Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
DESA PALU WESI


__ADS_3

Desa Palu Wesi terletak berada di kecamatan Gada Besar, berbeda kabupaten dengan desa Sukadami, namun letak wilayah Kabupatennya masih bertetanggaan. Jarak tempuh jika mengendarai mobil antara desa Sukadami dengan desa Palu Wesi memakan waktu kurang lebih 1 jam- an dalam kecepatan rata- rata 60 km/jam.


Cuaca malam di desa Paluwesi terlihat cerah, cahaya bintang- bintang bertaburan di langit yang pekat tak ubahnya seperti sebuah titik- titik yang sinarnya berkelip- kelip berkilauan. Tiba- tiba nampak seberkas sinar dari sebuah lampu mobil menyorot kearah rumah bercat putih saat mobil tersebut memasuki halamannya yang tak berpagar.


Di jok depan Pak Harjo duduk dibelakang kemudi dan disampingnya duduk istrinya, sementara di jok tengah duduk pak Diman beserta istrinya. Mereka baru saja sampai di rumah sekitar pukul 11 malam sepulang dari rumah Mahmud di desa Sukadami untuk menemui ‘bocah ajaib’ tersebut meminta pertolongannya.


Awalnya pak Diman mendapat informasi tentang ‘Bocah ajaib’ itu dari cerita orang- orang di pasar. Saat itu Pak Diman yang kesehariannya membuka lapak berjualan buah- buahan di pasar, kedatangan seorang langganannya yang tanpa sengaja bercerita tentang peristiwa yang terjadi di desa Sukadami.


“Beneran itu pak Budi?” tanya pak Diman antusias setelah pak Budi selesai menceritakan tentang bocah ajaib.


“Beneran pak, itu cerita dari adik saya sendiri yang menyaksikan langsung proses penggalian kuburannya hingga melihat kondisi bocah ajaib itu sekarang yang benar- benar hidup kembali,” pungkas pak Budi.


Pikiran pak Diman langsung teringat tertuju pada putra sahabatnya, yakni pak Harjo yang sakitnya tidak kunjung sembuh. Ia bertekad mengabarkannya pada pak Harjo penuh dengan harapan besar dengan informasi tersebut dapat membantunya. Sekalian dirinya ikut untuk membawa istrinya yang  juga mengalami sakit yang tak kunjung sembuh.


Setelah mendengar kabar yang diceritakan langganannya itu, pak Diman yang masih berteman baik dengan pak Harjo dari semenjak kanak- kanak hingga sekarang langsung mendatangi rumah pak Harjo sepulang dari berjualannya di pasar. Karena pak Diman tahu kalau putranya pak Harjo sedang sakit keras dan sudah lama tidak sembuh- sembuh.


Kebetulan antara rumah pak Harjo dan pak Diman tak begitu jauh hanya terpaut beda blok dan RT- nya saja. Pak Diman menceritakan kembali peristiwa di desa Sukadami dari pelanggannya itu kepada pak Harjo. Dengan harapan agar pak Harjo berikhtiar membinta pertolongan dari bocah ajaib yang diceritakannya itu.


"Terima kasih banyak pak Harjo atas tumpangannya. Saya dan istri langsung pamit pulang ya pak, bu," ucap pak Diman saat mesin mobil dimatikan lalu membuka pintu mobil dan bergegas turun. Begitu pun dengan pak Harjo dan istrinya juga turun dari mobil.


"Loh apa nggak mampir dulu pak Diman," balas pak Harjo menawarkan.

__ADS_1


"Terima kasih pak, sudah larut malam," jawab pak Diman.


"O iya semoga ibu lekas sembuh seperti yang dikatakan anak ajaib itu ya, dan terima kasih yang sebesar- besarnya pak Diman sudah mau mengabarkan adanya bocah ajaib itu. Semoga saja ini jalan untuk kesembuhan Hariri ya pak," ucap pak Harjo pada istri pak Diman.


"Amiin… amiiin, njih, njih pak Harjo, begitu juga dengan nak Hariri ya pak. Insya allah besok pagi saya kembali berkunjung kesini bersama istri saya untuk memperlihatkan kondisi istri saya sekalian menengok putra bapak, saya sangat penasaran dengan ucapan anak ajaib itu," balas istri pak Diman.


"Kami tunggu ya bu pak Diman, saya juga penasaran. Tapi, Nggak tahu kenapa hati saya sangat yakin sekali akan kebenaran ucapannya," balas pak Harjo.


"Iya pak Harjo, saya juga ingin melihat perubahan kondisi sakitnya istri saya besok. Kalau begitu saya dan istri saya pamit pak Harjo, assalamualaikum..." timpal pak Diman.


"Iya pak Diman, wa alaikum salam," balas pak Harjo. Mereka pun kemudian saling bersalaman satu sama lain.


Setelah pak Diman pulang meninggalkan kediaman pak Harjo, pak Harjo dan istrinya buru- buru melangkah menuju pintu untuk membuka pintu dan segera masuk. Suami istri berusia setengah baya itu sangat penasaran ingin cepat- cepat melihat kondisi putranya.


Anak bungsunya yang bernama Hariri inilah yang kondisinya sedang sakit. Sudah lebih dari 6 bulan Hariri hanya terbaring di tempat tidur saja. Kondisi tubuhnya kian hari terus menurun hingga tampak seperti tengkorak hidup.


Sudah tak terhitung lagi entah sudah berapa puluh kali pak Harjo membawa putranya berobat kemana- mana. Dari mulai Puskesmas, rumah sakit- rumah sakit dari yang biayanya murah hingga mahal sudah didatangi, hingga pengobatab- pengobatan alternatif, mendatangi orang pintar namun hasilnya nihil. Kalau pun ada yang terlihat hasilnya akan tetapi keesokan harinya kembali kambuh, putra pak Harjo tak juga kunjung membaik atau membaik.


Perlahan- lahan pak Harjo membuka pintu kamar putranya yang sakit. Dengan membuka daun pintu secukup pandangan matanya saja pak Harjo melihat putranya sedang terbaring, matanya terpejam dengan ekspresi raut wajah yang begitu tenang tak ubahnya terlihat seperti sedang terlelap tidur. Kain selimut menutup rapat sebatas leher hingga kakinya.


Dibelakang pak Harjo, istrinya berupaya melongok- longokkan kepalanya ingin melihat kedalam kamar namun terhalang oleh badan pak Harjo.

__ADS_1


Tidak seperti biasanya Hariri setenang ini, sebab biasanya putranya itu selalu gelisah lalu menggaruk- garuk kakinya dengan keras sampai tak disadari hingga menimbulkan luka. Dan hal itu dilakukan sudah berlangsung lama sehingga pada bagian kedua kakinya terluka menimbulkan koreng. Jika saja tidak dibarengi dengan pengobatan medis pada kulit kakinya yang luka itu pasti sudah menjadi borok.


Didalam hati pak Harjo sangat penasaran dengan koreng di kaki Hariri. Ingin sekali rasanya untuk melihatnya sekarang. Namun ia urungkan karena teringat dengan ucapan ‘Bocah Ajaib’ yang mengatakan kalau besok sudah sembuh. Walau pun ucapan dari seorang bocah itu sangat diluar nalar akal sehatnya, tetapi pak Harjo sangat yakin dan sangat percaya ucapan bocah ajaib itu merupakan petuah yang nyata.


“Semoga ini jalan kesembuhannya…” gumam pak Harjo.


“Bagaimana keadaan Hariri pak?” tanya istri pak Harjo berbisik.


“Hariri sepertinya sedang tidur pulas bu, aneh tidak biasanya seperti itu,” sahut pak Harjo berbisik pula.


“Masa sih pak?! Coba saya pengen lihat pak,” sergah istrinya sembari meminta pak Harjo menggeser badannya dari pintu.


Pak Harjo pun segera menggeser tubuhnya kesamping memberikan kesempatan istrinya untuk melihat kedalam kamar. Begitu dapat melihat putranya, saat itu juga wajah istri pak Harjo berubah sumringah. Seakan tidak percaya melihat putranya saat ini yang nampak tertidur pulas, kedua mata istri pak Harjo berkaca- kaca menyaksikan kondisi putranya saat ini.


Istri pak Harjo tahu betul bagaimana kondisi putranya itu hampir setiap detik tak pernah lepas dari perhatiannya. Karena istri pak Harjo lebih banyak waktunya mengurusi putra bungsunya itu dari pada pak Harjo yang hanya sesekali menengoknya dan jarang menemukan kondisi Hariri pada saat meronta- ronta kesakitan, berteriak- teriak histeris.


Berhari- hari, berminggu- minggu dan berbulan- bulan, dengan sabar dan telaten istri pak Harjo menyuapi makan Hariri, membersihkan koreng- koreng di kakinya hingga memandikannya walau hanya dengan mengelap tubuhnya saja.


“Sudah bu, kita lihat besok saja. Semoga petuah bocah ajaib itu benar- benar nyata ya bu,” ucap pak Harjo pelan saat melihat istrinya terlihat menahan tangis menatap kondisi putranya.


“Amiin… amiin pak…” sahut istri pak Harjo lirih, lalu menutup pintu kamar Hariri.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu kemudian masuk kedalam kamarnya yang berada disamping kamar putranya untuk beristirahat.** BERSAMBUNG


__ADS_2