Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Terjebak 3


__ADS_3

Ruang dan waktu dimensi alam tak kasat mata lebih lambat dibandingkan dengan alam dunia manusia. Perbedaan rentang waktu di alam mahluk gaib tak kasat mata sangat jauh dengan dunia nyata. Berasa hanya satu atau dua jam berada di alam tak kasat mata namun di alam manusia sudah berjalan satu hari satu malam bahkan bisa sudah tiga hari malam.


Cuaca masih pagi sekitar pukul 8.00 dirasakan Kosim seiring sinar mataharinya membias di lantai rumah Kumala. Baru beberapa menit Kosim duduk menunggu Kumala kembali dari dalam rumah yang tak kuasa menampiknya setiap kali Kumala memintanya untuk tidak pergi.


Diatas meja dihadapan Kosim yang duduk santai terhidang beraneka macam jenis buah-buahan. Kosim duduk bersandar di kursi teras depan, disisinya Kumala menggelayut manja di lengan Kosim dengan senyum sumringah yang tak pernah henti tersungging di bibirnya.


Kosim merasa Kumala sudah dikenalnya lama padahal baru saja bertemu dan baru saja berkenalan. Kosim terbuai oleh perlakuan Kumala, dirinya merasa menjadi laki-laki sejati. Yang dirasakan saat ini hati dan pikirannya sangat senang penuh kebahagiaan semu.


"Kamu sama siapa, kok sepi sekali rumahmu?" tanya Kosim sambil mengambil sebutir buah anggur.


"Aku sendirian Mas, orang tuaku jauuuuh sekali," jawab Kumala.


"Jauh dimana? Di pulau seberang atau di luar negeri?" tanya Kosim lagi mulai mengunyah buah anggur.


"Pokoknya jauh sekali Mas. Nanti aku bawa mas Kosim kesana ya, Mas maukan?" balas Kumala sambil melirik Kosim dengan tatapan penuh misteri.


Kosim menjawab dengan mengangguk pasti dengan mulut senyum lebar. Kosim benar-benar sudah tak ingat lagi kalau pagi ini dia harus ke tempat kerjanya di proyek perumahan. Kosim merasa sangat nyaman dan betah duduk berlama-lama di rumah Kumala dengan segala tingkah genit nan menghodanya.


......................


Rumah Mahmud Malam ke-23 Melawan Perjanjian Gaib,


Udara malam terasa lembab bikin gerah. Arin berjalan mondar-mandir diteras depan rumah sesekali pandangannya diedarkan menatap jalan didepan rumah dan ke sekelilingnya yang biasa dilewati.


Resah dan gelisah tidak dapat disembunyikan dari raut wajah Arin. Hingga malam merambah ke pukul 23.00 wib, tidak ada tanda-tanda Kosim pulang. Resah dan gelisah kini berubah menjadi cemas dan khawatir menyelimuti seluruh perasaan Arin.


"Arin, kamu masuk aja biar Mas Mahmud, Abah Dul dan Mang Ali yang menunggu Kosim pulang. Kamu temenin Dede tidur, istirahatlah," ucap Mahmud menghampiri Arin berusaha menenangkan adik iparnya itu.


Arin agak ragu menuruti anjuran Mahmud, hatinya ingin tetap menunggu suaminya sampai pulang. Mahmud terus membujuknya sekaligus menasihati agar menjaga kesehatan dan berusaha menenangkan Arin kalau Kosim baik-baik saja.


"Mungkin Kosim lagi lembur Rin, sudah jangan terlalu memikirkan hal-hal negatif," ucap Mahmud.


Akhirnya Arin mau menuruti anjuran Mahmud dan masuk ke dalam kamarnya.


Mahmud sendiri sudah merasa jauh lebih sehat setelah seharian hanya tergolek di kamar. Dia baru bisa keluar kamar dan merasakan kondisinya semakin membaik sejak memasuki waktu magrib. Pagi hingga sore tadi Mahmud hanya terbaring lemah tak bertenaga diatas kasur setelah dari tubuhnya memuntahkan cairan dan gumpalan merah kehitaman.


Abah Dul dan Mang Ali kembali datang ke rumah Mahmud selepas Isya. Peristiwa penyerangan melawan siluman kera malam sebelumnya membuat suasana hati Abah Dul tidak tenang lagi. Firasatnya mengatakan situasi tidak semakin membaik justru semakin genting.


Yang datang menjemput Kosim atau Dede bukan lagi mahluk siluman yang tingkatannya rendah. Kini yang datang untuk mengambil nyawa Dede atau Kosim adalah siluman dengan tingkat kekuatan kasta tertinggi dari kerajaan siluman monyet. Abah Dul sendiri merasakan tingkatan itu semenjak menghadapi dua iblis utusan Raja Kalas Pati.

__ADS_1


Abah Dul mulai berpikir akan sangat kewalahan jika hanya menghadapinya bertiga dengan Mahmud dan Mang Ali.


Saat itu Mahmud, Mang Ali dan Kosim hampir saja tewas di tangan siluman Kera malam sebelumnya seandainya Abah Dul datang terlambat.


Abah Dul, Mahmud dan Mang Ali berpindah duduknya masuk ke ruang tamu. Semula selepas Isya ketiganya ngobrol santai di teras depan, sementara Kosim hingga malam larut tidak kunjung pulang.


Beruntung malam ini kondisi Mang Ali sudah merasa bugar kembali setelah melakukan penyembuhan luka dalam dengan caranya sendiri di rumah. Kondisinya tak separah Mahmud, benteng pertahanan yang dimilikinya nyaris sama kekuatannya dengan yang dikerahkan Kosim saat itu.


"Bah, nggak biasanya sampai jam 11 malam Kosim belum pulang," ucap Mahmud cemas.


"Iya ya," timpal Mang Ali.


"Hmm, kayak ada yang nggak beres," kata Abah Dul.


"Coba telpon teman kerjanya Mud," sambungnya.


Mahmud merogoh sakunya mengambil hape lalu sesaat kemudian dicarinya kontak bernama Juned. Beberapa saat menunggu telpon tersambung, akhirnya telpon diangkat dari seberang.


"Halo, assalamualaikum, iya Mas Juned. Kosim sudah pulang belum? hah! Kosim nggak masuk?!" raut wajah Mahmud mengerut kaget mendengar suara dari seberang telpon.


"O ya sudah mas Juden, makasih ya assalamualaikum." kata Mahmud menyudahi telponnya dengan muka penuh tanda tanya.


"Tadi pagi dia permisi juga ke saya katanya mau berangkat ke proyek kok Mud," sergah Abah Dul.


Setahu Mahmud aktifitas Kosim selama ini tidak banyak hanya kerja di proyek perumahan. Semenjak kepulangan dari Gunung Ng Kosim belum sekalipun kembali berjualan cilok kelilingnya hingga sekarang.


Mahmud tidak tahu lagi harus menghubungi siapa untuk mencari tahu keberadaan Kosim. Wajahnya muram, bingung dan cemas berbaur jadi satu menggurat di wajahnya. Mahmud tertunduk matanya melihat kosong layar hape, pikirannya melayang penuh prasangka buruk dengan keselamatan Kosim.


Abah Dul merubah posisi duduknya. Dua kakinya diangkat bersilah di kursi, kedua telapak tangannya terbuka keatas lalu memejamkan mata bersamaan dengan mulutnya bergerak komat-kamit lalu sesaat berikutnya diam tak ada gerakkan. Tubuhnya terduduk kaku dengan mata terpejam.


Melihat itu Mahmud dan Mang Ali saling berpandangan lalu keduanya menganggukan kepala memahami yang sedang dilakukan Abah Dul kalau dia sedang "Melepas Sukma."


......................


Kediaman Gus Harun-Banten,


Diruangan 4X3 meter yang gelap hanya samar bias putih terpancar dari jubah putih yang nampak sedang duduk kusyu berzikir. Kepalanya melilit kain putih membentuk kopyah dengan ujung kain menjuntai dibelakang kepala duduk bersila dengan mata terpejam.


Sesaat kemudian sosok berjubah putih itu tersenyum menganggukkan kepala melihat sukma Abah Dul mengucap salam duduk disampingnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Gus..." ucap sukma Abah Dul.


"Waalaikumsalam, Dul. Ada hal penting apa Dul?" jawab Gus Harun masih memejamkan matanya.


"Punten ganggu ente Gus, tapi saya terpaksa sangat butuh bantuan ente," ucap sukma Abah Dul.


"Kosim?" ujar Gus Harun.


"Iya Gus, Kosim menghilang dia tidak diketahui ada dimana hingga sampai sekarang belum juga pulang," terang sukma Abah Dul.


"Apa mungkin Kosim sudah diambil dibawa ke alam siluman Gus," sambungnya.


"Hmmm.." gumam Gus Harun terdiam sejenak.


"Amalan Benteng Pertahanan yang saya turunkan ke Kosim rasanya tidak begitu saja mudah membawa Kosim ke alam siluman Dul. Terkecuali sukma Kosim baru bisa dibawa manakala kondisi kesadarannya hilang," terang Gus Harun.


"Kira-kira Kosim sekarang ada dimana ya Gus," kata sukma Abah Dul.


Sukma Abah Dul kemudian menceritakan awal kepergian Kosim yang pamit berangkat kerja di proyek bangunan hingga pukul 12 malam tidak pulang. Dicetitakan pula kabar dari temannya di tempat kerja kalai Kosim tidak masuk hari siang tadi.


"Kosim harus segera ditemukan Dul. Nyawanya sedang terancam, jika sampai fajar nanti Kosim tidak ditemukan saya khawatir nyawanya tidak dapat ditolong lagi, atau mungkin sukma Kosim sudah berada di alam siluman." ujar Gus Harun.


Sukma Abah Dul terdiam, 'apakah pembelaan saya dan sahabat-sahabat saya akan sia-sia?' begitu pikirnya. Wajah sukma Abah Dul nampak murung dan cemas mengkhawatirkan nasib Kosim.


"Apa yang harus kita lakukan Gus?!" tanya sukma Abah Dul cemas.


......................


Sawer ya Sayang...


LIKE


HADIAH


FAVORIT


KOMEN


Semoga Rezeki hari ini lebih baik, amiiin...

__ADS_1


__ADS_2