Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
KRITIS


__ADS_3

Anak kecil berusia 3 tahunan itu terbaring di atas ranjang putih rumah sakit. Masker oksigen nampak menutupi separuh mukanya dengan selang-selang beserta kabel-kabel yang menempel di tubuhnya yang diam tak bergerak sama sekali semenjak masuk ke ruang ICU.


Suara dari Monitor Holter yang merekam ritme jantung secara terus-menerus menciptakan kecemasan yang terukir jelas di wajah Arin dan Dewi yang berderai air mata tak henti-henti. Sementara Mahmud menatap membatu tubuh mungil keponakannya itu dengan gelisah.


“Dede belum juga sadar, apakah Abah Dul tidak berhasil?!” Batin Mahmud.


Mahmud merogoh saku celananya mengambil hape lalu mencoba menghubungi Abah Dul bermaksud menanyakan situasinya.


Tut tut tut tut tut tut


“Hadeuh, hape Abah Dul juga nggak aktif lagi,” gumam Mahmud sekian gelisah ke.udian melangkah keluar ruangan.


......................


Di ruang tengah rumah Mahmud, raut wajah Abah Dul terlihat sangat tegang. Di depannya ustad Arifin tak dapat berbuat banyak karena ia tidak mengetahui situasinya sama sekali, yang ia tahu hanyalah menjaga tubuh Abah Dul saat di mintai tolong oleh Mahmud. Ustad Arifin hanya menanti apa yang akan Abah Dul lakukan dan berharap dirinya bisa memberikan bantuan.


Kali ini Abah Dul nampak sangat kebingungan dengan situasi yang sedang di hadapinya saat ini. Melawan Raja Kalas Pati dan menyelamatkan nyawa Dede yang di bawa pasukan monyet siluman merupakan dua kondisi yang sama-sama tidak mampu di lakukannya.


Untuk menyelamatkan nyawa Dede, Abah Dul harus berhadapan dengan Raja Kalas Pati. Dan itu hal yang paling menakutkan semenjak bentrokan terakhir yang nyaris membuatnya kehilangan nyawanya bahkan bukan hanya dirinya nyawa Gus Harun, Mahmud dan Kosim pun saat itu hampir kehilangan nyawa.


Saat ini hanya ada satu yang terpikirkan oleh Abah Dul yaitu Gus Harun. Ia sangat berharap banyak kepada sahabatnya yang berada di Banten dapat memberikan jalan keluar dan pertolongannnya.


“Ustad punten, tolong jaga badan saya, saya mau meminta bantuan sahabat saya.” Ucap Abah Dul pada ustad Arifin memecah keheningan.


“Iya Bah,” sahut ustad Arifin.


Abah Dul langsung merubah duduknya dengan bersila, baru saja hendak memejamkan matanya, tiba-tiba sosok wujud berkabut muncul di ruangan itu. Begitu juga dengan ustad Arifin, ia terkejut dengan kemunculan sosok itu di hadapannya.


“Kosim?!” pekik ustad Arifin.


“Bah, tolong Dede bah!” suara Kosim menghentikan niat Abah Dul hendak meloloskan sukma.

__ADS_1


Abah Dul kontan membuka matanya kembali dan menatap Kosim berwujud kabut. Ia memperhatikan sosok berkabut yang bersuara datar itu.


“Kamu terluka Sim?!” ucap Abah Dul melihat kondisi Kosim yang terlihat membungkuk-bungkuk sambil memegangi dadanya.


“Saya hampir di bawa mereka Bah, saya baru tau dan merasakan kekuatan siluman-siluman monyet itu.” Ucap Kosim dingin.


“Kamu bertarung dengan mereka seorang diri?!” sergah Abah Dul dengan mata membelalak tak percaya.


“Iya Bah, apa yang harus saya lakukan untuk menyelamatkan nyawa Dede? Jika tidak segera di selamatkan, Dede akan meninggal Bah!” kata Kosim meninggikan suaranya penuh dengan amarah.


“Saya belum tahu Sim, saya mau meminta bantuan Gus Harun,” ujar Abah Dul pasrah.


“Baik kalau begitu, saya juga akan melihat kondisi Dede. Sepertinya anak saya berada di rumah sakit,” ucap Kosim.


“Iya Sim, anak ente di bawa ke rumah sakit.” Sahut Abah Dul.


Selesai Abah Dul membalas ucapan Kosim, Kosim langsung melesat ke atas dan menghilang. Dan Abah Dul pun kembali melanjutkan melepas sukmanya menyambangi keberadaan Gus Harun di Banten.


......................


Di dalam ruang dimensi lain yang sangat asing, kedua mata Arin terbelalak lebar. Ia meihat pemandangan yang sangat mengerikan, ia melihat putranya sedang di bawa oleh dua monyet bertubuh tinggi besar.


Arin menyaksikan seorang anak kecil tengah meronta-ronta dalam cengkeraman tangan-tangan monyet tinggi besar di samping kanan dan kirinya hingga membuat tubuh mungil itu tergantung diantara kedua monyet besar itu. Hanya kakinya yang terus mengejat-ngejat berontak penuh ketakutan.


Di belakang dua monyet besar yang menenteng mencengkeram kedua tangan anak kecil itu, ratusan sepasukan berwujud monyet mengiringinya saling berteriak penuh kegembiraan.


"Huuu! huuuu! huuuu! huuii!"


Iring-iringan membawa anak kecil itu kemudian memasuki gerbang istana yang nampak berkilauan dengan di dominasi berwarna emas. Suara menyayat penuh ketakutan dari teriakkan anak kecil itu terdengar melengking. Arin di buat ternganga tanpa mampu berbicara dan melakukan apapun, ia hanya bisa mendengar dan melihat pemandangan mengerikan itu. Hingga suara teriakkan keras memanggilnya sehingga membuat Arin terkesiap.


“Lepassssskaaaaannn...! Mamaaaaah.... mamaaaaah....!”

__ADS_1


Bocah 3 tahunan yang tak lain Dede itu terus memanggil-manggil ibunya dengan tangis histeris.


“Dedeeeee.....!!! Dedeeee....!!!


Dedeeeee......!!!”


Arin berteriak sekencang-kencangnya membuat Dewi tersentak seketika. Dewi langsung berlari memutari ranjang rumah sakit menuju Arin yang berteriak-teriak dengan kepala tertelungkul dilengannya.


“Arin! Ariiin!” Seru Dewi mengguncang-guncang tubuh adiknya.


Seketika teriakkan Arin berhenti, Arin mendongakkan kepalanya celingukkan melihat sekelilingnya. Dewi langsung memeluk Arin penuh kasih sayang sekaligus membuat tangisannya kian keras hingga bahunya berguncang-guncang.


“Saya mimpi?! Tapi saya melihat Dede mbak! Saya melihat Dede!” pekik Arin.


“Arin, Arin... istigfar, istigfar Rin...” ucap Dewi menenangkan.


......................


Sementara itu Mahmud duduk termangu di kursi depan ruangan ICU dengan pikiran yang tak menentu. Rasa cemas, takut, khawatir semuanya berbaur menjadi satu dalam kekalutan.


“Apakah Dede di bawa siluman monyet itu?!” Batin Mahmud.


Seketika wajahnya membesi penuh kemarahan, namun Mahmud sangat bingung dan tak tahu apa yang harus di lakukan. Dalam kekalutannya, ia hanya bisa berandai-andai penuh penyesalan. Seandainya dirinya memiliki kekuatan besar dan mampu menembus alam gaib pasti dirinya tidak akan bingung dan akan langsung merebut nyawa Dede kembali.


Tatapan Mahmud tajam memandang lurus di depannya yang hanya ada tembok kamar ruang perawatan. Tanpa sadar jemarinya mengusap batu cincin berwarna merah yang melingkar di jari manis tangan kanannya.


Beberapa saat Mahmud tersadar mengalihkan pandangan matanya kearah batu cincin yang diusap-usapnya. Mahmud langsung teringat dengan peristiwa kemunculan Raja Siluman Monyet di halaman rumahnya, kala itu dirinya beserta Kosim, Abah Dul dan Gus Harun nyaris kehilangan nyawa di pedang Raja Kalas Pati. Dalam kepasrahan menunggu hujaman pedang itu tiba-tiba batu merah di jarinya mengeluarkan cahaya merah dan tanpa di ketahui alasannya Raja Kalas Pati itu lenyap seketika.


“Batu Mustika pemberian ratu Ular!” pekik Mahmud.


Secercah senyuman penuh harapan langsung merekah di bibirnya.

__ADS_1


......................


__ADS_2