Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Rahasia Suara Tanpa Rupa 2


__ADS_3

Suasana sarapan pagi ini terasa ceria. Seperti biasa Mahmud, Kosim, Arin, Dede dan Dewi sarapan bersama diatas gelaran tikar di ruang tengah. Meskipun hanya menyantap nasi goreng namun semuanya menyantapnya dengan perasaan bahagia.


"Nambah Mas?" Kata Arin pada Kosim.


"Iya deh," jawab Kosim sambil menyodorkan pirinnya.


Arin mengambilkan nasi goreng separuhnya dari porsi pertama lalu diberikannya kembali kepada Kosim.


"Mas Mahmud?" Tanya Arin.


"Sudah cukup Rin, kenyang nih. Ya udah saya duluan ya mau ke kebun." Ujar Mahmud sembari bangkit dari duduknya.


"Nggak nunggu Abah Dul dulu, katanya mau kesini," sela Dewi.


"Kan Kosimnya sudah pulang. Ya kalau kesini suruh nyusul aja ke kebun gitu ya." Kata Mahmud.


"Mas, saya ikut ya. Suntuk nih kelamaan nganggur, hehehe..." celetuk Kosim.


"Ya hayu. Sok habisin dulu sarapannya saya nyiapin perkakas dulu. Saya tunggu di depan Sim." Kata Mahmud.


Kosim pun sedikit buru-buru menyantap nasi gorengnya. Tiba-tiba suapannya terhenti, telinganya berdengung lalu disusul ada suara yang membisikinya.


"Abah Dul datang."


Suara tanpa rupa itu begitu jelas dan dekat. Reflek Kosim celingukkan hingga membuat Arin dan Dewi sedikit heran.


"Kenapa Mas?" Tanya Arin.


Dewi hanya memandangi tingkah Kosim yang seperti sedang mencari sesuatu.


"Nggak, nggak apa-apa, hehehe..." Jawab Kosim sambil nyengir.


"Mas Mahmud, ada Abah Dul kayanya di luar." Kata Kosim.


Mahmud yang sudah berdiri dan bersiap melangkah ke pintu samping mengurungkan langkahnya. Ia spontan melongokkan kepalanya ke depan yang terhalang oleh bufet.


"Lah iya, ada Abah Dul tuh," ujar Mahmud.


Mahmud melihat Abah Dul sedang melepas sandalnya di teras.


"Kok kamu tau Sim," kata Mahmud dengan muka heran.


Kosim tak menjawab pertanyaan Mahmud, ia hanya mesem-mesem sendiri. Sementara Arin dan Dewi semakin keheranan setelah Mahmud membenarkan perkataan Kosim, namun dipendam saja didalam hati.


Mahmud pun bergegas melangkah keluar menyongsong Abah Dul.


"Assalamualaikum," ucap Abah Dul.


"Waalaikum salam, Kosimnya juga udah pulang Bah," kata Mahmud, sebelum Abah Dul bertanya.


"Udah pulang? Yowis syukurlah, emang dari mana katanya," kata Abah Dul sambil duduk di teras.


"Katanya dari rumah temannya. Abah sarapan dulu, ya. Kosim juga masih belum selesai tuh," jawab Mahmud.


"Wah, saya baru aja sarapan Mud sebelum kesini. Sekarang ente mau kemana?" Tanya Abah Dul.


"Mau ke kebon. Beresin saluran air dari kemarin belum sempat aja. Kosim juga bilangnya mau ikut," kata Mahmud.


"O, ya udah deh saya juga ikut. Sambil ngopi di gubuk kebon enak kayanya Mud, hehehe..." seloroh Abah Dul.


Tak lama kemudian Kosim muncul dengan menenteng parang di tangan kanannya.


"Tuh kan benar ada Abah, hehehe.." seloroh Kosim basa-basi.


"Kosim tau loh Bah, ada Abah di depan. Padahal dia lagi sarapan," ujar Mahmud.


"Ah, cuma kebetulan aja. ya kan Sim?" Kata Abah Dul tak begitu menanggapi.


Kosim hanya mengangguk sambil mesem-mesem. Ia sendiri masih enggan menceritakan kepada siapa-siapa tentang suara tanpa rupa yang sering terdengar di telinganya secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Yuh Mas, berangkat. Abah ikutkan?" Sela Kosim.


"Iya Sim, ngopi di kebun enak tuh," kata Abah Dul.


"Saya ambil cangkul di samping dulu. O iya sekalian bawa termos sama kopinya Sim." Ujar Mahmud.


Setelah semuanya siap, ketiganya pun melangkah beriringan menuju kebun cabai milik Mahmud yang berada diseberang jalan raya.


......................


Masih dihari ke-11 melawan perjanjian gaib. Dalam tiga hari ini tidak lagi terjadi gangguan-gangguan siluman monyet. Tak seperti seminggu yang lalu hampir setiap hari berjibaku meladeni mahluk gaib.


Tiga hari tak ada teror rasanya seakan-akan membuat suasana cemas dan panik terlupakan. Namun suasana yang berganti tenang dan penuh keceriaan tersebut sekonyong-konyong membuat semuanya terlena dan mengira tidak ada lagi gangguan monyet siluman.


Siang ini, meski matahari sudah mulai meninggi tetapi semilir angin di perkebunan tak membuat udara panas atau gerah. Posisi gubuk yang berada dibawah pohon mangga walau tak besar tetapi daunnya cukup rindang cukup menaunginya dari matahari. Suara nyanyian-nyanyian burung liar pun menjadi irama alam yang kian menambah asrinya suasana.


Mahmud, Abah Dul dan Kosim duduk santai di gubuk kebun cabai sambil menikmati kopi dan gorengan pisang yang dibeli di jalan tadi. Terhampar didepannya pemandangan kebun cabai yang luas.


"Bah, saya turun dulu ya," kata Mahmud setelah menyeruput kopinya.


"Saya bantuin apa Mas?" Ujar Kosim disela-sela makan pisang goreng.


"Temani Abah Dul aja Sim. Ini juga sebentar cuma memperlebar saluran air aja." Sergah Mahmud sambil berlalu melangkah meninggalkan Abah Dul dan Kosim.


Seperginya Mahmud, Kosim menggeser duduknya ke sudut agar bisa sandaran menghadap lurus hamparan kebun cabai yang sudah mulai memerah.


"Bah saya boleh nanya nggak?" Tanya Kosim memecah keheningan setelah Mahmud pergi.


"Tanya apa dulu nih," jawab Abah Dul bermalas-malasan menanggapinya.


"Serius ini Bah. Asli pengen nanya," kata Kosim meyakinkan.


"Saya pernah lihat tayangan televisi kalau orang yang mati suri itu katanya indra keenamnya terbuka dengan sendirinya. Bener begitu Bah?" Tanya Kosim.


Abah Dul mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Kosim. Tumben Kosim ngomongin hal yang berbau spritual.


"Ya kebanyakan seperti itu Sim, kenapa?" Abah Dul balik nanya.


"Dengan seizin Allah, seseorang bisa saja tiba-tiba memiliki kemampuan seperti itu Sim setelah mengalami mati suri. Apa kamu sekarang bisa melihat mahluk gaib?" Ujar Abah Dul.


"Ya nggak sih Bah," timpal Kosim.


Kosim terlihat ragu-ragu ingin menceritakan tentang suara tanpa rupa. Ia terdiam beberapa saat lamanya diselingi isapan rokok ditangannya.


"Sepertinya kamu memendam sesuatu rahasia. Sebenarnya kamu kenapa?" Tanya Abah Dul penasaran.


"Apa kamu sekarang bisa melihat mahluk gaib?" Tanya Abah Dul lagi.


"Belum tau sih Bah. Cuma sepulangnya dari rumah sakit itu telinga saya kadang sering mendengar suara tapi nggak ada orangnya," terang Kosim.


Abah Dul terdiam, ada raut ekspresi keterkejutan di wajahnya.


"Maksudnya suara tanpa rupa, Sim? Selidik Abah Dul.


"Ya seperti itulah Bah. Tapi yang membuat saya heran bukan hanya suara tanpa rupa saja, setelah suara itu muncul perasaan saya mendadak menjadi berani. Itu saya alami tadi pagi saat hendak ke rumah teman," tutur Kosim.


"Berani gimana maksudnya Sim," tanya Abah Dul.


Kosim pun menceritakan kejadian perampokkan didalam angkot sewaktu dalam perjalanan menuju rumah temannya tadi pagi. (*baca episode sebelumnya)


Ditengah-tengah Kosim bercerita, tiba-tiba bicaranya mendadak berhenti. Telinganya mendengung lalu disusul muncul suara begitu jelas dan dekat di telinganya.


"Mahmud dalam bahaya. Ada ular kobra ĸidekatnya."


Kosim terlonjak kaget setelah mendengar suara tanpa rupa itu. Ia bergegas loncat dari tempatnya duduk dan berlari kearah Mahmud.


"Sim, ada apa?!" Seru Abah Dul kaget dan kebingungan dengan tingkah Kosim.


"Mas Mahmud dalam bahaya Bah!" teriak Kosim sambil menyambar parang yang tergeletak dipinggir gubuk.

__ADS_1


Kosim berlari dan meloncat meniti galangan tanah menuju dimana Mahmud sedang mencangkul.


Sementara itu Abah Dul yang masih bingung dengan ucapan Kosim kontan bergegas menyusul mengikutinya.


"Mas, Mas Mahmuuuuud.... Maaaas..!" Teriak Kosim sambil berlari di galangan tanahq setapak.


Posisi Mahmud yang berada agak ke tengah sepertinya tak mendengar teriakkan Kosim. Ia terus saja mengayunkan cangkulnya.


"Mas Mahmuuuuud.... Masssss!" Kosim mulai mendekat.


Kali ini Mahmud menoleh dan nampak keheranan melihat Kosim berlari tergesa-gesa kearahnya.


"Ada apa Siiim..!" Seru Mahmud menghentikan mencangkulnya.


"Diam disitu Mas. Jangan bergerak, ada ular!" Teriak Kosim.


Meski kebingungan dan heran, Mahmud menuruti perkataan Kosim. Ia pun spontan celingukkan melihat sekelilingnya.


"Astagfirullah!" Teriak Mahmud kaget bukan kepalang sampai tersurut dua langkah kesamping kanan.


Tiga langkah disebelah kirinya Mahmud melihat dengan jelas ada seekor ular kobra lumayan besar sedang mendiktenya.


Kosim pun datang dengan nafas terengah-engah dan langsung menarik tangan Mahmud menjauhkannya dari ular tersebut hingga keduanya sama-sama terjerembab kedalam lumpur.


"Mana ularnya Sim?!" Seru Abah Dul datang dengan nafas ngos-ngosan.


"Itu Bah dibawah tanaman cabai sebelah kiri!" Kosim menunjuk dengan parang yang digenggamnya.


"Astagfirullah..!" Teriak Abah Dul ngeri melihatnya.


Tubuh ular kobra sebesar lengan orang dewasa itu melingkar sedangkan kepalanya mengembang besar berdiri tegak, lidahnya menjulur-julur keluar masuk siap menyerang.


Kosim tiba-tiba melangkah mendekati ular kobra itu. Keberaniannya mendadak muncul menggerakkan hatinya untuk menangkap ular itu tanpa merasa takut sedikit pun.


"Sim, jangan Sim!" Seru Mahmud sambil meraih lengan Kosim.


"Jangan Sim, bahaya!" Teriak Abah Dul.


Upaya Mahmud meraih tangan Kosim terlambat, Kosim sudah lebih dulu melangkah sehingga tangan Mahmud hanya meraih tempat kosong.


Mahmud dan Abah Dul hanya bisa melihatnya ngeri mengiringi langkah Kosim mendekati ular kobra yang sudah siap mematuk.


"Awas Siiiim!" Teriak Mahmud melihat ular kobra itu tiba-tiba bergerak cepat menyambar kaki Kosim yang hanya mengenakan celana pendek.


Mahmud dan Abah Dul menyaksikan langsung ular kobra itu menggigit betis Kosim didepan matanya.


Sayangnya teriakkan Mahmud terlambat dan Kosim pun sama sekali tidak menyadarinya. Ular Kobra itu dengan ganas mematuk dan menggigit kaki Kosim lalu menggelosor lari dengan cepat diantara tanaman-tanaman cabai.


Mahmud dan Abah Dul yang mengetahui dengan jelas ular kobra itu menggigit kaki Kosim langsung hiateris dan panik bukan main.


Tetapi lain halnya dengan Kosim, ia malah celingukkan mencari-cari larinya ular kobra. Nampaknya Kosim tidak merasakan gigitan ular kobra sama sekali.


Beberapa saat lamanya Kosim masih mencari-cari ular kobra diantara tanaman cabai. Melihat Kosim masih berdiri, kepanikan Abah Dul dan Mahmud berangsur-angsur berubah jadi keheranan.


Harusnya dalam hitungan detik tubuh Kosim sudah ambruk dan membiru akibat bisa ular kobra yang dikenal sangat mematikan.


Akan tetapi melihat Kosim masih tegak melangkah mencari-cari ular kobra.


"Wah, nggak ketemu. Cepat banget larinya," seru Kosim tanpa dosa.


Kosim pun kembali ke tempat dimana Mahmud dan Abah Dul yang sedang termangu-mangu sambil menatap Kosim tak henti-hentinya.


"Kenapa sih, Bah, Mas...?" Ujar Kosim yang tidak mengetahui keheranan Abah Dul dan Mahmud.


"Kamu nggak apa-apa Sim?" Tanya Mahmud sambil melihat-lihat betis Kosim yang penuh lumpur.


"Nggak apa-apa Mas. Emang kenapa dengan saya?" Kosim malah balik nanya.


"Sebentar Sim," Abah Dul yang sedari tadi memperhatikan Kosim langsung mengguyurkan-guyurkan air yang di cibuk dengan telapak tangannya dari kubangan didekatnya.

__ADS_1


Setelah bersih dari lumpur, Abah Dul dan Mahmud melihat dengan jelas betis Kosim tidak ada luka gigitan sama sekali. Padahal jelas-jelas menyaksikan ular kobra itu beberapa detik menggigit dan menggelayut di betis Kosim.


......................


__ADS_2