
Gunjingan- gunjngan tak mengenakan samar- samar didengar oleh Mahmud dari warga masyarakat yang bearada di sekitarnya. Namun Mahmud tak menghiraukankannya meskipun dalam hati ada ketidak nyamanan saat mendengarnya. Ingin rasanya Mahmud menyanggah sangkaan- sangkaan buruk tersebut dan menjelaskannya kepada mereka.
"Biarlah nanti waktu yang akan menjawabnya sendiri," ucap Mahmud dalam hati sambil terus memperhatikan
penggalian makam Dede.
Empat orang penggali kubur terus mengayunkan cangkulnya. Kini posisi mereka saling berhadapan masing- masing mengayunkan cangkulnya dari keempat sudut, Silih berganti mata pacul dari keempat orang itu bergantian menancap dan mengeruk tanah- tanah di gundukkan makam Dede lalu melemparnya kesamping kuburan.
Bebetapa lama kemudian sampai pada akhirnya ayunan mata cangkul salah seorang dari keempat penggali kubur itu seperti menghantam sesuatu benda hingga menimbulkan bunyi keras.
Duggg!!!
Disusul tiga mata cangkul lainnya yang juga membentur suatu benda. Ketiga suara benturan mata cangkul saling
mengeluarkan suara 'debug' yang sama secara beruntun. Sekeyika Ke empat orang penggali kubur menghentikan ayunan cangkulannya, mereka saling pandang satu sama lain seakan saling bertanya lalu mendongak ke arah posisi Mahmud yang berdiri disisi kuburan Dede memperhatikannya.
“Ada apa pak?!” tanya Mahmud heran.
“I, ini… galian sudah sampai menyentuh kayu tataban kang Mahmud,” sahut salah satu penggali kubur.
“Cepat lanjutkan pak Juki!” tegas Mahmud penuh keyakinan.
“Njih kang,” balas pak Juki.
Warga yang berada disekitar makam yang mendengar percakapan itu seketika itu pula tanpa ada yang mengomandoi mereka langsung merangsak mendekat mengelilingi makam yang sedang di gali ingin
melihat kondisi jenazah anaknya Kosim.
Pak Juki dan rekan- rekannya kembali melanjutkan mengayunkan cangkulnya mengeruk tanah- tanah diatas kuburan Dede. Namun kali ini para penggali kubur tersebut sedikit lebih berhati- hati menancapkan
__ADS_1
mata cangkulnya.
Tak butuh waktu lama nampak kayu- kayu papan penutup jenazah atau tataban yang tersusun berjajar rapat menutupi jasad anakanya Kosim, kini sudah mulai terlihat seutuhnya. Mereka tinggal memngangkat papan- papan tataban itu satu persatu maka akan terlihat jenazah anaknya Kosim.
Namun pak Juki dan ketiga rekannya terkejut luar biasa! Tiba- tiba dari celah- celah papan tataban yang berada
dibawah kaki mereka terlihat ada semburat cahaya terang yang keluar dari balik papan tataban.
“Cepat buka papan penutupnya pak,” kata Mahmud saat melihat para penggali kubur itu terlihat ragu- ragu untuk
membukanya.
“Ada cahaya dari balik papan tataban ini kang Mahmud!” seru pak Juki mewakili teman- temannya.
“Subhanallah!” gumam Mahmud.
Mahmud pun menyadari keragu- raguan para penggali kubur yang mungkin sudah lebih berpengalaman soal mayat. Makanya mereka ragu- ragu ketika akan membuka papan penutup jenazah tersebut. Dari raut muka
para penggali kubur terlihat ada ekspresi ngeri bercampur jijik. Mungkin mereka sudah memperkirakan kondisi mayat dibalik tataban tersebut.
Akan tetapi sebenarnya kengerian pak Juki dan kawan- kawannya bukan karena itu. Pak Juki merasa takut dengan munculnya semburat cahaya yang membias dari balik papan- papan tataban.
“Ayo segera buka pak Juki, nggak apa- apa! Insya allah jasadnya tidak rusak atau busuk!” tegas Mahmud meyakinkan para penggali kubur. Mahmud tahu kalau pak Juki dan kawan- kawan penggali kubur itu merasa khawatir dan jijik.
Setelah Mahmud meyakinkan para penggali kubur, segera dua orang penggali kubur bergegas naik keatas lebih dulu untuk menerima papan penutup jenazah yang nantinya diulurkan dari dalam kubur. Sedangkan
yang berada di dalam liang lahat hanya ada pak Juki dan dibantu mang Asim yang nantinya akan membuka papan- papan tersebut.
Diatas sekitar tanah kuburan Dede, para petugas Puskesmas langsung bersiaga mempersiapkan tandu belangkar sebagai tempat meletakan jasad Dede dibantu beberapa masyarakat yang berada disekitarnya. Sementara Mahmud, pak Wira, para petugas polisi serta para warga terus memperhatikan proses pembukaan papan tataban. Puluhan pasang mata tertuju kedalam liang lahat dimana pak Juki dan rekan- rekannya mulai mengangkat papan penutup jenazah tersebut.
__ADS_1
Para warga masyarakat yang datang kian bertambah banyak saja dan mereka langsung merangsak mendekati galian kuburan serta berdiri mengelilinginya. Wajah- wajah penuh penasaran ingin melihat langsung jasad anaknya Kosim sangat jelas terlihat pada mereka yang begitu antusias ingin menyaksikannya.
Di dalam liang lahat, mang Juki sedang berupaya membuka papan penutup jenazah. Mula- mula pak Juki membuka papan tataban yang menutupi bagian kaki. Saat papan tataban bisa dibuka, pak Juki langsung mengangkatnya dan mengulurkan pada rekannya yang berada diatas liang lahat.
Seketika semburat cahaya putih keluar dari lubang bekas papan tataban yang sudah dibuka pada bagian kaki. Bias cahaya putih itu terlihat jelas mencuat keatas dan sangat kentara terlihat kontras dengan cuaca yang redup akibat mendung tebal. Saat itu juga semua orang yang menyaksikan fenomena aneh tersebut spontan berseru secara serempak dengan suara bergetar seperti sebuah suara koor.
“Subhanallah!” seru semua orang yang berada di area pekuburan tersebut.
“Subhanallah! Semoga arwah Dede dapat diselamatkan dan berhasil dibawa oleh Kosim dan sahabat- sahabat semua…” disusul Mahmud berkata dalam hati.
Pak Juki sendiri masih terpaku ditempatnya merasakan keanehan tersebut. Ia tampak terhenyak menyaksikannya dan baru kali ini dirinya menemukan jenazah yang mengeluarkan cahaya putih yang menyilaukan.
“Pak Juki, cepat buka papan tatabannya pak!” kata Mahmud menyadarkan ketermanguan pak Juki.
“I, iyya kang…” sahut pak Juki terkesiap.
Segera pak Juki di bantu mang Asim menarik dan mengangkat papan tataban yang kedua lalu kembali mengulurkannya pada rekannya yang berada diatas liang lahat.
Saat papan kedua terbuka, seketika itu juga semburat cahaya putih semakin terang mencuat. Bias sinarnya langsung memancar keatas langit seperti sebuah lampu senter yang disorot kearah tempat gelap membentuk garis dimensi ruang yang menjurus ke langit.
Didalam liang lahat, pak Juki dan mang Asim semakin terbelalak melihat cahaya yang mencuat keluar dari jasad anak Kosim. Bahkan cahayanya membuat kedua penggali kubur itu tak dapat melihat kain kafan yang membukus jasadnya. Cahayanya sangat menyilaukan mata membuat pak Juki dan mang Asim segera menutup kedua matanya dengan punggung lengannya.
“Cepat buka lagi pak Juki, mang Asim!” seru Mahmud sambil menutup matanya dengan punggung lengannya.
Semua orang yang berada di pinggir kuburan Dede pun juga menutup mata mereka akibat silaunya cahaya yang mencuat dari dalam liang lahat.
Dialam liang lahat pak Juki dan mang Asim sedikit kesulitan menggapai papan tataban, keduanya tak dapat melihat papan tataban karena silau. Hanya dengan mengandalkan insting, kaki pak Juki berupaya meraba- raba papan tataban berikutnya. Setelah merasa yakin kakinya merasakan papan tataban berikutnya segera pak Juki berjongkok untuk mencari celah sebagai pegangan untuk dapat mengangkatnya kembali.
Dan sedikit kesulitan papan ketiga pun akhirnya berhasil di buka pak Juki dan mang Asim!** BERSAMBUNG …
__ADS_1