
Aku berharap kisah ini menjadi pengingat diri dimana kita mengalami pasang surut didalam kehidupan sehari-sehari. Kadang kita merasa diujung tanduk keputus asaan, merasa buntu ketika kita dalam masalah atau ketika kita merasa jadi pengemis dikala memohon-mohon agar dipinjami uang untuk kebutuhan yang mendesak.
Dalam kondisi seperti ini iblis akan sangat senang dengan riangnya menggoda kita untuk melakukan perbuatan yang menjerumuskan kedalam lubang dosa. Meski diluar nalar tidak mungkin perbuatan itu dilakukan akan tetapi bersama dorongan iblis perbuatan dosa yang tidak mungkin dilakukan akhirnya bisa ďilakukan dengan atas nama "NEKAD!"
Semoga Allah Subhanahu wata'ala memberikan hikmah dan hidayah-NYA untuk para pembaca setia novel "Melawan Perjanjian Gaib" ini, amiin🤲🤲🤲...
Sudah siap kembali memasuki dunia Melawan Perjanjian Gaib❓ Pejamkan mata sejenak, tarik nafas dalam-dalam, sekarang kita masuk ke "DUNIA MELAWAN PERJANJIAN GAIB❗"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Masih dihari ke-6 menjelang Purnama,
............... Konsentrasi Abah Dul tiba-tiba buyar! Matanya kontan terbuka karena dadanya tiba-tiba bergetar. Pendeteksian aura gelap terhadap bangunan pabrik penggilingan beras milik Haji Koharudin pun urung dilanjutkan.
Abah Dul terdiam sejenak batinnya merasakan kalau getaran di dadanya itu akibat adanya benturan hebat pada enerji yang berasal dari kekuatan pagar gaib yang dipasang pada rumah Mahmud.
"Ada apa Bah?!" Tanya Haji Koharudin penasaran melihat Abah Dul berhenti melakukan pendeteksiannya.
Kening Abah Dul terlihat mengerut raut wajahnya menyiratkan kecemasan. Pikirannya langsung melayang tertuju pada Kosim, Arin dan Dede yang berada di rumah Mahmud.
"Punten Pak Haji, ada sesuatu di rumah teman saya. Sebentar saya melihatnya dulu," jawab Abah Dul.
Haji Koharudin hanya mengangguk memahami maksud ucapan Abah Dul. Dia hanya melihat Abah Dul kembali memejamkan matanya.
Sesaat kemudian tubuh Abah Dul terlihat diam tak bergerak. Amalan "Melepas Sukma" memisahkan sukma Abah Dul dari raganya. Sukmanya membias melayang keatas lalu melesat menuju rumah Mahmud.
Dalam sekejap mata sukma Abah Dul sudah berdiri di halaman depan Rumah Mahmud lalu bergerak cepat menembus pintu rumah Mahmud dan tembok kamar Dede.
Bocah berusia 3 tahunan itu nampak tergolek tertidur pulas diatas kasur.
"Alhamdulillah..." gumamnya.
Kemudian sukma Abah Dul kembali menembus dinding keluar kamar lalu memeriksa ke dapur, dilihatnya tidak ada siapapun. Lantas melesat keatas menembus atap lalu berdiri diatas genteng. Matanya menatap tajam mengamati sekelilingnya, namun yang dilihat hanya cahaya putih keperakkan melingkupi seluruh rumah Mahmud.
"Hmmm, masih kokoh..." gumam sukma Abah Dul.
Kedatangan sukma Abah Dul itu sudah lebih dulu dilihat oleh monyet siluman bernama Anggada Gini yang sedang menyeringai kesakitan setelah tubuhnya terhempas jatuh diatas genteng rumah Pak Karim yang bersebelahan dengan rumah Mahmud. Mahluk besar berbulu hitam lebat itu terpental oleh kekuatan enerji pertahanan rumah Mahmud saat hendak memasuki ke kamar dimana Dede tidur.
Saat meringis memegangi kedua kakinya yang terasa panas terbakar, Anggada Gini terkesiap kaget melihat kelebatan cahaya putih sukma Abah Dul. Bersamaan itu monyet siluman perempuan itu langsung melesat kabur dan lenyap.
Setelah memeriksa dengan seksama mencermati setiap sudut rumah dan dirasa aman, sukma Abah Dul pun kembali melesat menuju raganya.
"Alhamdulillah," ucap Abah Dul mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
Sejenak Abah Dul mengambil botol air mineral yang ada di sampingnya yang sudah disediakan oleh Haji Komarudin sedari awal. Dia menenggak air putih dalam botol 500 ml itu hingga tandas.
__ADS_1
Lalu Abah Dul kembali konsentrasi kembali melakukan pendeteksian pabrik penggilingan beras dengan disaksikan langsung Haji Komarudin.
Mata batin Abah Dul melihat sesosok mahluk hitam tubuhnya gempal tinggi dan besar. Wajahnya hitam berbulu dengan mata besar dan rambut gimbal sepunggung sedang duduk diatas mesin penggilingan padi.
"Hmmm..." gumam Abah Dul.
"Ada apa Bah?!" Tanya Haji Koharudin mendengar gumamannya.
"Pak Haji, mesinnya sering berhenti sendiri? Karyawannya pernah ada yang kecelakaan, ya?" Tanya Abah Dul.
"Benar itu Bah! Seru Haji Komarudin terkesiap takjub dengan kebenaran pertanyaan Abah Dul.
"Belum lama tiga hari yang lalu karyawan saya jatuh dari atas saat memanggul karung beras hendak dimasukkan ke mesin penggilingan pemutih beras itu, Bah. Untungnya dia jatuh diatas gunungan beras hasil giling itu," terangnya.
"Berarti mengganggu dan membahayakan ya Pak Haji?" Tanya Abah Dul.
"Ya jelas mengganggu Bah," timpal Haji Koharudin.
"Saya ijin singkirkan ya Pak Haji," kata Abah Dul.
"Iya, iya Bah," ujar Haji Koharudin.
Abah Dul kembali memajamkan matanya, kali ini sukmanya melasat dan berdiri kehadapan mahluk halus sejenis Genderuwo itu. Abah Dul mencoba berkomunikasi memintanya secara baik-baik untuk pindah dari tempat itu agar tidak mengganggu.
"WUAHAHAHAHAHA..."
"WUAHAHAHAHAHA..."
"WUAHAHAHAHAHA..."
"Saya sudah minta baik-baik tapi sepertinya anda tidak terima. Siapa majikanmu?!" Seru sukma Abah Dul.
"Bukan urusanmu! Kamu menantang?!" Sentak Genderuwo sambil menepuk-nepuk dadanya yang penuh dengan bulu hitam lebat.
Sukma Abah Dul langsung mengerahkan setengah tenaga dalamnya dipadukan dengan amalan "Pukulan Badai" yang disiapkan dikedua ditelapak tangannya. Abah Dul sudah mengukur kekuatan Genderuwo, dia merasakan energi kekuatannya masih jauh dibawahnya.
Sukma Abah Dul sengaja hanya menunggu serangan Genderuwo, dia tak ingin mendahului untuk menyerangnya. Sesaat kemudian mahluk bertubuh besar dan berbulu hitam itu melesat menerjang dengan mengayunkan kaki besarnya menyasar ke kepala Sukma Abah Dul dibarengi suara tèrtawanya yang sember.
"Hahahahahaha...!"
Sukma Abah Dul tidak berusaha menghindar, dia tetap berdiri ditempatnya. Saat kaki besar Genderuwo itu tinggal 20 centi meter lagi mendarat telak di kepala sukma Abah Dul, secepat kilat sukma Abah Dul membuat gerakan setengah menunduk dengan mengangkat tangan kirinya melindungi kepala disusul gerakan menyorongkan tangan kanannya kearah tubuh Genseruwo.
Cahaya putih berkilat keluar dari tangan sukma Abah Dul menghantam telak dada Genderuwo. Kontan saja Genderuwo itu terkejut bukan kepalang, karena sebelumnya merasa yakin sapuan kakinya akan mendarat di kepala sukma Abah Dul.
Tak ada waktu lagi untuk menghindar, tubuh Genderuwo itu terhantam dengan telak oleh kekuatan pukulan badai yang disertai setengah tenaga dalam.
__ADS_1
"Duarrrrr...!"
Tubuh Genderuwo yang besar dan gempal itupun terpental jauh hingga 10 meter dan jatuh terjengkang sambil mengerang kesakitan yang teramat sangat. Tubuhnya tidak dapat bangkit lagi hanya erangannya yang terus terdengar.
"Grrrrrrrrrrrrrrkkkkhhhh...."
"Grrrrrrrrrrrrrrkkkkhhhh...."
"Grrrrrrrrrrrrrrkkkkhhhh...."
Sukma Abah Dul meloncat mendekat seraya berkata, "Mau pergi tidak?! Atau saya musnahkan!"
"Ampuun... Ampuun, saya akan pergi," jawab Genderuwo.
"Awas kalau ingkar dan saya lihat masih disini, tidak ada ampun lagi," kata sukma Abah Dul.
"Baik, baik.. saya berjanji tidak akan disini lagi,"
Sesaat kemudian setelah berucap itu tubuh Genderuwo seketika lenyap dari hadapan sukma Abah Dul.
"Alhamdulillah..." ucap Abah Dul membuka matanya.
"Gimana Bah, ada mahluk apa?" Tanya Haji Koharudin penasaran.
"Mmm... Pak Haji menempati pabrik ini sudah berapa lama?" Abah Dul balik tanya.
"Saya beli dari pemilik sebelumnya sebulan lalu Bah, memang kenapa?" Tanya Haji Koharudin heran.
Abah Dul terdiam, "berarti Genderuwo itu bisa jadi pesugihan yang sering mangambil tumbal para kuli panggul disini," kata Abah Dul dalam hati.
"Apa Pak Haji pernah dengar cerita ada kejadian apa saja di pabrik ini sebelumnya?" Tanya Abah Dul.
"Mmm, ya ya. Saat saya hendak membeli pabrik ini beberapa orang kuli panggul sempat ngomong, kalau disini sering terjadi kecelakaan dan meninggal," terang Haji Koharudin.
"Karena dijual murah jadi saya beli dan nggak perduli dengan cerita-cerita itu, kenapa Bah?" Tanya Koharudin penasaran.
"Oh, ya sudah nggak apa-apa Pak Haji. Mudah-mudahan setelah ini nggak ada lagi kejadian-kejadian aneh apalagi sampai kejadian merenggut nyawa Pak Haji," kata Abah Dul.
"Amiin, amiin.."
Abah Dul sengaja menutupi apa yang sebenarnya terjadi di pabrik ini sebelumnya, agar tidak menimbulkan gunjingan hingga menjadi hasutan masyarakat terhadap pemilik sebelumnya.
Abah Dul memastikan kalau pemilik pabrik sebelumnya menggunakan pesugihan dengan memakai jasa Genderuwo akan tetapi cukup disimpannya didalam hati saja.
Sikap itu bukan hanya bijaksana namun juga menandakan kerendahan hati seseorang yang dianugerahi kelebihan oleh sang Penciptanya, Allah Subhanahu Wata'ala.
__ADS_1
......................
To be continue...