Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
PENCARIAN


__ADS_3

Kondisi arus kendaraan di jalan tol arah Jawa Tengah nampak tak begitu samai, membuat Mahmud mengemudikan kendaraannya seperti orang kesetanan. Mahmud melajukan kendaraannya sangat tinggi, meliuk- liuk menyalip kendaraan- kendaraan di depannya.


Kadang menyalip mobil didepannya dari sisi kanan, kadang dari sisi kiri. Sangat berbahaya memang, bukan hanya membahayakan keselamatan Mahmud dan dua orang didalam mobilnya, namun  juga dapat membahayakan pengendara- pengendara lainnya.


Hingga beberapa kali kendaraan lain membunyikan klaksonnya dengan kencang, entah karena kaget atau juga mungkin karena kesal melihat mobilnya di salip secara ugal- ugalan oleh mobil yang di kendarai Mahmud.


“Sekarang kita sudah masuk wilayah Jawa tengah nih Gus,” kata Mahmud sembari memindahkan perseneling gigi.


“Ente fokus melihat kedepan nyetir aja kang Mahmud. Biar saya dan Dul yang melihat kearah kanan,” kata Gus Harun.


“Njih Gus,” balas Mahmud.


Seperti yang diminta Gus harun, Mahmud berkonsentrasi nyetir melihat kedepan. Sedangkan Abah Dul dan Gus Harun mulai memperhatikan ruas jalan tol sisi sebelah kanan. Mahmud sedikit mengurangi kecepatan mobil agar


Gus Harun dan Abah Dul lebih mudah melihat situasi seberang area ruas tol sisi kanan.


Beberapa lamanya mobil melaju di jalan tol, namun Gus Harun dan Abah Dul belum juga melihat ada tanda- tanda bekas kendaraan yang kecelakaan.


“Jam berapa sekarang Dul?” tanya Gus Harun menoleh kebelakang dimana Abah Dul duduk di jok tengah.


Abah Dul langsung menyingkapkan lengan baju komborannya untuk melihat jam tangan, “Jam tiga lebih 20 menit Gus,” sahut Abah Dul.


“Ini bisa keburu nggak Gus waktunya?!” sela Mahmud cemas.


“Insya Allah keburu,” balas Gus Harun matanya tak lepas memperhatikan seberang ruas jalan tol sebelah kanan.


Sekitar 20 menit kemudian Gus Harun yang duduk di jok depan pun melihat beberapa petugas kepolisian berdiri di tengah jalan tol ruas jalan sebelah kanan yang sedang mengatur lalu lintas. Sementara dipinggir jalan tol nampak ada bebera petugas polisi serta nampak pula ada sekitar tiga unit mobil polisi serta dua unit mobil derek terparkir.


“Ituuu…!” seru Gus Harun sambil menunjuk kearah petugas dari kepolisian yang sedang mengatur lalu lintas.


Mobil yang di tumpangi Abah Dul, Gus Harun dan Mahmud pun melewati lokasi kerumunan petugas di tempat kejadian bekas kecelakaan. Abah Dul dan Gus Harun sampai melongokkan kepalanya melalui kaca belakang mobil, pandangannya tak lepas dari lokasi itu untuk memastikan kebenarannya.


“Mud, ambil lajur pelan, cari area darurat untuk berhenti,” ujar Abah Dul.


“Iya bah,” sahut Mahmud.


Beruntung tak lama kemudian area ruas darurat pun terlihat didepannya. Mahmud lengsung menepikan kendaraannya sambil menyalakan lampu darurat di mobilnya. Sesaat kemudian Mahmud pun menghentikan mobilnya tanpa mematikan mesinnya.

__ADS_1


“Dul lihat di google maps, posisi kita ini dimana,” kata Gus Harun.


“Lihatnya dimana Gus?” tanya Abah Dul bingung.


“ya, di hape Dul,” jawab Gus Harun.


Segera Abah dul merogoh saku baju komborannya, lalu mengeluarkan hape miliknya, “Ini Gus, gimana lihatnya?” kata Abah Dul sambil menyodorkan hape.


“Masya Allah Dul, dul.. hape ente masih jadul aja,” sungut Gus Harun lalu menoleh ke Mahmud.


“Kang Mahmud?”


Mahmud pun segera merogoh saku celananya. Mula- mula dirogohnya saku celana sebelah kanan lalu berganti ke saku sebelah kiri.


“Waduh kayaknya hape saya ketinggalan Gus,” ujar Mahmud.


“Innalillahi…” gumam Gus Harun gusar.


“ada apa Gus?!’ sela Abah Dul kaget.


Gus Harun segera merogoh saku baju koko putinya, lalu mengeluarkan tangannya kembali sambil menggenggam sesuatu. Lalu memperlihatkannya pada Abah Dul dan Mahmud,


“Hape ane juga nggak bisa, hape jadul,” ujar Gus Harun dengan lesu.


Nampak di genggaman tangan Gus Harun memperlihatkan hape nokia 3315. Mahmud dan Abah Dul mengerutkan dahinya, keduanya tampak bingung masih belum mengerti dengan maksud dari Gus Harun. Maklum Mahmud dan Abah Dul termasuk anak desa yang hidup di kampung jadi tidak begitu memahami teknologi yang ada di hape.


“memangnya harus hape apa Gus?!” tanya Abah Dul bingung.


“Hape android Dul,” balas Gus Harun lesu sembari menghempaskan punggungnya ke sandaran jok mobil.


“Kita keluar tol aja Gus, nggak jauh di depan ada pintu keluar. Kalau nggak salah ini ada di sekitaran daerah Purwokerto,” kata Mahmud.


“terus kemana kita Mud?” tanya Abah Dul.


“Kita datangi polsek atau Polres terdekat, kita tanya disana,” tegas Mahmud.


“Ente betul kang Mahmud, ayo jalan kang,” sela Gus Harun.

__ADS_1


Mobil Avaza warna merah yang dikemudikan Mahmud itupun kembali melaju menuju pintu keluar tol yang tak jauh ada didepan. Beberapa menit kemudian mobil sudah keluar dari jalan tol dan melaju di jalur pantura.


“Stop! Stop! Stop kang!” seru Gus Harun.


Dengan reflek Mahmud pun sedikit ngerem karena terkejut. Beruntung dibelakang mobilnya tidak ada kendaraan lain yang dekat. Meski begitu kedaraan truk di belakang tetap saja membunyikan klaksonnya dengan kencang


meski jaraknya sedikit jauh.


Perlahan Mahmud menyalakan lampu sen kiri dan menepikan mobilnya lalu berhenti di pinggir jalan.


“Ada apa Gus?!” tanya Mahmud heran.


“Kalau kita lurus berarti kita semakin jauh dengan lokasi kecelakaan tadi kang. Harusnya kita jalan balik kearah sana,” jawab Gus harun menunjuk ke belakang.


“Oh iya ya,” ucap Mahmud sambil tepak jidat.


Mahmud segera bersiap kembali melajukan mobilnya untuk memutar arah sambil melihat celah lalu lintas yang sedikit padat kendaraan yang berlalu lalang.


“Gus sudah mau jam empat nih, kita belum sholat ashar,” sela Abah Dul mengingatkan.


“Astagfirullahal adzim! Kita cari masjid dulu kang,” timpal Gus harun.


“Njih kang,” sahut Mahmud.


Tak berapa lama Mahmud melihat menara masjid berwarna hijau pupus menjulang di depan sebelah kiri. Mungkin jaraknya sekitar 50 meteran dari posisinya saat ini.


“Itu didepan Gus,” ujar Mahmud menunjuk kearah menara masjid.


Mahmud pun membelokkan mobilnya memasuki halaman parkir masjid. Ketiganya bergegas turun dari mobil lalu berjalan menuju tempat wudlu, namun yang pertama mereka tuju adalah toilet. Fasilitas toilet di masjid itu lumayan bersih dan memiliki enam kamar kecil. Mereka pun satu persatu masuk kedalam kamar kecil yang berjejer bersebelahan.


Sekitar 5 menitan ketiganya keluar dari kamar kecil satu persatu lalu menuju ke tempat wudlu. Kemudian dilanjutkan dengan menunaikan sholat ashar berjamaah. Didalam masjid nampak sudah lengang sepertinya jamaah masjid sudah selesai melaksanakan sholat ashar sehingga ketiganya melaksanakan sholat berjamaah sendiri. Gus harun berdiri sebagai imam dan Mahmud serta Abah Dul berdiri di shoff dibelakangnya sebagai makmum.


Kurang lebih sekitar 7 menitan sholat ashar dengan 4 rokaat itupun selesai dilanjutkan dengan membaca doa dipimpin Gus Harun.


Jam 4. 15 menit,


Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud bergegas kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan mencari kantor polisi.** BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2