimana semua raja-raja dari bangsa mahluk halus golongan hitam saling bertempur untuk menjadi yang terkuat sekaligus akan diakui sebagai Raja Diraja semua mahluk halus golongan hitam.


Banyak raja-raja dari berbagai jenis mahluk halus yang musnah dalam ritual rutin yang disayembarakan setiap 1000 tahun sekali. Dan Raja Ular Iblis yang menjadi penguasa diperiode 400 tahun kedepan ini.


Seiring perjalanan waktu, pasangan Raja Ular Iblis berurusan dengan Kiyai Sapu Jagat. Awalnya Kiyai Sapu Jagat diminta oleh warga sekitar pesantren untuk mengobati seorang gadis yang sedang sekarat.


"Jangan berani ganggu manusia!" Hardik Kiyai Sapu Jagat sembari menghentakkan telapak tangannya.


"Apa urusanmu?!" balas ular jantan yang menyerupai wujud manusia itu berusaha menahan hantaman Kiyai Sapu Jagat.


Hingga pada satu kesempatan, Kiyai Sapu Jagat berhasil melumpuhkannya dengan satu gerakan mematikan. Tubuhnya meloncat ke balik punggung ular berwujud manusia.


Dengan cepat Kiyai Sapu Jagat berbalik sembari bergerak menusuk dengan keris, namun tiba-tiba mendengar suara teriakkan nyaring menghentikannya.


"Jangaaaan...!!!"


Kiyai Sapu Jagat menarik kembali gerakan tusukkannya. Sehingga ular berwujud manusia itu lolos dari maut.


Sedetik berikutnya muncul Raja Ular Iblis secara tiba-tiba dihadapan Kiyai Sapu Jagat sembari menangkupkan tangannya di dada.


"Terima kasih Kiyai, aku berhutang nyawa padamu..." ucap Raja Ular Iblis langsung menyambar ular jantan berwujud manusia lalu menghilang.


Raja Ular Iblis sejatinya ular betina, tetapi karena menjadi yang terkuat diantara mahluk sebangsanya maka semuanya menyebutnya Raja bukan Ratu. Sebab jika menyebutnya ratu pasti akan muncul raja.


Karena itulah pada saat mendatangi Gus Harun, Abah Dul, Kosim, Mahmud dan Mang Ali untuk mengambil batu Mustika itu memilih merelakannya setelah mengenali senjata yang dikeluarkan Gus Harun dan Abah Dul.


......................


..........NEXT............

__ADS_1


__ADS_2