
Telpon Abah Dul yang dihubungi Mahmud tak kunjung tersambung hanya ada jawaban dari operator yang merespon kalau nomor yang dihubungi tidak aktif atau berada diluar jangkauan.
"Telponnya nggak aktif," gumam Mahmud.
Dewi makin gelisah dan cemas, sementara Kosim hanya diam tertunduk menekuri memandang ujung jari kaki dengan wajah muram.
Kosim benar-benar merasa menjadi terdakwa dihadapan Dewi. Tidak tahu lagi apa yang mesti dilakukannya dia hanya bisa pasrah harap-harap cemas menanti reaksi kakak iparnya yang terlihat menahan amarahnya.
"Sim, Mbak tanya apasih yang kalian ributin, sampai Arin meninggalkan rumah?" Kata Dewi dengan suara bergetar.
Degup jantung Kosim berdetak kian kencang. Tingkahnya terlihat kikuk ditatap Dewi dengan melontarkan pertanyaan seperti itu. Diam salah menjawab pun salah, Kosim bingung setengah mati otaknya sudah buntu tidak bisa berpikir lagi.
"Sim, ayo jawab. Kenapa?!" Dewi mulai gretan melihat Kosim hanya diam.
Mahmud merasa kasihan melihat situasi yang dihadapi Kosim. Dirinya memahami kebingungan Kosim untuk menjawab pertanyaan Dewi, jawabannya pasti akan berkaitan dengan ritual pesugihan. Sedangkan dirinya dan Kosim sepakat untuk tidak memberitahukannya kepada Dewi hingga saat ini. Dilema, ibarat makan buah simalakama serbah salah, dijawab salah tidak dijawab salah.
"Wi, Wi.. biarkan Kosim berpikir dan menjawabnya dahulu," sergah Mahmud menengah-nengahi.
"Sim, jawab saja apa adanya," ujar Mahmud seperti memberi jalan keluar pada Kosim.
"A..anu Mbak, awalnya Arin mendengar kasak-kusuk orang-orang membicarakannya saat berbelanja di warung. Pulang-pulang langsung menanyakannya ke saya tapi Arin tidak percaya dengan jawaban saya lalu pergi," tutur Kosim takut-takut.
"Orang-orang membicarakan gimana? Apa yang Arin tanyakan?!" Sergah Dewi.
Dada Kosim berdebar kencang makin membuatnya gerogi dan tampak ragu-ragu menjelaskannya.
"Ngomong aja Sim terus terang," sela Mahmud menguatkan Kosim.
"Iya Mas. Arin mendengar sindiran rang-orang di warung yang mengatakan kalau saya melakukan ritual pesugihan..." kalimat terakhir Kosim diucapkannya penuh rasa takut hingga suaranya memelan. Namun masih cukup jelas terdengar.
"Apa?! Pesugihan?! Seru Dewi kaget tak terkira.
"Iya Mbak," jawab Kosim pasrah.
__ADS_1
"Kamu benar melakukannya Sim?!" Cecar Dewi sudah tidak bisa membendung lagi amarahnya.
Mukanya memerah mata Dewi menatap tajam Kosim dengan bibir bergetar karena marah.
"Kamu tega ya Sim, siapa yang kamu korbankan? Dede, Arin atau kamu sendiri?!" Suara Dewi meninggi.
Mahmud hanya diam memperhatikan melihat Dewi dan Kosim. Dirinya sengaja tidak mencegah untuk membiarkan Kosim berterus terang mengungkapkan yang sebenarnya. Dalam hal ini Mahmud merasa bukan kewenangannya menjelaskan semuanya namun dia waspada berjaga-jaga dari kemungkinan Dewi kalap.
"Iya, saya melakukan ritual pesugihan itu Mbak," ucap Kosim pelan.
"Biadab kamu, Sim!" Teriak Dewi lalu menangis tersengguk-sengguk.
"Tapi saya gagal melakukannya, Mbak. Dan tidak jadi menjalani pesugihan itu Mbak," Kosim pasrah mencoba membela diri.
Mahmud langsung meraih tubuh Dewi, didekapnya istrinya dalam pelukannya. Mahmud memahami dan merasakan kemarahan Dewi, sebagai seorang kakak pasti akan sangat marah merasa adiknya diperlakukan diluar kewajaran apalagi sudah menyangkut nyawanya.
"Maafin saya Mbak, saat itu saya benar-benar putus asa. Setiap hari saya diomeli, di caci, di maki karena penghasilan dari dagang selalu dirasanya kurang. Sekian lama saya hanya diam saja, saya terus berusaha memenuhi semua keinginan Arin tetapi tetap saja upaya saya tidak ada harganya di mata Arin..." tutur Kosim pasrah.
Tangis Dewi mulai mereda setelah mendengar penuturan Kosim. Dewi sedikit mulai lebih tenang hingga Mahmud melepaskan pelukannya.
"Ya Allaaaah..." ucap Dewi lirih dan perlahan mulai menerima alasan Kosim.
"Saya juga sebetulnya tidak tahu siapa yang ditumbalkan pada saat ritual itu. Kuncen hanya memberitahukan syaratnya yang salah satunya saya menyetujui memberikan ayam pitik (anak ayam). Dan saya baru mengerti kalau yang di maksud ayam pitik itu ialah anak saya," suara Kosim bergetar menahan tangisnya.
"Masya Allaaah... Dede..." ucap Dewi lirih kembali menangis.
Namun kali ini tangisan Dewi bukan karena marah dengan Kosim melainkan menangisi membayangkan keponakannya yang dia sayangi ditumbalkan.
"Tetapi ritual itu gagal Mbak tidak sampai tuntas karena baru seperempat melakukan ritual tiba-tiba diruangan tempat saya ritual mendadak hancur berantakkan. Saya terlempar ke dinding sampai mengeluarkan darah dari mulut..." ucap Kosim lirih suaranya bergetar menahan tangis penyesalannya.
Dewi seperti terkesiap teringat kejadian pada malam itu Dede sedang sekarat dan kata Abah Dul, Dede diganggu mahluk gaib.
"Oooohhh, ya ya saya baru ingat pada malam itu malam jumat kliwon di rumah, Dede nyaris saja mati. Untungnya Abah Dul belum terlambat menolongnya. Dan pada saat itu kamu memang tidak ada di rumah katanya sedang ke Subang di rumah orang tuamu," kata Dewi sudah mulai tenang dan memahami posisi Kosim.
__ADS_1
"Maafin saya Mbak..." ucap Kosim langsung bersujud meraih tangan Dewi yang duduk disamping Mahmud.
Dengan berlinangan air mata kemarahan Dewi berganti dengan rasa iba langsung menepuk-nepuk punggung Kosim.
"Sudah, sudah Sim. Mbak mengerti dan memahaminya, sekarang tinggal cari dimana Arin berada..." ucap Dewi.
Kosim perlahan bangkit dari sujudnya. Kini hatinya sudah merasa lebih enteng, dirinya tidak lagi merasakan beban berat penuh tekanan seperti sebelumnya.
Mahmud hanya menghela nafas, dia merasa senang situasinya sudah lebih baik dan bisa saling memahami. Dewi tidak sepenuhnya menyalahkan Kosim dan Kosim pun dengan pasrah sudah mengakui perbuatannya.
Dewi, Mahmud dan Kosim serentak kaget oleh suara dering hape Mahmud berbunyi. Mahmud segera melihat layar hapenya, "Abah Dul," ucapnya.
"Halo, assalamualaikum, Bah... Iya tadi telpon... Arin pergi dari rumah... iya sama Dede. Kosim ada disini lagi nyari.... Oooo.. ya ya, okay... Waalaikumsalam..." Mahmud menyudahi telponnya.
"Gimana Mas, Abah Dul bisa kesini?" Tanya Kosim sangat berharap.
"Lagi perjalanan pulang, abis dari rumah temannya di desa sebelah," jawab Mahmud.
"Ya sudah Mas, saya kembali ke tempat kerja dulu. Kabari kalau keberadaan Arin sudah ketemu Mas," sela Dewi.
Dewi beranjak dari duduknya menyalami mencium tangan Mahmud lalu menyalami Kosim dan Kosim mencium tangan kakak iparnya.
Sepeninggal Dewi, nyaris bersamaan Mahmud dan Kosim menghempaskan nafasnya.
"Alhamdulillah Sim, sudah sedikit lega. Tadinya saya khawatir Dewi akan sangat marah dan tidak bisa menerima penjelasan kamu. Tapi ternyata Dewi bisa menerimanya bahkan memaafkan kamu," kata Mahmud.
"Iya Mas, sekarang saya bisa sedikit lega. Saya juga sangat takut Mbak Dewi marah. Sekarang tinggal menunggu Abah Dul, mudah-mudahan dia bisa menemukan keberadaan Arin." Ujar Kosim.
......................
Ruang Renung:
Kehidupan manusia tak terlepas dari berbagai peristiwa, pahit maupun manis, bahagia maupun duka. Kita mungkin pernah merasakan fase kehidupan yang berat dan menyakitkan. Hidup ini seperti drama yang tak berujung akhirnya. Apalagi bagi mereka yang kurang bersyukur, pasti akan menganggap bahwa kehidupan ini sebagai sebuah kutukan berat.
__ADS_1
Pada saat kondisi mental down inilah kita membutuhkan sebuah kekuatan yang dapat membangkitkan motivasi agar bisa kembali menjalani kehidupan dengan benar. Sahabat yang baik akan memberikan semangat dan tidak meninggalkannya saat terpuruk.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=