Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
UNDANGAN


__ADS_3

“Assalamualaikum waroh matullahi wabarokaatuh… bapak- bapak, ibu- ibu, saudara- saudara warga desa Palu Wesi yang berbahagia. Di umumkan untuk seluruh warga desa Palu Wesi, bahwa kita semua di undang oleh keluarga bapak Harjo untuk hadir dalam acara Syukuran, yang insya allah akan diadakan pada hari Kamis besok. Sekali lagi diberitahukan kepada seluruh warga desa Palu Wesi, bahwa kita semua di undang oleh keluarga bapak Harjo untuk hadir dalam acara Syukuran, bertempat di rumah bapak Harjo mulai pukul 10 pagi, yang insya allah akan diadakan pada hari Kamis besok. Di harapkan semua warga dapat hadir di rumah bapak Harjo, sekian wabillahi taufik wal hidayah wassalamualaikum warohmatullahi wabaro kaaatuh..”


Terdengar suara pengumuman dari pengeras suara masjid di desa Palu Wesi mengumandang keseluruh desa Palu Wesi. Tak lama kemudian terdengar pula suara dari pengeras suara dari mushola- mushola yang tersebar di beberapa RT dan RW yang juga mengumumkan hal yang sama.


“To… Karto… ! mang Tatang…! istirahat dulu sudah Duhur!!!” teriak Kardi dari dalam Gubuk kepada dua temannya yang masih saja menjangkul sawahnya.


Dua orang yang dipanggil Kardi itu menghentikan pekerjaannya ditengah teriknya matahari. Karto dan Tatang yang posisinya tak begitu jauh langsung berdiri tegak meluruskan badannya. Dengan reflek keduanya memandang ke atas langit secara bersama- sama sambil mengusap dahinya sejenak dengan punggung tangan menyeka keringat yang bercucuran yang bercampur lumpur.


“Di, tadi kamu dengar penguman dari masjid? Pengumamn apa tadi Di, saya tidak begitu menyimaknya karena sedang nyangkul. Tapi yang saya dengar sekilas hanya kata pak Harjo saja,” tanya Karto setelah sampai di dalam


gubuk tempat Kardi yang sudah istirahat duluan beberapa menit yang lalu.


“Oh itu To, kita semua warga desa Palu Wesi diundang makan- makan To,” jawab Kardi yang lebih dulu beristirahat di gubuk sawah.


“Hussst..! jangan dulu mengharapkan begitu Di, pamali!” sergah Karto.


“Hehehehe… ya sudah pasti To, saya sudah dengar sebelumnya kalau pak Harjo akan mengadakan syukuran atas kesembuhan Hariri dan kabarnya nyembelih sapi sepuluh ekor dan sepuluh ekor kambing,” kata Kardi sumringah.


“Benar To, saya juga tahu dari istri saya yang ikut membantu masak- masak disana,” timpal Tatang.


“Masya allah sungguh dermawan sekali pak Harjo ya Di, ya Tang. Kapan itu acaranya?” tanya Karto lagi.


“Besok To, jam sepuluh,” jawab Kardi.


“Apa boleh kalau saya bawa semua anak- anak ya Di?” tanya Tatang.


“Ya pasti boleh Tang, lah wong pengumumannya untuk semua warga desa Palu Wesi,” jawab Kardi.


Sementara itu di warung- warung kopi, hal yang sama sedang diperbincangkan beberapa warga yang sedang nongkrong disana. Mereka semua saling mengingatkan sekaligus memastikan untuk datang ke acara syukurannya pak Harjo. Dan tak sedikit yang juga merasa kagum dengan sosok pak Harjo karena kedermawanannya yang didukung dengan kemampuan hartanya mau mengundang seluruh warga desa Palu Wesi.

__ADS_1


“Kira- kira berapa uang yang dikeluarkan pak Harjo ya Juk?” tanya mang Tasrip setelah menyeruput the tubruknya.


“Wah saya tidak tahu persisnya Mang, tapi kita bisa kalkulasikan sendiri. Misal saja harga sapi dibikin dua puluh juta perekornya, sudah kelihatan nilainya dua ratus juta, belum lagi sepuluh ekor kambing jika harga perekornya dibikin lima juta saja sudah kelihatan lima puluh juta mang,” ungkap Juki lalu menghisap rokoknya dalam- dalam kemudian dihembuskannya perlahan- lahan.


Lain lagi dengan yang diobrolkan para kaum ibu- ibu yang sedang berkumpul di rumah salah satu warga Desa Palu Wesi. Mereka duduk membentuk barisan saling menghadap belakang kepala satu sama lainnya. Sambil nyari kutu, 6 orang ibu- ibu itu serius membicarakan tentang kesembuhan Hariri.


“Tadinya saya sudah memperkirakan kalau Hariri itu hanya tinggal menunggu waktu saja,” ucap ibu Rus yang duduk diurutan paling belakang mencari kutu di kepala ibu Odah.


“Husssttt! Sembarangan saja bu Rus nih!” sergah ibu Cas yang duduk diurutan ketiga.


“Maksudnya bukan begitu bu Cas. Sebab saya lihat sendiri sewaktu nengok anak itu, saat itu kondisinya sudah tidak bisa apa- apa hanya tergolek diatas tempat tidurnya. Tubuhnya sangat kurus sekali loh bu, kelihatan hanya tulang yang dibalut kulit saja. Kuruuuus banget,” ungkap bu Rus.


“Iya sih, saya juga sempat nengoknya. Tapi sungguh beruntung sekali, anak itu akhirnya bisa sembuh juga,” sahut bu Cas.


“Iya ya, menurut orang- orang sih denger- denger anak itu di guna- guna sama orang,” ujar bu Turih yang duduknya paling akhir.


“Astagfirullah! Yang bener bu Rus?!” tanya bu Tika yang mencari kutu di kepala bu Turih.


“Katanya sih begitu,” sahut bu Rus.


“Kenapa tidak dilaporkan ke polisi saja ya bu?” celetuk bu Isah yang sedari tadi diam mendengarkan saja.


“Katanya tidak ada bukti yang kuat pada kematian gadis itu yang disebabkan Hariri bu Isah, anak gadis itu mati gantung diri di kamarnya,” terang bu Rus.


“Astagfirullah!” ucap ibu- ibu serempak.


“O iya denger- denger Hariri sembuh setelah berobat ke dukun cilik, apa bener begitu bu?” tanya bu Odah.


“Bukan dukun cilik bu Odah tapi katanya Bocah Ajaib dari desa Sukadami. Wong saya sendiri yang mendengarnya langsung di ucapkan bu Harjo di warung kok,” sanggah bu Rus.

__ADS_1


“Bocah ajaib?” tanya semua ibu- ibu serempak.


“Iya, tapi saya tidak tahu pastinya tapi bu Harjo selalu mengatakannya bocah ajaib,” kata bu Rus.


“Bocah itu sakti gitu?” tanya bu Turih penasaran.


“Ya mungkin, buktinya Hariri saja bisa sembuh kan? Tapi memang sangat tidak masuk akal sih, ya masa sih seorang bocah sudah memiliki kesaktian begitu. Kalau saya sih tidak percaya bu,” ungkap bu Rus.


“Darimana bocah ajaib tadi bu Rus? Tanya bu Isah.


“Katanya sih dari desa Sukadami yang ada di kabupaten sebelah,” jawab bu Rus.


“Terlepas percaya atau tidaknya bocah itu bisa mengobati orang sakit, tidak ada salahnya kalau saya juga ingin mencobanya bu,” kata bu Isah.


“Loh memangnya siapa yang sakit bu?” tanya bu Tika yang duduk paling ujung.


“Ada suami teman saya bu Tika, dia sudah lama sakit tapi tak kunjung sembuh. Padahal sudah berobat kemana- mana tapi tidak ada hasilnya, kasihan sampai menjual tanah segala untuk biaya pengobatannya,” terang bu Tika.


“Kasihan juga ya,” ujar bu Turih.


“Ya coba saja tanya sama bu Harjo bu Tika, siapa tahu bisa sembuh seperti Hariri,” ujar bu Rus.


“Eh, besok berangkat ke acara syukurannya pak Harjo sama- sama saja yuk bu,” sela bu Odah.


“Hayu, hayu. Nanti kumpulnya di sini saja, ya…” sahut bu Rus.


“Iya, bener, bener ketemu di sini ya. Jam berapa kumpulnya bu?” tanya bu Isah.


“Jam sembilan kita sudah kumpul disini ya,” ujar bu Rus.** BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2