
“Awas kalian! Terutama anak kecil itu! Pasti akan ada yang menjemput paksa nyawamu!” teriak pak Bekel ketika melintas meja petugas penerima laporan sedang dibawa menuju ke ruang tahanan oleh tiga orang petugas.
Hasan, Dewi serta Arin spontan saling bertatapan satu sama lain mendengar ancaman dari pak Bekel. Di dalam benak mereka saling menggantungkan pertanyaan yang sama.
"Kenapa pak Bekel sangat dendam sekali dengan Dede?"
Dewi, Arin dan Hasan hanya bisa melongo sambil menatap berlalunya pak Bekel yang di bawa petugas memasuki
ruangan lain.
Petugas yang ada di hadapannya yang sedang meminta keterangan dari Hasan, Dewi dan Arin tampak tersenyum saja, baginya adalah hal yang sudah biasa dia dengar ketika pelaku kejahatan tertangkap lalu bertemu dengan korbannya. Namun petugas tersebut tidak mengetahui maksud yang sebenarnya dari balik kalimat ancaman dari pak Bekel, yang ada di pikirannya hanyalahdugaan karena aksi kejahatannya dapat di gagalkan oleh korbannya.
Sekitar 15 menitan laporan pun selesai kemudian Hasan, Dewi, Arin dan Dede pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya menuju desa Sukadami mengantarkan Dewi, Arin dan Dede pulang.
Mobil Terios silver keluar dari halaman kantor polisi sektor atau polsek lalu melaju di jalan utama menuju desa Sukadami. Hasan, Dewi dan Arin tampak sudah dapat bernafas lega setelah melalui ribetnya urusan yang dibuat oleh para pelaku kejahatan, namun mereka masih tak habis pikir dengan aksi percobaan perampokkan yang dilakukan oleh pak Bekel. Beragam pemikiran dugaan- dugaan pun berseliweran didalam kepala mereka menemani sepanjang perjalanan.
“Apakah pak Bekel itu dendam dengan Dede karena kejadian di rumah ya?” tanya Hasan mengira- ngira.
“Bisa jadi mas, selain dipermalukan dihadapan kepala desa langsung dia juga kan dipecat saat itu juga,” timpal Dewi.
“Tapi mbak, justru yang masih menjadi ganjalan di pikiran saya dengan ucapan pak Bekel sewaktu di kantor polisi tadi. Dia mengatakan ‘Terutama anak kecil itu! Pasti akan ada yang menjemput paksa nyawamu’ apa maksudnya ya mbak?” tanya Arin menyela.
“Kamu benar Rin, wah ini sepertinya bukan Cuma sekedar ancaman biasa. Soalnya sudah berkaitan dengan nyawa,” ujar Dewi.
“Atau jangan- jangan ini ada kaitannya dengan putrinya mang Yono?!” sergah Hasan.
“Hmm, tapi apa hubungannya dengan pak Bekel?” tanya Dewi mengerutkan dahinya.
“Iya juga ya,” gumam Hasan mengurut- urut dahinya, ia merasakan kepalanya pusing memikirkannya.
Ketiganya saling diam sibuk dengan dugaan- dugaan yang berkecamuk didalam pikirannya masing- masing. Sampai akhirnya tak ada lagi suara Dewi maupun Arin yang memperbincangkan pembahasan tentang ancaman pak Bekel. Beberapa saat lamanya Hasan baru menyadari tak ada lagi suara –suara dari Dewi ataupun Arin.
“Hmm, mereka sudah lelap rupanya,” ucap Hasan dalam hati. Hasan pun fokus menatap jalan lurus di depannya.
**
__ADS_1
Sementara itu di kantor polisi, sekitar 30 menit kemudian setelah Hasan, Dewi dan Arin meninggalkan kantor
polisi datang dua orang laki- laki dan perempuan berusia sekitar 40 tahunan. Nampaknya kedua orang tersebut merupakan suami istri, penampilan lelakinya terlihat perlente tingkat kecamatan. Memakai kaca mata hitam, jam tangan berwarna gold entah hanya warnanya saja atau memang asli gold namun yang jelas penampilannya
menunjukkan jati dirinya sebagai orang kaya.
Sedangkan penampilan istrinya juga tak kalah mencoloknya. Tubuhnya sintal dengan dress stelan berwarna hitam, dipadukan dengan sepatu hak hail tinggi. Kedua tangannya dipenuhi dengan gelang- gelang hingga setengah lengan, jari- jarinya dipenuhi dengan kilauan cincin- cincin berwarna gold persis toko mas berjalan. Tangan kanannya setengah terangkat karena menenteng tas yang kelihatannya mahal, tangan kirinya terayun- ayun norak saat berjalan.
“Selamat saiang bapak, ibu. Ada yang bisa kami bantu?” sapa petugas yang sebelumnya menerima laporan Hasan, Dewi dan Arin.
“Ya selamat siang, bisa saya ketemu dengan Parto?” sahut perempuan dengan angkuh.
“Maaf sebelumnya, ibu ada keperluan apa dengan pimpinan kami?!” tanya petugas yang sebelumnya ramah seketika terlihat geram.
“Bilang saja ada Suryani! Ibu Suryani!” balas perempuan itu ketus.
“Silahkan duduk dulu ibu Suryani dan bapak…?” kata petugas memendam kekesalannya.
“Sumar! Bapak Sumar! cepat panggilkan Parto!” jawab lelaki itu ketus.
Berselang beberapa saat kemudian petugas jaga tadi muncul kembali bersama dengan seorang polisi lainnya yang tak lain adalah pimpinannya.
“Mbak Yani… mas Sumar, apa kabar? Mari, mari masuk ke ruangan saya saja biar lebih enak ngobrolnya, yuk…” sapa pimpinan.
“Bagaimana sih To anak buahmu itu, masa dia tidak tahu dengan kita ya pak ya?” ujar ibu Suryani menoleh pada pak Sumar.
“Iya tuh bikin tambah kesel saja!” tukas pak Sumar.
“Sudah, sudah maklum dia hanya menjalankan tugasnya saja. Dia kan belum kenal dengan orang terkaya dari Bojong Sirih, heheheh…” ujar pimpinan. Kemudian berjalan menuju ruangannya diikuti oleh bu Suryani dan pak Sumar.
Ketika berjalan menuju ruangan Kapolsek tiba- tiba terdengar suara teriakan dari sisi kiri memanggil nama suami istri
tersebut.
“Pak Sumar! Ibu Yani! Hey..! keluarkan saya!” teriak suara dari dalam ruang tahanan yang tak terlalu besar.
__ADS_1
Kontan saja pak Sumar dan bu Yani menoleh kearah sumber suara seketika menghentikan langkahnya. Pak Kapolsek pun turut menghentikan langkahnya lalu menoleh pada seorang tahanan yang berdiri memegang jeruji besi.
“Mas Sumar dan mbak Yani kenal?!” tanya Kapolsek.
“Justru kita kesini ya karena dia To,” sahut bu Yani ketus.
“Oh jadi pak Bekel ini orangnya mbak Yani?!” tanya Kapolsek kaget.
“Ya iyalah To, ini orang bikin repot saja!” sungut bu Yani mendelik pada pak Bekel.
Di tatap seperti itu pak Bekel hanya cengengesan saja. Wajahnya tak lagi muram, pak Bekel terlihat sumringah dengan kedatangan pak Sumar dan bu Yani.
“Sudah To keluarkan dia sekarang, saya masih ada urusan lain!” kata pak Sumar.
“Waduh, kalau dikeluarkan sekarang saya khawatir ada yang melihatnya mas. Wah bisa
hancur karirku,” sergah Kapolsek.
“Hallah! Karir, karir… udah cepat bu,” kata pak Sumar memberi kode pada istrinya.
Bu Yani langsung membuka tasnya dengan hati- hati lalu memasukkan tangannya kedalam tas. Sepasang mata Kapolsek nampak berbinar- binar melirik tangan bu Yani yang sedang merogoh sesuatu didalam tas tangannya. Lalu tak lama kemudian, tangan bu Yani keluar dari dalam tas dengan menggenggam segepok uang ratusan ribu.
“Ini ambil To,” ucap bu Yani mengulurkan segepok uang.
“A, apa ini mbak?” tanya Kapolsek pura- pura tak mengerti.
“Sudah cepat keluarkan dia dan tiga temannya!” tukas pak Sumar.
Seperti kerbau dicucuk hidungnya, Kapolsek yang berusia muda itu menuruti perintah pak Sumar. Ia kemudian merogoh saku celananya mengambil kunci yang sudah disiapkan sebelumnya saat bawahannya memberitahukan kedatangan pak Sumar dan bu Yani.
“Tapi nanti keluarnya jangan lewat pintu depan ya mbak, mas. Lewat pintu belakang saja, mobilnya biar diparkir di
belakang,” pinta Kapolsek.
“Ya sudah,” tukas pak Sumar kemudian segera keluar meninggalkan mereka untuk memarkirkan mobilnya ke belakang.*
__ADS_1
BERSAMBUNG