Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Negosiasi 2


__ADS_3

Masih dihari ke-13 malam ke-14 hari Jumat malam Sabtu.


Di teras rumah Mahmud keempat orang, Kosim, Abah Dul, Mang Ali dan Mahmud masih membicarakan tentang rencana untuk melakukan negosiasi.


Malam sudah merambat pada pukul 21.00 wib. Udara dingin makin terasa menusuk tulang meskipun di langit tidak ada tanda-tanda akan turun hujan.


"Kayaknya makin dingin aja," celetuk Kosim.


"Iya, apa pindah saja di ruang tamu?" tanya Mahmud.


"Ya hayu, pindah Mang Ali," kata Abah Dul.


"Oke!" sahut Mang Ali sambil mengangkat jempolnya menirukan gaya tadi.


Semuanya kontan kembali tergelak tawanya melihat tingkah Mang Ali. Kosim yang sebelumnya tidak tahu Mang Ali melakukan gaya 'oke' itu spontan bertanya.


"Dapat dari mana gaya itu Mang Ali?" tanya Kosim.


"Itu disuruh Abah, biar nggak disangka Ali palsu katanya," ujar Mang Ali.


"Hahahaha..." Kosim, Abah Dul dan Mahmud terpingkal-pingkal dibuatnya.


Masih dengan sisa-sisa ketawanya, Abah Dul, Mang Ali dan Mahmud beranjak melangkah masuk dan duduk di ruang tamu Sementara Kosim paling belakangan dengan membawakan stoples makanan ringan dan gelas kopinya.


Desiran angin kian santer masuk melalui pintu yang terbuka bersamaan Kosim masuk hingga dirasakan Abah Dul, Mang Ali dan Mahmud yang sudah duduk di ruang tamu.


Bahkan suara gesekkan ranting-ranting dan dedaunan pohon-pohon di halaman rumah Mahmud cukup terdengar hingga ke ruang tamu. Namun semua itu dianggapnya suatu kewajaran, mereka menyangka hanyalah karena cuaca belaka.


Setelah menutup pintu kembali, Kosim lalu memilih tempat duduk disisi Mahmud. Baru saja menghempaskan pantatnya di kursi, Kosim langsung terdiam tak bergerak. Kupingnya tiba-tiba berdengung, sesaat lalu terdengar suara bisikkan di telinganya.


"Ada kekuatan besar akan datang menyerang, persiapkan!"


Melihat Kosim tiba-tiba terdiam, membuat Abah Dul, Mahmud dan Mang Ali sontak berhenti dari tertawanya. Mereka memperhatikan Kosim dengan raut muka harap-harap cemas. Terutama Abah Dul dan Mahmud yang sudah sangat paham dengan gelagat pada Kosim yang tiba-tiba terdiam.


"Ada apa Sim?!" tanya Mahmud tak sabar ingin cepat-cepat mendengarnya.


"Gawat! Ada serangan dengan kekuatan besar!" tegas Kosim.


Raut ketiganya berubah tegang. Abah Dul langsung memberikan peringatan kepada Mang Ali, Mahmud dan Kosim.


"Pantesan cuacanya tak wajar. Ayo semuanya persiapkan dengan membentengi diri! Saya pergi dulu minta bantuan Gus Harun dan dua sahabat lainnya," Seru Abah Dul.


Abah Dul langsung terdiam matanya dipejamkan dan sesaat kemudian tubuhnya terdiam tak bergeming. Sukma Abah Dul keluar dari raganya melesat cepat menuju kediaman Gus Harun di Banten.


......................


Di kediaman Gus Harun,


Disebuah kamar berukuran 3x4 meter persegi tempat khusus berkhalwat atau tempat khusus pribadi bermunajat, Gus Harun nampak tengah berzikir.

__ADS_1


Dia sempat terkejut dengan kemunculan sukma Abah Dul yang tiba-tiba duduk disebelah kanannya dan mengucapkan salam.


"Asslamualaikum," ucap sukma Abah Dul.


"Masya Allah! Waalaikumsalam, ngagetin aja ente Dul! Seru Gus Harun menekan suaranya agar tak didengar dari luar kamar.


"Punten, Gus. Butuh bantuan sekarang!" Kata sukma Abah Dul.


"Baik Dul, ayo!"


Selesai berucap Gus Harun merapalkan amalan "melepas sukma" lalu tubuhnya terdiam tak bergerak, sukmanya meloloskan diri dari raganya.


Kemudian dua sukma itu secepat kilat melesat beriringan menuju kediaman Ustad Basyari di Surabaya.


......................


Surabaya,


Ustad Basyari baru saja selesai mengajar santrinya 30 menit yang lalu dan sedang duduk santai di saung khusus tempat ia berzikir dan menerima tamu pribadinya yang berada di halaman samping rumah.


"Astagfirullah!" seru Ustad Basyari tersentak kaget, tiba-tiba dihadapannya muncul sukma Gus Harun dan Abah Dul.


Dua sukma itu spontan tersenyum lalu mengucap salam, "assalamualaikum..."


"Waalaikum salam... Gus Harun, Dul? Ada apa?!" jawab Ustad Basyari cemas.


Lalu Abah Dul menyampaikan dengan singkat maksud dan tujuannya sama seperti saat menyampaikannya pada Gus Harun. Kemudian mengajak Ustad Basyari bersama-sama menuju tempat Ustad Baharudin di Kutai, Kalimantan Timur.


......................


Ustad Baharudin seperti biasanya jam 10 malam sudah khusuk berkhalwat di saung belakang rumahnya. Ia pun terkejut ketika sukma Gus Harun, Abah Dul dan Basyari muncul dihadapannya.


"Assalamualaikum," ucap ketiga sukma.


"Waalaikum salam... Subhanallah, Gus, Dul, Bas? Ada apa gerangan?!" tanya Ustad Baharudin berbisik.


Abah Dul pun langsung menyampaikan maksud tujuannya dengan singkat dan langsung mengajaknya bersama-sama menuju ke rumah Mahmud.


......................


Rumah Mahmud,


Mang Ali, Mahmud dan Kosim terus saja memperhatikan tubuh Abah Dul yang terduduk kaku tak bergeming sama sekali sekaligus menjaganya.


Hanya dalam hitungan menit kemudian tubuh Abah Dul tampak bergerak seperti terhentak. Lalu membuka matanya dan berucap, "alhamdulillah..."


Sukma Abah Dul sudah kembali masuk ke raganya, sementara sukma Gus Harun, Ustad Basyari dan Ustad Baharudin berdiri melayang dibelakang Abah Dul.


"Gimana Bah?!" tanya Kosim.

__ADS_1


"Gus Harun, Ustad Basyari dan Ustad Baharudin sudah ada disini," terang Abah Dul.


Kosim, Mang Ali dan Mahmud saling berpandangan. Lalu serempak mengucapkan salam buat ketiga sukma meskipun tak dapat melihat kehadirannya.


"Waalaikum salam..." jawab ketiga sukma bersamaan yang hanya dapat didengar oleh Abah Dul.


"Ayo, siap-siap!" kata Abah Dul mengingatkan.


Abah Dul sendiri langsung memejamkan matanya, ia membaca amalan pertahanan untuk membentengi diri dan juga seisi rumah termasuk, Arin, Dewi dan Dede.


Sementara Kosim berkonsentrasi membaca satu-satunya amalan yang ia punya pemberian Gus Harun. Mahmud pun larut dalam bacaan amalannya, sedangkan Mang Ali langsung merogoh belakang tubuhnya.


Digenggaman tangannya sebilah keris lengkap dengan werangkanya dipegang erat sambil mulutnya komat-komit membaca ajian andalannya sebagai penopang enerji kekuatan kerisnya.


Seperti diketahui keris yang ada digenggaman Mang Ali tak lain merupakan keris pusaka bernama keris Sekober. (Baca episod 20+)


Begitupun dengan sukma Gus Harun, Ustad Basyari dan Ustad Baharudin masing-masing sudah menggenggam senjata pusakanya.


Beberapa saat Kosim tiba-tiba membuka matanya, ia teringat istri dan anaknya serta kakak iparnya yang ada di ruang tengah masih nonton televisi.


Kosim bergegas menuju ke ruang tengah berinisiatif mengamankan mereka dan memintanya untuk segera masuk ke dalam satu kamar.


"Mbak Dewi, Arin sebaiknya masuk kamar aja. Mbak punten temani Arin dan Dede di kamar ya," ucap Kosim.


"Kenapa Mas?! Tanya Arin keheranan.


"Sudah, Rin. Turuti kata suamimu, ayo masuk kamar." ujar Dewi memahami gelagat tidak baik.


Dengan raut muka heran bercampur cemas kedua kakak beradik itu segera beranjak dari tempat duduknya bersama Dede digendongan Arin menuju kamar yang selama ini ditempati Arin dan Kosim.


Lalu Kosim segera kembali ke ruang tamu dan duduk ditempatnya semula.


"Sim, Mbak Dewi beserta istri dan anak ente sudah masuk kamar?" tanya Abah Dul yang baru teringat.


"Sudah Bah. Mereka berada di kamar Arin semua." jawab Kosim.


Abah Dul kemudian beranjak melangkah menuju ke depan kamar Arin yang bersebelahan dengan ruang tamu. Lalu berdiri tegak menghadap pintu kamar. Kepalanya ditundukkan, matanya dipejamkan. Dengan kedua telapak tangan dibuka Abah Dul kemudian membaca amalan benteng pertahanan.


Sesaat kemudian kedua tangan Abah Dul bergerak memutar sekonyong-konyong membentuk lingkaran yang melindungi kamar tersebut. Energi kekuatan benteng pertahanan yang disalurkan Abah Dul benar-benar sangat besar sekali, 10 kali lipat dari pertahanan biasa.


Rupanya dia tak ingin menjadikan dua kerjaan yang manakala Arin, Dewi dan Dede mendapat serangan sehingga konsentrasinya terbagi dua dan pastinya akan kewalahan.


Abah Dul membuatkan benteng pertahanan dengan kekuatan tak tanggung-tanggung besarnya agar ketika monyet-monyet siluman menyerang Arin, Dede dan Dewi tidak dapat menyentuhnya.


Baru saja Abah Dul menyelesaikan membuat benteng pertahanan kamar Arin, tiba-tiba lantai pijakkannya terasa bergetar-getar dengan keras. Irama getarannya seperti sebuah langkah kaki teratur yang sangat banyak.


......................


Tahan nafas dulu ya,

__ADS_1


lalu buka episode selanjutnya...


__ADS_2