
Mahmud membelokkan mobilnya memasuki halaman parkir kantor Polisi. Suasana menjelang sore di kantor polisi nampak lenggang nyaris tak ada aktifitas layanan karena tak terlihat adanya warga masyarakat yang datang maupun keluar dari kantor tersebut.
"Assalamualaikum, selamat sore pak," ucap Mahmud kepada petugas jaga di meja yang bertuliskan "Layanan Masyarakat."
"Wa' alaikum salam, silahkan duduk. Ada yang bisa kami bantu pak?" balas petugas dengan ramah.
"Mm, begini pak. Kami mendapatkan berita dari televisi tadi pagi bahwa di jalan tol wilayah Jawa tengah ada kecelakaan beruntun, apa betul pak?" tanya Mahmud.
"Iya benar pak. Kebetulan kejadiannya berada di wilayah kami. Rekan- rekan kami bahkan masih di lapangan membantu petugas -petugas dari Polres karena kasusnya langsung dilimpahkan dan ditangani pihak Polres. Mmm, maaf apakah bapak- bapak mengenal korban atau salah satu korbannya?" petugas balik tanya.
"Ya kami berharap korban- korbannya bukan pak orang yang kami maksud. Namun sekilas kalau melihat dari tayangan televisi itu terkait di salah satu mobil berplat 'L' terdapat dua nama yang kami kenal," kata Gus Harun menimpali.
"Kalau boleh tahu siapa saja nama- nama yang bapak maksud itu?" tanya petugas.
"Mm, Baharudin dan Basyari pak," jawab Gus Harun.
"Sebentar pak saya cek data laporan kecelakaannya," kata petugas.
"Baik pak," sahut Gus Harun yang diangguki Mahmud dan Abah Dul.
Kemudian dengan cekatan Petugas itu melihat ke layar monitor komputer yang ada di sebelahnya. Petugas itu langsung memainkan Jarinya mengetik tuts keyboard. Suara ketikan keyboard komputer jelas terdengar mengisi kekosongan suasana. Gus Harun, Mahmud dan Abah Dul hanya bisa menunggu keterangan dari petugas dengan wajah gelisah dan cemas.
Tak lama kemudian petugas itu nampaknya sudah menemukan file yang di cari.
"Benar pak, ada korban yang bernama Ahmad Baharudin berasal, KTP nya berasal dari Kutai Kalimantan Timur dan korban satunya bernama Mohammad Basyari KTP nya warga Surabaya. Kedua korban merupakan penumpang mobil Terrios warna hitam," kata Petugas.
"Lalu korban- korbannya dibawa kemana pak?" Sela Abah Dul.
"Menurut informasi rekan di lapangan, saat ini korban dilarikan di rumah sakit umum daerah. Kebetulan tidak jauh dari sini pak," jawab petugas.
"Kalau dari sini kemana jalan ke RSUD itu pak?" timpal Mahmud.
"Dari sini sekutar 5 kilian, bapak ambil arah jalan ke Purwokerto kota. Rumah sakitnya berada sebelum masuk ke kawasan kota, di sisi sebelah kanan," terang petugas.
"Baik pak, terima kasih banyak bantuannya. Kami pamit, assalamualaikum..." ucap Gus Harun diangguki Mahmud dan Abah Dul Kemudian mereka bertiga bergegas keluar kantor polisi.
Tak lama kemudian mobil yang dikemudikan Mahmud sudah melaju di jalur pantura mengikuti petunjuk dari petugas tadi. Didalam mobil, Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud saling diam. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing- masing.
__ADS_1
Gus Harun sendiri hatinya merasa gelisah, hatinya terus menolak jika korban- korban itu bukan sahabat- sahabatnya.
"Dul, entah kenapa hati saya selalu menolak kalau korban- korban itu Basyari dan Baharudin sahabat kita," kata Gus Harun memecah keheningan.
Seketika raut Wajah Abah Dul dan Mahmud terkesiap. Ucapan Gus Harun sepertinya sama dengan yang mereka rasakan.
"Loh kok sama ya Gus, saya juga metasakannya begitu," ujar Abah Dul.
"Benar Gus, hati saya juga tidak yakin kalau itu ustad Basyari dan ustad Baharudin," timpal Mahmud.
"Kok aneh bisa sama begitu ya?" gumam Gus Harun setengah bertanya.
"Dul jam berapa sekarang?" tanya Gus Harun menoleh ke tempat Abah Dul.
"Jam empat lewat sepuluh menit Gus," sahut Abah Dul.
"Ayo kang Mahmud di percepat lagi jalannya. Kita harus memastikan langsung benar tidaknya korban- korban itu sahabat kita," kata Gus Harun.
"Njih Gus," sahut Mahmud.
Tak sampai 20 menitan terlihat nameboard bertuliskan RSUD terpampang jelas diseberang kanan jalan.
"Njih Gus," sahut Mahmud perlahan membelokkan mobilnya menyeberang lalu memasuki halaman parkir rumah sakit.
Halaman parkir rumah sakit lumayan padat. Nampak pula ada mobil polisi yang terparkir di dekat Instalasi Gawat Darurat. Setelah beberapa saat mencari tempat parkir yang kosong, akhirnya menemukan juga tempat kosong disamping kanan gedung RSUD.
Mahmud, Gus Harun dan Abah Dul pun langsung bergegas menuju depan pintu masuk rumah sakit. Langkah mereka tergesa- gesa memasuki rumah sakit.
"Selamat sore sus, apakah disini ada pasien korban kecelakaan di jalan tol tadi pagi? Namanya Baharudin dan Basyari," tanya Mahmud.
"Ya selamat sore, Sebentar ya pak saya cek dulu datanya," jawab petugas lobi rumah sakit.
Mahmud, Gus Harun dan Abah Dul pun menunggu keterangan dari suster penjaga dengan wajah cemas.
Kurang dari 2 menit, suster itu memberikan keterangannya setelah melihat data di komputer.
"Betul bapak, disini ada pasien yang bernama Ahmad Basyari dan Muhamad Baharudin..." kata suster.
__ADS_1
"Di ruang mana sus?!" sergah Gus Harun memotong ucapan suster.
"Kedua korban masih berada di ruang I G D pak," lanjut suster.
"Dimana ruang I G D itu sus?" Tanya Abah Dul.
"Dari bapak- bapak jalan ke lorong itu lalu di persimpangan ambil lorong kiri, itu langsung ketemu ruang I G D pak," terang suster.
"Kalau begitu terima kasih banyak sus," ucap Mahmud diangguki Gus Harun dan Abah Dul.
Ketiganya cepat- cepat melangkah menuju lorong yang disebutkan petugas lobi rumah sakit tersebut. Masing- masing dihati ketiga orang itu berkecamuk berbagai macam perasaan dan perkiraan- perkiraan tentang kondisi Basyari dan Baharudin.
Tak sulit menemukan ruang I G D setelah mengikuti petunjuk dari suster tadi. Kini didepannya terpampang tulisan besar 'I G D' dengan warna merah.
Nampak di depan ruang rawat I G D itu ada dua orang berseragam polisi sedang duduk di kursi depan ruangan
perawatan yang terkantuk- kantuk. Sepertinya kedua petugas berseragam polisi tersebut ada kaitannya dengan kasus kecelakaan di jalan tol. Satu petugas berseragam polisi berusia sekitar 47 tahunan sedangkan petugas berseragam polisi yang satunya usianya berkisar 35 tahunan.
Dengan langkah tergesa- gesa, Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud menghampiri kedua orang berseragam polisi itu yang terlihat keletihan.
“Assalamualaikum, permisi pak apakah benar disini ada korban kecelakaan jalan tol tadi pagi pak?” tanya Gus Harun sambil menyalami dua petugas dari kepolisian itu satu persatu.
“Benar, mm, maaf bapak- bapak ini siapa ya?” petugas polisi setengah baya balik bertanya dengan sorot mata menyelidik sambil membetulkan duduknya.
“Kami saudaranya pak dari korban yang bernama Basyari dan Baharudin, bagaimana kondisinya pak?” jawab Gus Harun dan kembali bertanya yang di angguki Mahmud dan Abah Dul.
“Ohw, ya ya pak. Kebetulan sekali sekalian kami meminta keterangan bapak- bapak semua untuk mencocokkan nama korban dan orangnya. Sebab identitasnya kami temukan berceceran jadi kami masih ragu mana korban yang bernama Basyari dan Baharudin,” jawab petugas setengah baya.
“Dan kami turut berduka atas korban yang tewas dalam kecelakaan itu,” kata petugas.
“Innalillahi wainnailaihi rojiuun…” pekik Gus harun, Abah Dul serta Mahmud bersamaan.
Gus Harun dan Abah Dul terhenyak, tubuh keduanya langsung lemas dihempaskan punggungnya pada sandaran kursi disebelah polisi. Sementara Mahmud mulutnya ternganga tak percaya dengan kabar duka tersebut. Pikiran ketiga orang itu seketika sama- sama merasa sangat bersalah atas meninggalnya sahabat- sahabatnya itu.
“Apakah korban bernama Basyari dan Baharudin itu sudah dipastikan meninggal semua pak?” tanya Mahmud memastikan kembali.
“Maaf bapak- bapak maksudnya yang tewas itu sopir dari mobil yang ditumpangi dua korban Basyari dan Baharudin itu pak,” terang polisi setengah baya.
__ADS_1
“Alhamdulillah, Lalu gimana kondisinya pak?”
“Saat ini kedua korban masih berada didalam ruang Instalasi Gawat Darurat dalam penanganan medis. Kata dokter kedua korban mengalami luka berat pada bagian kepalanya,” jawab polisi setengah baya menunjuk ruang I G D dengan jari jempolnya dibelakangnya.** BERSAMBUNG