
Abah Dul secepatnya berlari ke ruang tamu disela-sela getaran. Dilihatnya gelas-gelas kopi yang diletakkan dibawah karena kaca meja tamu masih bolong akibat dihantam Kosim dua hari lalu itu juga nampak turut bergoyang-goyang bahkan dua gelas sudah bergelimpangan saking besarnya getaran.
"Dul, cepat suruh mereka keluar rumah. Kita hadapi di halaman jangan di dalam rumah!" seru Gus Harun kepada Abah Dul.
Abah Dul langsung menyampaikan peringatkan itu kepada ketiganya. Mang Ali, Kosim dan Mahmud saling berpandangan penuh tanda tanya dengan raut muka cemas lalu serentak bangkit bergegas keluar mengikuti Abah Dul.
"Masya Allah!!!" seru Abah Dul begitu membuka pintu.
Abah Dul sampai tersurut mundur hingga menabrak tubuh Kosim yang berada dibelakangnya. Begitu pula dengan Mahmud menabrak Kosim disusul tubuh gempal Mang Ali menabrak Mahmud.
"Astagfirullah!!!" teriak Kosim, Mahmud dan Mang Ali nyaris bersamaan saat tubuh ketigaanya saling bertabrakkan secara beruntun.
"Ada apa Bah?!" seru Kosim yang masih terhimpit badan Abah Dul dan Mahmud.
"Ayo semuanya cepat keluar!" seru Abah Dul sambil melangkah keluar pintu.
Didahului Abah Dul lalu Kosim, Mahmud dan Mang Ali mereka keluar dan berdiri berjajar di teras menghadap ke halaman.
Kontan saja mata Kosim, Mahmud dan Mang Ali terbelalak lebar. Dihadapannya terlihat dengan nyata wujud sepasukan monyet dengan baju perang dan menggengam beragam senjata di tanganya sedang menatap tajam siap menyerang.
Ketiganya tertegun beberapa saat dengan rasa tak karuan. Panik, cemas dan rasa takut bergumul jadi satu didalam pikirannya. Baru pertama kalinya mereka melihat pemandangan itu.
Suara riuh keluar dari sepasukan monyet siluman cukup membuat Kosim, Mahmud dan Mang Ali bergidik hingga meremangkan bulu kuduk disekujur tubuh. Suaranya sangat menyeramkan dan mencekam.
Diantara rasa berdebar hebat, Mang Ali langsung mencabut keris Sekober dari werangkanya. Begitu pula Kosim berusaha tenang dengan tangan terkepal yang sudah dibekali dengan amalan pemberian Gus Harun. Sedangkan Mahmud diam-diam menyiapkan tenaga dalam amalan tertingginya yang disalurkan di telapak tangannya.
Sementara itu tidak terlihat oleh Kosim, Mahmud dan Mang Ali kalau didepan mereka berdiri sukma Gus Harun, Ustad Basyari dan Ustad Baharudin yang sudah siaga dengan senjata pusakanya masing-masing.
Gus Harun memegang Cambuk Amal Rosuli, ditangan Ustad Basyari menggengam Pedang besar bernama Abu Bakar serta Ustad Baharudin menggengam Tongkat bernama Pagar Alam. (Baca episod 20)
Abah Dul yang bisa melihat tiga sukma itu sudah mengeluarkan pusakanya, ia pun segera menghadirkannya dengan satu kalimah pemanggil pusaka, lalu berseru; "Ya Tombak Mata Kembar!"
Sementara itu sepasukan monyet siluman yang menampakkan wujudnya sedikit terbeliak melihat empat sinar putih yang terpancar dari senjata-senjata digenggaman ketiga sukma Gus Harun, Ustad Basyari dan Ustad Baharudin serta digenggaman Abah Dul yang sangat menyilaukan di mata para pasukan monyet siluman.
__ADS_1
Mereka pun tak kalah kagetnya melihat cahaya kelabu memancar dari keris Skober di genggaman Mang Ali. Aura pancarannya yang berwarna kelabu cukup menggidikkan di mata para monyet siluman.
Sedetik berikutnya tiga monyet berukuran besar maju selangkah dari barikade pasukan. Dilihat dari pakaiannya nampaknya tiga monyet itu memiliki pangkat paling tinggi karena sangat mencolok perbedaannya dari pakaian yang dikenakan sepasukan monyet dibelakangnya.
Yang membedakan diantara ketiga monyet besar berbulu kelabu itu hanyalah pada ikat kepala dan senjatanya. Monyet besar yang berdiri paling kanan mengenakan ikat kepala berwarna merah darah menggenggam senjata pedang berukuran panjang, monyet besar yang ditengah mengenakan ikat kepala berwarna hijau dengan senjata seperti tongkat besi berwarna hijau sedangkan monyet besar yang berdiri paling kiri berikat kepala biru dengan senjata trisula berwarna kuning emas.
"Serahkan Kosim atau anaknya!!!" seru suara monyet besar berikat kepala merah.
Suaranya besar dan sember sangat jelas terdengar di telinga Kosim, Mahmud dan Mang Ali membuat ketiganya bergidik ngeri.
Sementara tiga sukma Gus Harun, Ustad Basyari dan Ustad Baharudin sudah sangat siap dengan senjata pusakanya yang silangkan di dadanya jika sewaktu-waktu pasukan monyet siluman itu menyerang.
"Atas dasar apa kalian meminta Kosim dan anaknya?!" sergah Abah Dul.
"Jangan menghalangi kami! Manusia bernama Kosim telah terikat perjanjian!" kata monyet siluman ikat kepala merah.
"Perjanjian apa?! Bukankah Kosim gagal melakukan ritual pesugihannya?!" timpal Abah Dul menahan amarahnya.
"Bohong!!! Saat saya diminta meneteskan darah Itu diatas gelas kecil bukanlah daun kering!!! Sergah Kosim yang merasa lain dengan yang dilihat saat itu.
"Haa..Haa..Haa..Haa.. Dasar manusia bodoh! Penglihatanmu dibutakan oleh ***** harta kekayaan sehingga tidak dapat melihat kalau gelas itu sesungguhnya lembaran tatar perjanjianmu!" seru monyet siluman ditengah berikat kepala hijau.
Kosim melenguh terdiam, ia tak dapat berkata-kata lagi. Kata-kata monyet siluman itu seperti mata pisau yang menikam jantungnya. Didalam hati Kosim berkecamuk penyesalan, ia teringat kembali saat itu Mbah Utung, kuncen pesugihan memberikan pisau kecil. Lalu dirinya mengiriskan pisau itu pada jari telunjuknya sedikit namun cukup membuat darahnya mengucur menetes didalam gelas kecil yang sudah usang.
"Tapi Kosim tidak mendapatkan harta kekayaannya!" teriak Abah Dul membela Kosim, kali ini tak dapat membendung amarahnya.
"Tetap saja Kosim atau anaknya harus ikut kami!" ujar monyet besar berikat kepala merah.
"Tidak bisa!!!" Sentak Abah Dul dengan nada marah besar.
Mahmud, Kosim dan Mang Ali sampai bergetar jantungnya melihat Abah Dul sangat marah. Yang mereka tahu Abah Dul itu tegas dan berwibawa namun lebih dominan kekocakannya. Dan baru kali ini ketiganya melihat kemarahan Abah Dul.
"Sampaikan pada Raja Kalas Pati, raja kalian agar tidak lagi mengejar Kosim dan keluarganya. Sebab Kosim dan keluarganya tidak pernah makan dan memakai harta kekayaan dari bangsa kalian. Atau kami akan musnahkan kalian semua!!!" Seru Abah Dul dengan tangan yang menggengam Tombak Mata Kembar terlihat bergetar keras.
__ADS_1
Usai mendengar perkataan Abah Dul, ketiga monyet siluman itu saling berpandangan sepertinya ragu untuk bertindak selanjutnya. Cukup lama ketiganya kebingungan mengambil keputusan, antara ketakutan dan pembenaran dari kalimat Abah Dul.
"Kosim dan keluarganya tidak pernah makan dan memakai harta kekayaan dari bangsa kalian"
Disamping kalimat itu membuat bimbang tetapi sesungguhnya tiga pimpinan sepasukan monyet siluman nyalinya menciut dengan kalimat ancaman Abah Dul, "Atau kami akan musnahkan kalian semua!!!"
Bukan tanpa alasan mereka menjadi ciut nyalinya. Saat pertama kali mereka bertiga melihat empat manusia dan tiga sukma muncul berdiri dihadapannya, sesungguhnya kekuatannya sudah dapat diukur oleh ketiga monyet siluman. Ditambah lagi dengan adanya 5 senjata dirasakannya berkekuatan besar.
"Pergi kalian semua! Jangan pernah ganggu Kosim dan keluarganya lagi!' Hardik Abah Dul melihat tiga pimpinan pasukan monyet siluman itu terdiam saling pandang cukup lama.
"Baiklah, kami pergi." Seru monyet siluman berikat kepala merah.
Lalu ketiga pimpinan monyet siluman itu berbalik badan mengangkat tangannya memberikan kode pada pasukannya. Sedetik berikutnya sepasukan monyet siluman itu lenyap dari pandangan kasat mata.
"Huffff...!"
Kosim, Mang Ali dan Mahmud menghebuskan nafas dari mulutnya berbarengan. Ketegangan yang sedari tadi dirasakannya kini benar-benar sudah lepas dan plong sambil mengelus-ngelus dadanya reflek bersamaan.
"Alhamdulillahirobbil alamiin..." ucap ketiganya.
Abah Dul yang melihat dan mendengar tingkah polah Kosim, Mahmud dan Mang Ali menjadi tergelitik hatinya. Ketegangannya karena marah pun perlahan-lahan mencair.
"Ente, ente semua mendingan bikin paduan suara aja deh," sergah Abah Dul.
"Emang kenapa sih Bah?" tanya Mang Ali polos.
"Lah itu tadi kompak banget." ujar Abah Dul.
Kontan saja Kosim, Mahmud dan Mang Ali pun tak dapat menahan tawanya.
"Ayo, semuanya masuk..." kata Abah Dul.
......................
__ADS_1