Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
PENENTUAN 4


__ADS_3

Teriakkan Kosim terdengar penuh emosional menggema seantero ruangan tahanan arwah yang sangat luas tersebut. Dan teriakkan itu pula yang menyudahi perbincangan Abah Dul dengan Raja Kajiman.


“Mari kita bantu mencari putranya Kosim!” kata Gus Harun.


“Maaf Gus, ciri- cirinya seperti apa?” tanya Bsyari.


“Iya Gus, seperti apa anaknya?’ timpal Baharudin.


Gus Harun seperti baru tersadar kalau Basyari, Baharudin, tuan Denta dan Raja Kajiman belum mengetahui putranya Kosim yang bernama Dede. Namun Gus Harun sedikit kebingungan untuk menjelaskan ciri- ciri anak tersebut.


“Tidak ada ciri khusus, nama panggilannya Dede, anak itu berusia sekitar tiga tahunan,” sela Mahmud melihat


Gus Harun kebingungan menjelaskannya.


“baiklah, mari kita cari…” balas tuan Denta yang diangguki Raja Kajiman.


Segera Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Bahrudin, Mahmud, tuan Denta serta Raja kajiman berpencar menjelajahi ruangan yang penuh dengan arwah- arwah pengabdi kekayaan siluman monyet.


Melihat kemunculan 9 sosok berpakaian prajurit siluman monyet, seluruh arwah yang berada di ruangan tersebut


langsung tersurut mundur ketakutan. Arwah- arwah itu meringkuk berhimpitan dan saling bergerombol satu dengan yang lainnya setiap kali Gus Harun beserta yang lainnya melintasi mereka.


Suara- suara tangisan terdengar memilukan memenuhi ruang tawanan siluman monyet. Entah sudah berapa puluh tahun atau mungkin entah sudah ratusan tahun arwah- arwah tersebut terpenjara ditempat itu.


“Dedeeeee….” Teriak Kosim, suaranya menggetarkan dinding ruangan tahanan.


Kosim mencermati setiap sudut arwah yang nampak begitu ketakutan, hingga tidak ada yang berani melihatnya. Semua para arwah mengira kalau 9 sosok yang penampilannya menyerupai  prajurit –prajurit siluman monyet itu adalah prajurit siluman monyet sungguhan.


Waktu terus berjalan, namun Kosim, Gus harun, Abah Dul dan Mahmud belum juga dapat menemukan Dede. Mereka nampak kesulitan menemukan Dede diantara banyaknya arwah di tempat itu.


Sementara itu disatu sudut paling kiri, sosok arwah anak kecil terlihat meringkuk dengan tubuh menggigil. Kedua matanya sangat sayu hampir menutup tak mampu lagi untuk membuka mata.


“Dedeeeee….!”


“Dedeeeee….!”


“Dedeeeee….!”


Saat mendengar ada suara yang menggema memenuhi ruangan tersebut yang memanggil- manggil namanya, seketika anak tersebut langsung membuka matanya lebar- lebar. Dari sorot matanya yang semula sayu, mendadak berubah menjadi berbinar- binar. Anak kecil itu perlahan- lahan bangkit sambil celingukkan kesana kemari. Dia sangat mengenali suara yang menyebut- nyebut namanya itu.

__ADS_1


“A, ayyy, ayyy ah…!” teriak anak kecil itu namun suaranya terdengar sangat lemah.


Dengan menguatkan hatinya dan mengumpulkan segenap tenaganya anak kecil itu kembali mecoba berteriak menyahut membalas panggilan tersebut.


“Ayaaaaaaahhhhh…!!!” teriak anak kecil itu. Kali ini suaranya keluar dengan lantang dan menggema keseluruh ruangan.


Di tempat lain, Kosim, Gus Harun, Abah Dul, Mahmud, tuan Denta dan Raja Kajiman yang mendengar teriakan dari suara anak kecil, langsung bergerak melesat kearah sumber suara. Mereka melesat melayang diatas kepala


arwah- arwah yang meringkuk.


“Dedeee!” seru Kosim saat melihat putranya berdiri sendiri diantara roh- roh yang lain.


Kosim langsung melesat cepat menuju ke tempat dimana Dede berdiri sambil melambai- lambaikan tangan mungilnya. Disusul Gus Harun, Abah Dul, Mahmud, tuan Denta serta Raja Kajiman.


“Dedeee!” seru Mahmud saat melihat Dede, ia tak dapat menahan rindu pada keponakannya itu.


Kosim yang sudah lebih dulu sampai di tempat Dede, langsung memeluknya dengan erat. Air mata Kosim seketika luruh berderai sambil memeluk putranya. Rasa bersalah yang teramat besar kembali muncul dibenak Kosim, dia begitu sangat menyesali perbuatannya semasa dahulu saat masih hidup.


Diddalam benak Kosim, ingin rasanya dirinya mengulang lagi kehidupannya dan tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Namun semua itu sudah tidak mungkin lagi dapat terulang, semuanya sudah berubah menjalani takdirnya sendiri- sendiri.


Tak lama kemudian Mahmud pun tiba di tempat Dede yang sedang berpelukkan dengan Kosim. Mahmud langsung menubruk anak dan ayah itu, ia memeluk keduanya penuh dengan kerinduan yang teramat sangat. Dede adalah keponakan satu- satunya sekaligus yang dia anggap sebagai putranya sendiri. Mahmud pun tak dapat membendung tangisnya, air matanya luruh sambil memeluk Kosim dan Dede.


“Ayah Mahmud, Dede takuut…” sahut Dede lirih sambil mencengkeram erat ujung baju Mahmud.


“Sekarang Dede tenang yah, ayah Mahmud dan ayah Kosim akan membawa pulang Dede untuk bertemu dengan Mamah Arin dan mamah Dewi,” ucap Mahmud bergetar dalam isak tangisnya.


Suasana haru itu berlangsung beberapa saat, sampai akhirnya Gus Harun harus menyadarkan keharuan pertemuan anak dan putranya tersebut.


“Sudah, sudah… sekarang harus cepat- cepat membawa Dede keluar dari tempat ini,” ucap Gus harun pelan sambil menepuk- nepuk pundak Kosim dan Mahmud.


Kosim dan Mahmud pun perlahan- lahan melepaskan pelukannya terhadap Dede. Kosim berdiri disebelah kanan Dede memegang erat tangan kanan Dede dan Mahmud berdiri disebelah kiri Dede sambil memegang erat tangan kiri Dede.


“Astagfirullah! Saya hampir lupa!” seru Gus Harun.


“Kenapa Gus?!” tanya Abah Dul dan yang lain serempak.


“Kang Mahmud, ente harus pulang lebih dulu kembali ke rumah untuk segera menggali kuburan Dede secepatnya. Mintalah bantuan kepala Desa dan ceritakan kalau ente mendapat mimpi agar membongkar kuburan Dede karena Dede masih hidup,” kata Gus harun.


Gus Harun lupa untuk menjelaskan langkah selanjutnya setelah berhasil menemukan dan membawa arwah Dede. Sebab jika arwah Dede kembali ke jasadnya tetapi kondisi jasadnya dalam kondisi terkubur maka Dede akan benar- benar meninggal karena tak cukup waktu untuk menggali kuburannya untukmengeluarkan tubuh Dede.

__ADS_1


“Tuan Denta saya minta tolong antarkan kang Mahmud pulang,” ucap Gus Harun meminta tolong pada tuan Denta.


“Baik tuan,” sahut tuan Denta.


“Mari tuan Mahmud,” sambung tuan Denta.


“Tunggu tuan Denta, sebaiknya kita sama- sama keluar dari istana ini bersama- sama,” sergah Gus harun.


“tapi tuan, kalau tuan Mahmud tidak pergi sekarang hamba khawatir tidak ada waktu lagi,” sela Raja Kajiman.


“Benar apa yang dikatakan raja Kajiman tuan, sebaiknya hamba dan tuan Mahmud pergi lebih dulu,” timpal tuan Denta.


“Baiklah, kalau begitu berhati- hatilah tuan Denta, kang Mahmud…” ucap Gus Harun.


“Mari tuan Mahmud,” ajak tuan Denta.


“Tuan kami mohon diri, setelah mengantarkan tuan Mahmud hamba akan kembali kesini,” ucap tuan Denta.


“Baik tuan Denta, hati- hati…” balas Gus Harun.


Dalam sekejap tuan Denta dan Mahmud melesat keluar dari ruangan tahanan arwah melewato lorong sebelumnya. Tak lama kemudian Gus harun, Kosim, Basyari, Baharudin dan Raja kajiman pun membawa Dede keluar dari ruangan tersebut.


......................


Di rumah Mahmud,


Desa Sukadami masih tampak dipayungi mendung tebal padahal


hari sudah menjelang pagi. Harusnya cahaya fajar diufuk timur sudah terlihat


semburatnya, namun sudah dua hari ini tak ada cahaya matahari akibat tertutup


awan tebal.


Situasi sudah pagi itu tak dapat membohongi ayam- ayam


jantan, sebab suaranya sudah terdengar saling bersahutan dikejauhan. Suara kokokannya


berbaur dengan suara guntur yang sesekali terdengar menggelegar diirngi kilatan-

__ADS_1


kilatan petir dengan kedipan cahayanya seperti sebuah blits kamera.** BERSAMBUNG


__ADS_2