
Abah Dul terdiam usai Mahmud mengatakan kalau Kosim punya solusi memutus perjanjian gaib dengan siluman monyet. Ia menerka-nerka solusi seperti apa yang Kosim punya.
"Apakah Kosim akan menyerahkan diri?" Ucap Abah Dul membatin.
Abah Dul mengira-ngira kalau solusi dengan menyerahkan diri adalah solusi paling mungkin dilakukan Kosim. Sebab sangat tidak mungkin solusinya Kosim akan melakukan perlawanan dengan bertempur mengalahkan Raja Kalas Pati.
Kedahsyatan kuatan Raja Kalas Pati sudah dirasakan Abah Dul sendiri. Bahkan bersama tiga sahabatnya, Gus Harun, Ustad Basyari dan Ustad Baharudin pernah tumbang.
Sesaat kemudian Kosim muncul dengan membawa segelas kopi untuk Abah Dul sembari menggendong Dede ditangan kirinya.
"Kopinya Bah," ucap Kosim sambil meletakkan dihadapan Abah Dul.
"Makasih, Sim," balas Abah Dul.
"Sim, katanya ente punya solusi agar tak lagi dikejar-kejar siluman monyet?" Tanya Abah Dul penasaran.
"Sebentar Bah saya titipin Dede dulu ke Arin," kata Kosim kembali beranjak masuk.
Mang Ali yang sedari tadi hanya mendengarkan turut penasaran.
"Apa mungkin solusinya Kosim akan menyerahkan diri Bah?" Tanya Mang Ali.
"Menyerahkan diri?" Sela Mahmud terkejut.
"Saya juga berpikiran begitu Mang Ali, soalnya nggak mungkin Kosim ngajak bertempur," kata Abah Dul.
Tak lama berselang Kosim sudah kembali lalu duduk ditempatnya semula disebelah Mahmud.
"Gimana Sim solusinya?" Tanya Abah Dul antusias.
Kosim lalu menceritakan lebih dahulu rentetan peristiwanya dari awal hingga ucapan-ucapan dari Kuncen pesugihan pun diungkapkan semua. Kemudian Kosim menegaskan bahwa dirinya tak terima dengan perjanjian gaib yang dinilainya hanya menguntungkan sepihak.
"Sepertinya celah ini dapat dijadikan pembelaan Bah," tegas Kosim.
Abah Dul, Mang Ali dan Mahmud tertegun mendengar penuturan Kosim yang terakhir. Ketiganya terdiam, Abah Dul mencerna cerita Kosim lalu manggut-manggut seperti membenarkan ucapan terakhir Kosim.
"Kalau begitu kita memikirkan cara untuk bernegosiasinya," kata Abah Dul.
"Nah, saya bingung juga gimana cara menyampaikannya tuh Bah," sela Kosim.
Suasana kembali hening, semuanya terdiam hanyut dalam pikirannya masing-masing. Saat semua terpekur, telinga Kosim tiba-tiba berdengung lalu disusul terdengar suara di telinganya.
"Anakmu dalam bahaya!"
Kosim terlonjak kaget hingga semuanya menoleh ke Kosim.
"Kenapa Sim?!" Tanya Abah Dul.
__ADS_1
"Dede Bah, Dede dalam bahaya!" Seru Kosim.
"Dede dalam bahaya?" Ucap Abah Dul memastikan.
Belum sempat bernjak berdiri untuk memeriksa, tiba-tiba terdengar suara jeritan dari dalam rumah.
Abah Dul, Mang Ali, Mahmud dan Kosim tersenta kaget bukan kepalang. Sesaat keempat orang itu saling berpandangan satu sama lain lalu serentak bangkit bergegas lari kedalam.
Diadalm kamar Arin dan Dewi terlihat panik dan hiateris sambil memegangi kedua tangan Dede. Bocah 3 tahunan itu terlihat meronta-ronta dengan tangan terkepal, matanya membelalak dengan sorot mata liar.
"Aaaahhhkkkk.. aaaaahhhkkkk..." Suara geraman keluar dari mulut Dede.
Abah Dul lebih dulu muncul di pintu kamar dan melihat Arin dan Dewi sambil menangis berusaha sekuat tenaga memegangi kedua tangan.
Nampak ada goresan luka memerah seperti bekas cakaran di pipi kanan Arin.
"Masya Allah!" Teriak Abah Dul melihat kondisi Dede.
"Kosim, Mahmud cepat gantikan Arin dan Dewi!" Seru Abah Dul.
Tubuh Dede terus meronta-ronta dengan liar. Tenaganya selaksa 10 kali lipat dari tenaga bocah usia 3 tahunan hingga membuat Arin dan Dewi kewalahan sampai akhirnya digantikan Mahmud dan Kosim.
Sebelumnya suasana nampak baik-baik saja. Setelah Kosim menyerahkan Dede ke Arin, Arin pun melangkah ke kamar bermaksud menidurkannya. Disaat itulah tiba-tiba Dede meronta-ronta liar hingga mencakar pipi Arin.
Dewi datang lebih dulu lalu berusaha menahan tangan Dede yang terus mencakar-cakar muka Arin. Sampai akhirnya Abah Dul, Mahmud, Kosim dan Mang Ali muncul.
Mahmud sudah memegang tangan Dede menggantikan Dewi. Namun saat Kosim hendak menyentuh tangan Dede menggantikan Arin, dia menjerit kesakitan.
"Awwww...!" Teriak Kosim.
Telapak tangan Kosim mengepulkan asap seperti terbakar, spontan Kosim melepaskan kembali tangan Dede. Begitu tangan kanan Dede terlepas dari cekalan tanpa diduga langsung menyambar kepala Mahmud yang berada disisi kiri yang sedang memegang tangan kiri Dede.
"Plakkkk..!"
Tangan mungil Dede menghantam telak pelipis Mahmud membuat kepala Mahmud terbanting namun beruntung menimpa bantal. Mahmud merasakan kepalanya sakit luar biasa seperti dihantam dua kali lipat pukulan orang dewasa.
Dewi yang berdiri di pintu langsung menjerit histeris melihat suaminya terpelanting.
"Maaaaas...!"
Dewi hendak menyongsong menolong Mahmud namun dicegah Abah Dul karena melihat Dede langsung berdiri. Akibat hantaman itu membuat cekalan Mahmud terlepas sehingga Dede bergerak leluasa dan langsung berdiri menantang Abah Dul.
Mahmud pun segera beringsut menjauh menepi ke sudut kamar.
Sementara Kosim tersurut mundur sambil memegangi tangannya. Rasa panas seperti terbakar langsung menjalar kesekujur tubuhnya.
"Aduuuuuhhhhh... Panas sekali Baaaah!"
__ADS_1
Kosim mengerang menahan sakit seperti tak kuat lagi dengan hawa panas yang menjalar di tubuhnya. Melihat itu Mang Ali bergerak cepat langsung merangkul Kosim memapahnya dan membawanya keluar kamar.
Abah Dul kini berhadapan langsung dengan Dede. Namun pikirannya dibuat bingung karena yang dihadapinya anak kecil. Dia khawatir anak itu bakal terkena efek jika menghantamnya dengan tenaga dalam penih dan secara langsung pula.
Saat sedang tertegun, satu kilatan cahaya merah meluncur deras kearah Abah Dul keluar dari kibasan tangan Dede.
Abah Dul tak berani menyongsong hantaman itu karena apabila membalas dengan kekuatannya akan berakibat fatal bagi Dede. Sehingga Abah Dul membiarkan saja cahaya merah itu menghantam tubuhnya.
"Buummm...!"
Cahaya merah itu menghantam telak tubuh Abah Dul dibarengi getaran yang dapat menggoyahkan seisi kamar. Tubuh Abah Dul terdorong kebelakang hingga punggungnya menghantam tembok kamar.
Beruntung bagi Abah Dul, benteng pertahanan pada tubuhnya yang sudah dipersiapkan sebelumnya masih dapat mengimbangi kekuatan itu.
Dalam kondisi terpepet Abah Dul terus berpikir bagaimana caranya menghadapi anak kecil. Disatu sisi ia harus menghantamnya dengan tenaga dalam pènuh untuk segera mengeluarkannya dari tubuh Dede tapi disisi lain dia khawatir dengan imbas pada anak tersebut.
Tiba-tiba terlintas dalam ingatannya salah satu amalan dahsyat yang diajarkan Kiyai Sapu Jagat bernama amalan 'Penombak Sukma'. Amalan ini masih bagian dari jurus Tombak Mata Kembar dan amalan ini sangat tepat dipakai menghadapi situasi seperti sekarang.
Dengan cepat Abah Dul membaca amalan Penombak Sukma. Jari-jarinya bergerak meniti tasbih hitam dengan cepat. Sesaat kemudian Abah Dul meniupkan dengan cara dihentak kearah Dede yang berdiri tegak.
Selarik udara tak kasat mata meluncur deras menghantam dada bocah kecil itu. Beberapa saat tak ada reaksi, Dede masih tetap berdiri menantang dengan sorot mata tajam ke arah Abah Dul.
Namun sedetik berikutnya terdengar suara lengkingan panjang keluar dari mulut Dede.
"Aaaaaaaaaaa......!"
Jeritan kesakitan dari mulut Dede terdengar menggidikkan telinga. Mulanya terdengar sangat keras tetapi lama-kelamaan mengecil, mengecil lalu hilang seperti menjauh keluar dari tubuh dede.
Seiring menghilangnya jeritan Dede, tubuhnya langsung roboh. Beruntung tubuh Dede roboh dan terkulai diatas kasur.
"Dedeeeeeee...!"
Arin dan Dewi menjerit bersamaan melihat Dede ambruk. Spontan dua kakak beradik itu hendak berlari kearah Dede tetapi langsung dicegah Abah Dul.
"Jangan..!" Seru Abah Dul.
Arin dan Dewi pun tertahan langkahnya. Keduanya hanya bisa menyaksikan Dede tergolek diatas kasur.
Abah Dul segera menyapukan telapak tangannya dari ujung kaki hingga ujung kepala untuk menetralisir hawa negatif di tubuh Dede.
Setelah dirasa sudah aman, Abah Dul memeriksa nadi dipergelangan tangan Dede. Kemudian berganti memeriksa urat nadi di leher, "Alhamdulillah, selamat." Ucap Abah Dul.
Mendengar ucapan Abah Dul, spontan Arin dan Dewi menubruk Dede lalu Arin segera meraihnya dan direbahkan dipangkuannya sambil terisak.
"Ayo, semuanya berkumpul di ruang tengah saja." Kata Abah Dul sambil melangkah keluar kamar.
......................
__ADS_1