
Suara ledakkan menggema didalam ruang istana menimbulkan dentuman keras yang menggetarkan dinding- dinding istana. Beruntung lesatan cahaya merah itu tidak mengenai Gus Harun dan hanya menghantam lantai berjarak dua jengkal di depan Gus Harun.
“Masya Allah!” pekik Gus harun tersurut mundur selangkah. Andai cahaya itu tepat mengenai dirinya sudah
dipastikan tubuh Gus harun akan hancur tak berbentuk lagi.
Secara reflek Gus harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin, Kosim, tuan Denta serta Raja Kajiman serentak menoleh
kearah sumber lesatan cahaya tersebut. Seketika mereka termangu ditempat melihat sospk tinggi besar dengan wajah merah padam sedang menatap tajam dengan sorot mata merah menyala.
Sosok tinggi besar tersebut tak lain adalah Raja Kalas Pati tengah berdiri dengan kedua tangan terkepal erat menatap murka kearah Gus harun dan rekan- rekannya. Beberapa detik Gus Harun dan rekan- rekannya termangu menatap Raja Kalas Pati, mereka tak dapat berpikir untuk melakukan apa pun.
“Tuan cepat bawa arwah anak itu, biar aku dan Raja Kajiman yang menahan Kalas Pati!” seru tuan Denta menyadarkan keterkejutan Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin serta Kosim.
Tanpa menunggu jawaban dari Gus Harun dan sahabat- sahabatnya, tuan Denta menoleh sebentar kearah Raja Kajiman dan menganggukkan kepala memberi isyarat lalu melesat cepat ke tengah- tengah ruang utama istana menghadap lurus Raja Kalas Pati disusul Raja Kajiman. Di kedua tangan mahluk beda golongan tersebut sudah terhunus senjata pusakanya masing- masing.
Tuan Denta menggenggam erat pedang besar memiliki cabang pada ujungnya, sedangkan raja Kajiman menggenggam sebilah senjata trisula berwarna kuning emas. Melihat kemunculan mahluk dari golongan
jin dan golongan Kajiman di hadapannya, Raja Kalas Pati nampak kian murka.
“Gggrrrrrkkkkhhhh…!”
Raja Kalas Pati menggeram penuh amarah, dirinya merasa seolah- olah ditantang oleh dua mahluk di hadapannya. Seketika itu juga Raja kalas Pati menghentakkan kakinya yang besar keatas lantai melampiaskan amarahnya yang meluap- luap.
Bummm…!
Seisi istana kembali bergetar hebat oleh hentakkan kaki besar Raja Kalas Pati. Di saat bersamaan muncul cahaya kuning emas di ujung tangan kanannya. Dalam sekejap cahaya kuning emas itu telah menjelma menjadi sebuah tongkat besi berwarna kuning. Dan itulah senjata pusaka andalan Raja Kalas Pati yang dijuluki “Tongkat Penghancur Semesta.”
__ADS_1
Tongkat yang terbuat dari emas tersebut memiliki panjang seukuran dengan tinggi tubuh Raja Kalas Pati atau
sekitar 300 meteran. Batang tongkat emas terlihat indah dan sangat futuristik dipenuhi ukiran- ukiran aneh seperti sebuah ukiran rajah.
Melihat kemurkaan Raja Kalas Pati, semua para wanita yang mendampinginya segera berlarian masuk kedalam lroong istana. Kini di ruang utama istana terlihat hanya ada Raja kalas Pati saja yang tersisa, sedangkan seluruh prajurit istana di perintahkan untuk keluar berperang menghadapi pasukan asing yang menyerang istananya.
Raja Kalas Pati tak mampu berfikir jauh, kalau pasukan yang berada di luar istana itu hanyalah untuk mengalihkan perhatian semata dari strategi yang direncakan Gus Harun agar dalam upaya membawa arwah putra Kosim tak menemui hambatan.
“Haaaaaaahhhh…!”
“Haaaaaaahhhh…!”
Suara teriakkan dari tuan Denta menggema diseisi istana disusul Raja kajiman. Keduanya melesat merangsak maju lebih dekat sekitar 20 langkah di hadapan Raja Kalas Pati. Merasa mendapat tantangan dari mahluk asing, darah Raja Kalas Pati seketika mendidih. Raja Kalas Pati pun melesat terbang menyongsong tuan Denta dan raja Kajiman sambil memukulkan tongkat besarnya.
Wuuussshhhh…!!!
“Cepat kalian keluaaaarrr…!!!” teriak tuan Denta di tengah- tengah menahan deru angin ayunan tongkat emas Raja Kalas Pati.
Gus Harun, Basyari, Baharudin dan Kosim seketika terkesiap seakan- akan disadarkan dari keterkejutannya yang masih termangu melihat serangan Raja Kalas Pati terhadap tuan Denta dan Raja Kajiman.
“Ayo cepat! Kita keluar dari istana ini!” seru Mahmud.
Bersamaan dengan Gus Harun dan yang lainnya bergerak menuju pintu keluar istana, terdengar suara dentuman keras dari arah posisi tuan Denta dan Raja Kajiman berdiri. Gus harun serta 3 sahabatnya tidak menghiraukannya, mereka terus saja bergerak menuju pintu istana.
Suara dentuman bercampur dengan suara dentingan tersebut berasal dari benturan tiga kekuatan besar. Senjata tongkat emas Raja Kalas Pati yang diayunkan memukul tuan Denta dan Raja Kajiman ditahan dengan sapuan pedang besar di tangan tuan Denta dan tongkat trisula milik Raja Kajiman. Bentrokkan ketiga senjata maha sakti itu menimbulkan percikan- percikan api disertai asap mengepul.
Tuan Denta dan Raja Kajiman terdorong dua langkah saat menahan pukulan tongkat yang diayunkan Raja Kalas
__ADS_1
Pati. Melihat dua musuhnya dapat menahan serangan tongkat emasnya, Raja Kalas Pati yang dipengaruhi kondisi mabuk kian menjadi murka. Tanpa menunggu lama. Raja Kalas Pati kembali melancarkan serangannya.
“Ggrrrrkkkkkhhh….!”
Diiringi suara geramannya, Raja kalas Pati merangsak kembali sembari mengayunkan tongkat emasnya. Kali ini
ayunan tongkat emasnya di lepaskan menyapu secara vertikal kearah tuan Denta dan Raja Kajiman yang berdiri sejajar.
Jika sapuan tongkat emas tersebut mengenai tubuh tuan Denta dan Raja Kajiman, akibatnya sudah dapat dipastikan tubuh keduanya akan terpotong menjadi dua bagian tak ubahnya sperti mata pedang.
Seketika terlihat kiblatan cahaya kuning melesat membayangi gerakkan tongkat emas memapras bagian tengah tubuh tuan Denta dan Raja Kajiman. Melihat serangan cepat yang datang dari arah samping kanannya, tuan Denta dan Raja Kajiman berusaha menghindarinya. Keduanya melompat indah sambil jungkir balik diudara, tongkat emas yang besar itu mengenai tempat kosong yang ditinggalkan tuan Denta dan Raja Kajiman yang melompat tinggi keatas.
Wuuusssshhhh…!!!
Meskipun lolos dari hantaman tongkat emas Raja Kalas Pati, namun deru sapuan tongkat emas tersebut masih dapat dirasakan hawa panasnya oleh tuan Denta dan Raja Kajiman.
Disaat masih jungkir balik diudara, secepat kilat Raja Kajiman menusukkan tombak trisulanya kearah bagian wajah Raja Kalas Pati. Disusul tuan Denta mengayunkan pedang besar bermata duanya mengarah pada leher Raja Kalas Pati dengan mengerahkan kekuatan penuh.
Mendapati serangan tiba- tiba dari kedua mahluk di depannya, membuat Raja Kalas Pati tak lagi memiliki waktu menarik tongkat emasnya untuk menangkisnya. Secara reflek Raja Kalas Pati mengangkat tangan kirinya untuk menghalau dua serangan yang menyasar bagian wajah dan lehernya.
Buuummmm…!!!
Suara dentuman seketika terdengar akibat benturan tiga kekuatan besar. Di area bentrokan tiga senjata itu terpercik bunga- bunga api membuncah kesegala arah, sedangkan hawa kekuatan saling bertolak langsung menghantam tubuh tuan Denta dan Raja Kajiman.
Sementara itu Gus Harun, Basyari, Baharudin, abah Dul dan Kosim yang menggendong arwah putranya yang sudah mencapai pintu keluar istana seketika tertahan. Merek terhuyung- huyung ke berbagai sisi oleh dentuman yang menggetarkan seantero istana.
“Bertahan!” seru Gus Harun menyemangati sahabat- sahabatnya.** BERSAMBUNG
__ADS_1