Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
HARI PENENTUAN 9


__ADS_3

Suara dentuman terdengar menggelegar akibat benturan tiga kekuatan besar. Di area bentrokan ketiga senjata itu nampak pecikkan bunga- bunga api membuncah kesegala arah disertai hawa panas dari kekuatan besar yang saling bertolak. Sial bagi tuan Denta dan Raja Kajima, keduanya terhantam hawa panas tolakkan dari tongkat emas Raja Kalas Pati. Kedua tubuh tuan denta dan Raja Kajiman terpental kebelakang sejauh 10 kaki lalu melayang jatuh keatas lantai istana.


Sementara itu Gus Harun, Basyari, Baharudin, abah Dul dan Kosim yang menggendong arwah putranya sudah mencapai pintu keluar istana saat getaran dan dentuman keras terdengar. Ke empat orang itu seketika pergerakkannya tertahan. Mereka terhuyung- huyung ke berbagai sisi oleh getarannya yang mengguncang seantero istana.


“Bertahan!” seru Gus Harun reflek menyemangati sahabat- sahabatnya sembari meraih dinding daun pintu mencari pegangan.


Lantai pijakan Gus Harun, Basyari, Baharudin, abah Dul dan Kosim berguncang hebat membuat tubuh mereka limbung. Dengan cepat Kosim yang menggendong arwah putranya mencengkeram erat- erat ujung baju Abah Dul yang berada di depannya agar tidak terpental. Begitu pun dengan Abah Dul gerakkan refleknya langsung meraih lengan Baharudin yang berada di depannya.


Baharudin pun melakukan reflek yang sama langsung meraih baju Basyari yang berada di depannya. Namun sayangnya Basyari sedikit telat bereaksi meraih pegangan pada Gus Harun yang berada di depannya, untungnya tepat disamping kiri terdapat pot bunga yang cukup besar sehingga tangannya reflek mencengkeram bibi pot besar tersebut sekuat tenaga.


Gus Harun serta sahabat- sahabatnya tidak sempat melihat pertarungan tuan Denta dan Raja Kajiman melawan Raja Kalas Pati yang menyebabkan guncangan hebat. Mereka semua terfokus untuk cepat- cepat mencapai pintu keluar.


Beberapa saat kemudian setelah guncangan itu mereda segera Gus Harun memberi isyarat kepada sahabat- sahabatnya agar cepat- cepat melanjutkan lagi pergerakkannya melewati pintu istana yang hanya berjarak dua jengkal lagi di depannya.


“Ayo lanjutkan! Pintunya sudah dekat!” seru Gus Harun.


“Njih Gus, ayo!” sahut sahabat- sahabatnya dibelakang.


Gus Harun dan ke empat sahabatnya bersusah payah berusaha menstabilkan tubuhnya lagi untuk melanjutkan pergerakannya. Sementara di tempat tuan Denta dan Raja Kajiman yang bertarung melawan Raja Kalas Pati segera kembali bangkit sesaat setelah tubuhnya terbanting ke lantai.


Hembusan angin disertai dengan suara menderu kembali di rasakan oleh Gus Harun, Basyari, Baharudin, Abah Dul serta Kosim yang sedikit lagi mencapai pintu keluar istana. Mereka dapat merasakan suara pertarungan kembali terdengar dari posisi tuan Denta dan Raja Kajiman. Namun Gus Harun dan empat sahabatnya terus saja bergerak keluar dari pintu istana tanpa menoleh untuk sekedar melihat pertarungan tuan Denta dan Raja Kajiman yang sedang mati- matian melawan Raja Kalas Pati.

__ADS_1


Setelah keluar dari pintu utama istana, Gus Harun, Basyari, Baharudin, Abah Dul serta Kosim masih harus melintasi halaman istana yang begitu luas untuk dapat keluar melewati gerbang utama area istana siluman monyet.


Sementara di belakang Gus Harun dan sahabat- sahabatnya suara pertarungan semakin intens terdengar. Suara- suara benturan senjata sangat nyaring terdengar dibarengi dengan suara dentuman keras menggelegar terdengar hingga keluar ruang istana.


“Ayo cepat, cepat!” seru Gus Harun kembali mengingatkan para sahabatnya.


Didahului Gus Harun, mereka melesat terbang melintasi halaman luas area istana kerajaan siluman monyet. Di luar istana Gus Harun dan yang lainnya dapat lebih leluasa bergerak tidak seperti saat berada di dalam istana yang pergerakkannya terbatas hanya untuk menghindari Raja Kalas Pati.


Beberapa saat kemudian, Gus Harun dan sahabat- sahabatnya sudah dapat melewati pintu gerbang utama tersebut lalu terus bergerak ke sisi samping kiri menyusuri dinding tembok yang membentengi istana. Di luar benteng istana sudah tidak tampak lagi pertarungan antara pasukan jin dan pasukan Kajiman melawan ratusan ribu prajurit siluman monyet.


“Sepertinya pasukan kita berhasil menarik prajurit- prajurit siluman monyet menjauh dari istananya,” ucap Gus Harun sambil menoleh memperhatikan sekelilingnya yang sepi dan senyap.


Suara- suara Guntur dan suara gelegar petir pun sudah tidak lagi terdengar secara intens seperti pertama pada saat mendekati benteng istana. Langit diangkasa pun nampak tidak sepekat sebelumnya, kini langit sedikit berwarna kemerahan bercampur kuning  seperti layaknya cuaca langit menjelang magrib.


Luasnya area istana membuat jarak tempuh Gus Harun dan sahabat- sahabatnya memakan waktu sedikit lama. Kosim yang berada di urutan paling belakang terus bergerak sembari menggendong arwah putranya melayang mengikuti sahabat- sahabat di depannya tanpa disadari air matanya mulai bercucuran.


“Dede… kamu harus melanjutkan hidupmu. Jaga ibumu dan jadilah anak yang baik…” ucap Kosim pelan sambil menatap wajah putranya.


Arwah anak kecil di gendongan Kosim terlihat tidak memberikan reaksi apa- apa. Kondisinya kian melemah. Dan Kosim yang  mengetahui kondisi putranya kian lemah, timbul dorongan kuat pada diri Kosim untuk bergerak lebih cepat, hingga membuatnya berinisiatif mendahului sahabat- sahabat di depannya dengan sekuat tenaga.


Wuuusssshhh…!!!

__ADS_1


Gus Harun, Basyari, Baharudin dan Abah Dul terkejut bukan main manakala secara tiba- tiba merasakan sekelebatan bayangan yang mendahuluinya padahal mereka sudah bergerak dengan kecepatan tinggi.


“Kosim..!” seru Gus Harun dan tiga sahabatnya serempak.


“Kenapa dengan Kosim ya Gus?!” seru Abah Dul bertanya sambil terus bergerak.


“Jangan- jangan kondisi putranya semakin melemah!” balas Gus Harun sedikit keras.


Beberapa saat kemudian Gus Harun dan 3 sahabtanya melihat dikejauhan Kosim bersama arwah putranya telah menghilang dibalik sudut bangunan tembok benteng.


“Sudah dekat! Ayo…!” seru Gus Harun mempercepat gerakkannya.


Tidak jauh dari sudut tembok benteng disebelah kiri, Gus Harun, Basyari, Baharudin dan Abah Dul melihat adanya cahaya putih terang berbentuk lingkaran seperti yang sebelumnya diberitahukan oleh guru nereka. Di dekat lingkaran cahaya putih tersebut nampak tubuh Kosim yang menggendong putranya terlihat jelas menghalangi bias cahaya putih terang tersebut.


Gus Harun dan tiga sahabatnya bergegas mendekat ke tempat Kosim berdiri menggendong putranya. Kosim tampak termangu menatap wajah arwah putranya, raut wajahnya terlihat begitu sedih. Dari kedua matanya air bening luruh jatuh berderai di kedua pipinya. Tubuh Kosim terguncang- guncang menahan gejolak kesedihan


didalam dirinya.


“Kang Kosim, cepat taruh arwah putramu di tengah- tengah cahaya itu,” seru Gus Harun tatkala melihat kondisi putra Kosim kian melemah.


“I, iyya kang Mahmud,” sahut Kosim lirih.

__ADS_1


Perlahan- lahan Kosim maju satu langkah lalu mengulurkan kedua tangannya yang menggendong arwah putranya ke tengah- tengah lingkaran putih di depannya. Sedikit demi sedikit Kosim mulai melepaskan kedua tangannya serasa enggan untuk melepaskan.


Arwah putra Kosim sesaat melayang ditengah- tengah lingkaran putih saat kedua tangan Kosim melepaskannya. Ekspresi pada wajah Kosim begitu sedih ketika kedua tangannya melepaskan arwah putranya, ada pancaran kerinduan yang mendalam dari sorot matanya yang tak berkedip menatap arwah putranya itu.** BERSAMBUNG


__ADS_2