Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
TAWARAN MENGGODA


__ADS_3

Abah Dul berdiri tegak mengepalkan tangan, matanya melirik kesegala arah dengan tajam memperhatikan sekelilingnya. Berharap ada sesosok yang bertanggung jawab melakukan serangan tadi.


Namun sejauh matanya memandang yang dilihatnya hanyalah rerimbunan pohon- pohon besar. Tak ada apapun disana, padahal jelas- jelas hantaman itu datang dari arah belakangnya.


Abah Dul kembali membalikkan badannya berniat meneruskan perjalanannya mengikuti burung gagak. Akan tetapi ia baru tersadar kalau burung gagak di depannya sudah tidak kelihatan lagi.


“Kemana burung itu? Apakah saya sudah tertinggal jauh?” batin Abah Dul.


Baru saja satu kaki melangkah, tiba- tiba telinga Abah Dul mendengar suara desisan yang begitu jelas dari arah belakangnya.


“Ssssssshhh.... sssshhhhh.... ssssshhhh...”


“Ular?!” gumamnya, kemudian reflek Abah Dul kembali membalikkan badannya.


Deg!


Sontak saja jantung Abah Dul serasa berhenti berdetak. Mula- mula yang dilihatnya badan ular yang melungkar sebesar drum minyak. Sisiknya berwarna hitam legam membentuk tumpukkan melingkar hingga setinggi 5 meteran.


Kepala ular yang besarnya sama dengan tubuhnya nampak menjulur tegak sedang mendikte Abah Dul dengan menjulur- julurkan lidah bercabangnya.


Mulut Abah Dul ternganga dibuatnya melihat mahluk mengerikan dengan penampilan dan ukuran yang tak wajar di depannya.


Ia tersurut mundur tiga langkah kebelakang dengan kepala mendongak memperhatikan kepala ular yang terus- menerus bergerak meliuk- liuk mengikuti pergerakkan Abah Dul.


Abah Dul gemetar menyaksikan ular raksasa di hadapannya, kekalutannya memunculkan bayangan buruk yang sangat menakutkan didalam hatinya.


Terbayang dibenak Abah Dul tubuhnya akan di mangsa dalam sekali lahap dan masuk kedalam perut ular raksasa itu.


“Apakah hidup saya berakhir disini?!” Gumamnya sedikit putus asa.


Keringat dingin mulai bercucuran di wajah Abah Dul, bajunya pun nampak terlihat basah oleh keringatnya pula melihat Kepala ular raksasa itu menjulur tanpa merubah posisi melingkarnya.


Semakin Abah Dul membuat gerakan, kepala ular raksasa itu semakin liar bergerak mengikutinya.


Diujung kepanikannya, muncul kesadaran Abah Dul untuk melakukan perlawanan dengan segala kemampuan yang dimilikinya.


Tangannya segera diangkat lurus keatas, matanya tetap menatap kepala ular raksasa sembari mulutnya membacakan sebuah amalan.


Sekejap berikutnya, tiba- tiba seberkas cahaya putih yang menyilaukan muncul diujung tangan yang diangkatnya.


Kepala ular raksasa dibuat tersurut mundur manakala cahaya putih itu muncul di ujung tangan Abah Dul dengan mengeluarkan suara mendesis yang sangat menggidikkan.


“Sssshhhh.... Ssssshhhh.... Sssshhhh.... Ssssshhhh....”


Tak lama kemudian cahaya putih diujung tangan Abah Dul itu lenyap secara tiba- tiba. Dan kini tangannya telah tergenggam sebilah pedang besar.


Pedang besar itu tak lain adalah pedang Abu Bakar, sebilah pedang perwujudan dari sebuah amalannya.

__ADS_1


Setelah pedang Abu Bakar muncul ditangannya, Abah Dul bergerak melesat di bawah tubuh ular yang melungkar.


Sejenak ia mendkngak keatas memperhatikan kepala ular yang sedang lengah, lalu dengan cepat ia menebaskan pedang Abu Bakar dengan sekuat tenaga kearah badan ular raksasa yang jaraknya hanya satu jangkauannya tangannya.


Swoooossshhh...


Kilatan pedang Abu Bakar menebas deras ke tubuh ular raksasa.


Bukkkk..!!!


Abah Dul terkesiap terkejut bukan kepalang. Kedua matanya terbelalak tak percaya melihat pedang Abu Bakar digenggamannya terpental saat mata pedang itu mengenai tubuh ular raksasa.


Beberapa saat Abah Dul tercengang melongo dengan kejadian yang sangat diluar dari perkiraannya itu.


“Bagaimana bisa?!” Batin Abah Dul yang termangu berdiri membatu.


Selama ini tak ada satupun mahluk gaib yang mampu menahan tebasan pedang Abu Bakarnya, apalagi sampai tak mempan oleh tebasannya.


“Innalillahi wainnailaihi rojiuun!” Pekik Abah Dul tercengang.


Didalam batin Abah Dul, situasi yang dihadapinya saat ini merupakan bencana. Senjata gaib yang paling diandalkannya tidak dapat memberikan perlindungan apapun.


Akalnya terus berputar mencari cara dengan cara apakah untuk melawan ular raksasa itu. Terbersit dalam pikirannya untuk menggunakan sebuah amalan yang menimbulkan tenaga dalam.


Amalan yang sebelumnya sudah dia persiapkan di lafalkannya kembali. Kesua tangannya terkepal erat bersamaan selesainya membaca amalan.


Kemudian dengan membuat gerakkan menggeser kaki kanannya satu langkah kedepan membuat kuda- kuda, segera Abah Dul menyorongkan tangan kanannya yang sudah terisi dengan kekuatan tenaga dalam itu kedepan.


Swooosssahhh...


Duaaarrrrr...!!!


Seketika suara dentuman keras seperti ledakkan menggema dan menggetarkan pijakan Abah Dul berdiri. Bahkan tubuh Abah Dul sendiri ikut goyah oleh getarannya sekaligus terdorong kebelakang dua langkah.


Kedua mata Abah Dul kembali terbelalak untuk kesekian kalinya. Ia melihat kepala ular raksasa yang dihantamnya dengan tenaga dalam itu nampak tak bergeming.


Justru sebaliknya kepala ular raksasa itu seketika menjulur mengejar tubuh Abah Dul yang tersurut mundur.


Kini Abah Dul dalam keadaan terdesak. Tak ada lagi yang dapat diperbuatnya, ia nampak pasrah dengan keadaannya saat ini.


Dengan nafas tersengal- sengal, Abah Dul memejamkan matanya perlahan- lahan. Dirinya merasa pasrah menerima kenyataan dihadapannya, seraya berucap;


“Asyhadu ala ilaha illallah, wa’ asyhadu anna muhammadarosulallah...”


Dua kalimat syahadat samar- samar terucap dari bibirnya bersamaan memejamkan mata. Abah Dul menunggu yang akan terjadi berikutnya, hatinya sudah memperkirakan kalau dirinya akan mati.


Beberapa detik menunggu, ternyata tak ada apapun yang menimpanya, Abah Dul pun perlahan membuka matanya kembali.

__ADS_1


Deg!


Disaat itulah, Abah Dul kembali terbelalak. Ia melihat sosok wanita yang sangat cantik berdiri di depannya. Tubuh Wanita itu dibalut pakaian kebaya persis pakaian adat Jawa pada jaman dulu.


Ujung rambutnya panjang tergerai, pada bagian tengahnya diikat kecil dan terselip tusuk konde disimpul ikatannya.


Dipinggangnya terikat kain selendang berwarna kuning emas menutupi bagian tèngah kepabaya coklat dan atasannya.


Tingginya sama dengan tinggi badan Abah Dul, tubuhnya terlihat sintal dan sangat menggoda iman. Ditambah dengan paras wajahnya yang sangat cantik dan anggun.


Melihat wanita yang tiba- tiba muncul dihadapannya, Abah Dul justru celingukkan kesana kemari mencari sesuatu.


“Kke, kkke kkkemana ular itu?!” gumam Abah Dul tergagap.


Sebagai lelaki dewasa dan normal, melihat wanita cantik dan molek didepan matanya, Hasrat naluri kelelakiannya berdesir.


Namun cepat- cepat Abah Dul membuang pandangannya, ia mengalihkan pandangannya ke sisi lain.


“Kang mas... ikutlah denganku. Kang mas akan mendapatkan apa saja yang kang mas inginkan,” Suara wanita itu tersengar halus namun terasa menggidikkan.


Abah Dul terkesiap kaget mendengar tawaran itu. Hatinya menjadi gamang, apakah ini jalan untuk mendapatkan benda yang perintahkan orang berjubah hitam itu?


Terjadi pergolakkan didalam batinnya. Pro dan kontra saling bermunculan di kepalanya.


Terbersit di benak Abah Dul, kalau wanita cantik ini adalah petunjuk yang akan membawanya menuju benda bertuah itu.


Akan tetapi sedetik berikutnya, hatinya menolak kalau wanita itu hanyalah bagian dari godaan saja.


“Kang mas mau apa? Akan aku turuti, ayo mintalah kepadaku!” Suara wanita cantik itu kembali terdengar.


Mendengar kalimat dari wanita cantik barusan, seketika Abah Dul seperti tersadar sepenuhnya.


“Mintalah padaku!”


“Mintalah padaku!”


“Mintalah padaku!”


Rupanya kalimat itulah yang membuat pikrian Abah Dul keluar dari buaian pesona wanita cantik itu. Kedua matanya seketika melotot tajam penuh dengan amarah dan kebencian menatap wanita cantik itu.


Karena kalimat itulah yang membuat Abah Dul tiba- tiba teringat dengan wejangan dari gurunya saat masih di pesantren dulu yang masih diingatnya hingga saat ini.


“Kamu bukan Tuhan! Saya wajib meminta hanya kepada Tuhan, bukan kepada kamu!” seru Abah Dul tegas.


Ia ingat betul, gurunya yang berjuluk, Kiyai Sapu Jagat mewanti- wanti, agar tidak sekali- kali meminta kepada selain Gusti Allah, Tuhan yang menciptakan jagat semesta.


Mengingat itu tanpa disadarinya, ia mengucapkan ayat pertama dari surat Al ikhlas yang menegaskan kalau Tuhan itu satu.

__ADS_1


“Kulhu allahu ahad!”


......................


__ADS_2