Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
MEMBURU KAJIMAN


__ADS_3

Kosim yang kini disebut sebagai mahluk Kajiman sedang dalam perburuan para siluman monyet. Pencarian terhadap Kajiman di lakukan ke berbagai tempat dengan mengerahkan seluruh bala bantuan mahluk-mahluk siluman yang menjadi sekutunya. Sementara puluhan siluman monyet di tugaskan mengawasi sekitar rumah Mahmud dimana pertama kali diketahui Kajiman muncul. Mahluk Kajiman sendiri tidak menyadari kalau dirinya sudah diketahui kemunculannya dan sedang menjadi incaran para prajurit siluman monyet.


Bulan Purnama masih menampakkan bulatan penuhnya di malam ke tiga meski tidak nampak sebesar pada hari pertamanya. Namun cahaya kuning keemasannya masih bersinar terang menyinari desa Sukadami. Mahluk Kajiman terlihat melayang-layang di halaman depan rumah Mahmud menghadap rumah itu sudah sejak selepas magrib. Di teras depan Abah Dul dan Mahmud masih membicarakan tentang keanehan Kosim yang merasuki Dahlan sore tadi.


Tanpa ada satu pun yang mengetahui ada dua sosok sedang mengawasi Abah Dul, Mahmud dan Kajiman dari atas rerimbunan pohon jambu air yang ada di halaman depan sedikit menyamping.


“Cepat laporkan kemunculan Kajiman, untuk kita lakukan selanjutnya!” ucap salah satu mahluk berbulu hitam tebal.


“Baik Anggada Gozhi!” sahut mahluk satunya kemudian mahluk itu melesat keatas lanit dan lenyap seketika.


Sekelebatan cahaya merah yang melesat cepat itu sekilas terlihat oleh Abah Dul karena posisi duduknya sedikit menghadap ke arah pohon jambu air. Abah Dul melihatnya beberapa detik saja sehingga tidak begitu diperhatikannya lagi.


“Apa bisa Bah, arwah orang yang sudah meninggal itu merasuki manusia?” tanya Mahmud setelah menyeruput kopinya.


“Sebetulnya kalau manusia yang sudah meninggal itu arwahnya berada di alam Barzah atau alam kubur, Mud...” jawab Abah Dul.


“Tapi saya lihat Kosim keluar dari tubuh Dahlan Dul,” sergah Mahmud.


“Ada dua kemungkinan Mud, yang pertama biasanya itu perbuatan jin-jin pendamping Kosim sehingga segala bentuk dan tindak-tanduknya ya sama persis. Dan kemungkinan kedua Kosim menjadi golongan arwah yang belum masuk ke alam Barzah atau yang di sebut mahluk Kajiman,” terang Abah Dul.


“Mahluk Kajiman?! Perasaan seperti pernah dengar tentang sosok Kajiman saat di pesantren dulu tapi saya lupa Dul,” sergah Mahmud.


“Ya intinya mahluk Kajiman ini diantaranya arwah yang tidak bisa masuk ke alam kubur akibat perbuatan semasa hidupnya. Kebanyakan disebabkan meninggal karena bunuh diri atau menjadi pengabdi iblis,” ungkap Abah Dul kemudian menyalakan sebatang rokok yang sudah terselip di bibirnya.


“Astagfirullah! Apakah Kosim....” Mahmud tak melanjutkan kalimatnya, ia tertegun mengingat Kosim.


“Astagfirullah! Ane baru sadar Mud, jangan-jangan Kosim salah satu mahluk Kajiman itu,” timpal Abah Dul.


"Itu dia Dul," ujar Mahmud.


Baru saja Abah Dul mengucapkan itu tiba-tiba Abah Dul dan Mahmud merasakan getaran pada lantai tempatnya duduk. Wajah kedua sama-sama terperangah sesaat kemudian saling berpandangan penuh pertanyaan.


“Kenapa ini bah?!” Seru Mahmud.

__ADS_1


“Nggak tau Mud, apakah gempa ya?” Ujar Abah Dul.


Tak jauh dari tempat duduk Abah Dul dan Mahmud, di halaman depan rumah yang tak terlihat pandangan mata biasa, dua kilatan cahaya merah meluncur deras secara bersamaan menghantam pada sosok Kosim yang berdiri yang melayang di halaman rumah.


“Ayo tangkap Kajiman itu!” teriak salah satu mahluk berbulu lebat turun melesat dari atas dan berdiri di hadapan sosok Kosim.


“Lagi-lagi kalian siluman monyet sialan!” pekik sosok yang di panggil Kajiman tersurut mundur.


Dua cahaya yang menghantam sosok Kajiman seketika berpendaran saat mengenai kepala Kajiman. Empat siluman monyet terkesiap bukan main mendapati sasarannya hanya tersurut mundur dan tidak mengalami efek luka apapun.


Empat siluman monyet muncul di hadapan Kajiman dengan menggenggam senjata di tangannya masing-masing. Senjata dua pedang dan dua tongkat hitam dari empat monyet siluman itu secara bersamaan langsung menyerang Kajiman kembali.


Kajiman kembali terkesiap membelalakan matanya karena dirinya belum siap menerima serangan mematikan itu. Hanya sepersekian detik senjata-senjata itu mengenai tubuh halusnya, seketika Kajiman lenyap dari tempatnya.


Traang!!!


Keempat senjata saling beradu di tempat kosong. Suaranya kembali menimbulkan getaran-getaran halus.


“Astagfirullah! Getaran apa ini Bah?!” seru Mahmud beringsut dari duduknya.


Abah Dul segera merubah duduknya menjadi bersil, tangannya di letakkan di ujung kedua lutut lalu segera memjamkan matanya.


“Kurang ajar! Kemana dia?!” seru salah satu siluman monyet.


“Hay, jangan kabur kau Kajiman!” timpal siluman monyet yang lainnya.


Sosok Kajiman tiba-tiba kembali muncul berjarak 5 kaki di belakang empat siluman monyet yang masih kesal dengan menghilangnya sosok Kajiman. Di bibir teras, sukma Abah Dul berdiri melayang-layang memperhatikan pertikaian empat siluman monyet dan Kosim yang wujudnya menyerupai kabut. Dia masih berpikir apakah dirinya membantu Kosim ataukah menunggu saat yang tepat jika Kosim tidak mampu melawannya.


Namun niat Abah Dul sebelumnya ingin menonton saja seketika berubah manakala empat siluman monyet melihat kehadirannya. Dua siluman monyet melesat merangsak menyerang sukma Abah Dul dengan pedang dan tongkat yang diarahkan lurus menyasar bagian dada sukma Abah Dul. Sedangkan dua siluman monyet lainnya menyerang Kosim yang mereka sebut-sebut sebagai mahluk Kajiman.


Wuuussshhh!


Satu tusukkan tongkat hitam legam hanya mengenai tempat kosong bersamaan tubuh sukma Abah Dul berkelit memiringkan tubuhnya ke sisi kanan.

__ADS_1


Wuuussshhh!


Satu tusukkan lagi datang dari pedang menyasar arah berlawanan tepat ketika tubuh sukma Abah Dul bergerak ke kanan. Secepat kilat sukma Abah Dul bergerak mundur dua langkah dari tempatnya sehingga tusukkan pedang itu hanya mengenai udara kosong.


Sementara Kosim kali ini nampaknya sudah siap menerima serangan dua siliman monyet itu langsung menghentakkan kaki kanannya ke tanah bersamaan membuat gerakkan mendorongkan kedua telapak tangannya mengarah pada dua siljman monyet yang merangsak dengan pedang dan tongkat terhunus mengarahnya.


Duaaaarrrr!!!


Suara ledakkan terdengar keras disertai getaran ketika deru angin berwarna perak keluar dari kedua telapak tangan Kosim menghantam telak tubuh kedua monyet siluman yang sedang meloncat kearahnya.


Seketika tubuh besar dua siluman monyet itu terpental jauh diiringin suara teriakkan melengking yang terdengar semakin menjauh.


“Aaaaaaaaakkkkkhhhh....”


“Aaaaaaaaakkkkkhhhh....”


Abah Dul yang bari saja lolos dari dua serangan langsung terkesiap. Di hadapannya ia melihat Kosim mampu menghajar dua siluman monyet sekaligus. Dirinya terpicu untuk melakukan hal yang sama seperti yang di lajukan oleh Kosim. Dengan satu tarikan nafas, sukma Abah Dul langsung membuat gerakkan mengibaskan tangan kanannya sebanyak dua kali berturut-turut. Seketika kilatan cahaya membentuk ilusi tombak bermata dua melesat dari kibasan itu melesat berputar-putar-putar mengarah pada dua siluman monyet yang sedang ternganga menyaksikan dua tamannya terpental menjauh dan tak kembali lagi.


Ketika kedua monyet kembali mengalihkan pandangannya pada sukma Abah Dul, senjata ilusi dua tombak mata kembar sudah nampak di depan matanya.


Jleeebbb!!!


Jleeebbb!!!


Dua senjata ilusi tombak mata kembar itu tanpa ampun melesat menerobos dada kedua monyet siluman tanpa bisa menghidarinya.


“Aaaaaakkkhhh!!!”


“Aaaaaakkkhhh!!!”


Dua teriakkan memekik saling susul menyusul terdengar menyayat bersamaan tubuh dua siluman monyet itu terkoyak bolong oleh senjata tombak mata kembar berbentuk ilusi dari sukma Abah Dul. Sedetik kemudian dua tubuh siluman monyet itu lenyap dari tempatnya. Kini di alam hampa itu hanya ada sukma Abah Dul dan Kosim berwujud arwah yang telah menjadi sosok mahluk Kajiman.


Sukma Abah Dul menoleh ke arah Kosim setelah dua monyet siluman itu menghilang dari hadapannya. Kosim pun reflek menoleh lalu menyunggingkan senyuman kaku lalu langsung melesat keatas dan lenyap dari pandangan sukma Abah Dul.

__ADS_1


......................


__ADS_2