
Dengan tangan sedikit gemetar Mahmud mulai dapat merasakan menyentuh kain kafan. Mahmud terus meraba-
raba mencari simpul ikatan pada kain kafan untuk dibuka. Tak lama kemudian Mahmud pun berhasil melepas talinya yang memang sebelumnya sudah dilonggarkan pada saat pemguburan.
Tali pada bagian kaki pun segera dilepas oleh Mahmud, kedua tangan Mahmud yang genetaran terus merayap keatas mayit Dede mencari tali pada bagian tengah buntalan kain kafan tersebut. Tali kedua di bagian tengah yang mengikat mayit pun segera di lepaskan, lalu kembali melanjutkan meraba- raba mencari tali pada bagian atas kepala.
Tak butuh waktu lama akhirnya Mahmud sudah berhasil membuka seluruh tali pocong pada bungkusan kain
kafan yang membungkus jasad Dede. Dengan tangan gemetaran Mahmud mulai membuka kain kafan tersebut dimulai dari bagian kepala dan tanpa sengaja jari- jari Mahmud menyentuh benda yang lembut namun juga keras.
Mahmud penasaran lalu iya menekannya secara perlahan- lahan seperti memijit, “Ah kepala Dede, ini masih
utuh!” pekik Mahmud dalam hati.
Secraa reflek jari- jari Mahmud melanjutkan rabaannya mengusap bagian kepala. Mahmud merasakan rambut Dede, kening Dede, kedua mata, lalu turun ke hidung dan Mahmud merasakan kondisinya masih utuh semua. Jari jemari Mahmud terus turun menelusuri kedua pipi jasad Dede, lalu meraba bagian mulut, dagu yang semuanya Mahmud rasakan benar- benar masih utuh tidak ru merasakan adanya bagian kepala yang rusak atau membusuk.
Mahmud merasa sangat yakin kalau jasad Dede masih utuh meski pun hanya mengira- ngira dari rabaan pada bagian kepala saja. Seketika itu juga Mahmud cepat- cepat menyibakan kain kafan yang menyelimuti jasad Dede ke sisi kanan dan sisi kiri. Dan benar saja jasad Mahmud dapat merasakan sepenuhnya kalau jasadnya masih utuh setelah kain kafan yang membungkus Dede tersibak.
Dengan perasaan campur aduk, Mahmud langsung merengkuh jasad Dede. Mahmud memeluknya dengan haru,
segenap perasaan mengharu biru membuat Mahmud tak kuasa menahan tangis sambil memeluk jasad Dede yang masih memancarkan cahaya dan menebarkan aroma wangi kayu cendana.
Tubuh polos Dede langsung di dekap Mahmud dalam gendongannya, tapi tak ada reaksi apapun dari jasad Dede. Namun Mahmud dapat merasakan jasad itu terasa hangat tidak seperti jasad layaknya orang mati yang dingin dan kaku. Tetapi Mahmud merasakan jasad Dede didekapnya tersebut berasa lemas. Seketika itu juga dada Mahmud berguncang –guncang, ia menangis dan menumpahkan tangis bahagia sekaligus kerinduannya pada keponakannya tersebut.
Sementara orang- orang yang berada diatas ling lahat tak bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh Mahmud
terhadap jasad Dede di dasar liang lahat karena cahaya putih yang menyilaukan mata mereka. Meski pun mereka berusaha menutupi pancaran cahaya dengan kedua telapak tangan, tetapi tetap saja bias cahaya yang keluar dari dalam liang lahat menghalangi pandangan mereka.
Setelah beberapa saat Mahmud hanyut dengan keharuannya, kemudian segera Mahmud mengambil baju yang
__ADS_1
ada di dalam kresek berwarna hitam yang sebelumnya diletakan di sampingnya. Mahmud memakaikan kaos warna kuning bergambar teletabis yang merupakan kaos paling disukai Dede. Dan kaos tersebut merupakan hasil jerih payah Kosim bekerja lalu membelikan kaos tersebut menjelang lebaran lalu.
“Mahmud…! Apakah baik- baik saja?!” seru pak Wira merasa khawatir karena Mahmud tak kunjung naik ke
permukaan.
“Ya pak, saya baik- baik saja begitupun dengan jasad Dede!” sahut Mahmud dari dalam liang lahat.
Suara sahutan Mahmud dapat didengar hampir semua warga yang berada di tempat tersebut. Kontan saja mereka semua dibuat tercengang antara percaya dan tidak. Ingin sekali warga masyarakat dapat melihat kebenaran dari ucapan Mahmud, akan tetapi tidak bisa karena terhalang oleh cahaya putih yang terus bersinar terang.
“Sebntar pak, saya sedang memakaikan baju pada Dede!” sahut Mahmud kembali.
Sauasan di pekuburan semakin menegangkan. Suara- suara guntur disertai kilatan petir sesekali masih terdengar di langit desa Sukadami. Area pekuburan kini sudah dibanjiri warga masyarakat yang masih berdatangan ingin melihat fenomena di pekuburan tersebut.
Sebagian besar warga masyarakat datang ke pekuburan karena mendengar kabar ada penggalian makam
ankanya Kosim yang sudah di kubur selama 40 hari, tapi sebagian besar lagi mereka yang datang karena melihat adanya semburat cahay putih yang memancar ke langit seperti sebuah senter cahaya mercusuar.
Ekspresi wajah- wajah masrakat nampak beragam, ada yang terlihat tegang, ada yang terlihat cemas
serta ada juga yang terlihat takjub sambil menutup mulut sekaligus ngeri bercampur penasaran. Di tengah keheningan suasana, tiba- tiba terdengar suara teriakkan menggema diarea pekuburan.
“Dedeeeeee….! Dedeeeee….!”
Dua orang wanita berlari secepat yang mereka bisa disela- sela makam- makam. Keduanya menghindar
menginjak pekuburan dan juga berupaya menghidar agar tidak menabrak makam- makam. Kedua wanita tersebut yang tak lain adalah Arin dan Dewi, tak begitu kesulitan melihat sela- sela kuburan karena terbantu oleh cahaya terang yang membias dari liang lahat Dede.
Sektika itu juga semua pandangan mata menoleh kearah sumber teriakan tadi. Semua pandangan mata tertuju pada Arin dan Dewi yang sedang berlarian berkelok- kelok dari sisi kuburan- kuburan menuju ke makam Dede.
__ADS_1
“Dedeeeeee….! Dedeeeee….!” Teriak Arin histeris tak menghiraukan sekelilingnya, disusul Dewi yang berlari
mengikuti Arin dibelakangnya.
Suasana berubah seketika menjadi keharuan melihat derai air mata Arin dan Dewi yang terus berlari di
sela- sela kuburan sambil berteriak- teriak histeris memanggil nama Dede.
“Apakah benar Dede masih hidup!?” tanya salah seorang berbisik pada teman disebelahnya.
“Nggak tau juga,” balas temannya.
“Emangnya jasadnya tidak rusak? Kan sudah 40 hari?” timpal seorang lagi.
Semua pasang mata dibuat penasaran dengan peristiwa pagi itu di area pekuburan desa Sukadami. Mereka ingin melihat endingnya, apakah benar anak itu dapat hidup kembali? Pertanyaan seperti itu ada pada hati setiap warga masyarakat yang ada di tempat itu.
“Dedeeeeee….! Dedeeeee….!” Teriak Arin kian keras begitu sampai di tepi liang lahat merangsak di samping pak
Wira.
“Tenang, mbak Arin… tenang… tenang…” cegah pak Wira melihat Arin dan Dewi sampai di bibir liang lahat.
Seketika itu juga Arin dan Dewi memenjamkan matanya dan menutupnya dengan telapak tangan karena silau saat berusaha melihat kedalam liang lahat.
“Mas…! Mas Mahmud…!” panggil Dewi dari atas liang lahat.
“Mas Mahmud, apa benar Dede masih hidup?!” timpal Arin.
“Sabar… sabar… kalian tenang dulu jangan panik ya,” sahut Mahmud.
__ADS_1
Di dalam dasar liang lahat, Mahmud berusaha duduk bersila ditengah lubang bekas jasad Dede dikubur. Mahmud membaringkan jasad Dede di pangkuannya, lalu mencoba menghubungi Gus Harun dan Abah Dul yang
masih berada di alam siluman monyet melalui batin.* BERSAMBUNG …