Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
TUGAS BARU


__ADS_3

Hutan Lereng Gunung Ng,


Didalam pondok kayu, Ki Suta terkapar tak bergerak diatas tikar alag-alang. Samar-samar ditengah kegelapan ruangan pondok sosok tubuh Ki Suta terkulai tak bergerak. Bercak darah yang masih segar berceceran mengotori tikar dan membasahi pakaian hitamnya. Kepalanya terkulai miring datas tikar dengan mata menutup rapat, dari kedua sudut bibirnya masih mengeluarkan lelehan darah berwarna merah kehitaman hingga menggenangi pipinya. Nafasnya tersengal-sengal terdengar lirih rintihan menahan kesakitan yang teramat sangat.


Wuuusssshhhh...


Tiba-tiba datang hembusan angin menghujam dari atap pondokkan. Asap kelabu menggumpal satu langkah diatas kepala Ki Suta yang terkulai dilantai pondok. Perlahan-lahan asap kelabu bergumpal-gumpal lalu sedikit demi sedikit asap kelabu itu berubah membentuk sesosok tubuh tinggi besar. Mula-mula nampak kedua kaki besar kemudian terlihat membentuk bagian perut dan terus naik hingga terbentuk kepala dengan wajah hitam legam dipenuhi bulu-bulu lebat. Kini asap kelabu itu berubah menampakkan wujud tinggi besar sudah berdiri tegak hingga kepalanya menembus atap pondokkan. Sorot kedua matanya memancarkan sinar merah yang sangat mengerikan menatap tajam tubuh Ki Suta yang tergolek.


Sebuah mahkota emas mengikat dikepalanya dengan manik-manik permata merah sekonyong-nyong turut menyorotkan sinarnya mengikuti pemakainya yang sedang murka.


“Sutaaaa....!”


Hembusan nafas dari ucapan mahluk tinggi besar dan berbulu lebat itu menimbulkan hawa panas menyapu tubuh Ki Suta.


“Sutaaaa....!”


Hawa nafas yang keluar dari mulut mahluk itu kembali menerpa Ki Suta. Namun Ki Suta masih tergolek tak bergerak dengan mata tertutup rapat.


“Sutaaaaa....!”


Kali ini hawa yang keluar dari mulut mahluk itu lebih panas dari hawa-hawa sebelumnya. Bahkan panasnya hawa yang dihembuskan mahluk itu mampu mengeringkan darah yang berceceran diatas tikar alang-alang. Beberapa detik berikutnya Ki Suta merasakan hawa panas menjalar kesekujur tubuhnya. Namun hawa yang terasa dua kali lipat panasnya dirasakan Ki Suta didalam dadanya. Rasa panas itu dirasakan Ki Suta seperti membakar dadanya.


“Aaaahhhhkkk....” Ki Suta menggeliat dengan mengeluarkan erangan tertahan.


“Sutaaaaa...!!!”


Kali ini panggilan yang keempat dari mahluk tinggi besar itu lebih besar penuh penekanan hingga menggetarkan tubuh Ki Suta. Ki Suta kembali menggeliat, tubuhnya bergerak telentang namun matanya masih tertutup rapat.


“Aaaaaaakkkhhh.... aaaahhhkkk...”


Erangangan Ki Suta kian santer terdengar. Tiba-tiba selarik sinar merah pekat meluncur dari atas menghujam tubuh Ki Suta.


“Grrrrrrmmmkkkkkhhh...”


Kedua mata Ki Suta seketika terbuka membelalak lebar sambil mengeluarkan erangan menggeram menahan rasa panas yang luar biasa didalam dadanya.

__ADS_1


“Bangun! Bangun! Bangun!”


Suara sember berat dan besar itu membuat Ki Suta terlonjak kaget. Ki Suta seperti terhipnotis, ia langsung bangkit duduk bersila lalu meraba dadanyanya. Wajahnya terlihat keheranan sambil terus mengusap-usap dada berulang kali. Rasa sakit dan sesak di dadanya kini sudah tidak dirasakannya lagi. Ki Suta baru tersadar ketika matanya menangkap sepasang kaki sebesar pohon kelapa dihadapannya. Kontan dia mendongakkan kepalanya melihat muka pemilik kaki besar itu.


“Raja Kalas Pati!” seru Ki Suta dengan mata terbelalak.


Kemudian Ki Suta menangkupkan kedua tangan didepan dadanya lalu menganggukkan kepala tertunduk.


“Ampun junjungan, saya telah gagal membalas dendam kepada Abdul Basit!” ucap Ki Suta menundukkan kepala dalam-dalam.


“Yang pertama kamu serang itu bukan Abdul Basit! Tetapi ketika kamu menyerangnya dengan senjata cambukmu, Abdul Basit itu muncul lalu menyatu didalam tubuh orang yang kamu hajar sebelumnya,” kata Raja Kalas Pati.


Ki Suta terperangah mendengar penjelasan dari Raja Kalas Pati. Dia mencoba mengingat-ingat lagi pertarungan itu. Awalnya dirinya merasa diatas angin karena mampu membuat lawannya terhempas dan terluka. Kemudian tiba-tiba Ki Suta mengernyitkan dahinya, dia teringat dengan satu sosok yang berdiri disamping orang yang dia hajar dan melemparkan sebuah bemda seperti telur yang memancarkan cahaya kuning keemasan.


“Tapi junjungan, saya melihat sosok bayangan itu tidak masuk kedalam raga orang yang saya hajar. Dia hanya melemparkan telur emas memberikannya pada lelaki paruh baya itu,” terang Ki Suta masih mengerutkan wajahnya.


“Seperti apa sosok bayangan yang kamu lihat itu?!” tanya Raja Kalas Pati geram.


“Kelihatannya masih muda berusia dibawah 30 tahunan. Apakah itu Abdul Basit?!” ujar Ki Suta balik tanya.


“HAHAHAHAHAHA.... Ki Suta! Kamu aku tugaskan yang menjemput tumbal. Aku akan bekali kamu dengan kekuatan mencabut nyawa, HAHAHAHAHA...” Kata Raja Kalas Pati.


......................


Cukup lama tubuh Abah Dul diam tak bergerak disamping Mahmud yang duduk dibelakang kemudi. Mahmud sesekali melirik Abah Dul yang masih terpejam duduk bersila diatas jok mobil dengan harap-harap cemas ingin mengetahui apa yang terjadi di rumahnya. Bagaimana dengan Dewi, bagaimana dengan Arin dan Dede.


Beberapa kali Mahmud menyalakan lampu panjang karena jalanan didepannya begitu gelap pekat membuat jarak pandangnya terbatas.


"Mendungnya tebal banget," gumam Mahmud sendirian kemudian menoleh pada Abah Dul yang masih terdiam dengan mata terpejam.


Mobil yang dikemudikan Mahmud sudah mulai memasuki jalan desa Sukadami menuju rumahnya dan sekitar 10 menitan lagi sampai. Beberapa saat kemudian Mahmud tersentak oleh suara Abah Dul.


“Alhamdulillah...” ucap Abah Dul meraupkan kedua tangan di wajahnya yang nampak kelelahan.


Mahmud spontan menoleh kearah Abah Dul yang sedang memposisikan duduknya kembali seperti biasa. Baru saja mahmud menggerakkan bibirnya hendak bertanya, tapi tertahan karena Abah Dul lebih dulu bertanya.

__ADS_1


“Sampai mana Mud?” tanya Abah Dul sambil melihat keluar melalui jendela disampingnya.


“Kaya kenal daerah ini Mud?” sambung Abah Dul.


“Ya emang kenal, ini desa sendiri bah,” timpal Mahmud.


“Astagfirullah...” ucap Abah Dul.


“Gimana keadaan di rumah Bah?!” tanya Mahmud penasaran bercampur cemas.


“Nanti di rumah saja Mud ceritanya. Tanggunh bentar lagi sampai,” jawab Abah Dul wajahnya mulai berkeringat.


"Tapi Dewi, Arin dan Dede aman kan Bah?!" buru Mahmud.


"Untuk sementara ini aman Mud," ucap Abah Dul.


Jawaban Abah Dul tak cukup meredam rasa cemasnya. Mahmud merasa dibalim jawaban Abah Dul itu ada sesuatu kekadian yang besar.


"Minum, minum Mud..." ucap Abah Dul sembari celingukkan mencari-cari botol air mineral.


"Nih, Bah..." Mahmud memberikan botol air mineral miliknya yang diambil dari tempat dipintu mobil.


Seseaat kemudian Abah Dul menenggak habis air didalam botol kemasan itu hingga tandas.


"Di rumah sudah ada ustad Atifin Mud," ucap Abah Dul usai menenggak air mineral.


"Kok bisa?!" Mahmud tak habis pikir.


Berarti firasat yang dikatakan Abah Dul itu rupanya bukan kejadian kecil dan biasa-biasa saja hingga meminta bantuan ustad Arifin.


"Saya nggak tau persis awalnya gimana tapi yang jelas kita kedatangan musuh baru Mud." ucap Abah Dul.


Tak lama kemudian mereka sampai didepan jalan gang menuju rumah Mahmud. Abah Dul langsung turun dari mobil.


"Saya antar mobil ini ke pak Kuwu dulu Bah." ucap Mahmud mengiringi Abah Dul turun dari mobil.

__ADS_1


......................


__ADS_2