Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
WAJAH TAK ASING


__ADS_3

Empat orang berjaket kulit dan memakai helm fullface tersebut segera beranjak menuju lokasi yang ditunjukkan si bos. Arin mengerutkan keningnya dalam- dalam merasa keheranan. Apa yang keempat orang bicarakan itu sama sekali tidak merasa berkaitan dengan dirinya. Akan tetapi yang sangat mengherankan Arin adalah saat mereka mengatakan tidak ada mobil disini. Padahal jelas- jelas empat orang itu berdiri disamping mobil yang dinaiki Arin.


“Sepertinya sedang mencari- cari mobil, tapi mobil yang mana?” gumam Arin.


Arin hanya memandangi kepergian empat orang berjaket kulit dan memakai helm fullface tersebut dari dalam mobil dengan beragam pertanyaan di kepalanya. Namun tak terlintas sedikit pun di benaknya kalau orang- orang berperawakan sedang dan salah satunya berperawakan kurus tersebut memiliki niat buruk terhadap dirinya atau pun Dede. Sampai keempat orang tersebut hilang dibalik mobil- mobil yang terparkir, Arin kembali menyandarkan kepalanya di sandaran jok sambil tidur- tidur ayam.


Beberapa saat kemudian Arin menoleh melihat Dede karena sejak tadi putranya itu tidak ada aktifitasnya lagi. Tampaknya sudah kembali tertidur dengan lelapnya. Tangan kirinya terkulai kebawah, Arin buru- buru membetulkannya dan meletakkannya di dada Dede. Lalu kembali menyandarkan kepalanya dan melanjutkan tidurannya.


Waktu terus berjalan, 15 menit kemudian dalam tidur- tidur ayamnya, Arin mendengar samar- samar suara percakapan di luar mobil tepat disamping kirinya. Arin pelan- pelan membuka matanya dengan malas- malasan, karena suara- suara dari orang- orang di luar mobil itu seperti sudah tak asing di telinganya.


“Mereka lagi?” gumam Arin melihat empat orang yang sama seperti sebelumnya. Arin lebih menajamkan lagi pendengarannya, kali ini ia benar- benar ingin menyimak pembicaraan empat orang tersebut dengan seksama. Dirinya penasaran apa yang hendak dilakukan oleh mereka.


“Gimana sih Rul?! Disana juga tidak ada!” bentak orang yang berbadan sedikit lebih kurus dari 3 orang lainnya.


“Waduh, nggak tahu juga bos. Tapi dari awal saya yakin mobil itu disini, soalnya tiang itu yang jadi patokannya,” kilah orang yang bernama Erul.


“Erul benar bos. Soalnya toko ini nih yang jadi patokan saya juga melihat mobil itu,” timpal temannya.


“Coba kalian lihat dari tempat awal lagi, cepat!” perintah orang yang dipanggil bos.


Arin yang mendengar percakapan itu dari dalam mobil kian mengerutkan keningnya. Bukan soal apa yang sedang mereka cari, akan tetapi Arin merasa suara dari salah satu dari empat orang itu sudah sangat familiar ditelinganya. Arin mencoba mengingat - ingatnya siapa pemilik suara itu dan dimana dia pernah mendengar suara itu, namun tak juga menemukannya.


Arin melihat dua orang yang bernama Erul beserta satu temannya bergegas meninggalkan si bos dan satu temannya, keduanya masih berdiri di samping mobil yang dinaiki Arin.


“Kalau sampai kita tidak menemukan mobil itu, berarti tidak ada jalan lain kita harus menunggu Hasan keluar dari pasar!” kata si bos geram.


“Tapi bos, rasanya aneh juga ya. Masa mobilnya tidak ada di parkiran ini, padahal sudah saya ubek- ubek semua parkiran tetap saja tidak ada,” ujar anak buahnya.


“Ah, kamu saja yang tidak teliti War!” sungut si bos.


“Sumpah bos, sudah dua kali saya muter- muter bolak- balik di parkiran ini tapi tidak ada mobil terios warna silver!” ujar anak buah.


“Ayo kita menyingkir dari sini, jangan sampai Hasan muncul lebih dulu!” ajak si bos tak menanggapi alasan anak buahnya, kemudian dua  orang itu cepat- cepat berlalu dari samping kiri mobil yang dinaiki Arin untuk bersembunyi.


Sontak saja Arin sangat terkejut mendengar orang itu menyebut- nyebut nama Hasan. Pikiranya langsung dipenuhi dengan dugaan- dugaan buruk terhadap niat dari empat orang tersebut terhadap Hasan. Arin gemetar lembut dan tak tahu harus berbuat apa, ia merasa bingung terdiam ditempatnya. Ingin rasanya cepat- cepat memberitahukan Hasan tapi bagaimana caranya, hapenya saja sengaja ia tinggal di rumah.


Sementara itu dibelakang mobil Grand max pick up hitam, si bos dan seorang anak buahnya terus mengawasi orang- orang yang keluar dari dalam pasar. Lalu lalang orang- orang yang keluar masuk di pintu utama pasar tak luput dari pantauan mereka.


Beberapa saat kemudian Erul dan temannya melintas dihadapan si bos dan seorang anak buahnya hendak kembali ketempat semula saat keduanya meninggalkan bosnya dan temannya. Anak buahnya yang lebih dulu melihat Erul dan temannya melintas langsung memberitahukan bosnya sambil menunjuk kearah  Erul dan temannya.


“Itu Erul dan Jajat bos!” seru anak buah yang bernama Wardi.


“Rul! Hei sini…!” panggil si bos.


Erul sontak terkejut dan menoleh saat mendengar ada yang memanggil namanya. Ketika tahu yang memanggilnya itu si bos buru- buru Erul dan temannya menghampiri.


“Bos, mobil itu ada dibawah plang rokok itu bos! Ya Jat ya?!” kata Erul sangat yakin.


“Benar bos, di bawah plang rokok dan lurus dengan toko itu!” timpal Jajat.


“Ayo cepat kesana!” perintah si bos.


Wardi garuk- garuk kepala merasa bingung dan juga aneh tapi dia lupa lagi kalau kepalanya sedang memakai helm, dia pun langsung tersenyum kecut dibalik helm full face menertawakan kebodohannya sendiri. Petunjuk yang diberitahukan Erul dan Jajat tentang posisi mobil terios silver tersebut membuat Wardi ingin membantahnya karena menurutnya di tempat yang ditunjukkan itu benar- benar tidak ada mobil yang dimaksud.


Wardi menjadi bingung sendiri dan juga menjadi ragu- ragu dengan tugas yang dikerjakannya untuk mencari posisi mobil tersebut. Akhirnya ia pun hanya mengikuti perintah bosnya untuk kembali ketempat tadi.


Orang yang dipanggil bos berjalan lebih dulu disusul oleh 3 anak buahnya menguntit dibelakangnya sambil terus mengawasi pintu utama keluar masuk pasar. Baru saja dua langkah berjalan si Bos mendadak menghentikan langkahnya sekaligus mundur kembali.

__ADS_1


“Aduh!”


“Aduh!”


“Aduh!”


Kontan saja keluar suara pekikan mengaduh dari 3 orang dibelakang si bos akibat saling bertubrukkan. Si bos cepat- cepat memberi isyarat agar tidak berisik sambil menunjuk kearah pintu utama pasar.


“Itu Hasan keluar!” tegas si bos geram karena anak buahnya sangat berisik.


Dikejauhan Hasan dan Dewi muncul keluar dari dalam pasar sedang berjalan menuju ke tempat mobilnya di parkir. Di tangan kanan dan kiri Dewi penuh dengan kantong kresek berisi belanjaan, begitu pula di kedua tangan Hasan juga penuh dengan kantong kresek barang- barang belanjaan. Keduanya berjalan sedikit santai tanpa merasakan firasat apapun.


“Lantas bagaimana bos?” tanya Erul mendadak bingung karena tidak sesuai dengan yang telah direncanakan dari awal.


“Terpaksa kita lumpuhkan Hasan lalu ambil alih mobilnya dan bawa semua penumpangnya. Kita eksekusi di hutan lindung,” terang si bos.


“Siap bos!” sahut ketiga anak buah.


“Tunggu sampai Hasan membuka pintu mobilnya lebih dulu, baru kita sergap!” perintah si bos.


Empat pasang mata dari balik helm full face itu terus memperhatikan lengkah demi langkah Hasan dan Dewi yang berjalan mendekati mobilnya. Saat Hasan dan Dewi sudah berada di samping mobilnya, sontak saja ke- empat orang itu terbelalak. Mereka melihat dengan jelas mobil Terios silver itu memang benar terparkir di bawah plang rokok!


“Boss…” gumam Wardi, Erul dan Jajat ternganga melihat mobil tersebut.


Si bos pun tidak kalah terkejutnya, matanya masih membelalak tak percaya. Pasalnya di tempat itu sudah dua kali dirinya dan anak buahnya berdiri mencarinya, akan tetapi tidak melihat adanya mobil tersebut.


“Tadi kita berdiri di tempat itu kan bos?!” tanya Wardi terlihat kian bodoh dalam kebingungannya.


“Iya bos benar, tapi kenapa tadi kita tidak melihatnya ya?” timpal Erul.


“Ahhhh! Sudah, sudah! Ayo bergerak sekarang!” bentak si bos geram. Di dalam hatinya dia tak memungkiri kebingungan dan keanehan yang dirasakan oleh ketiga anak buahnya tersebut.


Di pimpin si bos, keempat oraang berjaket kulit dan memakai helm full face tersebut bergegas dengan cepat menyebar dengan membagi dua kelompok. Erul dan Jajat bergerak ke sisi kiri mobil, sedangkan Si bos dan


Wardi bergerak ke sisi kanan mobil Terios silver.


Sementara itu Dewi langsung membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil sisi kiri karena memang dalam keadaan tidak dikunci. Sedangkan Hasan baru saja menarik handel pintu mobil, tiba- tiba sebuah suara bentakkan dari arah belakang seketika menghentikannya.


“Berhenti! Jangan bergerak!” bentak suara si bos.


Sontak Hasan terkejut luar biasa hingga membuatnya termangu dan reflek menoleh kebelakang. Sementara Arin dan Dewi yang berada di dalam mobil pun tak kalah terkejutnya, kedua perempuan kakak beradik itu seketika


gemetaran melihat Hasan di todong dengan sebilah golok yang menempel di punggungnya.


Ketakutan Arin dan Dewi kian menjadi- jadi manakala muncul lagi dua orang di samping kiri mobil juga dengan memperlihatkan senjata tajam jenis celurit di masing- masing tangan. Arin dan Dewi spontan menutup wajah


dengan kedua tangannya karena merasa ngeri.


Di detik- detik suasana genting dan menegangkan itu tiba-  tiba sesosok bayangan putih tak kasat mata keluar dari dalam mobil dan langsung masuk kedalam tubuh Hasan yang tengah termangu akibat shok. Masuknya sesosok bayangan menyerupai asap tipis kedalam tubuh Hasan tersebut tidak diketahui oleh seorang pun dari empat komplotan bersenjata tajam.


Seketika tubuh Hasan tersentak bersamaan dengan sosok asap putih masuk kedalam tubuhnya. Hasan langsung membalikkan badan, sepertinya ia tidak menghiraukan ujung golok tajam yang sebelumnya mengancam di punggungnya. Hingga ujung golok yang putih mengkilap itu kini beralih menempel pada bagian perut Hasan. Tapi nampaknya Hasan tidak menghiraukannya.


Kedua mata Hasan tiba- tiba menjadi liar, tatapannya tajam memandangi dua orang yang mengepungnya dengan menodongkan golok. Melihat reaksi Hasan melawan, membuat si bos dan Wardi tersentak kaget. Namun dengan cepat golok di tangan si bos segera di tekannya kuat- kuat berniat menusuk Hasan, sedangkan Wardi langsung mengayunkan goloknya kearah kepala Hasan.


“Mampusss.. !!!” bentak si bos menekan goloknya ke perut Hasan kuat- kuat.


Hasan tampak masih tak memperdulikan situasi yang sedang mengacam jiwanya. Kedua tangan Hasan justru mengepal dengan kuat, sorot matanya kian liar memperhatikan dua orang di hadapannya yang menyerangnya. Hasan tak berusaha untuk menghindar, ia tetap diam dengan wajah membesi. Bahkan Hasan terkesan menantikan golok- golok tersebut mendarat di tubuhnya.

__ADS_1


Gubraaakkk…!!!


Tiba- tiba tubuh si bos terpental sejauh dua meter, tubuh kurusnya melenting 3 meter keatas lalu terdengar suara tubuh menimpa sebuah tong sampah. Malang bagi si bos kepalanya lebih dulu jatuh mendarat menghantam bibir tong sampah, beruntung kepalanya terlindungi oleh helm. Jika saja tidak memakai helm mungkin kepalanya menancap di bibir tong sampah yang terbuat dari drum minyak yang di potong dua bagian.


Saking kerasnya benturan membuat Helm si bos kontan lepas dari kepalanya dan terpental jauh ke rerumputan dinding pagar. Si bos langsung tergeletak tak berkutik lagi dibawah tong sampah. Mungkin saja dia pinsan atau juga koit, Hasan tidak memikirkannya.


Melihat bosnya terpental dengan sangat aneh, membuat Wardi yang mengayunkan goloknya ke kepala Hasan menjadi kaget sehingga ayunannya meleset mengarah pada bagian bahu kiri Hasan. Hasan bergeming, ia dengan cepat mengibaskan tangan kirinya yang terkepal untuk menangkis laju golok.


Traaang.. !!!


Suara benturan golok yang tertahan oleh lengan Hasan terdengar seperti membentur sebuah baja. Bunyinya cukup keras memekakan telinga saking kerasnya benturan. Kedua mata Wardi sektika membelalak lebar, goloknya yang sudah di asah seperti membentur benda keras dan membal hingga goloknya terpental.


Dalam ketertegunannya, Wardi lengah tidak mengetahui gerakan tangan kanan Hasan melesak meninju dadanya dengan keras dan sangat telak.


Bugggh !!!


“Heekkhhh..!” suara pekikan tertahan keluar dari mulut Wardi sekaligus memuntahkan cairan merah dari mulutnya. Tubuhnya terbanting kebelakan dengan keras menimpa aspal parkiran.


Sementara disisi kiri mobil, Erul dan Jajat melihat bosnya dan temannya terkapar tak berkutik menjadi bimbang. Erul menoleh pada Jajat untuk meminta pendapatnya, apakah kabur atau menyerang Hasan. Jajat mengangguk, namun Erul tidak memahami arti anggukkkan dari Jajat. Jajat langsung memberi isyarat dengan jarinya memberikan hitungan tiga jari pada Erul.


Satu…


Dua…


Tiga…


Jajat langsung berlari dengan cepat meninggalkan lokasi, akan tetapi Erul justru berlari melesat merangsak ke sisi kanan mobil menyerang Hasan. Ketika setengah jalan menuju Hasan, Erul baru menyadari kalau Jajat tidak mengikutinya. Dia melihat Jajat berlari meninggalkannya.


“Sialan Jajat!” pekik Erul geram sambil terus merangsak menuju Hasan.


Bersamaan kepalanya kembali menoleh untuk melihat posisi Hasan, tiba- tiba sebuah kepalan tangan menyongsong rahangnya dengan sangat keras.


Buuuggghhh.. !!!!


“Aaaakkkhhh…!!!” pekik Erul kesakitan.


Tubuh Erul terpelanting kesamping kanan, hingga tubuhnya jatuh menimpa kap mobil. Mobil seketika bergoyang keras akibat kejatuhan tubuh Erul membuat Arin dan Dewi spontan membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya.


Arin dan Dewi terkesiap kaget! Di depan mobil salah satu komplotan penjahat itu tubuhnya menggelosoh perlahan dari kap mobil hingga jatuh kebawah mobil. Arin dan Dewi seketika mengalihkan pandangannya melihat Hasan. Semula keduanya sangat mengkhawatirkan keselamatan Hasan, akan tetapi kini Arin dan Dewi dibuat tidak percaya dengan pemandangan di luar mobil.


Hasan nampak berdiri dengan wajah dingin membesi memperhatikan satu demi satu tiga orang yang terkapar tak bergerak. Arin dan Dewi kian penasaran, apakah yang diperhatikan Hasan itu adalah para penjahat?


Karena tubuh 3 orang yang tergekletak tersebut tidak terlihat dari dalam mobi, arin dan Dewi pun memberanikan diri membuka pintu mobil dan bergegas keluar untuk melihat situasinya. Arin dan Dewi langsung berlari ke tempat Hasan berdiri tegak masih mengepalkan tangan, namun saat Arin dan Dewi sampai di samping Hasan, tiba- tiba tubuh Hasan ambruk jatuh di hadapan Arin dan Dewi.


“Toloooong…!”


“Toloooong…!”


“Toloooong…!”


Arin dan Dewi kontan berteriak- teriak meminta pertolongan. Tak butuh waktu lama, puluhan orang datang ke tempat Arin dan Dewi.


“Rampok! Mereka rampok!” teriak Dewi dan Arin saling menunjuk tiga orang yang tergeletak.


Ketika Dewi menunjuk ke salah satu dari tiga penjahat, dia terkejut luar biasa. Begitu juga dengan Arin, secara bersamaan kakak beradik itu melihat wajah penjahat yang tergeletak di bawah tong sampah. Wajah orang


itu tampak tak asing bagi Arin dan Dewi!

__ADS_1


“Apa tujuan mereka?!” gumam Dewi.


* BERSAMBUNG


__ADS_2