Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Terperangah


__ADS_3


Kabar tertangkapnya Babi ngepet langsung tersebar luas hingga ke desa sekitarnya. Massa pun semakin banyak berdatangan mengerubungi Babi jejadian yang masih tergeletak tak bergerak disamping rumah Haji Asnawi.


"Bakaaaarrrr...!!!"


"Bakaaaarrrr...!!!"


"Bakaaaarrrr...!!!"


"Bakaaaarrrr...!!!"


Teriakkan-teriakan penuh amarah saling bersahutan dari kerumunan warga yang kian berjejal sambil mengacung-acungkan beragam senjata.


"Jangan..!!! Jangan...!!! Sabar, sabar... semuanya. Tahan emosi!!!" Sergah Pak Kuwu mengangkat tangannya didepan massa setengah melingkar mengerumuni Babi jejadian.


Disituasi yang sedang memanas itu muncul cahaya lampu sepeda motor yang menyoroti kerumunan massa yang nampak mulai beringas. Semua mata kontan menoleh kearah dua sepeda motor yang berhenti diujung pojok depan rumah Haji Asnawi.


"Itu Abah Dul dan Mahmud...!" Seru Pak Kuwu.


Massa mulai berhenti berteriak dan melihat kearah empat orang yang turun dari sepeda motor. Abah Dul, Mahmud serta Mang Ali dan Kosim bergegas berjalan kearah Pak Kuwu yang berada didekat Babi jejadian, spontan massa yang berjejal membelah memberikan jalan untuk keempat orang itu.


Abah Dul, Mahmud, Mang Ali dan Kosim sesaat menyalami Pak Kuwu dan dua orang Pamong desa. Lalu memperhatikan menatap Babi yang masih tergeletak diposisinya yang tak berubah.


"Gimana Bah, apa yang harus dilakukan selanjutnya?" Tanya Pak Kuwu.


"Bakaaaarrrr...!!!"


"Bakaaaarrrr...!!!"


"Bakaaaarrrr...!!!"


"Bakaaaarrrr...!!!"


Suara teriakan massa kembali bersahutan mendengar Pak Kuwu bertanya seperti itu. Abah Dul segera mengangkat tangannya memberi kode mencegah seraya berseru;


"Tenang, tenang bapak-bapak!" Seru Abah Dul.


Spontan massa terdiam seketika mendengar suara Abah Dul yang penuh dengan aura wibawa. Tanpa diketahui, Abah Dul terpaksa menyalurkan tenaga dalam melalui suaranya untuk membuat massa menurut sekaligus meredam emosi yang sudah liar tak terkendali.


"Jangan main hakim sendiri apalagi sampai membunuh. Mang Ali nanti akan membantu merubah wujud Babi itu kembali ke wujud asalnya. Agar kita semua tau siapa pelaku pesugihan yang sesungguhnya, selama ini warga telah dihasut memfitnah Kosim." Seru Abah Dul.


Warga benar-benar diam terhenyak, hati mereka bergetar mendengar akhir ucapan Abah Dul. Sebagian besar warga merasa sehari yang lalu ikut menggeruduk rumah Kosim atas hasutan seseorang hingga menyebar dari mulut ke mulut.


"Bapak-bapak, saya dan Mang Ali akan membuktikan kalau Babi ini adalah Babi jejadian," seru Abah Dul sambil menunjuk Babi.


"Saya dan Pak Kuwu serta Mang Ali, Mahmud dan Kosim akan mengajak sebagian kecil bapak-bapak mengambil baju yang sebelumnya dipakai Babi ini yang disimpan di pekuburan sana, setuju?!" Seru Abah Dul.


"Setujuuuu...!"


"Setujuuuu...!"


"Setujuuuu...!"


"Setujuuuu...!"


"Setujuuuu...!"


"Setujuuuu...!"


"Setujuuuu...!"


"Setujuuuu...!"


Massa berteriak bersahutan dengan penuh semangat dan melupakan emosinya sejenak.

__ADS_1


"Warga yang lainnya tetap disini menjaga Babi ini, ya?!"


Lalu rombongan Abah Dul bergegas membelah kerumunan massa menuju pekuburuan dikuti sekitar 20-an warga berjalan dibelakangnya. Sementara sebagian besar warga lainnya yang semula berada dibelakang dan belum sempat melihat wujud Babi jejadian langsung merangsak mendekat membuat suasana kembali riuh.


Malam sudah mendekati subuh, bias cahaya bulan di langit menerangi rombongan Abah Dul dan warga memasuki pekuburan. Abah Dul berjalan didepan diikuti Pak Kuwu, Mang Ali, Mahmud, Kosim dan warga.


"Disana Pak Kuwu, dibawah pohon Randu itu," kata Abah Dul.


Sesaat kemudian Abah Dul berhenti didekat pohon Randu yang besar. Warga pun langsung menyebar setengah lingkaran sambil memperhatikan seonggok bungkusan kresek hitam yang tergeletak tersembunyi diantara celah-celah akar pohon Randu yang menonjol.


"Mana?!"


"Mana?!" Terdengar suara beberapa warga.


"Itu, terselip diakar pohon randu." Timpal warga lainnya.


Abah Dul melangkah mendekati kresek hitam lalu mengambilnya. Sembari diangkat Abah Dul berkata; "Bapak-bapak saksikan ya, kita buka isi kresek ini. Tolong yang bawa senter atau hape nyalakan lampunya."


Dua orang maju sambil menyoroti kresek hitam dengan lampu dari senter hapenya. Semua mata tertuju pada kresek hitam tak berkedip. Raut wajahnya penuh rasa penasaran.


Dibawah cahaya lampu senter hape, Abah Dul perlahan membuka kantong kresek yang diikat sekedarnya itu. Suasana seketika senyap memperhatikan Abah Dul membuka isi kresek, hanya terdengar suara-suara jangkrik dan serangga-serangga pekuburan. Raut-raut wajah penuh dengan rasa kepenasarannya memperhatikan dengan seksama kresek hitam itu.


Dan semua mata terbelalak saat Abah Dul mengambil kain dari dalam kresek hitam dan membentangkannya. Dengan jelas dibawah sorotan cahaya senter hape, mereka melihat kain itu seperti daster dengan motif kembang-kembang.


Kemudian Abah Dul memperlihatkan lagi isi didalam kresek hitam itu terdapat setumpuk kembang warna-warni yang membuat warga geleng-geleng kepala.


"Berarti pelakunya seorang perempuan," seru warga.


"Ya jelas, wong pakaiannya daster." timpal warga lainnya.


Pak Kuwu, Mahmud, Mang Ali dan Kosim serta warga serasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mereka terkesiap takjub, Abah Dul begitu tepatnya menunjukkan semua bukti-buktinya dihadapan warga.


"Itu daster yang biasa dipakai... aduh, siapa ya. Saya sering lihat! celetuk salah satu warga.


"Itu kayaknya dasternya bu Parni!" Seru warga lainnya.


"Sudah, sudah... jangan dulu menuduh sesorang, nanti kita buktikan saja siapa wujud dbalik Babi ngepet itu setelah baju ini diselimutkan ke babi itu." Kata Abah Dul.


"Sekarang mari kita kembali kesana dan kita buktikan langsung ditempat," lanjutnya.


Menenteng kresek hitam Abah Dul beserta warga pun kembali bergegas melangkah diantara makam-makam meninggalkan pekuburan diiringi kasak-kusuk suara-suara obrolan beberapa warga yang berjalan dibelakangnya yang masih penasaran menebak-nebak siapa pelakunya.


Disamping rumah Haji Asnawi, kerumunan warga semakin banyak yang datang. Kabar tertangkapnya Babi ngepet rupanya sudah menyebar hingga ke desa-desa sebelah meskipun saat ini waktu menunjukkan pukul 3.10 wib dini hari tidak menyurutkannya datang melihat.


Saat rombongan Abah Dul sampai, langsung disambut seruan-seruan massa yang memadati sepanjang gang disamping rumah Haji Asnawi tempat dimana Babi ngepet itu tergeletak.


"Horeeeee... Abah Dul kembali!"


"Itu Pak Kuwu dan Abah Dul sudah kembal!"


"Wah, benar itu Abah Dul membawa barang-barang milik Babi ini!"


"Siapa ya orangnya, kurang ajar betul!"


Kerumunan massa dengan sendirinya menyeruak memberi jalan untuk Abah Dul, Pak Kuwu diikuti dibelakangnya Mahmud, Kosim dan Mang Ali.


Semua mata memandang tidak berkedip memperhatikan kresek hitam yang ada ditangan Abah Dul. Sejenak Abah Dul berdiri menghadap kearah kerumunan warga yang terus memperhatikannya.


"Bapak-bapak semua, sebelumnya saya mohon ya, ketika nanti Babi ini berubah wujudnya menjadi orang, sekali lagi diingatkan agar tidak main hakim sendiri. Kita serahkan hukumnya kepada yang berwajib. Ya, Pak ya...?!" Seru Abah Dul.


"Bakar saja sekalian!!!"


"Iya bakar saja!!!"


Suasana kembali riuh dengan teriakkan provokasi beberapa warga. Ada yang meng-iyakan namun juga ada yang melarang pula. Pak Kuwu lantas mengangkat tangannya menenangkan warganya yang terlihat kembali bangkit emosinya.

__ADS_1


"Tenang, tenang! Betul kata Abah Dul, jangan main hakim, ingat jangan main hakim apalagi sampai membunuhnya. Bisa-bisa kalian yang akan berurusan dengan hukum!" Seru Pak Kuwu.


"Huuuuuhhhh...!"


Hanya beberapa warga yang tampaknya kurang puas dengan peringatan Pak Kuwu.


"Monggo Bah," ucap Pak Kuwu mempersilahkan Abah Dul untuk proses selanjutnya.


"Njih Pak Kuwu," sahut Abah Dul.


Abah Dul menoleh pada Mang Ali sambil menyerahkan kresek hitamnya.


"Monggo Mang Ali yang melakukannya," ucap Abab Dul.


"Iya Bah," jawab Mang Ali singkat sambil menerima kresek hitam itu.


"Sebentar Mang Ali," ucap Abah Dul.


Abah Dul mengibaskan tangannya diatas tubuh Babi untuk melepaskan enerji kekutan pelindung yang dibuatnya. Mata Babi itu terlihat kuyu menyiratkan ketakuatan serta terlihat memelas dan jika diperhatikan lagi ada air yang meleleh dari sudut matanya seperti menangis.


Abah Dul menyerahkan sepenuhnya kepada Mang Ali untuk selanjutnya melakukan proses merubah wujud Babi menjadi manusia kembali karena memang Abah Dul tidak tahu caranya dan belum pernah menangani kasus semacam ini.


Suasana mendadak hening, puluhan pasang mata menatap penasaran memperhatikan Mang Ali yang akan melakukan proses mengubah wujud Babi ngepet itu.


Mang Ali kemudian berjongkok menghadap Babi jejadian yang tergeletak. Diambilnya daster bermotif bunga-bunga dari dalam kresek. Sejenak matanya menatap tajam ke pakaian daster ditangannya. Kemudian mulutnya terlihat komat-kamit membaca mantra.


Sesaat kemudian Mang Ali meniupkannya ke daster itu. Lalu perlahan-lahan daster itu diselimutkan ke tubuh Babi menutupi seluruhnya dari ekor hingga moncong hidungnya.


Hanya hitungan detik, semua mata terbelalak menatap tajam melihat perubahan wujud Babi jejadian itu. Kini dhadapan Mang Ali, Abah Dul, Mahmud, Kosim, Pak Kuwu dan warga tergolek sosok seorang manusia berjenis kelamin perempuan dengan tubuh sedikit gemuk dengan rambut terurai menutupi sebagian wajahnya.


"Itu Parni!"


"Iya bu Parni!"


"Parni!"


"Parni"


"Ternyata dia!"


"Dia kemarin yang menyuruh mengusir Kosim!"


"Iya, dia juga yang bilang Kosim nyupang!"


"Ternyata dia sendiri!"


"Huuuuuuhhhh, dasar tukang fitnah!"


Suasana kembali riuh oleh seruan-seruan suara warga saling berkomentar. Sementara sosok pelaku pesugihan itu seketika menangis, wajahnya terlihat ketakutan sekali melihat banyaknya warga.


"Tenang, tenang... Bapak-bapak, sebaiknya kita bawa ke rumahnya. Sekalian kita juga menangkap siapa yang menjaga lilinnya," seru Mang Ali berdiri menghadap warga.


"Ayo, kita bawa..!"


"Ayo, ayo...!"


Seru warga riuh mengiringi dua orang Perangkat desa mencekal kedua tangan Parni dan membawa menuju rumahnya. Puluhan warga berjalan ramai-ramai mengikuti dibelakang Pak Kuwu, Abah Dul dan Mang Ali.


Sementara Mahmud dan Kosim mengambil sepeda motornya lebih dulu lalu menyusul diantara keramaian warga yang berjalan kaki.


......................


...NEXT...


......................

__ADS_1


Tahan nafas dulu sayang, diminum lagi kopinya.


☝Cuuung yang sudah menyimak😘😘😘


__ADS_2