
Malam hari pukul 21.20 wib,
Bos Karso dan Romlah duduk di ruang tamu dengan perasaan gelisah. Pikirannya berkecamuk dan berdebar- debar tanpa diketahui sebabnya. Perasaan Suami istri itu nampak begitu cemas.
Meski pun ada segelas kopi dan bermacam- macam kue dan gorengan pisan diatas meja, namun belum ada satu pun yang dimakannya.
Di wajah suami istri itu tampak jelas sekali tersirat kegundahan yang teramat sangat. Sesekali bos Karso menghisap rokoknya dalam- dalam lalu dihembuskannya asap rokok dengan sedikit hentakan.
Bahkan tanpa disadarinya, rokok yang baru saja disulut dan hanya beberapa kali hisapan sudah langsung dikuseknya lalu dibuang kedalam asbak.
Sementara Romlah tanpa disadari terus menunduk melihat jari- jarinya yang dia mainkan dengan ditekuk, dilipat hingga mengepal. Itu dilakukannya berulang- ulang menutupi kegelisahannya.
"Bapak yakin sudah memantrai dan menaburi serbuk dari mbah kedalam makanan Jaka?" tanya Romlah ditengah kegelisahannya.
"Bapak yakin bu," tegas bos Karso.
"Beneran pak?!" Romlah masih belum begitu yakin dengan apa yang dilakukan bos Karso.
"Yakin bu, kenapa sih seperti nggak percaya begitu!" sungut bos Karso.
"Tapi perasaan saya kok nggak tenang gini ya pak. Apa karena ini tumbal pertama yang kita berikan?" kata Romlah setengah bertanya.
"Ya mungkin juga bu. Kita tunggu saja kabarnya selepas tengah malam nanti. Warga pasti geger," ujar bos Karso.
Besok adalah tanggal 1 Syuro, sesuai amanat dari mbah Sapto bahwa akan ada sekelompok siluman monyet yang datang. Mereka akan menjemput roh orang yang sudah ditandai oleh Karso dan Romlah sebagi tumbal.
Waktunya tengah malam mulai pukul 00.00 wib, kelompok siluman penjemput tumbal itu akan mengambil nyawa orang yang telah memakan serbuk yang sudah diberi mantra pada makanan.
"Sudah tenang saja, Anak- anaknya Jaka pasti memakannya bu!" tegas bos Karso menenangkan Romlah sekaligus menenangkan dirinya sendiri.
Sebenarnya Bos Karso juga tak kalah cemasnya meskipun berupaya meyakinkan dirinya kalau umpannya itu telah di makan oleh keluarga mang Jaka. Akan tetapi entah mengapa bos Karaso tetap saja merasa gamang.
'Tidak mungkin makanan itu nggak di makan sama keluarga Jaka. Itukan makanan enak dan mahal, bahkan Jaka sendiri mengatakan kalau anak dan istrinya pasti sangat menyukainya,' kata bos Karso dalam hati.
"Apa mungkin makanan itu nggak di makan ya pak?" tanya Romlah membuyarkan lamunan bos Karso.
"Ah, nggak mungkin lah bu. Waktu itu Jaka aja sampai makannya nambah saking keenakannya. Dan saat saya membelikannya untuk dibawa pulang, dia sangat senang sekali. Katanya anak istrinya pasti menyukainya," tukas bos Karso.
Tanpa terasa malam semakin beranjak larut mendekati tengah malam. Entah sudah ke berapa kalinya Bos Karso melihat ke arah jam dinding.
__ADS_1
"Satu menit lagi jam 12 bu," ucap bos Karso menutupi kegelisahannya.
"I, iyya pak," sahut Romlah yang juga tak kalah cemas.
Bos Karso menatap lekat- lekat jam dinding itu. Matanya mengikuti jarum jam panjang yang bergerak mendekati angka 12.
Kini beberapa detik lagi jarum panjangnya akan melewati angka 12. Tanpa disadari, di dalam hati Karso ikut menghitungnya.
"Tiga... Dua... Satu..." gumam Bos Karso.
Mendengar suara Karso memghitung, kontan saja Romlah pun menoleh kearahnya.
"Jam dua belas pak," bisik Romlah.
Seketika bos Karso dan Romlah terdiam seribu bahasa. Keduanya sama- sama tertegun seperti sedang menantikan sesuatu yang terjadi.
Suasana menjadi hening hingga hanya suara detak jarum jam saja yang terdengar begitu jelas. Bahkan suara detikan jarum jam panjangnya yang terus bergerak sekonyong- konyong tak ubahnya seperti suara genderang yang ditabuh seirama dengan degub jantung suami istri itu.
10 menit berlalu,
Namun tidak ada sesuatu apapun yang terjadi. Suasana masih tetap hening dan senyap. Bos Karso dan Romlah saling menoleh berpandangan penuh pertanyaan di dalam hatinya masing- masing.
"Ya mudah- mudahan bu. Berarti kita sudah memenuhi janjinya," sahut bos Karso.
Kini raut wajah Romlah sedikit lebih lega karena dirinya menilai kalau suaminya sudah menjalankan ritualnya dengan benar.
Berbeda dengan sebelumnya Romlah sangat gelisah karena hatinya tidak begitu yakin dengan ritual yang di kerjakan Karso itu apakah sudah benar atau tidak.
Berbagai dugaan dan prasangka seperti salah membaca mantra, kalimat mantra tidak hafal atau ada kalimat mantra yang terlewat, Semua prasangka- prasangka itulah yang membuat Romlah cemas.
"Ya sudah kita tidur saja pak," ajak Romlah.
"Nanti dulu bu, kita tunggu sampai jam satu," balas bos Karso.
Bos Karso pun kini tampak sudah mulai sedikit tenang, tidak seperti sebelumnya yang wajahnya tampak sangat gelisah dan cemas.
Bos Karso pun baru mencomot gorengan pisang yang sudah dingin dan masih menumpuk diatas piring setelah perasaannya sedikit lebih tenang. Perlahan bos Karso memasukkan gorengan pisang kedalam mulutnya.
Hanya dalam sekali suapan pisang goreng itu ludes masuk kedalam mulutnya lalu disusul dengan menyeruput kopi hitamnya yang sudah dingin.
__ADS_1
Kemudian Bos Karso mengambil sebatang rokok kretek dari bungkusannya lalu menyalakannya. Dia menghisapnya dalam- dalam namun kali ini hisapannya lebih pelan seakan- akan benar- benar sedang menikmatinya.
Waktu terus berjalan hingga mendekati pukul 1 dinihari. Suasana masih senyap tidak ada kejadian apapun seperti yang ditakutkannya.
"Berarti tumbal sudah diambil," gumam bos Karso.
"Ya sudah bu, kita tidur. Sepertinya sudah beres, hehehe..." ucap bos Karso terkekeh.
"Yuk pak," balas Romlah.
Bos Karso dan Romlah beranjak dari kursi tamu melangkah menuju ke kamar. Lampu di ruang tamu pun sudah di matikan Romlah saat berjalan mengikuti bos Karso dibelakangnya.
Di dalam kamar, Bos Karso merebahkan badannya disusul Romlah merebahkan badannya disamping bos Karso setelah lebih dulu mematikan lampu kamar.
"Pak, kok nggak dengar ada ribut- ribut warga ya," ucap Romlah.
Bos Karso tak langsung menyahut, ia terdiam karena ucapan Romlah seperti mengingatkan kembali akan ucapannya. Bahwa pasti akan ada kabar dari warga manakala tumbal itu diambil.
Bos Karso memperkirakan kejadian tersebut bakal menggegerkan orang sekampung. Akan tetapi hingga pukul 1 dinihari teŕnyata tidak ada kejadian apapun seperti yang dia perkirakan.
Belum sempat bos Karso menjawabnya, tiba- tiba terdengar suara daun jendela terbuka lebar seperti di dobrak dari luar.
"Braaakkkk!"
Seketika Bos Karso dan Romlah terlonjak bangun dari posisi berbaringnya. Suami istri itu terduduk diatas kasur saling berpandangan dengan mata membelalak ketakutan.
Kemudian secara reflek Bos Karso dan Romlah menoleh kearah jendela yang sudah terbuka. Tirainya melambai- lambai tertiup angin malam dari luar.
Belum sempat rasa terkejutnya terjawab, tiba- tiba bermunculan sosok- sosok hitam mengelilingi tempat tidur Bos Karso dan Romlah.
"Si, sssi, siapa kalian!" bentak bos Karso dengan suara bergetar.
Seketika Karso dan Romlah gemetar ketakutan manakala memperhatikan sosok- sosok yang mengelilinginya. Bos Karso dan Romlah melihat jelas sosok- sosok hitam itu memiliki bulu- bulu lebat disekujur tubuhnya.
Bulu- bulu itu nampak saat tubuh sosok- sosok itu terbias oleh cahaya lampu dari luar yang masuk melalui jendela yang di dobrak tadi.
Sekitar 10 sosok hitam dan berbulu itu tegak berdiri dipinggir bibir tempat tidur. Di tangannya masing- masing menggenggam senjata yang berbeda- beda. Ada yang menggenggam pedang, tongkat besi, serta trisula.
......................
__ADS_1
BERSAMBUNG....