
Mahmud datang dengan cangkul tersampir dipundaknya bersama Mang Karyo dari kebon cabainya.
"Mud, saya langsung balik ya," kata Mang Karyo.
"Oh iya Mang, matur suwun yo. Paling minggu depan siap-siap panen ya Mang," Jawab Mahmud.
"Liat cuaca aja Mud, Kalau hujan terus lebih baik dipercepat aja panennya takut rusak." Ujar Mang Karyo.
"Iya ya, Mang." Timpal Mahmud.
Mang Karyo pun berlalu pulang ke rumahnya yang hanya terpaut dua rumah berada didepan rumah Mahmud.
"Sudah lama Sim? Tanya Manhmud.
"Dari pagi Mas, hehehe..." jawab Kosim tersenyum hambar.
"Sebentar ya Sim, cuci dulu." Kata Mahmud pada Kosim.
Mahmud berjalan kesamping rumah menaruh cangkulnya dibawah jendela dapur lalu mengambil kunci yang ditaruh diatas sela-sela angin-angin dan membuka pintu dapur.
Kosim masih duduk diundakkan teras dengan wajah masih mengguratkan kegelisahan. Sisa rokok di jarinya diselentikkan hingga terlempar jauh ke halaman lalu kembali mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.
"Sim, bikin kopi tuh!" Seru Mahmud dari dapur.
"Iya Mas," sahut Kosim langsung beranjak melangkah ke dapur.
MASIH DI HARI KE-8 MEMJELANG PURNAMA, cuaca hari Senin ini matahari lumayan panas, seperti panasnya pikiran Kosim. Hari sudah menunjukkan pukul 11 siang, Kosim menenteng dua gelas kopi hitam keluar dari pintu dapur.
"Kayaknya Arin nggak ada disini," gumam Kosim.
Meski Kosim belum sempat bertanya pada Mahmud namun dia melihat situasinya tidak ada tanda-tanda Arin ke rumah Mahmud.
Tidak berapa lama Mahmud nongol lalu duduk menyender pada tembok dekat jendela sementara Kosim duduk diposisinya semula bersandar pada tiang rumah.
"Arin sama Dede mana Sim, kok dari tadi nggak kelihatan," kata Mahmud.
Jantung Kosim seketika berdegup kencang. Ini pertanyaan yang sedari tadi di khawatirkannya yang membuatnya bingung untuk menjelaskannya.
Beberapa detik berlalu namun Kosim diam tak kunjung menjawab membuat Mahmud keheranan sekaligus penasaran. Diperhatikannya wajah Kosim dalam-dalam.
"Kamu ada masalah Sim? Mukamu kusut begitu," kata Mahmud.
"A... anu Mas tadi pagi Arin sama Dede kesini nggak?" Kosim balik bertanya.
Mahmud semakin keheranan, dirinya barusan nanya Arin dan Dede tetapi justru Kosim malah balik menanyakan Arin dan Dede.
"Loh, loh... kamu kesini nyari Arin? Arin pergi dari pagi?" Ujar Mahmud makin tak mengerti.
__ADS_1
"Iya Mas, tadi pagi-pagi sepulang dari belanja sayuran di warung Arin menanyakan tentang pesugihan monyet," tutur Kosim.
"Masya Allah, kok bisa tau?!" Mahmud pun kaget mendengar penjelasan Kosim.
"Katanya orang-orang di warung membicarakannya Mas," ujar Kosim.
"Terus kamu bilang apa Sim sama Arin?" Mahmud mulai cemas.
"Arin marah Mas, kami bertengkar di dapur padahal saya sudah berusaha tidak mengaku dan menjelaskannya. Arin lalu berlari saya kira masuk ke kamar tapi pas saya susul ke kamar Arin dan Dede sudah nggak ada," terang Kosim.
"Tapi tadi pagi Arin dan Dede nggak kesini, Sim. Aduh, kemana perginya dia," ujar Mahmud kian cemas.
"Sebentar saya telpon Dewi," ucap Mahmud lantas bangkit lalu bergegas masuk kedalam rumah mengambil hapenya.
Sesaat kemudian, terdengar Mahmud bicara di telponnya sambil berjalan kembali ke teras.
"Iya, Wi... Ini Kosimnya disini lagi nyari. Waduh!" Kata Mahmud berbicara dengan Dewi di telponnya.
"Ya sudah Wi, iya... iya... Udah ya Assalamualaikum." Kata Mahmud menutup obrolannya di hape.
"Gimana Mas kata Mbak Dewinya?" Sergah Kosim penuh harap.
"Dewi justru nggak tau sama sekali Sim," jawab Mahmud.
"Waduh! Kemana saya mencarinya ya Mas," ucap Kosim lesu setengah putus asa.
"Belum Mas, tadi baru nyari disekitar rumah saja dan nggak ada yang tau." Ujar Kosim.
Beberapa saat Mahmud terdiam begitu pula Kosim wajahnya menunjukkan kebingungan dan kecemasan.
"Sim, apa nggak ada petunjuk dari suara tanpa rupa?" Mahmud teringat dengan kelebihan yang Kosim miliki.
"Tadi saya sempat tertidur dan antara sadar dan mimpi suara itu muncul Mas," jawab Kosim.
"Terus, terus apa katanya...?" Timpal Mahmud tak sabar penasaran.
"Bukan petunjuk Mas, tetapi suara tanpa rupa itu marah dengan saya," ucap Kosim dengan nada penyesalan.
"Kenapa bisa marah?" Mahmud makin bingung dengan jawaban Kosim.
"Saya nggak tau persis penyebabnya tapi saya merasa pernah mengabaikan pesannya. Saat itu saya tidak percaya dan menganggapnya hanya candaan sewaktu sebelum saya ditemukan di pekuburan itu, Mas." Ujar Kosim.
"Katanya saya tidak pantas diikuti," sambungnya.
"Masya Allah..." gumam Mahmud.
"Saya juga menyesal Mas, sudah dua hari ini tidak mengamalkan zikir yang diberikan Gus Harun." Ucap Kosim dengan lirih.
__ADS_1
"Apakah sosok suara tanpa rupa itu Khodam zikir itu ya Sim,?" ujar Mahmud.
"Saya nggak tau Mas, soalnya kehadiran sosok suara tanpa rupa itu setelah saya mati suri dan menjalankan zikir itu," ungkap Kosim.
"Seandainya sosok suara tanpa rupa itu bisa ditanya mungkin bisa tau keberadaan Arin, Sim..." ucap Mahmud.
"Ah coba minta bantuan Abah Dul, Sim..." seru Mahmud.
Wajah Kosim langsung sumringah seperti mendapatkan sebuah petunjuk pengharapan.
"Oh iya iya Mas, saya nggak kepikiran kesitu ya. Telpon sekarang Mas," ujar Kosim.
Mahmud hendak menelpon Abah Dul tetapi urung melihat Dewi datang tergesa-gesa. Wajahnya penuh dengan kecemasan dan panik.
"Sim kenapa Arin bisa pergi tanpa kabar begitu?!" cecar Dewi masih diatas sepeda motornya.
Wajah Dewi menyiratkan kecemasan bercampur menahan amarahnya. Kosim terlihat gugup mendapat pertanyaan yang tiba-tiba dari kakak iparnya.
Kosim nampak bingung menjawabnya, lidahnya terasa kelu. Bagaimana menjelaskannya pada Dewi sementara penyebab pertengkarannya berkaitan dengan ritual pesugihan dan Dewi sama dengan Arin belum mengetahuinya.
Jika dijelaskan kakak iparnya pasti semakin marah dan kecewa.
"Sim, jawab kenapa?!" kata Dewi dengan nada sedikit meninggi namun masih menahan amarahnya.
"Sssttt... Wi, Wi.. sabar Wi, pelan-pelan malu didengar tetangga," ucap Mahmud menenangkan Dewi.
Tindakkan Mahmud memberikan sedikit nafas berpikir bagi Kosim, "Saya dan Arin bertengkar tadi pagi Mbak lalu Arin pergi membawa serta Dede. Saya kira Arin ada di kamar nggak taunya pergi. Saya pikir Arin pasti kesini Mbak," tutur Kosim hati-hati.
Perlahan-lahan Dewi mulai tenang, wajahnya tidak lagi menyiratkan kemarahan namun kini berganti menahan tangisnya. Sebagai kakak rasa cemasnya lebih besar dari Kosim sebagai suaminya. Apalagi Arin merupakan adik satu-satunya dan juga keluarganya karena kedua orang tuanya sudah meninggal 5 tahun yang silam.
"Terus mesti cari kemana Mas..." ucap Dewi lirih menahan tangis menutup muka dengan kedua tangannya.
"Sabar Wi, tenang... tenang dulu, ini kita lagi berusaha memikirkannya," ujar Mahmud.
"Mas saya takut Arin kenapa-kenapa.." sergah Dewi.
"Iya, iya saya ngerti. Saya telpon Abah Dul dulu, mungkin dia bisa bantu." kata Mahmud.
Kosim terpekur dalam-dalam meratapi kejadian demi kejadian yang datang bertubi-tubi menimpanya. Baru saja dua hari merasakan kebahagian bersama istri dan anaknya kini dalam sekejap sudah berganti dengan keresahan, panik, takut dan cemas.
Namun soal perginya Arin logikanya lebih banyak mendominasi pikirannya sehingga dianggapnya suatu kewajaran. Bahkan pikirannya tentang siluman monyet dianggapnya sudah berlalu setelah dua hari tinggal di rumahnya tidak ada gangguan-gangguan lagi.
......................
Ruang Renungan:
Apakah anda termasuk orang yang mendoakan yang baik-baik jika melihat orang yang tidak menyukai anda tertimpa musibah?
__ADS_1