
“Ijinkan aku juga ikut membantu tuan Kiyai,” sela tuan Gosin.
Kiyai Sapu Jagat tertegun, dia tak bisa untuk menolak kesungguhan dan tekad Kosim, tuan Samanta dan tuan Gosin. Kiyai Sapu Jagat
sangat memaklumi tekad Kosim yang merasa bertanggung jawab besar karena dirinyalah
yang menyebabkan kakak iparnya hilang. Sementara bagi tuan Samanta, dimana
sebagai bawahan yang setia, tuan Samanta menunjukkan kesetiaannya sebagai bawahan tuan Denta untuk dapat membatu menemukan pimpinannya. Dan untuk tuan Gosin menurut dugaan Kiyai Sapu Jagat, tidak lain karena dilatar belakangi dengan rasa kekerabatan dengan Kosim sebagai mahluk Kajiman.
“Aku tahu kediaman tuan Denta, mungkin tuan Dentamenyembunyikan diri disana tuan,” ucap tuan Samanta.
“Apakah kita bisa langsung menuju ke kediamannya?” tanya Kiyai Sapu Jagat.
“Bisa tuan Kiyai Sapu Jagat!” tegas tuan Samanta.
“Itu lebih bagus, sebab jika muncul di luaran saya khawatir Yai, tuan Samanta dan Kosim pasti akan di tangkap oleh para prajurit,” timpal
Abah Dul.
“Benar kata tuan Dul, untuk itu saya akan bawa langsung masuk di dalam kediaman tuan Denta,” kata tuan Samanta.
“Ya sudah kalau begitu ayo kita cepat kesana!” tegas Kiyai Sapu Jagat.
“Baik tuan Kiyai,” balas tuan Samanta.
“Dul, Gus Harun, Basyari, Baharudin saya pergi dulu,” ucap Kiyai Sapu Jagat pamit.
“Njih Yai, kami hanya bisa bantu doa dari sini,” sahut Gus Harun yang diangguki Abah Dul, Basyari dan Baharudin.
“Assalamualaikum…” ucap Kiyai Sapu Jagat.
__ADS_1
“Wa’ alaikum salam,” ucap Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin secara bersamaan.
Tak lama kemudian 3 sosok yang sama- sama berwujud bayangan ilusi tersebut seketika lenyap dari hadapan Gus Harun dan yang lainnya. Abah Dul masih termangu menyaksikan lenyapnya Kiyai Sapu Jagat, Kosim tuan Samanta serta tuan Gosin, pikirannya masih diliputi gundah gulana yang sangat mengkhawatirkan Mahmud.
“Semoga saja Mahmud benar- benar ada di sana bersama tuan Denta,” gumam Abah Dul penuh harap.
“Semoga saja Dul, kita pasrahkan sepenuhnya pada kehendak yang maha kuasa yang memiliki sepenuhnya atas takdir yakni Gusti Allah Dul. Kita sebagai manusia tidak bisa merubah apapun jika itu adalah garis hidup yang harus dijalani oleh kang Mahmud. Terlepas dari apapun sebab dan akibatnya, kita pun tidak boleh menyalahkan siapapun jika pada akhirnya hasil yang di dapat tidak sesuai dengan harapan kita,” ucap Gus Harun yang mendengar gumaman Abah Dul.
"Iya Gus, hanya saja nggak dapat saya bayangkan jika Mahmud benar- benar tidak kembali. Bagaimana saya menjelaskannya pada Dewi atau pun Arin bahkan juga kepada warga masyarakat nantinya," ujar Abah Dul.
"Sudahlah Dul, jangan terlalu memikirkan yang tidak- tidak yang belum tentu terjadi yang hanya membuat kita menjadi gelisah, panik, khawatir. Hilangkan berpikir negatif Dul, kita harus optimis dan yakin kalau ketentuan Allah itu mutlak tidak bisa di rubah," kata Gus Harun menasihati.
"Oh iya Gus, saya hampir lupa. Tadi Dewi berpesan untuk disampaikan pada Mahmud agar membawa baju- baju Dede ke rumah sakit secepatnya," ujar Abah Dul.
"Gimana katanya kondisi Dede Dul?" tanya Gus Harun.
"Alhamdulillah kata Dewi kondisinya sudah mulai normal Gus," jawab Abah Dul.
"Kenapa Gus?! Kenapa dengan Dede?!" spontan Abah Dul bertanya curiga melihat reaksi dari Gus Harun.
Gus Harun tersenyum simpul ditanya seperti itu, sekaligus membuat Abah Dul, Basyari serta Baharudin semakin penasaran melihat gestur mimik wajah Gus Harun yang seakan- akan menyembunyikan sesuatu.
"Ente harus jaga dan didik dengan benar putranya kang Kosim itu Dul," kata Gus Harun dengan sungguh- sungguh.
"Maksud ente Gus?!" Abah Dul kian penasaran dan belum juga mengerti arah pembicaraan Gus Harun.
"Kelak anak itu akan menjadi seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa Dul. Ane betul- betul berpesan, ente harus sungguh- sungguh menjaganya sekaligus membimbingnya," ucap Gus Harun.
Seketika kening Abah Dul mengernyit dalam- dalam, begitu juga dengan Basyari dan Baharudin. Kini mereka mengerti tentang kemana arah pembicaraan Gus Harun. Namun juga membuat Abah Dul dan dua sahabatnya itu sedikit terkejut setelah mendengar ungkapan Gus Harun.
"Bagaimana Gus tahu?!" tanya Abah Dul penasaran.
__ADS_1
Gus Harun tidak langsung cepat menjawab, ia menghela nafas dalam- dalam lalu menghembuskannya perlahan- lahan. Kepala Gus Harun mendongak keatas, sorot kedua matanya memandang langit- langit ruang tengah rumah Mahmud seolah- olah sedang menerawang jauh.
"Ane telah melihat tanda- tanda itu sewaktu di pekuburan itu Dul. Anak itu kelak akan menjadi orang yang memiliki kekuatan supranatural yang mumpuni. Dia memiliki kekuatan besar setelah melalui proses saat menuju kebangkitannya," ungkap Gus Harun.
Mendengar keterangan itu Abah Dul, Basyari serta Baharudin tertegun dan tanpa sadar menggeleng- gelengkan kepala mereka. Ketiganya tidak menyangka jika bangkitnya putra Kosim itu akan memiliki keistimewaan tersendiri pada diri anak itu.
Sebagai seorang yang memiliki keturunan darah biru dari Kesultanan Banten, Gus Harun memang diberkahi keistimewaan melihat masa depan seseorang melalui tanda- tanda yang hanya dapat dipahami dan dilihat oleh Gus Harun sendiri.
"Kalau begitu saya akan ke rumah sakit dulu Gus untuk mengantarkan baju- baju Dede agar Dewi tidak menaruh kecurigaan dan menanyakan Mahmud," kata Abah Dul memecah keheningan.
"Iya Dul,sebaiknya begitu," ujar Gus Harun.
Abah Dul kemudian bergegas bangkit dati duduknya menuju ke kamar Arin untuk segera mengemas baju- baju milik Dede dari lemarinya.
Beberapa saat kemudian Abah Dul keluar kamar dan kembali di ruang tengah dengan menenteng kantong kresek yang berisikan pakaian Dede.
"Saya pamit dulu ya Gus, oiya nanti pulangnya sekalian saya beli makanan. Jadi ente semua terpaksa menahan lapar dulu, hehehe..." seloroh Abah Dul.
"Jangan lama- lama Dul," celetuk Baharudin.
"Iya Har paling- paling tiga puluh menitan," balas Abah Dul kemudian berjalan keluar rumah.
Sepeninggal Abah Dul, ruangan tengah kembali sunyi. Tanpa ada yang mengomando pandangan Gus Harun, Basyari dan Baharudin spontan sama- sama tertuju pada sosok tubuh Mahmud yang masih terduduk tanpa bergeming sedikit pun.
"Saya kasihan melihat Dul, Gus. Dia tampaknya sangat terbebani dengan kondisi kang Mahmud," ucap Baharudin membuka percakapan.
"Benar Gus, saya melihat Dul begitu tertekan dan sangat mengkhawatirkan kondisi Mahmud. Saya pun kalau berada di posisinya Dul, pastilah akan kepikiran juga mengenai situasi jika hal buruk menimpa kang Mahmud. Benar yang di cemaskan Dul, bagaimana nantinya menjelaskan semua yang terjadi pada Mahmud," ujar Basyari.
"Iya Har, Bas... Ane sangat paham dengan perasaannya. Mahmud adalah sahabat terdekatnya dan keluarga ini sudah dianggap bukan orang lain lagi bagi Dul. Ya kita juga tidak menginginkan hal buruk itu terjadi pada kang Mahmud," kata Gus Harun.
"Àmiin... amiiin ya robbal alamiiin..." sahut Basyari dan Baharudin bersamaan.* BERSAMBUNG
__ADS_1