Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
DIUJUNG WAKTU 3


__ADS_3

Di belangkar kedua, petugas rumah sakit itu perlahan- lahan membuka kain yang menutupi bagian wajah jenazah. Gus Harun dan Abah Dul menatap lekat- lekat raut wajah pucat dibalik kain yang mulai tersingkap tanpa berkedip sedikit pun.


“Astagfirullah! Ini juga bukan saudara kami!” pekik Gus Harun.


Kedua polisi yang menyaksikan reaksi dari Gus Harun dan Abah Dul pun terlihat bingung. Bagaimana bisa kedua korban kecelakaan itu bukan orang yang dikenal oleh saudaranya?


“Tapi bapak- bapak, dua kartu identitas yang kami temukan di T K P itu tertera nama Muhamad Basyari warga Jawa timur dan Ahmad Baharudin tercatat warga Kutai Kalimantan Timur,” kata petugas polisi yang usianya lebih muda.


“Benar bapak- bapak, identitas kedua korban yang kami temukan hanya dua itu yang tercecer bersama dua tas ransel di jok tengah bersama korban yang ini,” timpal polisi berusia setengah baya meyakinkan.


“Tapi pak, dua korban meninggal ini bukan saudara kami yang kami maksud. Wajahnya sangat berbeda tidak ada satu pun kemiripannya sama sekali baik orang yang bernama Baharudin atau pun Basyari,” sergah Gus harun.


“Iya pak kami sangat mengenal saudara –saudara kami itu. Apalagi setelah melihat mobilnya pak di tayangan televisi, saya tahu betul itu mobil yang di punyai Basyari pak,” timpal Abah Dul meyakinkan.


“Apakah mungkin nama dan alamat pada kartu tanda penduduk itu hanyalah sebuah kemiripan saja dengan saudara- saudara yang bapak maksud ya pak?” tanya petugas polisi setengah baya.


“Mungkin bisa jadi seperti itu pak. Tapi kami penasaran, apakah diijinkan kalau kami melihat kartu identis yang ditemukan, apakah bisa pak?” tanya Mahmud.


Mahmud menanyakan itu setelah ia mencermati situasi yang terjadi tersebut ia menemukan adanya suatu kejanggalan. Jika melihat keyakinan pada Gus Harun dan Abah Dul sebelumnya, keduanya merasa sangat yakin sekali kalau nama- nama itu merupakan sahabat- sahabatnya. Apalagi Abah Dul yang sangat hafal dengan kendaraan yang terlibat kecelakaan itu merupakan milik Basyari.


‘Baik, baik bapak- bapak. Biar jenazah korban kecelakaan ini untuk sementara di simpan di sini dulu, jika dalam jangka waktu yang telah ditentukan belum juga ada keluarga yang mengakuinya maka jenazah akan di kuburkan. Sekarang bapak- bapak ikut kami ke kantor Polres, karena kasusnya di tangani kami disana,” kata petugas polisi paruh baya.


“Baik pak, mari…” balas Gus Harun dan diangguki Abah Dul dan Mahmud.


Sesaat kemudian polisi paruh baya itu nampak berbicara dengan salah satu petugas rumah sakit yang mendorong blangkar pertama. Lalu setelah itu kedua polisi mengajak Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud melangkah pergi meninggalkan lokasi I G D menuju kantor Polres.


Sepanjang perjalanan menuju Polres, Gus Harun, Abah Dul serta Mahmud yang duduk di kursi tengah saling membisu, pandangannya menatap lurus ke jalan mengikuti mobil polisi didepannya. Ketiganya tenggelam kedalam pikirannya masing- masing memikirkan kejadian barusan di rumah sakit.

__ADS_1


Pikiran mereka dipenuhi beragam pertanyaan seputar dua jenazah korban kecelakaan yang di identifikasi bernama Basyari dan Baharudin. Namun pada kenyataannya dua nama itu tidak sesuai dengan orang yang mereka kenal.


“kok bisa sama persis namanya ya?” tanya Gus Harun memecah kebisuan.


“Iya Gus, ini sangat aneh, kalau melihat mobil serta nama- nama korbannya itu saya yakin benar itu Basyari tapi kenapa orangnya lain?” ujar Abah Dul.


“Ini benar- benar susah dicerna dengan akal. Kalau itu benar mobilnya Basyari serta K T P nya juga nama Basyari kenapa ada pada orang itu?” gumam Gus Harun.


“Satu- satunya jalan untuk memastikan kebenarannya kita lihat foto di K T P nya nanti. Ya, ane berharap sih hanyalah suatu kebetulan saja ada kesamaan nama bukan K T P nya Basyari dan Baharudin sahabat- sahabat


kita,” kata Abah Dul.


“Tapi Dul, bagaimana jika foto K T P nya benar- benar Basyari dan Baharudin?” tanya Gus Harun.


“Haaahhh… kalau seperti itu secara logikanya tidak mungkin Gus, pasti fotonya juga lain bukan foto Basyari dan Baharudin.


“Jam berapa sekarang?” sambung Gus Harun menoleh kearah Abah Dul yang duduk di jok tengah.


“Mau jam lima Gus,” sahut Abah Dul.


Tak terasa hari tampak semakin sore ketika mobil yang dikemudikan Mahmud yang mengekor mobil polisi memasuki halaman parkir kantor kepolisian Resort Purwokerto. Setelah memarkirkan mobil, ketiganya bergegas turun lalu berjalan kearah dua polisi yang sudah menunggunya di depan pintu masuk.


“Bapak- bapak silahkan tunggu di kursi itu dulu, kami mau melaporkannya dulu ke pimpinan,” kata petugas polisi paruh baya sambil menunjuk kursi tunggu.


“Baik pak, silahkan,” sahut Gus Harun mewakili kedua temannya.


Dua orang polisi itu sesaat berbincang dengan petugas jaga yang duduk di meja yang bertuliskan Layanan Aduan, lalu keduanya pun bergegas pergi memasuki ruangan lain.

__ADS_1


Tak beberapa lama, salah satu dari dua petugas tadi muncul dan menghampiri Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud. Petugas polisi yang berusia muda itu mengajak ketiganya untuk mengikutinya memasuki salah satu ruangan.


Didalam ruangan ber AC terdapat empat petugas polisi yang dua diantaranya adalah polisi yang bertemu di rumah sakit. Mereka sudah menunggu kedatangan Gus Harun, Abah Dul serta Mahmud duduk di kursi tamu. Setelah menyalami keempat petugas polisi, Gus Harun dan dua temannya dipersilahkan duduk.


“Apa betul bapak- bapak ini sebelumnya mengenal nama- nama dari dua orang korban kecelakaan itu?” tanya seorang polisi yang menangani kasus kecelakaan.


“Betul pak, kami awalnya melihat berita itu dari televisi. Setelah melihat mobil yang kecelakaan itu serta nama- nama korban yang disebutkan, kami sangat meyakini betul jika dua nama korban itu saudara- saudara kami pak,”


jawab Gus Harun.


“Lalu menurut laporan rekan saya ini, katanya dua korban itu bukan orang yang bapak –bapak kenal? Apakah bapak- bapak tidak salah lihat?” tanya petugas.


“Tidak pak, kami sangat mengenal betul wajah nama Basyari maupun Bahrudin saudara kami itu pak,” jawab Gus Harun.


“Ini barang- barang yang kami temukan di dalam mobil korban yang teridentifikasi berdasarkan K T P yang kami temukan. Coba bapak- bapak lihat foto di K T P – K T P ini,” kata petugas menyodorkan dua buah K T P.


Gus Harun dan Abah Dul segera mengambil masing- masing satu kartu identitas yang diberikan petugas polisi itu. Lalu pandangan mata keduanya langsung tertuju pada foto yang terpampang di dalamnya.


“I, ini benar Baharudin saudara kami pak!” pekik Gus Harun seketika tangannya gemetaran.


“Ini juga benar Basyari!” seru Abah Dul.


Mahmud sendiri langsung mengucapkan Innalillahi sambil menutup mulutnya. Sementara empat petugas polisi mengerutkan keningnya saling berpandangan satu sama lain.


“Aneh sekali…” gumam polisi yang menanyai Gus Harun dan dua temannya sebelumnya.


“Tapi pak, dua jenazah korban kecelakaan itu bukanlah saudara- saudara kami seperti yang di K T P ini,” tegas Gus Harun.** BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2