
Sebelumnya terjadi negosiasi antara Raja Kalas Pati dan Kiyai Sapu Jagat dimana Raja Kalas Pati yang meminta senjatanya kembali menyetujui persyaratan yang diajukan Kiyai Sapu Jagat, yakni untuk tidak lagi berurusan dengan 4 muridnya serta orang- orang yang mengenal murid- muridnya.
Sepeninggal Kiyai Sapu Jagat, Raja Kalas Pati langsung kembali masuk ke dalam istananya. Saat bergerak melintas diatas para prajuritnya, Raja Kalas Pati memberikan isyarat agar semua prajuritnya turut mengikutinya masuk kedalam istana.
Nampak kondisi istana bagian luar yang sebelumnya porak poranda akibat pertempuran Raja Kalas Pati melawan tuan Denta dan Raja Kajiman, kini kondisinya sudah kembali pulih seperti sedia kala. Tidak nampak ada kerusakan lagi disana- sini.
Begitu pula dengan lokasi bekas tertancapnya Tongkat emas Raja Kalas Pati yang menghantam tuan Denta sebelumnya kini tampak sudah kembali seperti sedia kala. Akan tetapi di tempat tersebut tidak tampak adanya tanda- tanda bekas keberadaan tuan Denta yang diperkirakan amblas melesak kedalam akibat hantaman tongkat emas.
Akan tetapi tidak ada yang mengetahui kondisi yang sebenarnya yang terjadi pada tuan Denta. Saat tongkat emas terlihat menghujam dengan telak ke posisi tempat tuan Denta terbaring, disaat bersamaan tuan Denta lenyap dari tempatnya.
Raja Kalas Pati saat itu terlihat tampak puas, dia mengira tuan Denta telah musnah di hajar senjata andalannya yang diayunkannya dengan kekuatan penuh.
Berbeda dengan Raja Kajiman yang jaraknya tak terlalu jauh dengan tuan Denta, akibat terkena efek kekuatan ledakkan dari hujaman Tongkat emas, tubuh raja Kajiman harus musnah setelah tubuhnya terbakar dari dalam akibat kekuatan dahsyat yang dikeluarkan tongkat emas.
“Prajurit! Cari orang tua yang bernama Kiyai Sapu Jagat! Dia adalah guru dari empat manusia yang menyerang istana. Suruh dia menghadap! Jika tidak, aku akan hancurkan manusia di muka bumi!” perintah Raja Kalas Pati.
Nampaknya raja Kalas Pati sangat marah merasa dirinya telah di tipu oleh Kiyai Sapu Jagat. Sebab waktu yang ditunggu- tunggu untuk mengembalikan senjata tongkat emasnya sudah terlalu lama. Sehingga Raja Kalas Pati menganggap Kiyai Sapu Jagat telah mengingkari janjinya yang telah disepakati sbelumnya .
“Baik junjungan!” sahut ratusan prajurit siluman monyet.
Suara sahutan para prajurit menggema di seisi istana, suara- suara sahutan dari seluruh prajurit siluman monyet disertai hentakkan kaki mereka seolah- olah menyemangati rekan- rekannya yang mendapat tugas dari Rajanya turut membuat riuh ruang istana.
“Huuuhhh!”
“Huuuhhh!”
__ADS_1
“Huuuhhh!”
“Cepat cari sekarang juga!” perintah Raja Kalas pati.
“Laksanakan Junjungan!” sahut ratusan prajurit siluman monyet lalu segera berlalu dari hadapan Raja Kalas Pati yang duduk di kursi singgasananya.
Setelah melihat ratusan prajuritnya pergi dari hadapannya meninggalkan ruang utama istana, Raja Kalas Pati mengedarkan pandangannya keseluruh prajurit- prajurit yang menghampar dihadapannya. Dan beberapa saat kemudian Raja Kalas Pati tampak mengerutkan dahinya dalam- dalam, dia merasa tidak melihat beberapa petinggi prajuritnya diantara deretan para petinggi prajurit- prajurit lainnya.
“Anggada Gonda! Aku tidak melihat Anggada Rukan, Anggada Sonca, Anggada Kurta dan yang lainnya, dimana mereka?!” tanya Raja Kalas Pati menahan amarah melihat ada kejanggalan dalam barisan itu.
“A, am, ampun Junjungan. Hamba tidak melihatnya. Selama pesta berlangsung kami tidak bersama mereka,” jawab Anggada Gonda terbata- bata sangat ketakutan.
“Junjungan! Hamba melihat Anggada Sonca dan lima anggotanya pergi ke lorong ruang tahanan!” seru salah satu prajurit siluman monyet diantara kerumunan prajurit siluman monyet lainnya dengan lantang.
“Cepat periksa ruang tahanan manusia! Apakah mereka telah membawa pergi anak Kosim itu! Cepat laksanakan!” perintah Raja Kalas Pati penuh amarah.
Didalam ruang tahanan pengabdi kekayaan siluman monyet, para arwah manusia semuanya terlihat meringkuk merapatkan tubuhnya satu sama lain. Terdengar isak tangis ketakutan menggema memenuhi seisi ruang tahanan tersebut. Rasa ketakutan para arwah terus menghantui mereka semenjak pertempuran terjadi di tempat tersebut tatkala Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin, Mahmud, tuan Denta, raja Kajiman serta Kosim menerang 6 prajurit dan berhasil membawa pulang arwah putra Kosim.
Tiba- tiba suara isak tangis ketakutan seluruh arwah berganti menjadi jeritan histeris manakala terdengar suara bentakkan yang sangat keras.
“Diam!!!” teriak Anggada Gonda.
Seketika jerit ketakutan itu lenyap menjadi kesenyapan yang menggidikkan bagi seluruh arwah manusia didalam ruang tahanan tersebut.
“Dimana anak kecil yang baru dimasukkan ke dalam sini?! Cepat tunjukkan diri?!” seru Anggada Gonda.
__ADS_1
Beberapa saat lamanya suasana senyap tak terdengar ada satu pun yang berani membuat gerakan sekecil apapun. Seluruh arwah itu terdiam sambil terus meringkuk menyembunyikan kepala diantara kedua lutut mereka.
“Mana putra dari manusia yang bernama Kosim?! Mana?! Cepat kesini?!” bentak Anggada Gonda menggetarkan dinding- dinding ruang tahanan.
“Am, a, amm, ampun tuan, sa.. sa.. saya.. saya melihat a, an, anak i, itu telah diba, ba, bawa pergi,” sahut salah satu arwah perempuan setengah baya yang berada di barisan depan.
“Sialan!!!” teriak Anggada Gonda menghentakkan kakinya sangat marah, lalu membalik badan memberi isyarat pada prajurit lainnya untuk segrea pergi meninggalkan ruang tahanan.
......................
Sementara itu diluar istana siluman monyet,
Rombongan ratusan prajurit siluman monyet yang mendapat tugas mencari kiyai Sapu Jagat baru saja keluar melewati pintu gerbang benteng istana dan bersiap turun ke alam manusia. Tiba- tiba serombongan prajurit siluman monyet itu menghentikan langkah, manakala melihat kilatan –kilatan cahaya putih dan merah diatas langit menuju kearah mereka.
Kilatan- kilatan cahaya tersebut lalu turun menghadang jalur yang akan dilalui serombongan prajurit siluman monyet. Seketika itu juga cahaya- cahaya itu berubah menjadi 7 sosok manusia berdiri berjajar menghadap rombongan prajurit siluman monyet. Ketujuh sosok itu tak lain adalah Kiyai Sapu Jagat, Gus Harun, Basyari, Baharudin, Kosim, tuan Samanta dan tuan Gosin.
Beberapa detik suasana senyap, rombongan prajurit menatap penuh selidik pada ketuju sosok yang telah berdiri menghadang jalan yang akan dilintasi mereka.
“Apakah diantara kalian ada yang bernama Kiyai Sapu Jagat?!” tiba- tiba pemimpin sepasukan prajurit siluman monyet bertanya memecah kesenyapan.
“Saya kiyai Sapu Jagat!” tegas kiyai Sapu Jagat maju satu langkah.
“Hahahaha… kebetulan sekali! Kami tidak susah payah mencarimu. Junjungan Raja Kalas Pati memerintahkan untuk membawamu menghadap junjungan kami.
“Baik, tapi bawa serta anak- anakku juga menghadap rajamu,” balas Kiyai Sapu Jagat.
__ADS_1
Mendengar jawaban kiyai sapu Jagat yang dinilainya sebagai syarat, Pimpinan prajurit tersebut terlihat kebingungan. Dirinya tidak bisa memutuskan apakah membolehkan selain kiyai Sapu Jagat ikut masuk ke dalam istana atau tidak.
“Hmm, sebentar aku akan melapor pada junjungan lebih dulu!” sergah pimpinan prajurit.** BERSAMBUNG