Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
PETUALANGAN


__ADS_3

Menghilangnya Abah Dul secara tiba-tiba menjadi topik pembicaraan utama di malam ke-3 acara tahililan Dede. Hingga kebanyakan diantara warga desa Sukadami menyimpulkan dugaan kalau Abah Dul hilang di bawa mahluk halus. Mereka meyakini itu dengan melihat fakta yang ada yakni karena sandal Abah Dul yang tertinggal.


Kehebohan hilangnya Abah Dul membuat masyarakat resah dan menjadi kekhawatiran sehingga pemerintahan desa yang mendapat laporan warganya turun tangan. Kepala desa Sukadami, Zaenal Abidin turut menyambangi kediaman Mahmud untuk menanyakan awal kejadiannya.


Mahmud pun menceritakan kejadiannya ketika pertama kalinya mengetahui kalau Abah Dul sudah tidak ada di rumahnya. Awalnya dia mengira Abah Dul sudah pulang ke rumahnya, namun saat ditemukan sandalnya masih tergeletak di bawah teras depan dari sanalah timbul keganjilan.


“Aduh, sulit juga ya memperkirakan hilangnya Abah Dul,” keluh Kepala Desa.


“Semua teman-temannya sudah pada di tanya belum Mud? Atau di minta bantuannya gitu,” sambung Kepala desa.


Mahmud nampak mengingat-ingat siapa lagi temannya Abah Dul yang sering berhubungan yang ada di sekitaran tetangga desa. Namun sepertinya semuanya sudah di tanyakan dan jawabannya sama, “tidak tahu”. Setelah lama berpikir, Mahmud teringat dengan sahabat Abah Dul satu pesantrennya yang ada di Banten.


“Oh iya pak saya belum menghubungi Gus Harun, teman pesantren Abah Dul dulu,” sergah Mahmud.


“Coba, coba kamu langsung hubungi dia Mud,” sahut Kepala Desa penuh harap.


Mahmud langsung merogoh hapenya di saku celananya lalu mencari nomor kontak Gus Harun dan menghubunginya. Sementara wajah Kepala Desa nampak sedikit menegang penuh harap kalau temannya yang satu ini bisa membantunya.


Tuuuut... tuuuut... tuuuut...


Suara nada sambung terdengar dari hape Mahmud. Sesaat kemudian suara dari seberang telpon terdengar diangkat.


“Assalamualaikum, Gus...” ucap Mahmud.


“Wa’alaikum salam, kang Mahmud gimana kabarnya? Sehat-sehat semua di situ?” terdengar suara Gus Harun dari seberang telpon.


“Alhamdulillah saya dan keluarga baik Gus, hanya kami saat ini masih berduka,” ucap Mahmud.


“Berduka?!” sahut Gus Harun.


“Dede Gus, anaknya Kosim tidak dapat di selamatkan,” ungkap Mahmud.

__ADS_1


“Innalillahi wainnailaihi rojiun...” suara Gus Harun bergumam.


Gus Harun tidak terlalu kaget saat Mahmud mengabarkan kematian Dede, karena dia juga menyaksikannya bahkan turut membantu upaya Abah Dul dan Kosim pada malam kejadian kritis itu. Namun Mahmud tidak mengtahui kalau malam itu Gus Harun turut serta.


“Anu Gus, A, Abbb, Abah Dul?” Mahmud terbata-bata ketika akan menanyakan tentang Abah Dul.


“Kenapa dengan Dul kang Mahmud?!” suara Gus Harun berubah cemas.


“Abah Dul hilang Gus!” ungkap Mahmud.


“Hilang?! Hilang gimana kang Mahmud?!” nada suara cemas Gus Harun terdengar keras.


“Jadi begini Gus...” Mahmud kembali menceritakan kronoligisnya dari awal hingga Abah Dul dinnyatakan hilang.


“Gus Harun bisa bantu?” ucap Mahmud sangat berharap banyak.


“Insya Allah, insya Alah pasti saya bantu semampu saya kang Kang Mahmud,” sahut Gus Harun.


“Matur suwun, matur suwun Gus. Mohon nanti kabari saya ya Gus, soalnya warga di sini terutama orang tuanya sangat khawatir,” ucap Mahmud.


Setelah itu Mahmud mengucap salam mengakhiri telponnya dengan wajah sedikit lega., lalu menyampaikannya pada Kepala Desa kalau Gus Harun akan membantunya dan menunggu informasil kembali.


......................


Alam Jin,


Wajah Abah Dul tercengang mendengar mendengar kisah heroik tuan Denta tersebut sekaligus juga keget. Pasalnya, sosok yang menyebabkan tuan Denta menjadi menderita dan di buru oleh kerajaan itu adalah sosok yang sama. Sehingga menyulut kembali rasa dendam bagi Kosim yang membuat amarahnya kian membara meledak-ledak.


Dibalik itu Abah Dul juga merasa iba dengan kehidupannya yang mendapat perlakuan tidak adil. Jasa-jasa pengabdiannya seolah-olah lenyap begitu saja hanya karena hasutan. Akan tetapi dari ekspresi dan semangat tuan Denta menunjukkan ada dendam yang tergambar disana dan ingin rasanya balas dendam namun tidak memiliki daya dan kekuatan untuk melawan bala tentara kerajaan.


Di sisi lain, Abah Dul terlihat berbinar-binar begitu pun dengan Kosim manakala Tuan Denta menceritakan ada sebuah benda yang di duga sebuah pusaka di dalam hutan terlarang. Seketika Abah Dul sangat tertarik dan penasaran dengan benda yang nampaknya memliki kekuatan besar yang diceritakan tuan Denta itu. Di kepala Kosim juga demikian, entah kenapa tiba-tiba Kosim seperti mempunyai keinginan memiliki benda itu. Kosim menoleh pada Abah Dul dengan ekspresi penuh harap, dan Abah Dul pun nampaknya mengerti dengan maksud tatapan Kosim.

__ADS_1


“Maaf sebelumnya tuan, apakah tuan mengijinkan apabila saya dan Kosim ingin melihat benda yang di duga pusaka itu? Kalau di ijinkan juga meminjamnya,” kata Abah Dul.


“Meminjam?! Untuk apa?!” sergah tuan Denta tidak senang.


“Untuk membalas kematian putra saya,” tegas Kosim tal dapat lagi membendung amarahnya.


“Maksud anda?!” Tanya tuan Denta tidak mengerti.


“Begini tuan,” Abah Dul langsung menyela.


“Sepertinya sosok yang sama yaitu Kalas Pati yang menjadi biang malapetakanya tuan,” ungkap Abah Dul.


Tuan Denta nampak diam membatu, ekspresinya memdadak muram menyorotkan dendam yang teramat sangat. Nama Kalas Pati itulah yang menjadi penyebabnya, sèolah diingatkan kembali pada peristiwa ratusan tahun yang silam.


“Ya barangkali benda pusaka itu mempunyai kekuatan besar yang dapat menghancurkan kerjaaan siluman monyet itu tuan,” ucap Abah Dul meyakinkan tuan Denta.


Setelah beberapa saat terdiam mempertimbangkan permintaan Abah Dul dan Kosim, tuan Denta pun berkata; “Baiklah aku akan membantu kalian menuju ke tempat benda pusaka kerajaan itu.”


Suasana alam masih sama, tidak siang juga tidak malam. Abah Dul sendiri merasakan kalau dirinya berada di alam itu baru beberapa menit sejak pertama kalinya datang hingga saat ini bersama tuan Denta. Selama berada di alam Jin, tak sekalipun terlintas di pikiran Abah Dul tak tentang desa Sukadami, soal Mahmud bahkan orang tuanya. Sekonyong-konyong kehidupan di alam manusia itu telah terlupakan atau juga tertutup oleh esensi dimensi alam Jin.


“Baiklah, ayo kita menuju kesana!” Seru Tuan Denta kemudian bangkit penuh semangat bergerak masuk ke dalam hutan terlarang.


Pepohonan-pepohonan raksasa tinggi menjulang sangat rapat menutupi langit. Normalnya, atau jika itu berada di alam manusia berada di dalam hutan dengan rapatnya rerimbunan pohon menutupi langit akan menjadi gelap gulita, tetapi saat ini Abah Dul, Kosim dan tuan Denta yang berjalan masuk ke dalam hutan itu masih dapat melihat dengan jelas. Cuacanya tetap sama, tidak gelap dan juga tidak terang.


Setelah posisi ketiga mahluk itu berada di tengah-tengah jarak dengan reruntuhan istana, mereka dapat merasakan sebuah kekuatan misterius yang menarik-narik mereka. Daya tarikannya semakin lama semakin besar mengakibatkan perjalanan langkah Tuan Denta, Abah Dul dan Kosim seperti melayang tersedot masuk semakin dalam ke tengah hutan terlarang.


Disaat bersamaan, tiba-tiba sebuah suara menggema memenuhi seisi hutan disertai dengan berguncangnya hutan tersebut. Suara itu memanggil-manggil salah satu dari tiga mahluk itu.


"Abdul Basiiit.... Abdul Basiiit.... Abdul Basiiit....


......................

__ADS_1


🔴BERSAMBUNG....


✅Ayo dong tunjukkan jejak sudah membacanya🙏🙏🙏


__ADS_2