Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Warisan Pusaka


__ADS_3

Tempat wisata Pemandian Air Panas Guci, nampak ramai wisatawan. Hilir mudik keluar masuk ke lokasi nyaris berimbang. Lapak-lapak yang menyajikan berbagai oleh-oleh khas Tegal mulai dari makanan, pakaian hingga kerajinan tangan pun dipadati para wisatawan lokal.


Mahmud langsung menuju tempat pembelian tiket masuk. Dari dalam bilik pelayanan tiket yang dibatasi kaca berlubang seukuran tangan dibawahnya suara laki-laki langsung bertanya jumlah tiket yang hendak dibeli tanpa melihatnya.


"Berapa orang Pak?" tanya petugas tiket.


"Mmm, tujuh Kang. Yang satu masih anak-anak tiga tahunan," jawab Mahnud.


Petugas tiket pun langsung menghitung lembaran kertas tiket. Saat menyodorkan tiket melalui lubang kaca petugas itu terkejut melihat orang yang membelinya.


"Mahmud???" seru petugas tiket.


Pria itu bergegas beranjak dari tempat duduknya keluar menemui Mahmud.


"Surya?!" seru Mahmud.


"Ya allaaaah.. Sur piye kabare?" sambung Mahmud sambil berjabatan tangan.


"Alhamdulillah apik, Mud. Sama siapa kesini?" tanya Surya.


"Itu bawa rombongan. Ada ibu, istri sama adik ipar. Tuh disana," jawab Mahmud menunjuk kearah ibu Ayu Ning Tyas, Zakiyah, Dewi, Arin, Dede, Kosim dan Abah Dul yang sedang berdiri didepan pintu masuk.


"Ohhh, yowis, yowis. Ndak usah pake tiket, ayo aku anter Mud. Masa orang sininya masuk kudu beli tiket to, ya ora pantes koyo kui." ujar Surya.


"Sebentar aku titipin ke temanku dulu gantiin jaga tiket, yo." sambungnya.


Surya merupakan teman satu SD sekaligus teman bermain Mahmud. Setelah lulus SD Surya meneruskan sekolahnya di Tegal sedangkan Mahmud melanjutkan ke Pesantren Lirboyo.


Pertemuan ini tentu saja sangat surprize bagi keduanya karena ini pertama kalinya bertemu lagi setelah lulus SD. Pada saat Mahmud menikah dengan Dewi pun Surya tidak bisa menghadirinya karena berada di perantauan jauh di pulau Jawa.


Kemudian keduanya berjalan beriringan menuju rombongan yang sedang berdiri dipinggir jalan gerbang masuk wisata.


"Assalamualaikum bu Ayu," ucap Surya sambil menyalami mencium tangan ibu Ayu Ning Tyas.


"Waalaikum salam, Loh nak Surya niki, to?" ibu Ayu Ning Tyas balik tanya.


"Njih, bu. Bu Ayu sehat?" tanya Surya.


"Alhamdulillah, ibu sehat nak," jawab ibu Ayu Ning Tyas.


Kemudian saat Surya menyalami Zakiyah, ia terlihat sedikit terkejut.


"Ini Zakiyah, ya?" tanya Surya.


"Njih, Mas Surya. Mas Surya piye kabare?" tanya Zakiyah basa-basi.


"Alhamdulillah apik, Kiya." jawab Surya.


"Wah, tambah ayu bae yo," kata Surya.


"Itu suaminya ya, Kiy?" tanya Surya dengan memberi kode menunjuk ke Abah Dul.


Mendapat pertanyaan mendadak seperti itu wajah Zakiyah langsung merona merah, ia nampak kikuk dan salah tingkah. Mahmud melihat situasi yang tak mengenakan pada adiknya lalu cepat-cepat membantu menjawabnya.


"Calon..." sela Mahmud.


Sementara itu Abah Dul yang melihat adegan percakapan Zakiyah dan Surya tiba-tiba hatinya merasa jengah.


"Uhh, kenapa ini?" gumam Abah Dul tanpa sadar.


Gumaman Abah Dul rupanya terdengar oleh Kosim, Arin dan Dewi yang berdiri tak jauh darinya. Ketiganya spontan menengok ke Abah Dul.

__ADS_1


"Cieeee... Cieeee... Ada yang panas hatinya," bisik Kosim pada Arin dan Dewi.


Abah Dul spontan menutup mulutnya sendiri dalam keterkejutannya dan tersipu-sipu karena gumamannya didengar oleh Kosim, Arin dan Dewi.


Lalu ketiganya cekikikan menertawakan ekspresi Abah Dul sehingga membuat Mahmud, Surya, Zakiyah dan ibu Ayu Ning Tyas menoleh kepada Dewi, Arin, Kosim dan Abah Dul.


Beruntung Mahmud tidak terlalu meresponnya karena situasinya sedang bersama teman lamanya. Kalau tidak, pasti Abah Dul sudah menjadi bulan-bulanan olok-olokan Mahmud.


Selesai basa-basi dengan Zakiyah kemudian Surya menyalami satu persatu lalu menyuruh semuanya masuk objek wisata tanpa harus membayar.


"Ayo, ayo masuk..." seru Surya.


Petugas yang jaga pintu masuk melihat keluarga ibu Ayu Ning Tyas langsung menyongsongnya.


"Ibu Ayu, Zakiyah, Kang Mahmud mari, mari silahkan..." ucap penjaga pintu masuk sambil menyalami satu persatu.


"Matur nuwun yo, Din..." ucap Mahmud sambil melangkah melewati pintu palang besi yang dibuka keatas.


"Mud, saya kembali kesana ya. Maaf nggak bisa nemenin. Ibu Ayu, mariii... Semuanya, mariiii..." kata Surya berlalu meninggalkan Mahmud dan keluarga yang berjalan masuk objek wisata.


"Njih, njih... Matur nuwun yo Sur," ucap ibu Ayu Ning Tyas mewakili semuanya.


Mahmud melangkah hati-hati sambil menuntun ibunya karena jalanan dari gerbang masuk wisata konturnya menurun serta aspalnya tak utuh lagi dibeberapa bagian.


Dibelakang Mahmud dan ibunya berjalan Zakiyah berjejer tiga dengan Dewi dan Arin sambil menggendong Dede. Sementara Abah Dul dan Kosim sengaja memperlambat jalannya agar jaraknya tidak terlalu dekat karena berniat melanjutkan kembali obrolan yang terputus saat di perkuburan tadi.


Belum juga Abah Dul membuka obrolan, Kosim tiba-tiba berhenti dan menutup telinga kanannya. Abah Dul pun turut berhenti disamping Kosim dengan raut harap-harap cemas karena dia tahu Kosim sedang menerima pesan gaib.


Beberapa saat kemudian terlihat wajah Kosim berubah cemas. Melihat itu Abah Dul dibuat makin penasaran dan langsung bertanya.


"Ada apa Sim?!" sergah Abah Dul melihat Kosim melepas tangannya dari telinga.


"Berarti kejadian di pemakaman itu ada kaitannya dengan mereka?" timpal Abah Dul.


"Sangat mungkin Bah," ujar Kosim.


"Yowis jangan dulu bilang ke Mahmud, nanti dia ikut cemas. Sekarang jaga-jaga aja Sim, ente keluarkan benteng pertahanan diri biar semuanya saya yang bentengi." kata Abah Dul.


Mereka berjalan-jalan melihat sekeliling. Saat melewati jembatan Dede merengek-rengek, tangannya menunjuk-nunjuk kolam renang yang ada dibawah.


"Mas, Dede minta ke kolam renang itu," kata Arin kepada Kosim sambil menoleh kebelakang.


Mahmud dan ibunya serta Dewi dan Zakiyah yang berjalan paling depan berhenti mendengar Arin mengatakan itu.


"Yowis sekalian ibu juga pengen rendam kaki, yuk kesana," sahut ibu Ayu Ning Tyas.


Akhirnya Mahmud dan rombongan pun balik badan mengikuti kemauan Dede. Mereka tak melanjutkan melewati jembatan yang menjadi ciri khas di objek wisata Pemandian Air Panas Guci.


Abah Dul, Kosim dan Mahmud duduk di kios kopi yang ada didekat kolam pemandian air panas. Sudut pandangnya sangat pas untuk mengawasi Dede, Arin Dewi, Zakiyah dan ibunya.


Arin tampak bahagia menemani Dede bermain air pancuran yang keluar dari pipa-pipa di pinggir kolam. Sememtara Dewi, Zakiyah dan ibunya duduk dibibir kolam membiarkan kakinya menjuntai masuk ke dalam kolam.


Ditempat wisata air panas Gusci ini terdapat banyak pancuran yang konon dipercaya oleh masyarakat sekitar dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit, seperti, koreng, dan rematik. Selain kolam pemandian air panas, terdapat juga 10 air terjun yang cukup indah.


Beberapa saat lamanya berlalu, cuaca yang sedari pagi cerah perlahan-lahan meredup tertutup oleh gumpalan-gumpalan awan mendung yang bergerak diatas objek wisata pegunungan Guci.


"Dewi, suruh udahan mandinya. Menduuung...!" seru Mahmud diantara hiruk pikuk pengunjung kolam.


Mereka pun nampak menyudahinya. Arin mengajak Dede masuk kamar mandi untuk membilas badannya. Sementara Dewi, Zakiyah dan ibunya berjalan ketempat Mahmud, Kosim dan Abah Dul duduk ngopi sambil menunggu Arin selesai membersihkan tubuh Dede dan dirinya.


......................

__ADS_1


Masih dihari ke-20,


Selesai melaksanakan sholat Magrib berjamaah, Zakiyah, Dewi dan Arin langsung ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Sementara Mahmud, Kosim dan Abah Dul segera beranjak keluar berniat midangan duduk-duduk di saung samping belakang rumah tetapi langkah ketiganya terhenti.


"Nak Mahmud, Nak Kosim dan Nak Dul, sebentar..." ucap ibu Ayu Ning Tyas.


Sesaat ketiganya saling berpandangan lalu kembali duduk berjajar menghadap ibu Ayu Ning Tyas.


"Sudah seminggu ini ibu selalu bermimpi. berturut-turut memimpikan hal yang sama," ucap ibu Ayu Ning Tyas.


Mahmud, Kosim dan Abah Dul menatap wajah wanita paruh baya itu dengan rasa penasaran menanti kelanjutan ucapannya.


"Mimpi apa bu?" tanya Mahmud.


"Pertama saat kalian bertiga datang, rasanya seperti ibu melihatnya didalam mimpi itu. Perasaan ibu seperti sudah pernah ibu lalui acara seharian ini, jadi kaya terulang Nak," terang ibu Ayu Ning Tyas.


Mahmud, Kosim dan Abah Dul dibuat tertegun dan makin penasaran, penuturan ibu Ayu Ning Tyas seperti D'jafu. Ketiganya hanya terdiam kembali mendengarkan penuturan ibu Ayu Ning Tyas.


"Sebentar ibu ambil sesuatu," sambung ibu Ayu Ning Tyas.


Wanita itu lalu bangkit dari duduknya lalu beranjak melangkah masuk kedalam kamar. Beberapa saat suasana hening, ketiganya menunggu ibu Ayu Ning Tyas kembali dari kamarnya penuh dengan penasaran. Apa yang akan diperlihatkan ibu Ayu Ning Tyas pada mereka.


Tidak berapa lama, ibu Ayu Ning Tyas keluar kamar dengan membawa sebuah kotak cokelat usang seukuran kotak sepatu diatas kedua tangannya.


"Didalam mimpi itu ibu diperintahkan oleh suara untuk memberikan ini," terang ibu Ayu Ning Tyas sambil duduk ditempatnya semula.


"Tapi sebentar Nak. Ibu mau tanya, apakah Nak Mahmud, Nak Kosim dan Nak Dul baik-baik saja disana?" tanya ibu Ayu Ning Tyas.


Pertanyaan itu laksana petir disiang bolong. Mahmud dan Abah Dul terkesiap saling pendang. Terutama Kosim, dirinya kontan tersentak kaget mendengar pertanyaan yang tidak diduga sebelumnya.


Setelah beberapa saat hening, akhirnya Mahmud buka suara setelah Mahmud menoleh ke Kosim meminta persetujuan untuk menceritakannya. Kosim mengangguk mengiyakannya.


Sebelum Mahmud menceritakannya, ia menengok sekeliling memastikan tidak didengar oleh Arin dan Dewi. Setelah dirasa aman kemudian ia pun menceritakan persoalannya dengan detil dari awal mula kosim ritual pesugihan hingga rentetan teror siluman monyet. Kosim hanya diam tertunduk, ada perasaan malu didalam dirinya yang teramat sangat.


Saat ini dirinya merasa orang yang paling hina di dunia yang hidup berada diantara orang-orang baik.


Setelah mendengar penuturan Mahmud, ibu Ayu Ning Tyas tertegun sambil menatap Kosim yang tertunduk.


"Masya Allah.." gumam ibu Ayu Ning Tyas.


"Jadi inikah arti mimpi selama sepekan ini. Ya sudah silahkan Nak dibuka kotak ini," ucap ibu Ayu Ning Tyas kepada Mahmud.


Kotak hitam berukir itu tampak sudah usang dan sudah sangat lama keberadaannya. Mahmud kemudian membukanya secara perlahan-lahan dengan tangan sedikit gemetar. Kotak itu menimbulkan getaran yang menyentuh jantung Mahmud, Kosim dan Abah Dul.


Setelah kotak terbuka, Mahmud, Kosim dan Abah Dul terkesiap kaget oleh pancaran aura kekuatan dari benda didalamnya.


"Apa ini bu..?!" tanya Mahmud tertegun melihat tiga batu bulat berwarna merah darah sebesar telor ayam.


"Itu batu kembar tiga Nak, batu mustika Naga Kencana." ucap ibu Ayu Ning Tyas.


Ketiganya tertegun melihat pancaran cahaya merah yang menyeruak dari dalam kotak yang terbuka. Abah Dul dapat merasakan kekuatan yang sangat besar dari ketiga batu tersebut.


"Ini peninggalan bapakmu Nak. Didalam mimpi itu ibu diperintahkan untuk memberikan batu ini kepada kalian. Kalian ambil masing-masing satu, pada saat situasi genting gabungkan ketiga batu ini maka akan muncul Naga Kencana," terang ibu Ayu Ning Tyas.


Dengan tangan gemetar Mahmud mengambil satu batu merah mustika Naga itu lalu disusul Kosim dan Abah Dul.


Begitu batu itu berada dalam genggaman, ketiganya langsunh merasakan ada desiran hawa sejuk merayap merasuki tubuh mereka melalui tangan yang menggenggam batu tersebut.


"Semoga kalian dapat mengatasi persoalan kalian. Ibu hanya dapat membantu berdoa dari sini, jaga baik-baik batu mustika Naga Kencana ini. Ibu tau kalian anak-anak baik." ucap ibu Ayu Ning Tyas.


......................

__ADS_1


__ADS_2