
Suara tanpa rupa apabila dicerna secara spiritualismenya terdapat dua golongan. Yang pertama bisa saja suara tanpa rupa itu muncul dari golongan setan dengan tujuan menggoda dan mengganggu manusia untuk melemahkan keimanan dan ketaqwaan manusia kepada Allah SWT.
Dengan mengeluarkan suara tanpa rupa, cara ini salah satunya yang sering digunakan untuk menakut-nakuti manusia sehingga membuat manusia merasa ketakutan.
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita menjumpai atau mendengar cerita tetangga yang mengalami peristiwa aneh dan menakutkan seperti mendengar suara tetapi tidak ada wujudnya. Pastilah hal ini membuat manusia biasa takut, merinding, bahkan membuat bulu kuduk menjadi berdiri.
Kemudian tipikal suara tanpa rupa yang kedua dapat digolongkan sebagai penolong atau pelindung seseorang. Sosoknya bisa saja khodam dari hasil amalan zikir yang rutin dilakukan setiap hari. Atau mungkin juga suara tanpa rupa tersebut sudah mengikutinya semenjak lahir. Kasus ini biasanya peran dari sosok jin Qorin yang sudah turun-temurun dari nenek moyangnya untuk menjaga. Semuanya Waallahu a’lam, hanya Allah SWT yang mengetahuinya.
......................
Hari ke-12 melawan perjanjian gaib, usai menunaikan sholat Subuh Kosim duduk termenung sendirian di lantai teras depan ditemani secangkir kopi hangat dan rokok. Sedangkan Mahmud langsung masuk kamar dan tak keluar lagi usai sholat Subuh berjamah. Mungkin sudah ngantuk berat setelah semalaman melek berjaga-jaga setelah kembali mendapat teror monyet siluman yang masih menuntut perjanjian gaib.
Sementara Abah Dul dan Mang Ali usai sholat berjamaah langsung berpamitan pulang.
Suasana masih cukup gelap, dikejauhan sesekali terdengar suara ayam jago berkokok menyambut mentari pagi. Udara dingin pagi buta itu tak membuat Kosim merasa kedinginan, ia termenung duduk bersandar pada tembok dekat pintu sambil sesekali meghisap rokoknya dalam-dalam.
Entah mengapa tubuhnya masih saja segar tidak merasakan kantuk atau lelah padahal ia juga belum tidur semalaman.
Pikiran Kosim masih dipenuhi pertanyaan-pertanyaan terkait suara tanpa rupa yang sudah berkali-kali menjadi Malaikat penolongnya. Selain itu ia sendiri merasakan keanehan pada dirinya yang tiba-tiba saja merasa berani. Padahal selama ini sangat awam dengan hal-hal berbau gaib.
Namun begitu didalam diri Kosim sendiri merasa tidak ada yang berubah, ia tetap merasa tidak memiliki kemampuan supranatural ataupun tenaga dalam seperti Abah Dul, Gus Harun ataupun Mang Ali. Tetapi apa yang sudah dilakukannya menghadapi serangan monyet siluman semalam itu dirinya seolah tidak percaya, sekalipun dilakukannya dalam keadaan sadar sepenuhnya.
“Siapa pemilik suara tanpa rupa itu? Siapa yang selalu menolong saya?" Lagi-lagi pertanyaan itu menghantui didalam pikirannya.
“Apa bisa saya melihatnya atau bagaimana saya bisa melihatnya,” ucap Kosim dalam hati.
Kosim kembali menghisap rokoknya dalam-dalam lalu dihembuskannya perlahan. Pikirannya terus mencoba mencari-cari kemungkinan jawaban sendiri atas pertanyaan-pertanyaan yang belum terungkap itu.
Sekian lamanya pikiran Kosim berkutat memikirkan hingga menerka-nerka sendiri siapa sosok pemilik suara tanpa rupa itu. Hingga tanpa disadarinya perlahan-lahan matanya terpejam lalu terlelap tidur.
__ADS_1
Dalam sekejap Kosim merasa ada yang mengguncang-guncangkan tubuhnya. Perlahan-lahan ia membuka matanya, antara sadar dan tidak terlihat hamparan putih bercahaya. Kosim pun sontak tersentak kaget, sesaat ia mengerjap-ngerjapkan matanya penuh kebingungan melihat sekelilingnya yang nampak asing.
Di kucek-kucek matanya berulang-ulang lalu kembali memperhatikan disekelilingnya. Disekelilingnya yang ia lihat hanya hamparan cahaya putih, tempatnya ia duduk terlihat seperti terduduk diatas awan putih.
Kosim memutar bolak-balik tubuhnya melihat sekitar namun yang ia lihat hanyalan hamparan luas cahaya putih seperti tak bertepi.
“Saya dimana? Saya dimana?”
“Apa saya sudah mati?”
Kosim menepuk-nepuk pipinya, ia masih merasakan sentuhannya. Kebingungannya kini berganti menjadi kepanikan bercampur takut yang tiba-tiba menghinggapi perasaanya.
Setengah putus asa ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu disusul tubuhnya nampak terguncang-guncang, Kosim menangis tersedu-sedu dalam ketidak mengertian dengan keadaannya.
“Jika memang saya harus menanggung resiko akibat melakukan persekutuan dengan bangsa siluman, saya rela, saya ikhlas, asalkan jangan mengambil anak dan istri saya dijadikan budaknya...” Ucap Kosim dalam batin.
Cukup lama Kosim bersujud ditengah keputus asaannya, tiba-tiba Kosim merasakan kehadiran sesosok mahluk didepannya. Disusul hawa sejuk menerpa kepalanya lalu menjalar menyapu sekujur tubuhnya dari arah depan.
Belum hilang ketertegunannya, telinganya mendengar suara yang begitu dekat dan jelas. Dalam keraguannya perlahan-lahan ia mendongakkan kepala bermaksud melihat sosok didepannya.
Mula-mula Kosim melihat bagian bawah berupa kain putih menjuntai hingga ujungnya tak terlihat berbaur tertutup awan putih. Kosim makin penasaran, matanya terus menyapu dari bawah hingga keatas namun kain putih itu sepertinya tak berpangkal. Sampai-sampai ia pun terduduk dengan kepala masih terdongak mencari-cari ujung atasnya.
“Wahai Kosim, kamu manusia jujur. Kamu memang pernah terjerumus dalam persekutuan dengan iblis. Namun perbuatan itu bukanlah semata-mata keinginan untuk mengejar nafsu duniawi akan tetapi perbuatanmu itu hanyalah demi membuat istrimu senang. Aku akan melindungimu, bangunlah...”
Kosim terperanjat kaget, suara itu sepertinya tak asing lagi di telinganya. Suara yang sering ia dengar dan memperingatinya namun yang ia dengar dan rasakan sekarang begitu lembut merasuki telinga Kosim dan merasakan sejuk menjalari aliran darah disekujur tubuhnya.
"Sampeyan siapa?" Tanya Kosim dengan polosnya.
Sesaat suasana senyap, sosok putih itu tak langsung menjawab pertanyaan Kosim.
__ADS_1
"Bila diijinkan saya ingin tau namanya saja," ucap Kosim tak sabar ingin mengetahuinya.
Rupanya inilah sosok yang selalu muncul membantunya, wajah Kosim seketika berubah berseri-seri. Didalam hatinya, ini sosok yang menjadi jawabannya selama ini.
Kosim serasa tak sabar menanti jawaban yang sangat diharap-harapkannya. Kosim tertunduk dalam-dalam sambil mencerna setiap kata-kata yang keluar dari sosok putih itu.
Saat Kosim mendongakkan kepalanya meminta jawaban tersebut, namun tiba-tiba disekelilingnya berubah. Hamparan cahaya putih dan sosok berkain putih seketika lenyap.
“Mas, Mas Kosim...”
Kosim nampak gelagapan terbangun merasakan pundaknya ada yang menepuk-nepuk. Setengah tersadar ia menengokkan kepalanya kesan kemari melihat sekelilingnya.
“Mas, tidurnya didalam...”
Kosim pun tersadar sepenuhnya setelah mendengar suara Arin yang kedua kalinya. Sesaat termangu, mengingat-ingat barusan yang dialaminya.
“Suara itu... Apakah saya mimpi?” Gumam Kosim dalam hati.
Ada gurat kekesalan di wajah Kosim karena belum sempat mendapat jawaban sudah keburu hilang karena dibangunkan Arin. Namun kekesalannya ia sembunyikan dalam-dalam.
“Ada apa Mas? Mas kenapa?” Tanya Arin bingung.
Arin yang sedari tadi memperhatikan suaminya merasa keheranan melihat tingkahnya. Beberapa saat Kosim hanya bengong tertegun menatap lurus ke pelataran yang sudah mulai terang seperti tak mendengar pertanyaan istrinya.
“Mas, hayu masuk tidurnya didalam.” Ajak Arin sambil meraih lengan Kosim.
Kosim pun menurut saja lalu beranjak mengikuti istrinya melangkah masuk. Tetapi pikirannya masih dipenuhi peristiwa yang baru saja dialami meski antara sadar dan tidak namun ucapan-ucapan itu masih sangat jelas di telinganya.
......................
__ADS_1