
Ramai warga iring- iringan warga di sepanjang jalan desa sepulang dari tempat kejadian penangkapan komplotan perampok, tak ubahnya seperti sebuah perayaan karnaval saja begitu riuh dan ramai.
Sebagian warga masih memegang senjata tajam maupun batang kayu berjalan santai sambil sesekali bercanda dengan teman- teman yang berjalan beriringan disebelahnya. Nampak dari wajah- wajah penduduk yang semuanya laki- laki itu puas dengan tertangkapnya para pelaku komplotan rampok yang muncul kembali setelah sekian lamanya tak terdengar lagi.
Iring- iringan warga langsung kembali menuju ke tempat keluarga pak Harjo yang memang sebelumnya sudah berkumpul disana untuk menghadiri undangan acara Nazar syukuran. Arin dan Dewi yang masih berdiri di halaman balai desa Palu Wesi melihat iring- iringan warga desa itu kemudian berjalan memasuki sebuah gang yang lebarnya hanya muat satu mobil.
"Pak Diman, warga itu hendak kemana? kok semua menuju kesana?" tanya Dewi.
"Oh, itu jalan gang menuju ke rumah pak Harjo. Tampaknya sebelumnya mereka semua sudah ada disana, pantas saja begitu cepatnya warga berkumpul menyerang para perampok tadi," jawab pak Diman.
"Mari mbak Dewi, mbak Arin kita kesana," ajak pak Diman.
Arin yang mengemban Dede bergegas mengikuti langkah Dewi dan pak Diman yang membawakan tas- tas berisi baju ganti mereka. Sementara iring- iringan warga sudah tak terlihat lagi, seluruhnya sudah memasuki jalan gang yang menuju kediaman pak Harjo.
Dari kejauhan saja sudah nampak
seperti sedang ada acara besar, sebab terlihat atap- atap tenda menghampar
menutupi sepanjang jalan kampung yang melintang di depan rumah pak Harjo. Begitu pula dengan rumah pak Harjo yang tampak tenggelam tertutup oleh tenda- tenda yang membentang memenuhi halaman rumah.
Disepanjang jalan menuju rumah pak
Harjo sudah banyak warga yang pada duduk- duduk diatas hamparan terpal dan tikar sebagai alasnya. Meski terdengar jumlah penduduknya sedikit sekitar 500 K K, namun jika dikumpulkan ditempat seperti ini akan terlihat sangat banyak dan sesak padat.
Warga sudah mulai berdatangan dari berbagai sudut desa Palu Wesi mulai anak- anak, remaja muda- mudi, ibu-
ibu,bapak- bapak sampai kakek- nenek pun tampak antuasias turut menghadiri acara syukuran tersebut.
Bahkan anak- anak remaja yang harusnya berangkat sekolah, mereka pun sengaja bolos hanya ingin mengikuti acara syukuran tersebut.
Puluhan pasang mata seketika secara serentak mengarahkan pandangannya pada pak Diman yang lewat beserta dua perempuan cantik, Dewi dan Arin yang berjalan mengekor dibelakangnya.
“Punteeen… punteeen… permisi, lewaaaat…” ucap pak Diman saat melintas di kerumunan warga yang bergerombol berdiri di pinggir alas terpal dan tikar.
“Monggo… monggo pak Diman,” sahut
beberapa warga.
“Siapa itu pak Diman?” celetuk suara
pemuda menimpali bermaksud cari perhatian kepada Dewi dan Arin.
“Ini kerabatnya pak Harjo dari luar
kota,” sahut pak Diman ramah lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Tak berapa lama, pak Diman beserta
Dewi dan Arin yang menggendong Dede pun sampai juga di depan rumah pak Harjo.
__ADS_1
Di halaman depan rumah nampak sudah ramai oleh lalu lalang warga yang datang menghadiri, acara tersebut, meski disediakan space ruang untuk lewatnya tamu undangan namun
tetap saja sedikit kesulitan berjalan menuju ke rumah pak Harjo.
Dengan sedikit susah payah
berdesakkan dengan warga yang berdatangan, akhirnya pak Harjo bersama Dewi, Arin dan Dede sampai juga di depan teras rumah pak Harjo.
“Asyukur alhamdulillah mbak Dewi,
mbak Arin bersedia datang dia cara Nazar saya. Tapi sayangnya kang Mahmud dan yang lainnya tidak bisa datang,” sambut pak Harjo ramah sambil tersenyum ramah menangkupkan telapak tangan didepan dadanya sebagai pengganti berjabat tangan.
“Njih pak Harjo, kebetulan malam itu
mas Mahmud langsung berangkat ke Surabaya sama teman- temannya,” jawab Dewi yang diangguki Arin juga membalas menangkupkan kedua telapak tangannya.
“Nak Dede salim dulu,” ucap pak
Harjo pada Dede yang berada di embanan Arin. Dede pun langsung meraih uluran tangan pak Harjo dan mencium tangan pak Harjo.
“Terima kasih mbak Dewi, mbak Arin
sudah mau datang,” sambut ibu Harjo yang berdiri disamping suaminya.
"Njih bu Harjo, matur suwun sudah
"Mari, mari sini duduk mbak Dewi, mbak Arin. Nak Dede ayo turun kasihan bundanya capek tuh, hehehe... sini duduk sama nenek," kata bu Harjo ramah penuh kekerabatan.
Dewi dan Arin merasa seolah- olah telah menemukan ibu kandungnya yang lama tidak bertemu. Ada perasan dekat didalam batin kakak beradik itu. Angannya seketika melayang teringat dengan ibu bapaknya yang sudah meninggal.
Tak disangka- sangka Dede pun tiba- tiba menanggapi ajakan bu Harjo, ia langsung beranjak dari pangkuan Arin langsung menjatuhkan badan mungilnya di pangkuan bu Harjo.
"Waduh, wuaduh... Nak Dede berat juga ya," ujar bu Harjo menangkap tubuh Dede di dudukkan di pangkuannya.
Dewi dan Arin seketika angannya kembali melambung membayangkan kalau bu Harjo adalah ibunya yang sedang memangku cucunya.
"Andai saja ibu masih ada, pasti ia akan sangat senang sekali menimang cucunya," ucap Dewi dalam hati, tanpa sadar bibirnya tersenyum membayangkan semua itu.
Selain Dewi, Arin serta Dede, di teras depan itu duduk diatas karpet yang sengaja diperuntukan buat keluarga pak Harjo, bu Harjo, dan kerabatnya seperti pak Diman yang sudah menjadi bagian dari keluarganya serta untuk Kepala Desa beserta wakil- wakil dari petugas keamanan dari polisi dan Babinsa.
Posisinya menghadap ke halaman sehingga dapat melihat warga- warga yang sudah berdatangan dan mulai duduk saling berhadapan dengan tertib memenuhi gelaran terpal dan tikar.
Beberapa orang dari pamong desa terlihat sibuk mengatur dan menunjukkan tempat pada warga yang baru datang. Mereka mengarahkan tamu tamu undangan itu ketempat -tempat yang belum terisi.
"Jam berapa acaranya bu?" tanya Dewi yang duduk disamping bu Harjo.
"Jam 10 mbak Dewi, sebentar lagi tinggal nunggu pak Kiyai saja," jawab bu Harjo.
"Acaranya apa saja bu? Apakah ada tausiyahnya?" tanya Dewi belum tahu karena pak Diman tidak mengatakan dengan rinci acaranya.
__ADS_1
"Intinya diisi tausiyah dan doa bersama mbak Dewi," jawab bu Harjo.
"Banyak juga yang datang yang bu," ujar Dewi.
"Ya alhamdulillah mbak, bapak sengaja mengundang seluruh warga desa Palu Wesi ini dalam memenuhi Nazarnya," terang bu Harjo.
"Nazar? maaf, pak Harjo nazar apa bu?" tanya Dewi penasaran.
"Iya mbak Dewi, bapak bernazar jika anak kami yang sakit itu sembuh bapak akan mengadakan syukuran dengan mengajak makan seluruh warga desa Palu Wesi," terang bu Harjo.
"Lalu dimana anak ibu yang sembuh dari sakitnya itu bu?" Dewi menoleh kesana kemari mencari- cari anaknya bu Harjo.
"Dia masih didalam sama kakaknya, namanya Hariri. Dia masih sekolah kelas 2 SMA mbak, sebentar lagi juga mereka keluar," sahut bu Harjo menoleh kearah pintu.
Benar saja, baru saja bu Harjo mingkem muncul dua pemuda dari dalam rumah lalu duduk mengapit disebelah kanan dan kiri bapaknya.
"Nah, itu anak- anak ibu mbak Dewi," ujar bu Harjo menunjuk pada Hasan dan Hariri.
Dewi pun reflek menoleh kearah yang ditunjukkan bu Harjo. Disana terlihat dua orang pemuda yang satu berperawakan sedang nampak sudah dewasa duduk disebelah kanan pak Harjo dan pemuda yang satunya nampak masih remaja perawakannya kurus kering.
"Hasan, Hariri ayo salim sama mbak Dewi dan mbak Arin dan Dede dulu," kata bu Harjo melambaikan tangannya memanggil Hasan dan Hariri.
"Iya San, Har itu mbak Dewi dan yang disebelahnya itu mbak Arin dan yang dipangkuan ibumu itu anaknya," timpal pak Harjo.
Hasan langsung beringsut menuju tempat duduk Dewi untuk bersalaman sambil mengenalkan dirinya.
"Saya Hasan mbak Dewi," ucap Hasan saat bersalaman, lalu bergeser menyalami Arin.
Deg!
Jantung Hasan tiba- tiba berdebar kencang saat menatap wajah Arin untuk menyalami dan memperkenalkan dirinya. Bersamaan itu Arin juga melihat wajah Hasan sehingga tanpa sengaja mata Hasan dan Arin beradu pandang.
Beberapa detik Arin dan Hasan tak bergeming saat keduanya berjabat tangan. Keduanya tertegun saling bertatapan mata tak berkedip.
"Ehemmm!" suara deheman dari Dewi seketika menyadarkan Arin dan Hasan.
"Ssa, saya Hasan mbak Ar.. " ucap Hasan tiba- tiba lupa dengan nama wanita yang disalaminya ith.
"Arin dek Hasan, hehehe..." ujar Dewi sengaja sedikit menggoda adiknya.
"Oh iya mbak Arin," ucap Hasan nampak sikapnya menjadi gerogi.
"Arin..." balas Arin singkat terlihat kaku dan salah tingkah.
Hasan masih terpaku dihadapan Arin, seakan lupa untuk kembali duduk ke tempatnya semula.
"Udah kak, gantian..." celetuk Hariri menggoda kakaknya.
Seketika itu juga Hasan seperti tersadar telah hanyut dalam perasaannya, buru- buru beringsut mundur kembali ke tempat duduknya semula.● BERSAMBUNG
__ADS_1