
Tak ada satu pun warga masyarakat yang melihat sesosok tubuh berdiri di halaman depan teras rumah Mahmud sambil terus memperhatikan warga yang meninggalkan rumah Mahmud satu demi satu. Bahkan tanpa mereka sadari beberapa warga yang berjalan itu menabrak sosok tersebut tanpa merasa terhalang apapun.
Sosok itu terus menerus menyunggingkan senyum melihat warga masyarakat pergi meninggalkan rumah Mahmud. Hingga tinggal seorang warga yang merupakan pak RT setempat yang paling akhir melangkah pergi meninggalkan rumah Mahmud setelah semuanya kembali ke rumah masing- masing dan tak ada lagi seorang warga pun disana.
Sosok tersebut tak lain adalah Kosim. Setelah tak ada lagi warga di rumah Mahmud, Kosim kemudian melayang masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum…” ucap Kosim begitu sampai di pintu.
“Wa alaikum salam,” sahut Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin bersamaan.
“Punten, saya masuk ke dalam dulu,” ucap Kosim sopan.
“Monggo, monggo…” sahut Gus Harun dan diangguki yang lainnya.
Kosim pun melayang masuk menyusul Mahmud yang lebih dulu masuk ke kamar sambil menggendong Dede. Setelah sampai di pintu kamar yang dulu Kosim tinggali, Kosim mengedarkan pandangannya menyapu keseluruh ruangan hingga ke sudut satu sampai sudut lainnya.
“Tak ada yang berubah,” gumam Kosim tersenyum.
Setelah Mahmud meletakkan Dede diatas tempat tidur, nampaknya Dede tak mau merebahkan tubuhnya. Bocah kecil itu rupanya hanya ingin duduk diatas kasur sambil bersila, kedua matanya menoleh kesana kemari
memperhatikan seisi kamar. Mahmud berlutut menghadap Dede dengan tangan bertopang pada bibir tempat tidur sebelah kanan, sedangkan Dewi duduk di pinggir tempat tidur bersama dengan Arin sambil terus mengelus- elus tangan dan kaki Dede.
“Ayah, sini… jangan berdiri di pintu aja,” kata Dede melambaikan tangannya pada Kosim.
Kontan saja Mahmud, Dewi dan Arin menoleh kearah Dede melambaikan tangannya memanggil Kosim. Ketiganya tersenyum melihat Kosim sedang menatap kearah mereka, lalu Arin, Dewi dan Mahmud menganggukkan kepala
memberikan isyarat pada Kosim untuk mendekat.
Kosim berjalan ketempat Dede selayaknya sebagai manusia, dia tidak bergerak melayang layaknya sebagai mahluk Kajiman. Kosim tak ingin membuat Arin, Dewi juga Dede menjadi takut jika dirinya bergerak dengan melayang.
Kosim berlutut disamping Mahmud seraya meraih tangan mungil Dede lalu menggenggamnya erat. Meskipun bibirnya tak lepas menyungging senyum bahagia, namun kedua sorot matanya tak dapat menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Di dalam batinnya, Kosim menangis. Dia sangat ingin mengulang hidupnya dan berkumpul seperti saat sekarang bersama anak dan istrinya serta kedua kakak iparnya yang sangat peduli dan menyayanginya.
Beberapa saat Kosim tergagu, kedua bibirnya terlihat bergetar. Dari sorot matanya seperti ada sesuatu yang hendak dia katakan, namun
Kosim nampaknya sengaja untuk menahan ucapannya sekarang. Jika dirinya berbicara sekarang, Kosim akan lenyap saat itu juga karena sesuai dengan janji permintaannya pada sang Maha Kuasa sebelumnya. Bahwa dia hanya ingin menyampaikan pesan pada putranya untuk terakhir kali sehingga permintaannya tersebut dikabulkan.
__ADS_1
Kosim hanya ingin memanfaatkan batas waktunya yang hanya tinggal satu hari lagi sampai dengan matahari tenggelam. Sisa- saisa waktu yang ada tersebut ingin Kosim manfaatkan untuk selalu dekat dengan istri dan
anaknya.
Mahmud melihat ekspresi Kosim yang nampak ragu- ragu dan kikuk, membuat dirinya merasa tidak enak hati dan Mahmud berprasangka karena keberadaannya dan Dewi berada didalam kamar itu yang membuat Kosim menjadi segan. Sehingga Mahmud bergegas berinisiatif mengajak Dewi keluar dari kamar. Sekaligus
ingin memberikan waktu untuk Kosim berserta anak dan istrinya bercengkerama lebih bebas.
“Wi, Mas kedepan ya menemui Abah Dul dan yang lainnya,” kata Mahmud setelah keluar dari kamar yang ditempati Arin.
“Ya udah Mas, nanti saya buatkan minuman ya,” jawab Dewi kemudian melangkah ke dapur dan Mahmud pun melangkah ke ruang tamu.
Kriririiiiing… kriririiiiing… kriririiiiing…!!!
Suara hape jadul milik Abah Dul berbunyi bersamaan Mahmud muncul di ruang tamu dan duduk di sebelah Abah Dul. Gus Harun, Basyari dan Baharudin spontan menoleh kearah Abah Dul begitu mendengar suara hape berbunyi.
Mereka semua sudah sangat hafal dengan suara dering telpon itu karena hanya hape milik Abah Dul yang suara panggilan telponnya bernada seperti itu.
“Dari siapa Bah?! Cepetan diangkat Bah,” tanya Mahmud yang tak sabar melihat Abah Dul sedikit lama menjawab panggilan telpon tersebut.
Setelah melihat ke layar hapenya yang berwarna seperti lampu bohlam 5 watt, Abah Dul lantas menggelengkan kepalanya seraya menjawab
“Hallo, Assalamualaikum..” ucap Abah Dul sambil menekan tombol load speaker.
“Wa alaikum salam, mm… maaf mengganggu apakah betul ini dengan Abdul Basit?” sahut suara dari telpon.
“Iya saya sendiri, maaf dengan siapa ya?” balas Abah Dul balik tanya.
“Kami dari kepolisian Pekalongan pak Dul, mau mengabarkan perkembangan kasus kecelakaan yang semula korbannya bernama Ahmad Basyari dari Suraaya dan Muhammad Basyarudin dari Kutai Kaltim itu pak,” sahut suara di telpon.
“Oh, iya iya pak. Gimana, gimana perkembangannya pak?” tanya Abah Dul.
“Jadi begini pak Dul. Laporan yang pak Dul buat kemarin itu yang menyangkal bahwa kedua korban tersebut bukan orang yang sama dengan kartu identitasnya yang di temukan di TKP itu ternyata memang benar seperti yang bapak Dul laporkan pada kami. Dua korban itu bukan orang yang kami duga sebelumnya, keduanya merupakan DPO dari Polwiltabes Jateng,” terang polisi dari seberang telpon.
“Syukurlah pak, lalu kenapa bisa sampai barang- barang sahabat- sahabat saya itu dibawa mereka ya pak?” tanya Abah Dul.
__ADS_1
“Jadi setelah beritanya masuk televisi, beberapa jam kemudian kami mendapat berita telegram dari Polwiltabes meminta mengkonfirmasi
tentang berita kecelakaan tersebut. Sebab Polwiltabes sebelumnya telah menerima
laporan dari Polres di wilayah Semarang bahwa ada laporan pencurian kendaraan dengan jenis mobil dan plat nomor kendaraan yang sama dengan ciri- ciri mobil yang kecelakaan di tol tersebut,” terang polisi.
Suara telpon yang di load speaker tersebut membuat Basyari, Baharudin, Gus Harun dan Mahmud dapat mendengar dengan jelas keterangan dari kepolisian. Seketika Basyari dan Baharudin menghebuskan nafas lega karena mobil beserta barang- barang yang di bawa kabur pencuri telah diamankan pihak kepolisian.
“Alhamdulillah…” gumam Basyari dan Baharudin mengelus dada kemudian kembali mendengarkan suara percakapan Abah Dul dan polisi lagi.
“Alhamdulillah kalau begitu pak, berarti korban bernama Basyari dan Baharudin itu tidak jadi meninggal ya pak?” seloroh Abah Dul. Menahan
tawa.
Mendengar selorohan Abah Dul membuat Gus Harun dan Mahmud menutup mulutnya menahan tawa juga. Sementara Basyari dan Baharudi hanya tersenyum kecut sambil melototkan matanya kearah Abah Dul dengan gemas.
“Oy iya pak, apakah Basyari dan Baharudin sudah diketahui keberadaannya pak?” tanya Abah Dul iseng menjahili petugas polisi sambil
menahan tawanya.
“Belum pak Dul, terakhir kami mendapat kabar dari petugas di Semarang katanya saudara Basyari dan saudara Baharudin itu hendak menuju desa Sukadami di Jabar. Begitu informasinya pak Dul,” terang polisi.
“Oh begitu ya pak, kalau begitu terima kasih banyak pak sudah memberitahukan informasi ini, untuk se…” balasan Abah Dul tiba- tiba
terpotong oleh suara polisi disebereang telpon.
“Maaf pak Dul, bukankah pak Dul dan teman- teman pak Dul itu dari desa Sukadami? Apakah mungkin saudara Basyari dan Baharudin hendak menuju ke tempat pak Dul?” kata polisi.
“Eh, Mmm, iy, iya pak. Ya sudah nanti kalau ketemu dengan Basyari dan Baharudin segera saya kabari pak,” balas Abah Dul seketika gugup
karena merasa sudah keterlaluan menjahili polisi.
“Kalau begitu terima kasih banyak pak Dul dan teman- temannya sudah melaporkan pada kami sebelumnya,” sahut polisi.
“Iya pak sama- sama, kami juga mengucapkan terima kasih atas pemberitahuannya,” balas Abah Dul.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Abah Dul menutup telponnya setelah pembicaraan berakhir. Dan seketika itu juga suara gelak tawa membuncah yang sebelumnya sudah di tahan- tahan Gus Harun, Mahmud, Basyari dan Baharudin
sambil melempari Abah Dul dengan bantal kursi karena geregetan melihat kejahilannya.** BERSAMBUNG