Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
DENDAM MEMBARA


__ADS_3

Lereng Gunung Ng,


Sebuah pondok terbuat dari kayu beratapkan rumbai berdiri terpencil ditengah hutan belantara. Lebatnya pepohonan disekitar pondok menghalangi sinar cahaya matahari masuk sehingga suasananya nampak temaram meskipun hari masing siang bolong.


Disekitaran pondok banyak sekali monyet-monyet berkeliaran bertingkah liar. Di halaman pondok kayu puluhan monyet-monyet berloncatan kesana kemari mengeluarkan suara bercicitan saling menimpali, begitupun dengan monyet yang nangkring diatas atap pondokan terus menerus berloncatan dari ujung ke ujung bolak-balik silih berganti. Para hewan primata itu sekonyong-konyong saling berteriak meminta perhatian. Namun ada juga beberpa monyet hanya terlihat hanya duduk-duduk saja didepan pintu pondokan yang tertutup rapat.


Tiba-tiba monyet-monyet itu mendadak semakin liar meloncat kesana kemari manakala melihat ada seseorang datang tengah berjalan menuju pindokkan. Suara riuh cicitan-cicitan monyet seolah-olah merasa kegirangan melihatnya. Semua mata monyet-monyet itu tertuju menatap pada sosok lelaki tua berpakaian setelan komboran yang seluruhnya berwarna hitam.


Rambutnya sudah memutih tergerai kaku sepanjang punggung. Diatas kepala lelaki tua itu terikat kain batik coklat, di dadanya berkalung sebatang tulang putih yang menyerupai taring. Dibahu kanannya terlampir buntalan kain, ia berjalan cepat dengan tongkat kayu ditangan kanannya. Meski terlihat tua namun dilihat dari cara berjalan, orang tersebut terlihat masih kokoh.


Ketika jaraknya tinggal 10 meter lagi dari pondokkan, pria tua itu menghentikan langkahnya. Dia mengerutkan dahinya dalam-dalam, raut wajahnya terlihat keheranan penuh tanda tanya.


“Tak biasanya banyak monyet-monyet berkumpul disekeliling pondokkan Kakang Utung,” gumamnya.


Kemudian dia melanjutkan langkahnya kembali. Suara cicitan monyet-monyet semakin keras terdengar dan semakin bertingkah liar meloncat-loncat kesegala arah bersamaan pria tua itu mendekat. Pria itu kian dibuat keheranan dengan tingkah monyet-monyet itu. Jantungnya berdegub kencang, dadanya mendadak bergemuruh sejalan dengan firasat yang dirasakannya terasa buruk. Pria itu mempercepat langkahnya dan berjalan membelah kerumunan monyet yang berlumpul. Hewan-hewan itu menyibakkan diri membelah menjadi dua sehingga terbentuklah seperti lorong jalan untuk pria tua itu lewati.


“Ada yang tidak beres...” gumam pria tua itu sambil memperhatikan tingkah-tingkah monyet disekitarnya.


Pria tua itu buru-buru mengetuk pintu begitu sampai di pkndokkan.


Tok... tok... tok...


“Kakang... Punteeeen....”


Tidak ada sahutan dari dalam pondokkan. Pria tua itu kembali mengetuk-ngetuk pintu dan memanggilnya dengan suara lebih keras lagi.


Tok... tok... tok...


“Punteeeen.... Kakang Utuuung... punteeeen...” seru pria tua.


Kreeoootttt...

__ADS_1


Suara derit pintu langsung terbuka ketika pria tua itu mencoba mendorongnya. Seketika bau busuk yang sangat menyengat langsung terhirup oleh hidungnya. Pria tua itu spontan menutup hidungnya dengan ujung kain ikat kepala yang menjuntai di dadanya. Langkahnya tersurut mundur kembali keluar sambil memegangi perutnya yang mual. Sesaat kemudian pria tua itu memuntahkan isi perutnya.


“Hoekh... hoekh... hoekh...”


Didalam pondokkan itu ia belum sempat melihat apapun karena keadaannya gelap tidak ada cahaya yang masuk dari luar. Beberapa saat lamanya setelah pria itu mengeluarkan isi perutnya yang hanya berupa air, kemudian merogoh buntalan kain yang terlampir dibahunya. Tangannya mengambil sebotol air mineral dan langsung diteguknya hingga setengahnya. Pria tua itu berdiri terengah-engah dengan debaran di dadanya yang kian santer.


“Jangan-jangan...” guamamannya terhenti kemudian ia mengambil korek api dari saku bajunya.


Lalu dia kembali melangkah masuk pondokkan dengan menyalakan korek api sebagai penerangannya. Perlahan-lahan pria tua itu melangkah memasuki ruang pondokkan yang gelap. Dadanya kian bergemuruh sambil menajamkan pandangannya menyapu seisi ruangan. Pria tua itu tercekat, matanya terbelalak lebar-lebar dengan mulut ternganga menyaksikan seonggok tubuh yang terkoyak disudut ruangan.


“Kakang!” pekik pria tua itu.


Didepannya sosok tubuh yang sudah tidak utuh, sebagian besar sudah rusak dan memperlihatkan tulang-tulang dada. Belatung bertebaran disekujur tubuh membusuk itu. Bagian perutnya sudah berlubang memperlihatkan tulang-tulang iga bertaburan belatung dan pada bagian wajahnya sudah hampir menyisakkan tengkoraknya.


“Hoeeekh... hoeeeekhh... hoeeekh...”


Pria tua kembali memuntahkan air dari perutnya. Dengan sekuat tenaga dia melihat sekeliling jasad yang membusuk itu dengan penerangan korek apinya. Dia melihat ada bercak darah di dinding kayu yang sudah mengering. Lalu memperhatikan lantai pondokkan, nampak beraneka ragam bunga-bunga berserakan dimana-mana serta batangan lilin yang masih panjang berserakkan tumpang tindih diatas bunga-bunga sesaji itu.


Matanya kembali diarahkan pada jasad mbah Utung, matanya menatap nanar lalu berteriak keras, “Aku akan menuntut balas!”


Suara cicitan monyet-monyet diluar pondokkan bergemuruh mengiringi teriakkan pria tua yang penuh dengan dendam yang berapi-api.


......................


Kediaman Gus Harun, BANTEN.


Didalam saung bambu yang berdiri ditengah kolam ikan yang betada disudut lingkungan komplek pesantren , Gus Harun dan Abah Dul sedang duduk bersila beralaskan tikar pandan dengan santai menikmati udara sore Banten. Dihadapannya tersaji kue-kue kering beraneka ragam jenisnya didalam toples dan dua gelas kopi hitam pastinya.


Sudah sehari semalam Abah Dul menginap di kediaman Gus Harun. Abah Dul langsung meluncur esokkan harinya setelah malamnya tahlilan tujuh hari meninggalnya Kosim. Abah Dul sengaja mengunjungi Gus Harun karena memiliki ganjalan di hatinya yang berkaitan dengan kematian Kosim dan berbagai perasaan kekhawatiran yang akan menimpa keluarga Kosim.


"Mimpi itu aneh loh Gus, Kosim selalu muncul selama tujuh hari berturut-turut," ucap Abah Dul sambil memilih-milih kue dihadapannya.

__ADS_1


"Ente lihat wujud almarhum gimana Dul? Maksudnya seperti apa gitu," ujar Gus Harun mengerutkan dahinya.


"Ya wujudnya Kosim Gus tapi memang kondisinya memprihatinkan. Pakaiannya compang-camping dan banyak noda darah di kaosnya. Laosnya itu yang dipakainya terakhir kali dia pamit, ingat nggak Gus?" kata Abah Dul.


"Kaos oblong warna putih kalau nggak salah ada tulisan produk sabun," ucap Gus Harun mengingat-ingat.


"Njih Gus," sahut Abah Dul.


"Terus almarhum ngomonh apa? Tanya Gus Harun penasaran.


"Kosim diam saja Gus, saya tengok wajahnya pucat pasi sorot matanya kosong menatap lantai, dia menunduk terus. Boro-boro ngomong menoleh juga nggak, kira-kira ada apa ya Gus?" tanya Abah Dul kemudian menyeruput kopinya.


Gus Harun terdiam, ia tidak mau sembarangan memberikan perkiraan-perkiraan yang tidak mendasar agar tidak menjadi sesuatu yang menyesatkan. Setelah lama terdiam sambil berpikir keras, Gus Harun pun membuka suaranya.


"Untuk sementara menurut perkiraan pendapat ane, itu berarti roh almarhum tidak dibawa mahluk siluman monyet itu Dul seperti yang kita duga sebelum-sebelumnya," ucap Gus Harun hati-hati sekali.


"Alasannya apa Gus kalau Kosim tidak dibawa siluman pesugihan itu?" Abah Dul sedikit tidak setuju dengan pendapat Gus Harun.


"Gini, gini Dul. Pada dasarnya setiap manusia yang meninggal itu akan berada di alam kubur atau alam Barzah, ya kan?" Gus Harun menghentikan ucapannya menoleh pada Abah Dul.


"Njih Gus," ucap Abah Dul menganggukkan kepala.


"Tapi Dul, ada juga riwayatnya kalau roh orang yang meninggal itu tidak langsung berada di alam Barzah tapi arwah itu masih berada di alam dunia. Hanya saja tidak lagi memakai jasadnya," ungkap Gus Harun.


"Arwah penasaran?" celetuk Abah Dul.


"Njih Dul, ane malah lebih cenderung ke arwah penasaran," sergah Gus Harun sambil menepuk bahu Abah Dul hingga membuat Abah Dul tersentak kaget.


"Astagfirullah, Gus.... kaget saya," sungut Abah Dul.


Kedua sahabat satu pesantren dan satu guru yang memiliki ilmu kebatinan tinggi itu sama-sama terdiam. Keheningan didalam saung itu hanya terdengan suara kecipukan air dibawah saung oleh banyak ikan mas. Abah Dul kepikiran dengan ARWAH PENASARAN, kali ini dia nampaknya menyetujui pendapat Gus Harun.

__ADS_1


......................


__ADS_2